Adinda Untuk Kapten Zaid

Adinda Untuk Kapten Zaid
Season 2 Part 15


__ADS_3

Bagas begitu antusias menyiapkan segala sesuatu yang harus dipersiapkan untuk berangkat menimba ilmu di Akademi Militer yang merupakan cita-citanya. Ia akan menimba pendidikan militer selama 4 tahun di Magelang.


Bagas seolah melupakan perasaannya sejenak kepada Alesha. Bahkan ia seolah tak memberi kesempatan pada Alesha untuk berbicara dengannya. Waktunya seolah habis untuk bersiap-siap. Entah itu memang benar bersiap atau juga untuk menghidar. Hanya Bagas yang tahu !


Menyadari jika Bagas begitu antusias dan bersemangat dalam melakukan persiapannya sebelum berangkat ke Magelang membuat Alesha hanya bisa mengurut dada. Alesha ingin sekali berbicara banyak dengan Bagas, namun ia juga sadar jika Bagas memiliki impiannya sendiri dan ia tak ingin Bagas menjadi terbebani. Alesha hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Bagas.


Satu hari sebelum kepulangan Alesha ke rumahnya, Alesha pergi bersama Indira jalan-jalan. Sesungguhnya, Alesha ingin sekali ditemani oleh Bagas seperti yang biasa dilakukan, namun apa daya Bagas ada janji bersama temannya yang sama-sama lulus Akmil.


Alesha dan Indira tiba di salah satu pusat perbelanjaan. Mereka pergi kesana dengan diantar oleh supir keluarga Adinda. Cukup lama mereka berkeliling, mencari pernak-pernik lucu. Hingga akhirnya, mereka tiba di sebuah toko yang menjual syal. Alesha mengajak Indira masuk ke dalam toko.


" Kak Lesha mau beli apa ? " tanya Indira heran saat Alesha mengajaknya masuk dan melihat-lihat barang yang ada disana.


" Kak Lesha mau beliin syal buat Bagas. Yang ini bagus gak ? " tanya Alesha sambil menunjuk sebuah syal bercorak.


" Bagus, Bang Bagas pasti suka. Apalagi yang ngasihnya Kak Lesha " celoteh Indira membuat Alesha menampakkan senyuman di wajah cantiknya.


" Emangnya Kak Lesha mau ngasih apa sih ? " tanya Indira penasaran.


" Kak Lesha mau ngasih syal, topi, sama alat sholat buat Bang Bagas. Gimana ? "


" Kenapa harus ngasih alat sholat sih Kak ? Bang Bagas kan udah punya di rumah " tanya Indira heran.


" Supaya Bang Bagas inget terus sama Kak Lesha. Kak Lesha harap setiap Bang Bagas sholat dan melihat alat sholat dari Kak Lesha, Bang Bagas inget juga sama Kak Lesha " jelas Alesha.


" Oh gitu... Jadi biar Bang Bagas itu tahu kalau ada Kak Lesha yang selalu doain Bang Bagas ya " tebak Indira manggut-manggut.


" Iya, berharapnya sih gitu... " sahut Alesha dengan senyum tipis.


" Sekarang Kak Lesha yang ngasih alat sholat buat Bang Bagas. Nanti gantian Bang Bagas yang kasih alat sholat buat Kak Lesha " ucap Indira terkekeh.

__ADS_1


" Maksudnya gimana ? " tanya Alesha bingung dengan ucapan Indira.


" Iya, nanti kan kalau Bang Bagas nikah sama Kak Lesha mas kawinnya alat sholat juga kan " ucap Indira polos.


Alesha menatapi Indira yang tersenyum dengan polosnya. Pikiran Alesha berkelana,


" Huft... Itu gak mungkin Dira... Mana mungkin Bagas menikah denganku. Saat ini saja, dia menjaga jarak dariku " keluh Alesha di dalam hatinya.


" Kak... Kak Lesha kok diem aja sih ? Yang Dira omongin bener kan ? " tanya Indira dengan wajah imutnya.


Alesha mengangguk,


" Ya, dengan siapapun nanti Bagas menikah pasti Bang Bagas bawa alat sholat untuk mas kawin " jelas Alesha berusaha membuat Indira mengerti.


" Tapi Dira cuma mau Bang Bagas sama Kak Lesha ! " tegas Indira bersikukuh.


Alesha tak memperpanjang lagi pembicaraannya. Ia bergegas membayar syal dan topi yang sudah dipilihnya. Kini ia mencari alat sholat untuk Bagas.


Alesha bertekad untuk mendapatkan semuanya hari ini karena besok ia sudah pulang dan ia tak mungkin bisa bertemu kembali dengan Bagas untuk waktu yang sangat lama.


Alesha telah selesai mendapatkan semua yang ia cari. Kemudian ia dan Indira pulang. Alesha membungkus rapi semua yang dibelinya kemudian menuliskan kalimat pada kartu ucapan sebelum akhirnya memasukkan ke dalam paper bag.


Hai, Bagas... ! Sebenarnya, aku mau kasih ini langsung sama kamu. Tapi rasanya belakangan ini kita tak lagi punya waktu luang bersama. Semoga apa yang aku kasih ini bisa bermanfaat untuk kamu ya ! Semoga kamu sukses dan semua cita-citamu tercapai.


Maaf kalau aku ada salah. Tadinya aku berharap kita bisa sama-sama. Ternyata aku salah...


Semua salah aku yang gak menyadari sejak awal jika ternyata kamu yang aku mau bukan Bang Evan.


Dan ketika aku sadar, semua sudah terlambat. Kamu sudah menjauh...

__ADS_1


Terima kasih untuk semua perhatianmu selama ini. Semoga kamu suka kenang-kenangan dari aku ya !


Salam sayang,


Alesha


Alesha ingin sekali memberikannya langsung kepada Bagas. Namun hingga malam tiba, ia tak menjumpai Bagas. Rupanya Bagas memilih untuk menginap di rumah Alfian, temannya yang juga lulus Akademi Militer.


" Lo kenapa gak pulang aja sih Gas ? Bukannya cewek yang lo suka itu, pulang ya besok " ucap Alfian sambil menghampiri Bagas yang berdiri di balkon kamar Alfian memandangi langit malam.


Bagas menoleh pada Alfian yang kini duduk di sebelahnya.


" Gue cuma gak sanggup lihat dia pergi. Lagian udah gak ada kesempatan buat gue. Besok orang tua gue mau ke rumahnya, mau memperjelas hubungan dia sama kakak gue. Yah, daripada nambah sakit hati mendingan gue gak lihat dia aja " jawab Bagas.


" Ya, seenggaknya lo usaha dulu... Lo bilang sama dia perasaan lo yang sebenarnya... Mungkin aja kan dia punya perasaan yang sama. Gak ada yang gak mungkin di dunia ini bro " sahut Alfian.


Bagas menghirup oksigen kemudian membuang nafasnya. Bagas sudah menyerah, rasanya memang tidak mungkin membuat Alesha berpaling dari sang kakak. Bahkan sudah jelas-jelas Alesha tahu jika sang kakak mencintai wanita lain, ia tetap bertahan hingga orang tuanya memutuskan untuk memperjelas hubungan keduanya.


Bagas tak ingin egois dengan terus memaksakan perasaannya sendiri kepada Alesha. Biarlah, ia yang sakit sendiri toh memang itu sudah resiko baginya yang mencintai wanita milik orang lain.


" Ya udah sih bro, kalau itu udah keputusan lo. Gue cuma gak mau ada penyesalan nantinya " ucap Alfian menepuk pundak Bagas.


" Eh, tapi seandainya nih... Seandainya si Lesha itu ternyata suka sama lo dan ternyata perjodohan kakak lo itu dibatalin. Lo mau ngapain ? " tanya Alfian berandai-andai.


" Kalau itu kenyataan, gue bakalan susulin dia ke rumahnya dan gue langsung lamar ke orang tuanya " jawab Bagas semangat.


" Tapi, sayangnya itu cuma mimpi ! Udahlah, gue mau tidur. Ngantuk gue... " tambah Bagas lagi kemudian masuk ke dalam kamar dan segera merebahkan diri di atas ranjang milik Alfian.


Lesha... Kalau aja itu kenyataan, tanpa ragu sedikit pun aku akan segera melamarmu !

__ADS_1


__ADS_2