
Sudah 2 bulan berlalu, Zaid masih belum bisa kembali. Ia dan pasukannya fokus untuk memberantas penyelundupan yang diperkirakan berkaitan dengan para petinggi negara bahkan mungkin petinggi di kalangan militer itu sendiri.
Zaid menatap tinggi dan rimbunnya pepohonan yang mengelilingi markas komando yang ditempatinya beserta 20 orang timnya.
Di tempat ini, untuk berkomunikasi sangatlah sulit karena tidak ada jaringan telekomunikasi. Untuk komunikasi prajurit, mereka menggunakan walkie yalkie. Tapi untuk berkomunikasi dengan dunia luar, satu-satunya jalan untuk adalah dengan melakukan perjalanan keluar dari hutan selama 3 jam agar mencapai kota terdekat. Karena itu mereka akan bergiliran ke kota setiap 3 hari sekali.
Zaid selalu menyempatkan waktu untuk menelpon sang istri saat pergi ke kota. Hanya dengan melihatnya lewat video call saja, setidaknya menghilangkan rasa rindunya yang membuncah. Sungguh, ia sangat ingin memeluk istrinya itu, apalagi saat ini perut sang istri semakin membuncit. Zaid begitu ingin mengusap perut buncit itu, menyampaikan rasa sayang pada sang jabang bayi.
" Kapten, pergerakan target terlihat di bagian selatan dermaga " lapor sang anak buah yang seketika membuyarkan pikiran Zaid.
" Baik, semua bersiap ! Kita menuju target " seru Zaid, meminta semua anggota timnya bergerak. Tak lupa ia memakai rompi anti peluru, head set, helm dan membawa senjata api.
Semua anggota tim sudah mengepung target. Hanya nampak beberapa orang sedang menaikkan beberapa box barang ke dalam peti kemas. Suasana gelap gulita, hanya cahaya dari beberapa lampu pada kapal tongkang yang menunggu di sisi dermaga. Selebihnya tidak ada cahaya lain, selain bintang yang bercahaya di langit yang kelam.
Mata Zaid menelisik tajam, sebagai pemimpin dalam tim, ia harus berhati-hati. Tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan. Zaid membagi anggota kelompoknya menjadi beberapa regu. 3 regu siap bergerak dan 2 regu lainnya disiapkan sebagai pasukan bayangan. Ia sendiri ditemani oleh 4 orang anggotanya.
Zaid memberikan isyarat agar pasukannya bersiap menyerang, kemudian secara serentak mereka mengepung target. Terjadi tembak menembak antara pasukan Zaid dengan musuh.
Zaid dan pasukannya terjebak, musuh ternyata memiliki pasukan lain yang membantu mereka melawan.
" Kapten, sepertinya ini perangkap musuh. Mereka sengaja memancing kita untuk mengetahui jumlah anggota kita " ucap sang anak buah. Mereka berlindung di belakang peti kemas sambil sesekali melepaskan tembakan.
Sial, sepertinya ada pengkhianat dalam pasukanku ! Geram Zaid.
" Kita sudah sampai sejauh ini, kita harus menyelesaikannya " seru Zaid.
" Siap Kapten " ucap anak buahnya yang lain.
" Kerahkan pasukan bayangan untuk membantu kita " titah Zaid mengintruksikan pada anak buahnya itu.
" Aku akan maju, kau lindungi aku " seru Zaid.
" Tapi itu terlalu berbahaya, Kapten ! Anda akan langsung menjadi target mereka " sahut anak buahnya yang lain.
" Itu rencananya, saat mereka menargetkanku. Kalian menyerang mereka. Kalian siap ? "
" Siap kapten " jawab mereka serempak.
__ADS_1
" Siap pada hitungan ke tiga. Satu... Dua... Tiga."
Zaid keluar dari persembunyian. Sesuai perkiraan, mereka segera menyerang Zaid. Anak buah Zaid pun tak tinggal diam. Mereka fokus melihat pergerakan musuh yang menargetkan sang Kapten. Kemudian mereka berhasil melumpuhkan musuh satu per satu. Dan akhirnya operasi mereka berhasil menggagalkan penyelundupan senjata api serta narkoba ke luar negeri.
Operasi gabungan antara TNI dan POLRI dalam memberantas penyelundupan telah berhasil diselesaikan dengan baik. Semua pelaku sudah tertangkap. Kini hanya tinggal menunggu waktu siapakah aktor utamanya dan itu akan segera diselidiki oleh otoritas lain.
Semua anggota tim, bersorak bahagia karena mereka telah menyelesaikan misi dan akan segera kembali berkumpul bersama keluarga tercinta.
Zaid tersenyum penuh kemenangan. Setelah sampai di kota, ia segera menghubungi sang istri yang kemungkinan masih tertidur mengingat ini masih dini hari.
Akhirnya, setelah sekian lama kita akan bertemu lagi, Dinda .
Zaid menekan nomor sang istri pada ponselnya, lama Adinda tak juga mengangkat telepon. Hingga setelah panggilan ke 7, Adinda menjawab panggilannya.
" Mas ? Mas gak apa-apa kan ? " tanya sang istri khawatir.
" Gak apa-apa sayang. Mas cuma kangen " jawab Zaid.
" Kalau kangen cepetan pulang !" seru Adinda manja.
" Iya, besok Mas pulang. Kamu tunggu ya, kita akan segera bertemu! " sahut Zaid.
" Iya, sayang. Sampai bertemu di rumah. Aku mencintaimu " ucap Zaid.
" Aku juga " jawab Adinda kemudian menutup panggilan telepon.
Senyuman tersungging di wajah Zaid. Akhirnya, ia akan segera bertemu dengan wanita yang paling ia cintai.
Hari bergulir, semua pasukan telah masuk ke dalam pesawat hercules yang akan membawa mereka kembali pulang.
" Apa yang akan anda lakukan Kapten setelah pulang ? " tanya salah satu anggotanya.
" Pasti mau pelukin istri, pasti sudah gak tahan " tebak anggota lainnya.
" Itu sih kamu, pasti langsung ajakin ngerem di kamar seharian " timpal yang lain diiringi tawa dan sorakan.
Zaid hanya tersenyum, tak banyak bicara. Tapi jauh di lubuk hatinya, ia pun berpikiran sama. Ia akan mengurung sang istri di kamar sama seperti yang dilakukannya saat pulang tugas dari Bali.
__ADS_1
Pesawat yang ditumpangi telah mendarat di bandara. Seluruh anggota bersiap kembali menuju rumah masing-masing, setelah sebelumnya disambut oleh Komandan mereka.
Zaid bersiap menghubungi Arjuna agar menjemputnya. Namun, karena ingin segera bertemu sang istri tercinta Zaid memutuskan untuk naik taksi online.
5 menit menunggu, taksi yang dipesan akhirnya tiba. Zaid segera masuk dan meninggalkan bandara.
Tanpa Zaid sadari, ada mobil yang membuntutinya selepas keluar dari bandara.
" Target sudah keluar, Bos ! " ucap seseorang yang ada di dalam mobil hitam tersebut.
" Bagus, kalian ikuti. Jika ada kesempatan, segera habisi " jawabnya.
" Baik, Bos ! " sahut sang anak buah sambil menutup telepon.
Kamu telah membuatku rugi besar, aku akan melenyapkanmu ! Disana kau masih bisa lolos, kita lihat apakah kali ini kau bisa lolos juga. Ha...ha... ha...ha... Kamu pasti mati !
Ucap seseorang di sebrang telepon sambil mengepalkan tangannya.
" Baru pulang tugas ya, Pak ? " tanya sang supir taksi.
" Iya " jawab Zaid singkat.
" Pasti kangen sama keluarga ya Pak... Saya aja pulang setiap hari tapi tetap kangen pulang " ucapnya menvairkan suasana.
Zaid hanya menanggapi dengan senyuman.
" Anaknya sudah berapa Pak ? " tanyanya lagi.
" Istri lagi hamil anak pertama, Pak " jawab Zaid sopan.
" Oalah... Baru mau punya anak toh. Kalau saya udah punya anak tiga, Pak. Sekarang istri saya malah lagi hamil anak ke empat, sekitar 2 minggu lagi mau melahirkan. Makanya kerja keras dari pagi sampai malam biar dapet biaya untuk tambahan melahirkan " kisahnya.
" Semoga bapak banyak rejeki ya " ucap Zaid tulus.
" Aamiin... " sahutnya.
Zaid sekilas melihat ke arah kaca spion depan. Terlihat sebuah mobil hitam yang mengikuti kendaraan yang ditumpanginya. Menyadari jika ia tengah dikuntit, Zaid meraup kasar wajahnya.
__ADS_1
Sepertinya, perkiraanku benar. Ada musuh dalam selimut !