Adinda Untuk Kapten Zaid

Adinda Untuk Kapten Zaid
Bonchap 1


__ADS_3

Sudah 2 tahun berlalu dan Evan kini sudah lulus dan menjadi dokter muda. Bagas masih menjalani pendidikannya di Magelang. Sementara Alesha pun sibuk dengan kuliahnya di kota tempat tinggalnya.


Pagi itu, Evan baru saja selesai dari tugas jaga malam. Ia bergegas masuk ke dalam mobil agar bisa segera pulang dan beristirahat. Ia melemparkan jas dokternya ke jok belakang, kemudian ia mulai mengemudi.


Sekitar 30 menit perjalanan, akhirnya ia tiba di rumah. Ia membuka pintu mobil lalu keluar dari dalam mobilnya. Sesekali ia menguap karena didera ngantuk pasca semalaman terjaga di ruang UGD.


Sang ibu sudah menunggunya di depan pintu, menyambut sang anak yang nampak begitu lelah.


" Pagi, bunda " sapa Evan kemudian mencium pipi Adinda.


" Sarapan dulu, habis itu istirahat ! " seru Adinda sambil berjalan memasuki rumah bersama dengan Evan.


" Lho, jas dokter kamu mana ? " tanya Adinda.


" Di mobil, bun " jawab Evan.


" Kamu ambil deh, soalnya mau Bunda cuci " seru Adinda lagi.


" Nanti deh Bun... " sanggah Evan.


" Sekarang, sayang ! " tegas Adinda.


Dan jika sang ibu sudah bertitah, tidak ada seorang pun yang dapat melawannya. Dengan langkah gontai, Evan kembali menuju mobilnya. Ia membuka pintu belakang mobilnya, kemudian meraup jas dokternya dengan kasar.


" Aww... " pekik seseorang saat Evan berhasil menarik jasnya dengan paksa.


Mendengar ada seseorang memekik, membuat Evan seketika membuka lebar matanya dan melihat ke dalam mobilnya. Ternyata ada seorang gadis yang terbaring di atas jok belakang mobilnya. Gadis yang mengenakan pakaian pasien itu seketika terduduk saat menyadari tengah ditatap tajam.


Evan melipat tangannya di dada dengan mata tetap tertuju pada gadis yang kini duduk di dalam mobilnya.


" Heh, kamu siapa ? " bentak Evan menatap tajam gadis yang masih nampak setengah sadar.


" I... Ini dimana ? " tanya gadis itu sambil mengucek matanya.


" Ck... Gak usah pura-pura. Maksudnya apa masuk ke mobil saya ? " cecar Evan dengan nada suara tak ramah.

__ADS_1


Gadis itu menatap Evan yang masih mengenakan pakaian dinas dengan jas dokter yang ada dalam genggamannya.


" Ma... Maaf... Semalam saya... "


" Keluar ! Cepat kamu keluar dari mobil saya ! " perintah Evan dengan ketus.


Adinda yang mendengar keributan di luar rumah segera menghampiri Evan yang nampak sangat kesal.


" Lho ada apa ini ? Kenapa kamu marah-marah gitu ? " tanya Adinda heran karena Evan menampakkan wajah kesalnya.


Adinda melihat ke arah mobil lalu terkejut karena melihat ada seorang gadis berada di dalam mobil sang anak. Adinda menatap Evan dengan penuh tanya.


" Evan gak tahu dia siapa, Bun. Tau-tau dia udah ada di sini pas Evan ngambil ini " jelas Evan sambil menunjukkan jas dokternya pada Adinda.


Adinda melihat gadis yang ada di dalam mobil Evan. Gadis itu nampak bingung dan takut.


" Kemari nak ! Jangan takut, anak Tante memang begitu. Tapi dia baik kok " ucap Adinda sambil melirik Evan.


Evan berdecak kesal, kemudian meninggalkan Adinda dan gadis itu. Evan segera masuk ke dalam rumah.


Gadis itu keluar dari mobil, Adinda mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah.


" Ayo nak, kamu masuk dulu. Kamu bisa cerita sama Tante kenapa kamu bisa ada di dalam mobil anak Tante " ucap Adinda sambil menggandeng tangan gadis itu.


" Tapi... Tante... " gadis itu menengok ke kanan dan ke kiri seolah memperhatikan keadaan sekitar.


" Tenang saja, disini kamu aman. Ayo masuk ! " ajak Adinda yang diikuti oleh gadis itu.


Adinda membawa gadis itu ke dalam rumah kemudian mempersilakan gadis itu duduk. Adinda menelisik penampilannya. Sepertinya, ia adalah pasien yang kabur dari rumah sakit. Terlihat dari pakaian khas pasien yang menutup tubuhnya. Belum lagi luka di pergelangan tangannya yang Adinda bisa simpulkan jika itu adalah luka karena mencabut paksa jarum infus.


Adinda menghela nafasnya,


" Bisa kamu ceritakan sama Tante sekarang ! " seru Adinda setelah sebelumnya ia meminta asisten rumah tangga untuk membuatkan minuman dan membawakan cemilan.


" Maaf, Tante... " ucapnya lirih sambil menundukkan wajahnya.

__ADS_1


" Nama kamu siapa ? " selidik Adinda.


" Saya Reksa, Tante " jawabnya singkat.


" Reksa... Nama yang cantik secantik orangnya " puji Adinda.


" Jadi bisa jelaskan sama Tante mengapa kamu bisa berada di dalam mobil anak Tante ? " tanya Adinda kemudian.


Reksa menelan salivanya dengan susah payah. Ia melihat ke arah Adinda yang menatapnya dengan penuh tanya. Sebenarnya Reksa tak lagi ingin mengingat kejadian yang menimpanya. Tetapi ia harus menjelaskan semuanya agar tidak terjadi kesalah pahaman.


Pada saat Reksa akan membuka suaranya, tepat pada saat itu Evan muncul dari ruang arah ruang makan.


" Evan sini sebentar nak. Kita dengarkan penjelasan Reksa " ucap Adinda sambil melambaikan tangannya meminta Evan agar ikut menemaninya.


Evan menghembus nafasnya lalu menggerakkan kakinya menghampiri sang ibu dan duduk di samping ibunya.


Evan hanya melirik sekilas gadis yang kini duduk di depan mereka. Sebenarnya ia malas dan sangat mengantuk, namun karena menghargai sang ibu, ia menuruti keinginan sang ibu.


Reksa melihat ke arah Adinda dan Evan yang kini berada di hadapannya.


" Maafkan saya, Tante... Dokter... Semalam saya memang melarikan diri dari Rumah Sakit. Saat itu, di tempat parkir saya melihat ada mobil yang terbuka pintunya. Karena itu saya masuk ke dalamnya. Sungguh saya tidak tahu jika itu adalah mobil dokter " jelas Reksa dengan menautkan jemarinya.


" Kenapa kamu lari dari Rumah sakit ? Apa kamu tidak bisa membayar biaya perawatan ? " tanya Adinda.


Reksa menggelengkan kepala pelan.


" Saya... Saya dipaksa mendonorkan ginjal saya oleh ayah tiri saya. Saya tidak mau melakukannya, karena saya tahu ia hanya menginginkan uang saja. Dulu, ibu saya pun dipaksa menjual ginjalnya hingga akhirnya ibu saya meninggal. Karena itu, saya melarikan diri dari Rumah Sakit. Seharusnya hari ini saya menjalani operasi " jelas Reksa dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


Adinda menatap Reksa dengan tatapan iba. Sejurus kemudian ia menghampiri Reksa lalu memeluknya. Hal itu membuat Reksa menumpahkan air matanya di pelukan Adinda.


Reksa merasa begitu nyaman berada di pelukan Adinda. Seolah ia merasakan kasih sayang sang ibu yang sudah lebih dari 3 tahun ini meninggalkannya untuk selamanya.


" Kalau begitu kamu sementara ini, tinggal saja disini ! Pasti ayah tiri kamu itu akan memaksamu lagi untuk menjual ginjal kamu " ucap Adinda.


Mendengar sang ibu yang malah menawari gadis itu membuat Evan terjingkat.

__ADS_1


" Apa ? Bunda kok mau sih nampung dia ? Gimana kalau dia mau nipu kita ? Cuma pura-pura aja, supaya kita kasihan " jelas Evan tak terima.


__ADS_2