Aku, Kamu Dan Ibu Mertua

Aku, Kamu Dan Ibu Mertua
Getaran itu


__ADS_3

Operasi Riri berjalan dengan baik, perasaan takut, stress tidak lagi bertengger di pikirannya, Riri melepaskan semua beban hidupnya dan berpasrah pada apa yang akan menjadi takdirnya, support mental dan juga support secara nyata dari keluarga ibu Ratna membuat Riri yakin harus segera sembuh dan menata hidup yang baru.


Saat ini Riri berada di apartemen yang disediakan oleh Fahri selama berada di negara S, Bianca dengan setia menemani dan menjaga Riri bahkan dari wanita ular bernama Evelyn.


Bianca merasa sosok Riri seperti saudari nya, ia telah menganggap Riri seperti layaknya seorang kakak perempuan, Riri dan Bianca juga tidak segan menunjukkan kasih sayang mereka satu sama lain, Riri juga merasakan Bianca lebih dari sekedar sahabat, teman maupun saudara, Riri rindu untuk memiliki saudara perempuan yang bisa memahami satu sama lain, berbeda dengan keluarganya yang berada di Jakarta, tidak terasa juga sudah lebih dari dua bulan Riri tidak menghubungi keluarganya disana, sementara Reza lah yang selalu memberikan kabar kepada keluarga Riri tentu saja dengan pengawasan dari Fahri dan keluarganya.


"mba... sebentar lagi dokter Edward datang untuk memeriksa mba..., aku sudah siapin gamis dan hijab yang akan kakak pakai.


Riri tersenyum kepada Bianca, diraihnya tangan Bianca dan dikecupnya punggung tangan mungil yang telah membantunya selama kurang lebih satu bulan ini.


"terima kasih Bi..., nanti kalau aku kembali ke negara asalku apa kamu mau ikut dengan ku bi?" Bianca tersentak dengan perlakuan Riri yang sampai mengecup punggung tangannya, ia merasa tersentuh oleh perlakuan Riri, selama ini keluarganya tidak pernah menganggap dirinya ada, Bianca selalu dikucilkan dan ia dibuang oleh keluarga tirinya sejak ayahnya meninggal, beruntung saat itu Fahri datang dan menantunya, hampir saja Bianca tergoda oleh pesona Fahri, namun ketika Fahri menegaskan bahwa semua yang ia lakukan murni karena kemanusiaan tidak ada unsur lain selain itu termasuk juga ketertarikan pada Bianca, sejak saat itu Bianca mengubur dalam-dalam perasaannya dia merasa harus tau diri, karena jika Fahri tidak datang mungkin saat ini jasadnya sudah terkubur didalam tanah


"mbaa...." Bianca meneteskan air mata.


"loh ..Bi...,apa aku salah bicara?? maaf ya bi....kamu ga mau ikut mba ke negara mba....ya udah ga apa-apa..." Riri merasa khawatir tiba-tiba mata Bianca berkaca-kaca


Bianca berjongkok dihadapan Riri dan langsung memeluknya erat


"makasih ya mba...udah sayang sama Bianca....aku sayang banget sama mba...,aku mau mba ikut sama mba ke manapun mba pergi" Riri merasakan pundak Bianca bergetar karena tangis sesegukan.


"hei...jangan menangis Bi..mbaa juga sayang sama kamu, makasih ya selalu ada disini buat mba"


teetttt.....


suara bel apartemen membuat pelukan mereka terlepas.


"dokter Edward kayaknya mba" jelas Bianca pada Riri.


" aku ganti baju dulu ya..." Riri yang masih menggunakan kursi roda mendorong kursinya ke arah kamar dan Bianca berjalan menuju pintu apartemen.


klek....


sosok tampan berbalut kaos berbahan sweater yang digulung hingga siku, ditambah celana jeans Levis yang menambah kesan elegan dari seorang dokter Edward berdiri dengan tegap di hadapan Bianca yang membukakan pintu apartemen.


"hai Bi...., boleh masuk?" tanya Edward sambil melepaskan kaca mata hitam yang bertumpu di hidung nya yang Bangir, sambil memberikan senyuman termanisnya pada Bianca.

__ADS_1


Untung saja Bianca sudah tau mengenai sepak terjang Edward untuk urusan percintaan, jadi dia tidak terlalu terlarut dalam pesona Bianca.


"hai dok....silahkan, mba Riri masih ganti baju, mau periksa dikamar atau di ruang tengah?" sambil mempersilahkan Edward masuk dan menutup pintu apartemen.


"diruang tengah aja, aku mau coba terapi agar ia bisa lebih kuat berjalan, luka jahitan dan lainnya juga sudah ga masalah" jelas Edward.


"aku panggil dulu ya..." belum sempat Bianca sampai ke kamar Riri, pintu kamar Riri sudah terbuka dan menampilkan wanita dengan balutan hijab panjang dan gamis duduk diatas kursi roda, wajah Riri saat ini sungguh berbeda dengan sebelumnya, Riri terlihat lebih segar dan lebih putih, meskipun sedikit pucat.


Riri menggerakkan kursi rodanya ke arah Edward dan Bianca.


"halo dok..." sapa Riri yang telah berada di hadapan Edward.


Edward yang mendengar suara lembut Riri yang selama beberapa Minggu ini selalu mengganggu tidur nyenyak nya, edward


menolehkan wajahnya yang sejak pertama kali masuk tengah melihat pemandangan ibu kota dari jendela kamar apartemen rah pandangannya menatap jendela apartemen segera memutar balik tubuhnya.


senyum termanis terukir di bibir tipis di wajah Edward, tatapan mendamba yang Edward tunjukan kepada Riri terlihat jelas. berbeda saat ia menatap Bianca.


"hai....gimana perasanmu hari ini? tanya Edward dan berjongkok dihadapan Riri.


Edward menyadari ada perasaan asing yang masuk di relung hatinya terdalam saat bersama dengan Riri, Edward melupakan statusnya sebagai player, ia malah semakin haus untuk belajar mengenai agama Riri, padahal Riri sendiri juga baru belajar mendalami agamanya.


"saya baik dok....," sahut Riri tanpa menatap pada Edward, jujur saja dalam hati Riri, ia bisa merasakan ketertarikan Edward padanya namun karena trauma yang diberikan Anton dengan bermain-main dengan perempuan lain, Riri menjadi takut untuk memiliki hubungan dengan orang-orang seperti Edward.


"okey ...hari ini kita akan belajar berjalan ya.., untuk menguatkan kembali kaki-kaki mu supaya bisa berlari" sahut Edward lagi yang saat ini ingin membantu Riri untuk berdiri.


"hmm ..dok boleh kan Bianca yang bantu nanti dokter mengarahkan" pinta Riri, Bianca bisa langsung membaca situasi tersebut dan segera membantu Riri untuk berdiri.


Edward sedikit terkesiap dengan permintaan Riri, namun edward sadar bahwa Riri sedang dalam proses perbaikan diri dan juga masih memiliki trauma terhadap pernikahannya dulu.


"oh...baiklah.., mari kita mulai latihan"


Edward pun memberikan beberapa langkah yang akan mereka lakukan.


Terapi di jalankan dengan Edward yang memimpin cara dan langkah yang perlu dan harus dilakukan oleh Riri hingga tidak terasa mereka melewatkan waktu hingga seharian.

__ADS_1


"wah...ternyata sudah hampir malam, waktu berjalan sangat cepat ya....kamu banyak perkembangan Ri" Edward menyelesaikan terapi dan memasukan beberapa barang yang ia bawa kedalam tas kerja yang ia bawa.


"terima kasih banyak dok" jawab Riri dengan membentuk lengkung pada ujung bibirnya, Riri sangat puas dengan perkembangan kesehatannya beberapa waktu terakhir ini, keluhan sakit di perutnya sekarang sudah tidak lagi terasa, dokter yang melakukan operasi dan perawatan dalam pasca operasi juga memberikan info yang menambah kebahagiaan Riri bahwa ia masih memiliki kesempatan untuk hamil dan melahirkan lagi, namun harus mengikuti banyak perawatan dan terapi selama kehamilannya nanti berlangsung.


Namun mengingat kandasnya rumah tangganya dengan Anton membuat Riri kembali tidak bersemangat, karena meski dirinya bisa hamil lagi namun ia sudah tidak memiliki pasangan halal lagi saat ini, sedangkan memulai dengan orang baru membawa trauma sendiri terhadap psikis Riri saat ini.


"dokter mau ikut kita makan malam bersama atau langsung pulang" Bianca menanyakan hal ini pada edward karena ia akan menyiapkan makan malam untuknya dan Riri setelah proses terapi selesai


"hmm.....kalau kalian mengijinkan dan tak mengganggu boleh...tapi kalau aku mengganggu...acara "girls talk" mungkin...aku akan pamit pulang" sambil mengangkat bahu dengan cengiran khas Edward.


Riri tanpa sengaja melirik ke arah Edward, untuk sepersekian detik tatapan mata mereka bertemu, desiran asing itu kembali datang pada hati Edward, sedangkan Riri sendiri merasa tidak nyaman, sangat berbeda saat dengan Fahri, ia merasa nyaman saat Fahri berada di dekatnya, ia merasa memiliki sosok ayah, kakak yang sangat melindungi dirinya.


"ah...tentu saja tidak menggangu dok...eh ya kan mba??" Bianca bertanya pada Riri yang membuat tatapan mata antara Edward dan Riri terlepas.


"eh...i..iya ga masalah kok..., aku bantu ya, tapi aku harus membersihkan diri dulu, ga apa?" tanya Riri pada Bianca yang dijawab anggukan kepala oleh Bianca


Riri keluar dari kamarnya setelah membersihkan diri, ia menggunakan gamis peach dengan hijab senada, ia mencoba untuk berjalan pelan keluar tanpa menggunakan kursi rodanya lagi, karena saat terapi tadi ia merasa sudah bisa berjalan dan kedua kakinya sudah kuat.


Riri berjalan pelan ke arah dapur dengan merambat pada dinding agar tidak terjatuh, namun tidak menemukan Bianca..., akhirnya Riri menuju ruang tengah dan menemukan sosok Edward yang tengah berdiri di ujung pintu balkon sambil fokus pada ponselnya.


"Dok....." suara yang tak asing itu menyeruak di telinga Edward,. segera ia menoleh dan mendapati Riri berdiri tidak jauh dari dirinya, dalam balutan gamis peach dengan hijab senada, Riri terlihat begitu segar dan lagi membuat hati Edward bergetar, segera ia menghampiri Riri.


"sudah selesai?" tanyanya dengan suara lembut pada Riri dan dijawab dengan anggukan kepala tetap tidak ingin menatap pada Edward.


"Bianca kemana dok" Riri heran saat tidak menemukan Bianca dan saat ini ia hanya berdua saja dengan Edward di ruangan ini.


"ah...tadi dia mau membeli sesuatu di supermarket bawah ada yang kurang saat masak tadi" jelas Edward pada Riri.


"baiklah kalau begitu saya ke dapur dulu untuk menyiapkan yang lain" Riri pun membalikkan tubuhnya hendak beranjak ke dapur namun tiba-tiba tubuhnya oleng, dan hampir saja ia terjatuh namun dengan sigap tangan kekar Edward menggapai tubuh Riri hingga tubuh Riri dan Edward terjatuh diatas sofa dengan posisi Riri berada diatas Edward.


Degup jantung keduanya tidak beraturan, Riri yang sangat kaget dengan posisi mereka yang sangat intim membuat dadanya sesak dan lagi ia merasa amat tidak nyaman sedangkan Edward, ia merasakan kembali getaran asing yang menyusup dan menyesakkan dadanya, kali ini ia yakin bahwa ia telah jatuh pada pesona Riri dan ia ingin sekali memiliki Riri dan menjadikannya pendamping hidupnya nanti.


klek....


"APA YANG KALIAN LAKUKAN!!!"

__ADS_1


__ADS_2