
" Abang bohong... Dinda gak percaya ! " raung Adinda menatap Arjuna dengan tatapan tak bisa diartikan.
Adinda menggeleng-gelengkan kepala. Ia tak percaya dengan informasi yanh diberikan oleh sang kakak.
" Mas... Mas Zaid... Pulang Mas ! Dinda kangen ! " teriak Adinda dengan tangisan yang berderai.
Seketika dunia terasa berputar dan akhirnya Adinda ambruk. Beruntung Arjuna berhasil meraih tubuh Adinda sebelum jatuh menyentuh tanah.
Adinda membuka mata perlahan. Ia bisa merasakan empuknya kasur yang tengah ia tiduri. Adinda menatap sekeliling, ia bisa melihat semua orang yang ia sayangi berkumpul disana.
Semua keluarganya berkumpul di dalam kamar tidurnya. Adinda mencari kembali sosok yang ia rindukan. Tapi ia tak menemukan batang hidungnya sama sekali.
" Alhamdulillah, kamu sudah sadar nak " ucap Bunda Lia lega.
" Bunda... Mas Zaid mana ? Kenapa gak ada disini ? " tanya Adinda lirih.
Kirana dan Arjuna saling memandang, sementara Bu Sandra kini tersedu dalam pelukan Bunda Lia.
" Abang... Mas Zaid kenapa belum pulang ? Dinda gak nakal kok, jadi sekarang suruh Mas Zaid pulang ! " ucap Adinda memaksakan diri untuk bangkit dari tempat tidurnya dengan susah payah.
Pertiwi membantu Adinda bersandar pada headboard ranjang.
" Kak Tiwi, tolong panggil Mas Zaid ke sini. Bilang sama Mas Zaid kalau Dinda baik-baik aja " ucap Adinda membuat Pertiwi segera memeluk sang adik.
" Sabar de, kamu kuat ! " ucap Pertiwi sambil mengelus punggung Adinda.
Adinda melepas pelukan Pertiwi.
" Kak Tiwi ngomong apa sih ? Jangan bilang kalau Kak Tiwi juga percaya omongan Bang Juna. Bang Juna sama Mas Zaid lagi bohongin kita, mereka mau prank Dinda " ucap Adinda dengan yakin.
Arjuna berjalan mendekati Adinda, menatap iba sang adik yang didera lara.
" Abang... Bilang sama Kak Tiwi kalau abang sma Mas Zaid sekongkol bohongin Dinda. Ayo bilang kalau Mas Zaid masih hidup ! Abang... " Adinda menatap Arjuna dengan penuh harap.
Arjuna menggeleng pelan lalu membawa Adinda dalam dekapannya. Adinda menumpahkan segala kesedihannya dengan menangis di dada Arjuna.
" Abang bohong... Abang bohong... Bilang sama Dinda kalau Mas Zaid masih ada... Mas Zaid lagi di jalan, sebentar lagi Mas Zaid pulang. Ayo bilang, Bang ! " Adinda meronta dalam pelukan Arjuna sesekali ia memukul-mukul dada Arjuna.
__ADS_1
Arjuna begitu sedih dengan apa yang menimpa Adinda dan Zaid. Ia tak bergeming saat sang adik memukuli dadanya. Tentu saja hatinya juga begitu sakit. Ia harus mendapatkan berita sedih dua kali lipat. Kehilangan sahabat sekaligus adik iparnya.
Tak ada yang dikatakan Arjuna, ia hanya memeluk erat sang adik yang mulai mengendurkan pelukannya, bahkan suara tangisnya kini melemah. Hanya isakan kepedihan hati yang ada. Arjuna melepaskan pelukan saat dirasanya Adinda jauh lebih tenang.
Adinda menatapnya dengan tatapan kosong, seolah pancaran bahagia dalam sorot matanya sirna setelah mengetahui apa yang menimpa sang suami.
" Dinda... Kamu dengerin Abang ! Mobil yang ditumpangi Zaid memang mengalami kecelakaan tapi jasad Zaid tidak ada disana " jelas Arjuna.
" Jadi Mas Zaid masih hidup kan, bang ?" setitik harapan menyelimuti hati Adinda yang tadi sempat kosong.
Arjuna menghela nafas.
" Tidak ada yang tahu dan tidak ada yang bisa memastikan jika Zaid masih hidup atau tidak " ucap Arjuna tak ingin sang adik berharap lebih.
" Dinda yakin Mas Zaid masih hidup. Mas Zaid gak akan tinggalin Dinda kayak gini. Mas Zaid udah janji sama Dinda kalau Mas Zaid akan pulang. Iya kan Bu ? Ibu sama abang denger sendiri kan waktu itu Mas Zaid janji akan pulang " ucap Adinda dengan suara bergetar.
" Dinda... Ini udah ketetapan Tuhan, kamu harus ikhlas " ucap sang bunda.
" Engga... Dinda gak mau, Dinda mau Mas Zaid ! " ucap Adinda sambil bergerak turun dari kasur.
" Dinda mau cari Mas Zaid ! " jawab Adinda sambil berusaha melepaskan pegangan tangan sang kakak.
" Sekarang sudah malam. Besok kita cari Zaid ya. Abang janji temenin Dinda nyari Zaid " ucap Arjuna.
" Engga, Dinda mau cari Mas Zaid sekarang ! " ucap Adinda tak bisa dibantah.
Arjuna meraup kasar wajahnya. Adiknya yang satu ini memang sangat keras kepala.
" Abang tahu kamu khawatir, tapi kamu harus ingat anak dalam kandungan kamu " ucap Arjuna mengingatkan Adinda ada kehidupan lain yang harus ia jaga.
Adinda tertunduk lesu lalu mengelus perutnya yang semakin membesar.
" Nak... Kamu percaya bunda kan ? Ayahmu masih hidup... Bunda yakin ayahmu masih hidup " lirih Adinda pilu. Ia terus mengusap perutnya yang sedikit mengeras.
Seolah mengerti perkataan sang ibu, bayi dalam perutnya bergerak. Adinda menyeka air mata yang keluar dari sudut matanya.
" Dinda... " ucap Pertiwi bergerak mendekati sang adik lalu duduk di samping Adinda.
__ADS_1
Adinda tersenyum getir. Tak menyangka hari yang paling ditunggu untuk bertemu sang suami, hari yang seharusnya menjadi hari yang membahagiakan justru berbalik menjadi hari tersuram dalam hidupnya. Seolah mimpinya menjadi nyata.
Adinda memejamkan mata lalu memegangi dadanya, merasakan sesak dan berat menghimpit di rongga dada. Kilasan mimpi buruk yang pernah menghampirinya kini seakan menjadi kenyataan yang memberi luka dalam tak terperi.
Mengapa ? Mengapa jadi begini ? Tuhan, bukankah Engkau Maha Pelindung ?
Engkau yang paling berkuasa atas segala sesuatu.
Tuhan, tolong selamatkan suamiku dimana pun ia berada.
Ku mohon kembalikan suamiku padaku !
suara hati Adinda tak henti memanjatkan doa dan permohona kepada sang pencipta.
Sementara itu, tak jauh dari tebing jurang. Sesosok pria tergeletak di antara rimbunnya semak-semak. Terdapat luka-luka di sekujur tubuhnya.
Ya, pria itu adalah Zaid. Ia dapat melompat keluar dari dalam mobil sesaat sebelum mobil itu terjun bebas dan terguling sampai akhirnya meledak di dasar jurang.
Zaid sempat merayap menuju semak-semak untuk bersembunyi dari kejaran mereka yang membuntutinya. Untungnya para penjahat itu, langsung pergi begitu melihat mobil itu meledak tanpa mengecek lagi.
Zaid terbaring lemah, ia tak memiliki tenaga lagi untuk menggerakkan tubuhnya. Pikirannya mengembara mengingat sang istri yang sudah pasti menunggu kedatangannya.
Maafkan aku, Adinda... Maaf aku tak bisa menemuimu !
Aku mencintaimu, mencintai kalian...
Zaid mulai kehilangan kesadarannya.
Seseorang melangkahkan kakinya, mengamati mobil yang meledak di dasar jurang. Ia nampak tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Ia menuruni tebing, kemudian berjalan mendekati area yang cukup dekat dengan semak-semak dimana Zaid terbaring.
Dikarenakan orang-orang sudah banyak berdatangan, ia berjalan menjauh. Secara tak sengaja ia menyentuh sesuatu saat melangkah mundur. Tak bisa menjaga keseimbangan, ia pun terjatuh di samping Zaid.
Ia begitu terkejut saat melihat sosok yang terbaring tak berdaya dengan tubuh penuh luka. Ia menyeret tubuhnya menjauh, menormalkan detak jantungnya. Namun tak lama ia mendekati Zaid kembali. Menempelkan telinganya di dada sosok yang terbaring itu.
" Dia masih hidup " gumamnya tak percaya.
__ADS_1