
Hari ini, Riri tidak bisa menemani ayu dan suaminya jalan-jalan, karena ia harus bekerja, sebetulnya Anton juga harusnya jualan supaya ada perputaran uang cash untuk pembayaran barang yang ia jual ke suplier.
tapi karena ingin menjamu keluarganya tersebut akhirnya ia tetap memutuskan menemani mereka untuk jalan-jalan.
"hai ri, kemarin kemana pakai mobil?" Dimas duduk di depan Riri.
"biasa dim, ada keluarga suami datang, jadi ya aku pinjem deh..hehe"Riri mengeluarkan uang dari tasnya.
"ini dim, makasih ya....kemarin kemaleman baliknya, kata satpam dah pulang jadi aku bayar sekarang ya"sambil senyum ke Dimas.
"siap non...kalo butuh lagi, info aja" menerima uang dan keluar dari tempat kerja Riri.
sudah beberapa hari ini sebenarnya Riri tidak semangat kerja, sejak anak buahnya ketahuan melakukan manipulasi keuangan ia harus bekerja sendiri menghandle klien dan baru satu Minggu lalu di putuskan ada tenaga baru untuk marketing yang akan membantunya, tapi ternyata anak baru tersebut sangat berambisi dalam pekerjaan, terlihat banyak sekali usaha untuk menjatuhkan Riri sebagai atasannya di depan GM.
kalau saja ada yang menawarkan pekerjaan lain pasti aku ambil dan pindah dari sini, batin Riri berkata.
dret...dret...dret...
"eta?" orang yang dulu sempat resign karena merasa tidak cocok dengan tim yang ada di kantor Riri saat ini, kabarnya dia sukses saat ini, sudah menjabat menjadi manager di salah satu perusahaan automotif.
"halo mba era" sapa Riri melalui ponselnya
"hai ri, kamu sibuk?, hari ini ada rute keluar kah??" tanya eta.
"bisa mba,. kebetulan aku hari ini ada rute penagihan, kita mau ketemu dimana?" Riri langsung mengiyakan berharap ada lowongan pekerjaan di perusahaan itu.
"oke Ri, nanti aku tunggu di xx ya"
"oke mba" saut Riri cepat, ponsel pun dimatikan dan Riri segera bergegas mengambil dokumen dan pergi untuk bertemu klien dan Eta.
dijalan Riri sempatkan untuk menelpon ke Anton.
"halo, gimana jalan-jalan nya?" tanya Riri ketika teleponnya tersambung dengan Anton.
"ini lagi di xx, kamu dimana??" tanya Anton, karena terdengar agak berisik, artinya Riri tidak di kantornya.
"diluar, aku mau menagih piutang klien sekalian ketemu sama mba Eta"saut Riri
"oh ya udh" Anton hendak menutup ponselnya
"oh ya yah, tolong tanyakan ke papa, sosis yang biasa di makan Reza itu apa namanya, dan biasa beli dimana?"tanya Riri teringat anaknya suka sekali sosis yang dibawa oleh ayah mertuanya dari hotel kalau sedang jadwalnya pulang kerumah, pasti selalu membawa sosis itu.
__ADS_1
Riri yang malas diocehi bu mertuanya karena setiap Reza makan, selalu diingatkan kalau Raka juga suka makanan itu, jadi setiap ayah mertuanya datang harus dibagi dua dengan Reza, karena itu Riri ingin membeli sendiri, dia malas ribut untuk hal seperti itu.
"aduh...kamu tanya aja sendiri lah, aku dah mau jalan lagi nih" saut Anton malas.
"ya sudah kalau gitu aku SMS ke papa aja langsung ya?" tanya Riri meminta ijin.
"ya.., ya udh ya aku jalan" Anton menjawab dan langsung mematikan ponselnya.
"Siang pah, ini Riri, mau tanya pah, sosis yang biasa dibawa pulang itu merk apa ya? aku mau beli sendiri buat stok dirumah karena Reza suka sekali".isi pesan Riri ke ayah mertuanya.
dreet..dreet
"iya siang, nama sosisnya xx biasanya beli di xx, rencana besok lusa pulang, nanti dibawain untuk Reza".bunyi SMS dari ayah mertua Riri.
"baik pah....terima kasih"
Riri sampai di tempat dimana ia dan Eta janji bertemu, dari jauh Riri sudah melihat Eta sedang duduk sambil menyeruput minumannya.
"hai mba, aku pesen minuman dulu" Riri melambai pada Eta dan berjalan ke kasir untuk memesan minuman.
"sory Ri, dadakan ngajak ketemunya, aku tadi pagi sempat dapat info kalau perusahan butuh HRD kebetulan kan background kerjamu dulu HRD kan?", Eta memulai percakapan setelah Riri duduk berhadapan dengan dirinya.
"iya mba, dulu aku sempat di HRD, lalu kira-kira bagaimana? apa aku siapkan lamaran atau bagaimana??" tanya Riri
"sip mba, aku buat segera" jawab Riri semangat.
" oke deh Ri, aku tunggu kabar baiknya semoga aja kita bisa satu perusahaan lagi ya" Eta tersenyum dan berpamitan untuk kembali ke kantornya karena sudah hampir sore
"iya mba, terima kasih ya sudah di infokan" saut Riri lalu menyalami Eta sebelum pergi.
ketika Riri akan menjalankan mobil kantor yang ia kendarai, terdengar ada pesan masuk di ponselnya.
"kamu ada SMS ke om nya??jangan lancang, kalo perlu apa-apa bisa minta lewat mama, atau Anton, biar nanti Anton yang bicara sama om nya, kamu itukan orang lain, tidak pantas langsung SMS om nya seperti itu" tiba-tiba jantung Riri berdegup kencang menahan amarahnya
cih orang lain!! jadi selama ini dia anggap aku orang luar, padahal sudah mau 3 th lebih aku nikah sama anaknya.. benar-benar keterlaluan mertua satu ini.
Riri melajukan mobilnya dengan perasaan kesal yang bekecamuk di dadanya, semakin terasa kebencian menyala di matanya.
cih hanya soal sosis aja aku tidak boleh tanya langsung, memangnya aku SMS apa!!
sesampainya di kantor Riri malas sekali untuk jemput Reza si tempat mertuanya, khawatir emosinya meledak, akhirnya dia putuskan menelpon Anton.
__ADS_1
"ya" terdengar Anton menjawab telepon Riri.
"kamu sudah dirumah??"tanya Riri kepada Anton.
"belum, kayaknya pulang malem, soalnya aku bawa yang rada jauh jalannya" jawab Anton.
"ada yang mau aku omongin, tapi nanti aja dirumah lah, ya sudah aku jemput Reza sekarang".Riri mematikan ponselnya tanpa menunggu jawaban dari Anton.
sesampainya di rumah mertuanya, terlihat Reza sedang duduk diluar bersama mba Wati pembantu kurang aja yang ia bayar gajinya.
"bunda pulang za..." mba Wati berbicara pada Reza.
"siapa nak Wati" terdengar suara dari dalam rumah.
"mba Riri bu," sahut wati cepat.
Riri baru sadar kalau selama ini,. mba Wati menjadi mata-mata untuk ibu mertuanya, pasalnya apapun kejadian yang ada di rumah selalu di ketahui oleh ibu mertuanya itu.
"masuk nak Riri"suara mama Rianti dari dalam rumah.
"ya mah", huh mau apa lagi sih orang ini, batin Riri.
sesampainya di dalam Riri langsung duduk di meja yang berhadapan dengan ibu mertuanya itu.
"sebentar ya nak Wati pulangnya," mama Rianti meminta mba wati untuk menunggu Reza sampai ia selesai bicara dengan Riri.
"Boko sana dulu, Sama mama Wati"ujar mama Rianti ketika melihat Reza sedang bergelayutan pada tubuh Riri.
"sini za" sahut mba wati, sambil menggendong Reza ke luar
ibu mertuanya itu terlihat menarik nafas dan bicara, "nak Riri, tadi mama dikabari sama om mu, kalau kamu SMS dia, tanya soal sosis"
ibu mertua nya itu biasa membahasakan suaminya dengan sebutan "om" ke Riri karena suaminya ini adalah suami kedua, ayah kandung dari raja, sedangkan dengan Anton adalah anak dari suami pertama ibu mertuanya.
"mama kurang suka kalau kamu main langsung begitu sama om nya, karena dia itukan bukan ayah kandungnya Agus, sedangkan kamu juga orang lain jadi kalau mau apa-apa bisa sampaikan ke mama atau ke Anton,. biar Anton yang tanya ke omnya"
"iya mah, ak kira ga masalah, soalnya ga enak kalau dibawain terus"jawab Riri singkat.
"iya, besok-besok kalau mau apa-apa, omong sama Anton biar nanti Anton yang sampaikan".sambil melihat ke arah Riri.
"biar gimana juga kamu itukan orang luar, jadi biar mama sama Anton yang omong kalau ada yang kamu butuh". masih melanjutkan omongannya.
__ADS_1
WHATT!!!! jadi selama ini aku ini orang luar, mungkin Anton juga berubah karena ibunya yang menghasut, tinggal bersama Anton sekian tahun ini membuat Riri sadar bagaimana Anton selalu menuruti kemauan ibunya dan juga selalu mendengarkan kata-kata nya.
sakit hati Riri saat itu semakin menjadi tidak hanya sekali masih banyak sekali mulai dari saat ibunya menyiapkan piring makan untuk makan malam bersama dimana ia hanya mengambil 4 piring saja sedangkan disitu ada Riri, Anton, Raka, ayah mertuanya dan ibunya, Riri sama sekali tidak dianggap, malah suruh ambil piring sendiri, sepele mungkin tapi itu membekas, belum lagi perkataan mengenai cucu kesayangan yang tak lain bukan anaknya melainkan ayu, lalu sekarang ia harus temui lagi kenyataan bahwa dirinya masih dianggap sebagai orang luar.