
Zaid meminta sopir taksi itu untuk menepikan kendaraan di tempat ramai. Dengan begitu, ia bisa menyelamatkan sang sopir dari orang-orang yang menargetkan dirinya. Ia tidak mau ada orang lain ikut tersapu ke dalam bahaya yang mengancamnya.
Zaid segera mencari ATM untuk mengambil uang. Setelah itu, Zaid memberikan uang pada sang sopir agar mau menyewakan mobilnya pada Zaid. Tak lupa Zaid pun menitipkan ranselnya pada sang sopir. Ia meminta sang sopir untuk memberikannya pada Arjuna. Zaid juga memberikan nomer ponsel Arjuna pada sopir tersebut. Zaid berpesan jika ia tidak mengembalikan mobil setelah satu minggu, maka dia harus menghubungi nomer yang diberikan oleh Zaid.
" Tapi Pak, nanti ini mobilnya gimana ? Ini satu-satunya alat buat cari nafkah, mana masih belum lunas lagi " jawab Pak Darto, sang sopir.
" Bapak gak usah khawatir, nanti kalau saya tidak kembali. Bapak telpon saja teman saya itu, nanti dia yang akan menyelesaikan semua. Oh iya, kalau dia datang. Tolong berikan tas saya ini dan katakan jika dia harus menjaga istri saya " jelas Zaid, kemudian meninggalkan Pak Darto bersama uang 10 juta yang baru saja diambil oleh Zaid.
Zaid masuk ke dalam mobil milik Pak Darto, lalu segera melajukan mobil menjauh dari keramaian.
Seperti yang sudah Zaid duga sebelumnya, mobil hitam itu kini kembali mengikutinya.
Siapa mereka sebenarnya ? batin Zaid bertanya-tanya.
Aku tidak bisa kembali ke rumah, aku khawatir mereka akan menargetkan keluargaku...
Zaid mengarahkan kendaraan yang dipacunya dengan kecepatan tinggi. Ia berusaha mengecoh orang yang membuntutinya. Namun, usahanya sia-sia. Mereka sepertinya sangat terlatih.
Zaid mengendarai kendaraannya menuju arah vila keluarganya. Jalanan berkelok, tanjakan dan turunan curam diharapkan Zaid dapat memperlambat laju kendaraan mereka. Dan sepertinya Zaid berhasil, kendaraan itu tak lagi membuntutinya.
Zaid menghela nafas lega. Ia sedikit menurunkan kecepatan kendaraan yang dipacunya. Namun itu tak berlangsung lama, tiba-tiba mobil hitam itu sudah berada di belakangnya dan menabrak bagian belakang mobilnya membuat Zaid terguncang.
" Sial... " pekik Zaid.
Kembali Zaid menekan pedal gas untuk menjauh dari mobil itu. Para penjahat itu tak berhenti mengejar Zaid. Bahkan kini salah seorang dari mereka keluar dari jendela mengarahkan pistol ke arah mobil yang dikendarai Zaid.
Dor... Satu tembakan melesak ke arah mobil,tapi masih meleset.
Dor... Dor... Kali ini tembakan itu berhasil menembus kaca belakang mobil. Zaid menundukkan kepalanya berusaha menghindar dengan melajukan mobilnya secara zig zag tanpa mengurangi kecepatannya.
Dor... Kali ini ban mobil belakang yang tertembak. Zaid tidak bisa mengontrol laju kendaraan yang dikendarainya. Kendaraannya bergerak tak menentu hingga akhirnya kendaraannya menabrak pembatas jalan dan masuk ke dalam jurang.
Kendaraan itu berguling beberapa kali sebelum mencapai dasar jurang. Dan selang berapa lama, Duar... terdengar suara ledakan mobil dan asap yang membumbung hitam.
Para penjahat itu menghentikan laju kendaraan yang mereka tumpangi di tepi jurang. Melihat ke dasar dimana mobil yang mereka kejar telah terbakar habis di dasar jurang.
Mereka menyeringai, merasa sangat senang karena tugas mereka telah selesai dilaksanakan.
__ADS_1
" Target sudah berhasil didelete, Bos ! " lapornya pada seseorang di sebrang telepon.
" Bagus... Aku akan memberikan bonus besar pada kalian. Sekarang kembali ke markas, sebelum ada yang melihat kalian disana " perintahnya kemudian menutup telepon.
...****************...
" Aw... " Adinda meringis saat tak sengaja pisau yang ia gunakan melukai jari telunjuknya. Darah menetes dari ujung jarinya.
Kenapa perasaanku tiba-tiba jadi gak enak gini ya ?
" Itu jari kamu kenapa ? Ayo dicuci dulu, jangan dibiarin " Bu Sandra menghampiri Adinda, kemudian meraih jari Adinda dan membawanya ke wastafel untuk membersihkan darah yang keluar dari jarinya.
" Kok bisa sampai keiris sih ? Pasti ngelamunin Zaid ya " tebak Bu Sandra membuat Adinda tersipu.
" Sana, kamu kasih betadine dulu lukanya. Terus dikasih plester biar gak kebuka lukanya " titah sang ibu mertua.
Adinda menuruti apa yang diperintahkan oleh ibu mertuanya. Selesai memakai plester, Adinda melirik jam dinding.
" Udah jam 4 sore, kenapa Mas Zaid belum sampai ya ? Tadi katanya sampai rumah siang " gumam Adinda yang ternyata terdengar oleh sang ibu mertua.
" Ish... Ibu nih... " ucap Adinda dengan wajah bersemu merah. Sementara sang ibu mertua hanya terkekeh melihat sikap menantu kesayangannya itu.
Adinda dan Bu Sandra sudah selesai memasak, mereka menyiapkan hidangan kesukaan Zaid sebagai sambutan atas kepulangannya. Ayam goreng serundeng, tempe bacem, sayur lodeh juga sambal cumi telah tersedia di meja makan.
Waktu sudah menunjuk pukul 5.30 sore, tapi tak ada tanda-tanda Zaid menampakkan diri. Berulang kali Adinda menghubungi ponsel sang suami tetapi ponselnya dalam keadaan tidak aktif.
15 menit kemudian, suara mobil berhenti di depan rumah. Adinda bergegas membukakan pintu. Dia sangat menantikan hari ini, hari dimana ia bisa melihat dan memeluk kembali sang suami tercinta.
Pintu terbuka, Adinda tak melihat sosok yang ia rindukan. Ia hanya melihat sang kakak dan dua orang rekannya yang berdiri di belakang sang kakak.
" Lho, abang... Mas Zaid nya mana ? " tanya Adinda polos sambil melihat sekeliling.
Arjuna menatap sang adik dengan tatapan pilu. Lalu ia memeluk sang adik.
Deg...
" Abang, Mas Zaidnya mana ? " tanya Adinda lagi kali ini dengan suara bergetar.
__ADS_1
" Sabar ya, de " jawaban singkat Arjuna membuat Adinda mendorong tubuh sang kakak.
Adinda melangkahkan kakinya mundur beberapa langkah. Ia mengarahkan pandangan pada dua rekan Arjuna yang tertunduk.
Adinda kemudian berlari menuju mobil.
" Mas... Mas Zaid dimana ? Ayo keluar dong, becandanya gak lucu ah " ucap Adinda sambil membuka semua pintu mobil dan mencarinya di dalam mobil. Bahkan Adinda membuka bagasi untuk mencari keberadaan sang suami.
" Dinda...Dinda... " panggil Arjuna sambil meraih tangan sang adik yang terus mencari keberadaan Zaid.
" Mas... Mas Zaid ayo keluar, Dinda nyerah. Ayo sekarang keluar, Mas Zaid sembunyi dimana ? " tanya Adinda kacau.
Bu Sandra yang kini telah berada di luar segera menghampiri Adinda.
" Dinda, sabar nak... ! " ucapnya lalu memeluk menantu kesayangannya itu.
Adinda menatap sang kakak yang terlihat kusut.
" Abang... Jelasin dimana Mas Zaid " seru Adinda dengan tatapan penuh tanya.
" Zaid... Zaid mengalami kecelakaan dan mobil yang ditumpanginya terbakar di dasar jurang " jawab Arjuna dengan berat hati mengatakan hal yang sebenarnya.
" Bohong... Abang bohong kan ? Mas Zaid gak apa-apa... Mas Zaid bakalan pulang. Dia lagi di jalan dan sebentar lagi datang. Abang jangan bohongin Dinda " sanggah Adinda dengan mata yang sudah berembun.
...****************...
Hai semuanya, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini. Tanpa kalian, author bukan apa-apa lho...
Disini author mau jelasin sedikit, konflik sengaja author buat supaya jalan ceritanya gak monoton. Biar ada sedikit sport jantung ya readers๐
Tapi kalian tenang aja ya, gak usah khawatir akhir cerita ini. Cos author ini termasuk tim yang suka cerita happy ending kok๐
So, Jangan lupa dukungannya ya ! Kalau berkenan, boleh dong author minta tolong buat promosiin cerita ini ke temen, saudara sama rekan-rekannya ๐ ๐ค (Maaf ya kalau author ngelunjak ๐๐คญ)
By the way terima kasih untuk dukungannya selama ini.Love you all readers๐๐
Jangan lupa ikuti terus cerita ini ya, sampai tamat jangan lupa !๐
__ADS_1