Adinda Untuk Kapten Zaid

Adinda Untuk Kapten Zaid
AKZ part 24


__ADS_3

Farhan membawa Pertiwi ke taman belakang rumah sakit. Disana cukup sepi, hingga mereka tidak khawatir orang-orang akan mencurigai mereka.


Pertiwi menghapus sisa air mata di wajahnya. Sementara Farhan terlihat mengamati saja wajah sendu istrinya itu.


" Kamu ketemu dokter Mario ? " tanya Farhan setelah beberapa saat membiarkan istrinya itu terisak.


Anggukan kepala Pertiwi menjadi jawaban atas pertanyaan Farhan. Farhan berdecak kesal.


" Kalau hanya akan menambah lukamu. Sebaiknya kamu tinggalkan rumah sakit ini. Tuan Kevin bersedia memberikanmu pekerjaan, walaupun hanya di klinik perusahaannya bukan di rumah sakit besar. Tetapi itu bisa menjadi solusi agar kamu bisa menata hatimu dulu " ucap Farhan.


Pertiwi hanya diam, ia menimang-nimang untuk menerima tawaran dari mantan atasan suaminya itu.


Farhan sedari tadi sibuk memperhatikan Pertiwi. Ia berharap Pertiwi mau menerima tawarannya. Ia merasa jika Pertiwi akan jauh lebih aman dan nyaman jika meninggalkan pekerjaannya di rumah sakit ini. Selain itu, ia juga enggan jika sang istri bekerja di rumah sakit yang sama dengan Mario. Ia khawatir jika Mario akan melakukan hal yang tidak-tidak kepada istrinya itu.


Pertiwi menghirup nafas dalam-dalam lalu menatap Farhan.


" Maaf... " ucap Pertiwi lirih seraya menghela nafas.


" Maaf ? Untuk apa kamu meminta maaf ? " tanya Farhan. Keningnya berkerut mendengar ucapan singkat sang istri. Ia menatap istrinya yang tengah tertunduk.


" Maaf... Sampai saat ini, aku hanya bisa membiarkanmu larut dalam masalahku. Maaf karena aku belum bisa menjadi istri seutuhnya..."


Farhan menarik sudut bibirnya. Ada rasa bahagia menyelimuti hatinya. Ternyata sang istri menyadari bahwa ia adalah suaminya meskipun mereka pernah membuat perjanjian kesepakatan agar tidak ada rasa diantara mereka berdua dan pernikahan mereka yang akan berakhir setelah satu tahun.


" Aku akan selalu menunggumu, sampai hati dan pikiranmu sepenuhnya menjadi milikku. Aku akan mengobati luka hatimu " gumam Farhan dalam hati.


Ya hanya dalam hati saja. Farhan belum bisa mengatakan perasaan yang sebenarnya pada Pertiwi. Perasaan cinta yang begitu besarnya. Farhan tahu pasti hati sang istri masih terluka dalam. Tapi ia akan berusaha mengobati dan memperbaiki hati Pertiwi hingga nanti dialah yang akan menjadi pemilik hati dokter cantik itu.


Farhan mengangkat dagu Pertiwi, perlahan dilihatnya wajah cantik yang sendu itu.


" Aku akan selalu mendampingimu, bahkan meskipun kamu menolak. Aku akan selalu menjaga dan melindungimu " ucap Farhan dengan lembut.


Pertiwi menatap wajah sang suami. Ia bisa melihat dan merasakan ke dalam tatapan mata Farhan ada ketulusan dan cinta yang besar untuknya.

__ADS_1


" Terima kasih, karena kamu selalu ada untukku " ucap Pertiwi dengan senyum tulus.


" Bisakah kamu membuka hatimu untukku ? " tanya Farhan terus terang.


Farhan meraih tangan Pertiwi dan menggenggamnya erat.


" Aku tahu, kamu masih terluka bahkan mungkin kamu masih memiliki tempat untuknya di hatimu. Tidak bisakah aku juga memiliki tempat di hatimu ? Sejujurnya aku mulai mencintaimu " ucap Farhan jujur dan apa adanya.


Pertiwi menarik tangannya dari genggaman tangan Farhan.


" Aku... Maaf, saat ini aku belum bisa... " jawab Pertiwi.


Farhan menghembus nafasnya kasar.


" Karena aku tidak sebanding dengannya ? Aku hanyalah seorang security hingga tak pantas untuk bersanding denganmu ? " tanya Farhan sedikit sinis.


" Bukan karena itu, Han... Aku dan keluargaku tidak pernah memandang seseorang karena kedudukan dan jabatannya. Semua karena waktu yang tak tepat. Mungkin kita berdua ada dalam rasa yang sama di waktu yang salah. Jadi biarkan waktu juga yang memutuskan akan seperti apa hubungan kita nanti " jawab Pertiwi sambil menatap Farhan.


Ada rasa yang menggelitik hati saat bersama dengan Farhan. Ya, rasa nyaman yang diberikan oleh Farhan sedikitnya membuat Pertiwi memberikan tempat khusus di hatinya untuk Farhan. Cinta atau hanya simpati ? Pertiwi pun tak mengerti, ia masih mencari tahu perasaannya sendiri.


Mungkinkah pria di hadapannya ini adalah jodoh utusan Tuhan yang akan menemani hari-harinya hingga tua nanti. Pria yang mau mengorbankan kehidupannya dengan menikahinya karena paksaan dari kakaknya.


Sungguh, Pertiwi berpikir sangat keras. Jika memang pria di hadapannya ini adalah pilihan Tuhan untuk menjadi jodohnya, ia tak akan menolaknya. Semua karena takdir saat Tuhan mempertemukan mereka dan semoga jalan Tuhan pula yang menyatukan mereka.


" Ayo... Kita pulang ! " ajak Pertiwi sambil meraih tangan Farhan.


" Tapi... "


" Ayo, kita biarkan mereka semua tahu kalau kita sudah menikah " potong Pertiwi sambil menggandeng lengan Farhan.


" Apa kata orang nanti jika mereka mengetahui kamu memilih menikah denganku daripada menikah dengan dokter Mario " ucap Farhan menahan langkah Pertiwi.


" Untuk apa memikirkan pendapat orang lain. Mereka hanya bisa berpendapat tapi mereka tidak tahu kenyataan sebenarnya. Disini aku yang tahu dan aku yang merasakan. Cukuplah kamu selalu bersamaku " jelas Pertiwi.

__ADS_1


Ucapan Pertiwi memberikan angin segar kepada Farhan, ia memberanikan diri menautkan jemarinya dengan jemari tangan Pertiwi. Keduanya saling memandang dan tersenyum satu sama lain.


" Lepaskan tanganmu dari tunanganku ! " perintah Mario yang kini telah berada di hadapan mereka berdua.


Mario menarik tangan Pertiwi, namun Farhan menahannya.


" Anda yang seharusnya melepaskan tangan anda ! " seru Farhan menatap sengit pada pria yang menarik tangan Pertiwi.


" Kamu tidak berhak menyentuhnya ! Dia wanitaku ! " gertak Mario.


" Berhenti Mario, cukup ! " ucap Pertiwi lalu menghempaskan pegangan tangan Mario.


Pertiwi merangkul lengan Farhan,


" Dia lebih berhak karena dia adalah suamiku " tegas Pertiwi.


Mario tercengang mendengar pengakuan Pertiwi, namun sejurus kemudian dia tertawa.


" Cukup sayang... Kamu pikir aku akan percaya jika kamu menikah dengannya. Baiklah sayang, kita bisa bicarakan hal ini. Aku tahu kamu kecewa tapi bukan berarti kamu bisa membodohiku dengan mengatakan hal yang tidak masuk akal ini " tutur Mario sambil berjalan menghampiri Pertiwi dan menarik tangan Pertiwi.


" Saya minta dengan hormat agar anda melepaskan tangan istri saya ! " seru Farhan menahan gemuruh rasa di dadanya.


" Kamu yang seharusnya melepaskannya bukan aku ! " tantang Mario.


Bugh...


Farhan melayangkan pukulan ke wajah Mario.


" Itu peringatan karena anda telah berani menyentuh istri saya. Dan saya akan pastikan anda mendapatkan yang lebih dari ini jika masih mengganggu istri saya " tekan Farhan lalu berjalan menjauhi Mario yang meringis menahan sakit di sudut bibirnya.


Pertiwi memilih mengikuti Farhan daripada mengobati Mario.


" Aku pastikan kamu tidak akan lagi bekerja di rumah sakit ini ! " ancam Mario setengah berteriak.

__ADS_1


" Baik, saya akan dengan senang hati mengundurkan diri dari sini " tukas Farhan tanpa membalik badannya dan terus berjalan bersama dengan sang istri.


Kita lihat saja aku atau dirimu yang angkat kaki dari rumah sakit ini. Kau tunggu saja saat-saat kehancuranmu dan ayahmu itu !


__ADS_2