Aku, Kamu Dan Ibu Mertua

Aku, Kamu Dan Ibu Mertua
Keinginan mama


__ADS_3

Anton terlihat lesu hari ini, masih 2 hari lagi rencana ia akan kembali kerumahnya untuk bertemu dengan anak istrinya.


perkataan ibunya benar-benar mempengaruhi pikirannya saat ini, satu sisi ia membenarkan apa yang diucapkan mamanya, di satu sisi ia juga tidak bisa mengalahkan istrinya karena selama ini memang istrinya banyak berperan dalam ekonomi keluarga.


"hei bro...ngapain? bengong aja" sapa laki-laki muda sebaya Anton yang memperhatikan kalau Anton melamun saja.


"ah..kau ini bikin kaget saja" Anton sedikit terkejut.


"kirain lagi nunggu putri duyung keluar dari sungai itu, hahahaha" menunjuk ke sungai yang ada di depannya.


"gila!!" Anton ikut tertawa


"kenapa?" tanya sahabatnya itu lagi


"ga apa-apa bro, biasa ga punya duit, buat pulang"seloroh Anton pada sahabatnya boy


"macam orang susah aja kau ini ton, usaha mu di sana itu sudah sampai satu kampung" kata sahabatnya


"usaha apa, kuli ini" Anton juga bingung.


"mamak mu itu sering kasih berita kesini, mengenai kau lah" sahut sahabatnya.


apalagi yang mama cerita ke semua orang disini ya, batin Anton.


"anak sama istri kenapa tidak dibawa sekalian, sejak nikah tak pernah kau bawa mereka ke sini" tanya boy


"nanti ku bawa istri muda saja kesini, sekalian honey moon" jawab Anton asal


"ah kau ini gila...satu aja kadang bikin pusing, kau lagi mau bawa yang muda..."tepuk jidat


mereka pun berbincang-bincang sampai tidak terasa waktu mau hampir malam, merekapun kembali ke rumah masing-masing.


"kamu dari mana??tanya mama Rianti

__ADS_1


"ketemu boy, ngobrol lama, aku mandi dulu lah mah" jawab Anton langsung masuk ke kamar dan bergegas mandi.


malam itu mamanya kembali mengingatkan obrolan yang sama, yang membuat pusing kepalanya, hingga saat ini ia tidak bisa tidur, masih memikirkan perkataan ibunya mengenai istrinya yang dinilai, tidak memiliki rasa sayang kepada mamanya, juga terlihat tidak pandai dalam urusan rumah tangga, sibuk bekerja saja, masak saja tidak bisa, Anton sering makan di rumah rianti saat mereka masih tinggal di kota yang sama, kalau suruh belajar selalu bilang tidak ada waktu, cape dan lelah lah, padahal Anton tahu betul kalau istrinya sebelum bekerja ditempat ini sampai harus berjualan jajanan, dan minuman yang ia masak sendiri demi bisa menyambung hidup dan membantu ekonomi keluarga.


Anton tetap tidak bisa membela istrinya karena dia juga merasa kasian terhadap ibunya yang selama ini memang ingin sekali memiliki anak perempuan, ia berharap menantunya bisa menganggapnya seperti ibunya sendiri, tapi rasanya ego Riri terlalu tinggi untuk bisa menyayangi ibunya secara tulus.


Anton juga sempat beberapa kali kecewa dengan kata-kata Riri yang terkadang mengatakan ibunya tidak baik, Riri sering mengatas namakan ibunya dengan sebutan orang lain saat mereka beradu mulut, tentu saja itu membuat Anton tidak terima, namun buat Riri yang sempat diperlakukan dan juga sampai terucap dari mulut ibu mertuanya yang tak lain adalah ibunya Anton yang mengatakan bahwa ia orang luar saat terjadi insiden mengenai pesan yang ia kirim ke suami ibu mertuanya itu, perkataan itu terpatri kuat dan menjadi suatu kebencian yang teramat dalam kepada mertua perempuannya itu.


Akhirnya ini hari terakhir Anton harus kembali pulang ke rumahnya, diantar oleh ibu dan keponakannya ke Bandara, Anton berjalan hanya dengan membawa satu dus besar oleh-oleh yang disiapkan Rianti bukan hanya untuk menantu dan cucunya, tapi lebih banyak untuk beberapa tetangga-tetangga dekatnya, suaminya, makanan kesukaan anaknya dan sisanya baru untuk Riri dan Reza.


Hari ini kebetulan Riri tidak bisa menjemput suaminya, karena tugasnya untuk mengurus bosnya yang akan datang beberapa hari lagi membuatnya harus mempersiapkan segala sesuatunya tanpa cela, Riri merupakan sosok pekerja yang perfeksionis, dia tidak ingin ada kesalahan walupun seujung kuku saja atas pekerjaannya, bila hal tersebut terjadi maka dia bisa mengumpat dirinya sendiri dengan menyebutnya "bodoh!"


Dengan perilaku seperti itu maka tidak heran jika saat pindah ke perusahan yang lebih kecil karirnya cepat naik, tidak seperti waktu ia masih bekerja di perusahaan sebelum ia menikahi Anton.


Anton untungnya memiliki beberapa teman yang bisa dimintai tolong untuk menjemputnya di bandara, dan sebelumnya juga sempat meminta Riri untuk meninggalkan kunci rumah seperti yang sudah disepakati, Anton sendiri belum tau tempat dimana Reza di titipkan, karena ia juga tidak mau pusing dengan hal itu lagi,. karena ia harus mulai bekerja besok, ijin kerjanya sudah terlalu lama, dan pastinya selama seminggu ia tidak bekerja gajinya akan dipotong.


dreet ..dreet...


//aku sudah sampai rumah


//syukurlah, maaf ya tidak bisa jemput


//ya...Reza dititip dimana?


//kamu mau jemput?


//tidak usahlah aku mau istirahat dulu


//ohh...ya sudah masih 2 jam lagi aku baru pulang ya


//ok


sambungan ponsel tertutup,

__ADS_1


Riri memandangi ponselnya, huh...kenapa saat dia tidak ada aku ingin dia cepat kembali, sekarang ketika dia sampai, aku merasa ada beban baru selain pekerjaanku, batin Riri


Anton mulai membuka dus yang ia bawa, niatnya ingin segera istirahat, tapi diurungkan niatnya, ia segera membereskan dan memberi nama untuk siapa sajakah bingkisan itu, nanti sepulang Riri kerja biar dia yang antar, atau besok, beberapa masakan matang yang dibawakan ibunya untuk dirinya dan ayah tiriny pun segera ia masukan kedalam lemari pendingin.


setelah sekitar satu jam selesai, ia pun mengirim foto ke ibu nya bahwa barang yang dibawa siap kirim.


------


Rianti tersenyum melihat anaknya mengirimkan foto bingkisan yang siap dikirim tersebut, lalu ia menelpon anak kesayangannya itu.


"halo nak....syukurlah kamu sudah sampai" ucap Rianti melalu ponselnya.


"iya mah, maunya tidur tapi tidak jadi, aku rapikan ini dulu biar nanti Riri pulang aku suruh segera antar", sahut anton.


"bagus nak, semoga mereka suka sama bingkisan yang mama bawakan ya?"terdengar nada suara Rianti yang senang.


"iya mah .." jawab Anton, ia merasakan tubuhnya agak lelah saat ini.


"nak, kamu masih ingat kan omongan mama, kamu harus bisa atur istrimu, jangan sibuk terus sama pekerjaannya, kamu juga perlu diperhatikan, mama tidak habis pikir, sejak pindah, sampai sekarang kamu kembali pulang kerumah kalian disana, tidak pernah ada telp ataupun pesan yang dikirim oleh istrimu untuk menanyakan kabar mama"


nada suara Rianti mulai kesal.


"iya mah..nanti aku bicarakan" sebenarnya Riri sempat beberapa kali telp dan tanya kabar ibunya, namun saat itu Anton pasti sedang tidak ada di rumah, jadi tidak ada kesempatan untuk berbicara dengan ibu mertuanya tersebut.


sejak predikat orang lain disematkan kepada Riri oleh ibu mertuanya, selama itu pula Riri tidak pernah menghubungi langsung ibu mertuanya tersebut, sepenuhnya hal ini bukan merupakan kesalahan Riri, ia hanya tidak ingin kesalahan lagi, segala hal yang ingin ia ketahui akan ia tanyakan melalui Anton, dan sayangnya Anton bukan seorang yang pandai berkomunikasi dengan baik sehingga membuat kesalah pahaman ini semakin dalam.


*******


Hai pembaca setia ... terimakasih selalu mampir di novelku..mungkin ceritanya datar-datar aja yaa...tapiiiiii.....tetep kasih


LIKE VOTE dan KOMENTARNYA donk guysss....


😍😍

__ADS_1


__ADS_2