Adinda Untuk Kapten Zaid

Adinda Untuk Kapten Zaid
AKZ part 32


__ADS_3

Hubungan Pertiwi dan Farhan sudah berjalan sebagaimana halnya pasangan pengantin baru pada umumnya. Keduanya sudah saling menerima dan saling mencintai satu sama lain.


Sementara dokter Harun masih berupaya untuk membuat para pemegang saham memberikan suaranya kepadanya sebagai direktur Rumah Sakit.


Tuan Esa Adijaya, ayah kandung dari Farhan kini telah berada di Indonesia atas permintaan dari sang anak. Sekarang tiba waktunya bagi Farhan untuk membongkar kebusukan dari Dokter Harun.


Pertiwi sudah berangkat menuju Klinik, sementara Farhan masih bersantai di apartemen. Farhan merasa begitu beruntung, karena memiliki istri yang begitu baik. Cantik wajahnya juga cantik hatinya. Dalam hati ia merasa bahagia ternyata masalah yang menderanya memberikan berkah tersendiri. Tak pernah ia bayangkan, jika kedatangannya ke Indonesia justru membawa banyak perubahan untuknya.


Ia yang semula selalu menolak keinginan sang ayah yang memintanya untuk segera menikah, justru terpaksa menikah dengan Pertiwi, dokter cantik yang telah membuat dunianya berubah arah. Walau tidak dimulai dengan awal yang indah namun ia yakin akan berakhir dengan hubungan yang indah.


Senyuman terpatri di wajah tampan Farhan saat melihat foto pernikahannya yang sederhana bersama Pertiwi. Ia berjanji akan memberikan resepsi yang megah setelah segala urusannya selesai dan ia bisa berterus terang yang sebenarnya kepada Pertiwi.


Suara bel pintu berbunyi, Farhan berjalan santai menuju pintu dan membukanya. Sungguh betapa ia sangat terkejut melihat sosok yang berdiri di hadapannya.


" Papi ? Untuk apa papi datang kemari ? " tanya Farhan.


" Dasar kurang ajar. Papimu datang bukannya kamu suruh masuk malah interogasi " jawab sang ayah yang langsung merangsek masuk ke dalam apartemen.


Farhan berdecak, malas meladeni orang tuanya yang satu ini.


" Mana istrimu ? " tanya Tuan Esa sambil duduk di sofa.


" Sudah berangkat kerja " jawab Farhan santai.


" Istrimu sudah berangkat dan kau masih malas-malasan. Sungguh tak tahu malu " cibir sang ayah.


Farhan hanya memutar bola matanya malas.


Tuan Adijaya melihat foto pernikahan yang tergeletak di atas meja, ia meraihnya lalu mengamati dengan seksama.


" Jadi dia ini benar istrimu ? " tanya sang ayah sambil menunjuk foto Pertiwi.


" Ya, ada yang salah ? " sahut Farhan cuek lalu mengambil alih foto dari tangan sang ayah.


" Ternyata kamu pandai memilih calon istri. Pantas saja kamu selalu menolak wanita yang ayah pilihkan " ucap Tuan Adijaya tergelak.


" Gak usah pura-pura, Pi... Aku tahu betul pasti Papi sudah tahu segala sesuatu tentangnya, bahkan apa yang sebenarnya terjadi hingga sampai terjadi pernikahan ini " tuduh Farhan.


Tuan Esa menarik sudut bibirnya. Tentu saja ia tahu apa yang terjadi terhadap putranya karena ia selalu mengawasi gerak gerik sang putra semata wayangnya.


" Lalu kapan kamu mengenalkannya pada Papi. Papi juga ingin mengenal menantu dan keluarga besan Papi " todong Tuan Adijaya.

__ADS_1


" Setelah semuanya selesai dan orang yang Papi percayai itu membusuk di penjara " jawab Farhan pasti.


Tuan Esa mengangguk paham. Farhan merebahkan tubuhnya di atas sofa. Ia berbaring dengan satu tangan menutupi wajahnya dan lutut yang ditekuk, berusaha membuat tubuhnya di posisi yang nyaman. Belakangan ini, ia kurang istirahat karena ada banyak pekerjaan di perusahaan serta menganalisa hasil penyelidikan tentang keuangan Rumah Sakit milik sang ayah.


Tuan Esa bangkit lalu bergerak menuju pintu.


" Eh, Papi mau kemana ? " tanya Farhan saat menyadari sang ayah telah bangkit dari duduknya.


" Papi ada janji. Nanti kita ketemu lagi ! " jawab Tuan Esa tanpa menoleh pada sang anak lalu keluar dari dalam apartemen.


" Kebiasaan, datang gak diundang pulang gak dianter. Udah kaya jelangkung aja ! " gumam Farhan sambil menggelengkan kepala.


Farhan kembali merebahkan diri di sofa, tak lama kemudian ia tertidur.


Ponsel Farhan berdering, membuat Farhan memaksa membuka kelopak matanya yang masih berat untuk terbuka.


" Kamu dimana, Han ? " tanya Pertiwi.


" Ng... Masih di apartemen, kenapa kangen ya ? " seloroh Farhan dengan percaya diri.


" Lho, kamu gak kerja ? " tanya Pertiwi heran.


" Engga, ada Kevin yang ngerjain " jawab Farhan jujur.


" Eh... Anu, itu Pak Kevin tadi nyuruh ke kantornya. Ada yang harus dikerjain soalnya " jawab Farhan kelimpungan. Ia menepuk mulutnya yang uncontrol itu.


" Oh... gitu "


" Memangnya ada apa ? " tanya Farhan penasaran.


" Tadinya mau ajakin makan siang. Aku dapat undangan makan siang ini " jawab Pertiwi.


" Ok, aku jemput kamu sekarang kalau gitu " ucap Farhan semangat.


" Beneran Pak Kevin gak apa-apa ?" cemas Pertiwi.


" Gak apa-apa. Nanti aku ijin aja ke kantor Pak Kevin habis makan siang " ucap Farhan.


" Ya udah kalau gitu. Aku tunggu ya !" ucap Pertiwi lalu menutup telpon.


Farhan bergegas merapikan diri. Lalu berangkat menuju klinik tempat sang istri bekerja.

__ADS_1


Pertiwi sudah menunggu di depan klinik saat Farhan datang. Kemudian Pertiwi masuk ke dalam mobil yang dikendarai Farhan yang diketahui Pertiwi bahwa itu adalah milik Kevin.


Mereka pun segera berangkat menuju restoran.


Keduanya masuk ke dalam restoran lalu disambut oleh seorang pelayan yang menayakan reservasi. Setelah menjelaskan, pelayan itu membawa mereka ke ruangan khusus tamu VIP.


" Pasien kamu orang kaya ? " tanya Farhan heran dengan fasilitas yang diberikan untuk mereka.


" Gak tahu, kemarin ada pasien sakit jantung datang. Kayaknya telat minum obat, makanya kambuh pas di depan klinik. Aku tolongin, terus dia kasih undangan makan sebagai rasa terima kasihnya "


Pelayan membukakan pintu, dan mereka berdua pun masuk. Di dalam ruangan telah hadir seorang pria paruh baya menunggu mereka. Wajahnya menyunggingkan senyum saat Pertiwi dan Farhan masuk.


"Ah... Dasar orang tua satu ini selalu saja ada ide" gerutu Farhan dalam hati.


" Selamat siang Tuan Esa " ucap Pertiwi sambil menjabat tangan Tuan Esa yang tak lain adalah ayah mertuanya.


" Selamat siang, dokter. Terima kasih sudah berkenan memenuhi undangan dari saya " Tuan Esa meraih tangan Pertiwi lalu menjabatnya.


" Jadi, pria di sebelah anda ini adalah suami anda ? " tanya Tuan Esa berbasa basi sambil melirik Farhan.


" Iya, betul. Ini suami saya, Tuan " jawab Pertiwi mengenalkan Farhan.


Farhan mengulurkan tangan dengan malas namun terpaksa tersenyum agar sang istri tidak menaruh curiga.


Tuan Esa dan Farhan saling berjabatan tangan. Sungguh rasanya Tuan Esa ingin tertawa melihat ekspresi sang anak.


" Anda sangat beruntung mendapatkan seorang istri seperti Dokter Pertiwi. Sudah cantik , juga orang yang sangat baik. Anda harus menjaganya dengan baik " tutur Tuan Esa.


" Tentu saja, saya tidak akan menyia-nyiakannya. Saya sangat mencintai istri saya " tegas Farhan menggenggam tangan sang istri.


Pertiwi tersenyum mendengar jawaban dari sang suami.


Tuan Esa mengangguk-angguk. Ia begitu bahagia dan bangga dengan jawaban putranya itu.


Mereka bertiga akhirnya duduk bersama dan siap menikmati hidangan yang telah disiapkan khusus untuk jamuan makan mereka.


Selama makan tak hentinya Tuan Esa tersenyum, rona kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya.


" Anda tidak makan Tuan ? " tanya Pertiwi saat melihat Tuan Esa tidak menyentuh sedikitpun hidangan yang ada.


" Ah, iya. Saya hanya bahagia melihat kalian berdua. Saya seperti merasakan sedang makan bersama anak dan menantu saya " ucap Tuan Esa penuh haru.

__ADS_1


Aku akan sangat menantikan saat kita duduk dalam satu meja sebagai keluarga yang sebenarnya tanpa ada sandiwara seperti ini.


Tuan Esa tersenyum penuh arti


__ADS_2