Aku, Kamu Dan Ibu Mertua

Aku, Kamu Dan Ibu Mertua
Riri hilang


__ADS_3

Setelah obrolan panjang dan juga perdebatan antara Anton dan Fitri dan juga Riyanti yang ikut terpancing emosi akhirnya keputusan telah dibuat, Anton akan menikah dengan Fitri setelah Fitri melakukan tes DNA terhadap bayi tersebut bila terbukti itu adalah anak Anton.


Setelah mengantar Fitri dan anaknya, Anton dan Riyanti bergegas ke rumah sakit sambil membawakan makanan untuk Riri, mereka juga akan menanyakan kondisi Riri dan kapan operasi akan dilakukan, sekaligus menanyakan mengenai bagaimana cara untuk melakukan tes DNA karena pertama kali untuk mereka melakukan hal-hal seperti ini.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Riyanti memasuki kamar rawat inap Riri dan mendapati hanya ada ranjang kosong yang telah rapi, tanpa ada penghuninya sama sekali, Riri hilang!!.


Betapa paniknya mereka saat itu, karena dari pihak rumah sakit juga tidak ada pemberitahuan apapun mengenai hal ini.


"suster saya mau tanya, pasien atas nama Riri dimana?" tanya Riyanti pada suster jaga di area rawat inap.


"maaf pasien atas nama ibu Riri yang di kamar 403?" tanya suster memastikan.


" iya benar sus..., " jawab Anton kali ini.


" mohon maaf bapak dan ibu siapanya ya?" suster itu bertanya.


"saya ibunya dan anak saya ini suaminya" jawab Riyanti setengah kesal karena, suster itu lama sekali menjawab pertanyaannya.


"oh maaf Bu ..ibu riri sudah cek out tadi siang" jelas suster


"loh bukannya dia harus jalanin kemo dan pengobatan lainnya" tanya Anton kali ini pada suster tersebut.


"mohon maaf pak..ibu, tapi memang ini permintaan dari ibu Riri sendiri dan dokter juga sudah setuju, mungkin bisa langsung ke dokter yang menangani ibu Riri" suster itu menjelaskan kembali pada Riyanti dan Anton.


Akhirnya mereka dia antar ke ruangan dokter yang menangani Riri.

__ADS_1


tok...tok... tok...


"masuk..." suara dari dalam mempersilahkan Anton dan Riyanti untuk masuk keruangan.


"silahkan duduk pak, ibu....." dokter tersebut mempersilahkan Riyanti dan Anton untuk duduk


"maaf dokter saya mau tanya pasien atas nama Riri yang di rawat dikamar 403 kenapa sudah di perbolehkan pulang ya? bukannya kemarin dokter bilang dia harus operasi dan juga masih ada tahapan lain ya" tanya Riyanti pada dokter tersebut.


"ahh....ibu dan bapak ini keluarganya ibu Riri?" tanya dokter itu


"iya.."jawab Riyanti


Dokter tersebut mengeluarkan amplop putih dan menyerahkan amplop tersebut pada Anton, perasaan tidak enak merayap memasuki hati Anton.


"apa ini dok..!?" dengan heran anton menerima amplop tersebut.


"buka saja nak apa isinya?" Riyanti penasaran dengan amplop tersebut.


"kita buka saja dirumah mah, permisi dok" sahut anton seraya menarik tangan mamanya agar meninggalkan rumah sakit ini, dalam hatinya ia benar-benar marah, namun juga merasa bersalah atas apa yang terjadi, dadanya terasa sesak seperti terhimpit benda keras.


"baiklah, kami permisi ya dok".pamit Riyanti pada dokter yang menangani Riri.


"hati-hati dijalan Bu, pak" sambil berdiri dan mengantar kedua orang tersebut ke luar dari ruangannya.


"Mama ga habis pikir, kok bisa dia tiba-tiba pergi seenaknya, tanpa bicara dulu, kayak ga ada sopan santun, mama kira dia sudah berubah!!" kesal Riyanti dengan suara meninggi, setelah membuka isi amplop putih dan membaca sekilas surat dari Riri untuk Anton yang berisi permintaan maaf karena pergi tanpa pamit, karena keputusannya sudah bulan, tanpa Riyanti membaca kelanjutannya lagi mengenai keputusan Riri yang mengajukan gugatan cerai ke pengadilan.

__ADS_1


"dia memang udah rencanain ini semua kayaknya mah" Anton mencengkeram setir mobilnya dengan erat, ada rasa marah, sedih, kesal bercampur menjadi satu, sebenarnya ia tidak menyalahkan Riri namun ia belum terima jika Riri bisa secepat itu mengambil keputusan sepihak, mungkin nanti setelah tiba dirumah ia akan membaca detil isi surat dari Riri seperti apa.


"kamu harus cari Riri ton, masalah dengan Fitri ga akan selesai kalau Riri ga ditemukan, coba mama telpon dulu ya" Riyanti menekan tombol di ponselnya , namun ternyata nomor Riri tidak dapat dihubungi.


"ga bisa dihubungi ton.....apa kita tanya ke keluarganya?"tanya Riyanti.


"ga tau ya mah....aku ga yakin dia akan hubungin keluarganya,. kalau emang ada yang tau dia sakit, pastinya udah dari awal masuk rumah sakit pasti telpon Anton" menjawab keinginan Riyanti untuk menghubungi keluarga Riri menurut Anton bukanlah solusi, justru malah akan ada masalah baru lagi buat dia.


"mungkin kita coba ke cafenya aja, siapa tau mereka yang ada disana tau" ingat Anton pada usaha yang Riri rintis, selama ini Anton tidak pernah ikut campur dalam usaha yang dijalankan Riri, karena dia malu melihat istrinya bisa mandiri dan memiliki usaha sendiri.


"jadi benar kalau nak Riri itu punya cafe ton?" tanya Riyanti memastikan


"iya mah.... ya tapi aku ga pernah ikutan urusan cafenya, aku kesana juga paling hanya drop dia aja" jelas Anton pada Riyanti yang sedang memijat pelipisnya.


"berarti benar yang dikatakan Vina kalau istri kamu punya usaha yang cukup bagus disini, ya sudah ayo kita kesana, mana tau dia juga mampir kesana atau mungkin ada orangnya dia yang tau Riri kemana.


"ya mah..." Anton pun menginjak pedal gasnya lebih kuat, karena ingin segera mengetahui keberadaan Riri, dan juga ingin membaca lebih jelas isi surat yang Riri tulis untuknya.


Di sisi lain, saat ini Riri sudah berada di pesawat menuju negara S, bersama dengan Fahri dan seorang suster yang memang sengaja di bayar oleh Fahri untuk menemani perjalanan mereka ke negara S, Fahri melakukan hal itu, karena sadar diri bahwa status Riri masih menjadi istri Anton, ia tidak ingin timbul fitnah yang malah akan memberatkan posisi Riri nanti, sebelum Riri resmi menceraikan Anton ia akan bersabar dengan membantu Riri dalam segala hal.


"mas... makasih banyak ya, selama ini mas dan keluarga sudah banyak membantuku" saat mereka menginjakkan kaki di rumah sakit yang akan merawat Riri kedepannya.


"ga perlu berterima kasih Ri, saya ikhlas bantu kamu" Fahri tersenyum sambil membantu membawa beberapa barang-barang yang Riri bawa untuk keperluan nya selama berada dirumah sakit ini.


"aku akan banyak ngerepotin mas setelah ini, maaf ya" sesal Riri sambil menundukkan kepalanya, ia merasa amat malu karena disaat titik terendahnya kini, justru orang lain yang berada disampingnya bukan Anton suaminya,

__ADS_1


Bicara soal Anton, Riri sempat mampir ke pengadilan agama untuk melaporkan gugatan cerai antara dirinya dan Anton, ia juga sudah membuat surat kuasa untuk Fahri agar bisa bertindak atas namanya saat dirinya berada di negara S, karena setelah Fahri mengantarkannya Riri akan ditinggal untuk memulai perjuangannya menyembuhkan penyakitnya ini sendiri, karena ia ingin agar saat ia sembuh nanti urusannya dengan Anton pun juga selesai dan dia bisa menjalankan hidupnya yang baru.


__ADS_2