Adinda Untuk Kapten Zaid

Adinda Untuk Kapten Zaid
AKZ part 48


__ADS_3

Arjuna dan Zaid berbicara serius di halaman belakang. Mereka membicarakan rencana penyerangan kelompok Black Sky yang menjadi dalang kecelakaan Zaid.


Informasi telah mereka dapatkan berkat bantuan dari Farhan yang memiliki koneksi kepada kelompok-kelompok garis kanan dan garis kiri. Kini mereka hanya fokus untuk meringkus dan mencari tahu akar permasalahan yang ada sehingga mereka menargetkan Zaid.


Rasanya sedikit janggal, hanya karena operasi penumpasan yang digagas oleh negara justru mereka menyerang secara pribadi kepada Zaid.


" Nanti malam kita bergerak, Id. Kita sudah mendapatkan koordinat markas mereka " ucap Arjuna dengan mode serius.


" Bagus, lebih cepat lebih baik. Aku juga ingin tahu alasan mereka menargetkanku " sahut Zaid penuh tanda tanya.


" Oh iya, Jun... Kamu sudah menyiapkan tim kita dengan orang yang berbeda kan ? " tanya Zaid memastikan.


" Tentu, mereka orang-orang kepercayaanku. Aku sendiri yang menyeleksi mereka. Kenapa ? Sepertinya kamu curiga dengan tim sebelumnya ? " tanya Arjuna menebak.


" Ya, sepertinya ada seseorang yang menjadi mata dan telinga mereka. Setelah bocornya rencana penyergapan kemarin, rasanya tidak mungkin ada orang lain selain tim ku saat itu yang mengetahui rencananya. Dan aku harus tahu, maksudnya sebenarnya " geram Zaid dengan mengepalkan tangannya.


" Jadi kamu siap kembali lagi di lapangan ? Apa kamu sudah pikirkan Adinda ? " tanya Arjuna.


" Aku akan segera mengatakan pada Adinda "


" Mengatakan apa Mas ? " tanya Adinda tiba-tiba berada diantara Zaid dan Arjuna.


" Sayang, kamu denger ? " selidik Zaid.


" Jadi Mas Zaid mau tinggalin Dinda lagi ? Mas Zaid tega sama Dinda ? " ucap Adinda dengan suara yang bergetar.


Tidak hanya suara yang bergetar, bahkan air mata kini lolos begitu saja dari pelupuk mata Adinda.


" Sayang... " Zaid menghampiri Adinda, namun Adinda melangkah mundur setiap kali Zaid mendekat hingga Adinda berlari meninggalkan mereka.

__ADS_1


Brak... Terdengar suara pintu kamar ditutup dengan kencang.


" Hem... Mendingan kamu pikirin lagi, Id. Bukannya aku larang, cuma wajarlah si Dinda sikapnya begitu. Baru aja dia ketemu kamu, terus sekarang kamu udah mau pergi lagi. Coba kamu pikirin perasaannya ! " nasehat Arjuna.


" Tapi semua masalah ini gak bisa dibiarin berlarut-larut. Semakin cepat ditangani semakin baik. Aku cuma gak mau nanti keluargaku ikut terbawa dalam bahaya " sahut Zaid penuh kekhawatiran.


" Ya, itu semua terserah lo sih, Id. Gue cuma gak mau Adinda terluka lagi " Arjuna mengingatkan Zaid. Ia tahu betul hancurnya perasaan sang adik saat kehilangan suaminya.


" Ya udah, kalau gitu gue balik ke kantor dulu. Siapin segala sesuatunya. Tugas lo sekarang bujukin tuh adek gue yang lagi ngambek. Kalau dibiarin suka kabur dia. Tahu sendiri kan adik gue, yang nungguin dia jadi janda banyak " ucap Arjuna terkekeh sambil berlalu meninggalkan Zaid.


" Sialan, dasar kakak ipar gak ada akhlak. Ngarep banget adiknya jadi janda. Untung aja istri gue sayang !" gerutu Zaid meninju udara.


" Gak usah ngoceh deh. Gue pisahin dari Adinda, nyesel lho " sahut Arjuna tanpa menoleh seolah tahu apa yang dilakukan Zaid.


" Baiklah Abang Juna, maafkan adik iparmu yang banyak salah dan kurang ini... " ucap Zaid asal lalu mengejar Arjuna yang sudah berada di ambang pintu.


" Gue balik ya, bilangin sama adek gue. Kalau mau balik ke rumah bunda tinggal telpon aja nanti pasti gue jemput " ucap Arjuna santai dengan senyum meledek.


" Dih, sewot amat Id... Eh, tapi beneran si Dinda harus cepet diamankan. Entar dia keterusan ngambek, bahaya ! " ingat Arjuna sambil memasang seat belt lalu menghidupkan mesin mobilnya.


Zaid hanya mengangguk dan tak lama kemudian Arjuna meninggalkan kediaman Zaid.


" Waktunya membujuk nyonya Zaid.. " gumam Zaid lalu masuk ke dalam rumah dan menuju kamarnya.


Zaid membuka pintu kamarnya yang tidak terkunci. Padahal ia sudah mengantisipasi dengan membawa kunci cadangan jikalau sang istri mengunci pintu dari dalam.


Adinda nampak berbaring dengan memalingkan wajahnya. Zaid dapat melihat jika sang istri hingga kini masih terisak. Zaid menghela nafas panjang lalu berjalan menuju ranjang dan segera naik ke tempat tidur, memeluk tubuh sang istri yang hanya memunggunginya.


" Sayang... Maafin Mas, gak ijin dulu. Mas lakuin ini untuk kebaikan kita. Mas hanya ingin segera menyelesaikan masalah ini untuk menjaga keluarga kita " jelas Zaid.

__ADS_1


Adinda tak menanggapinya, ia tak menoleh sedikitpun. Adinda tetap memunggungi sang suami. Zaid menghela nafasnya kemudian berbaring di samping sang istri.


Hah... mengapa sesulit ini menghadapi wanita, padahal ini semua dilakukannya untuk kebaikan mereka. Zaid berupaya menjaga keamanan istri dan anaknya tapi mengapa jadi salah di mata sang istri.


Sementara Adinda larut dalam pikirannya sendiri. Adinda kesal dan kecewa karena sang suami memutuskan sendiri tanpa meminta pendapatnya dahulu. Padahal ia hanya takut kehilangan sang suami kembali. Baru saja mereka kembali bersama dan Zaid memutuskan untuk kembali meninggalkannya.


" Mas cinta sama kamu... Mas hanya ingin memastikan kalian aman dan selamat. Kalau kamu pikir Mas egois, begitu tega meninggalkan kamu. Kamu salah... Sebenarnya Mas begitu takut meninggalkan kalian tapi jika terus seperti ini, Mas akan selalu hidup dalam bayang-bayang kehilangan. Bisa kamu yang kehilangan Mas atau malah Mas yang kehilangan kamu. Dan Mas tidak ingin itu terjadi... Apapun yang terjadi kamu harus percaya, kalau Mas akan melakukan apapun untuk keluarga Mas... " papar Zaid namun Adinda masih enggan untuk menanggapi.


Tidak ada percakapan diantara mereka. Keduanya saling diam dan hanyut dalam pikiran mereka sendiri.


Bahkan hingga akhirnya Adinda tertidur tanpa mengucapkan apa pun pada sang suami. Menyadari sang istri tertidur, Zaid mencium kening dan perut Adinda dengan penuh cinta.


Zaid mengelus perut sang istri dengan lembut.


" Jagoan ayah... Bilang sama bunda tidak perlu khawatir, ayah akan segera kembali ! " ucap Zaid kemudian bangkit lalu keluar dari kamar.


Zaid memasuki ruang kerjanya. Ia segera menyiapkan perlengkapan dinasnya. Zaid menyiapkan semuanya, pakaian, rompi anti peluru, headset, buff, topi serta senjata api dan pisau lipat mini.


Sang ibu memasuki ruang kerja dan mendapati Zaid yang telah dalam metode siap tempur.


" Kamu tetap pergi meskipun istri kamu tak mengijinkannya ? " tanya Bu Sandra menatap anaknya yang nampak gagah dalam balutan seragam dinasnya.


" Harus Bu... Demi kebaikan semua " jawab Zaid tegas.


" Ibu mengerti perasaan Adinda. Dia hanya takut kejadian kemarin terulang kembali. Takut kamu tidak akan kembali lagi, padahal ia akan segera melahirkan. Kamu seharusnya paham itu " ucap Bu Sandra menjeda kalimatnya.


Zaid hanya menyimak ucapan sang ibu tanpa berniat menyahutinya.


" Ibu hanya berharap jalan yang kamu tempuh adalah jalan terbaik. Ibu akan selalu berdoa untuk keselamatanmu, nak. Ibu akan menjaga istri dan anakmu disini, kamu jangan khawatir. Berjuanglah nak, perjuangkan yang menurutmu benar. Kami akan selalu menunggumu kembali " ucap sang ibu menyemangati Zaid.

__ADS_1


Zaid memeluk sang ibu dengan haru. Ia bahagia karena sang ibu merestuinya. Doa ibu adalah hal yang paling utama untuk Zaid.


" Sebelum pergi, temuilah istrimu. Ibu yakin Adinda akan mengerti... " titah Bu Sandra yang diangguki oleh Zaid.


__ADS_2