Aku, Kamu Dan Ibu Mertua

Aku, Kamu Dan Ibu Mertua
Tantangan


__ADS_3

Beberapa Minggu telah berlalu sejak saat ibu Ratna memberikan pencerahan secara rohani pada Riri, dan Riri benar-benar merasa bersalah sebagai seorang ibu, ia hampir lupa pada anaknya karena kesedihannya yang teramat dalam akan sikap Anton.


Pekerjaan Riri semakin hari semakin menumpuk, tanggung jawab Riri pun semakin meningkat, berbagai cara Riri upayakan agar bisa tiba dirumah lebih awal agar bisa bermain sebentar dengan Reza, namun itu hanya angan-angan, tiap Riri pulang kadang Reza sudah tertidur dan Anton yang saat ini mendapat kenaikan jabatan yang mengharuskan ia berkeliling Bali, terkadang harus mengalah tak kala Riri harus pulang terlambat, memang harus diakui bahwa Anton bisa dengan mudah untuk mangkir dari pekerjaan karena tidak pernah ada pengecekan absensi secara tertulis hanya menggunakan form aplikasi kehadiran saja sudah cukup.


"aku ga bisa gini terus, kalo kamu ga bisa pulang tepat waktu gimana Reza, siapa yang bakal jemput dia di penitipan" tanya Anton saat Riri selesai membersihkan diri dan baru saja akan memakan makanan siap saji yang tadi sengaja ia beli dijalan


"ya terus bagaimana, kalau posisinya aku ga sama klien mungkin bisa aku atur selalu tepat waktu untuk jemput Reza tanpa ganggu pekerjaan kamu" tanya Riri berusaha mengontrol emosi dengan cara menikmati makan malamnya yang sudah sangat terlambat.


"kamu tau sendiri kan aku sekarang udah ga di toko lagi, aku keliling tiba-tiba waktu sudah mau jalan ke mana kamu telepon minta jemput anaknya, gimana aku mau fokus" ketus Anton kesal.


Sebenarnya menurut Riri, pekerjaan Anton sebenarnya mudah asal di plan dengan baik, Anton saat ini menjabat sebagai marketing manager di tokonya, dan dia memiliki beberapa anak buah.


Andai Anton memposisikan dirinya dengan benar maka masalah Reza bukanlah menjadi sesuatu yang besar, beda cerita dengan pekerjaan Riri yang menjadi pihak ke tiga dalam operasional pusat perbelanjaan, hotel, supermarket, dimana ketika ada satu titik bermasalah maka Riri harus mengurus dengan menemui Pengelola gedung tersebut, terkadang harus bertemu langsung dengan owner, konteks klien / pelanggan yang berhubungan dengan pekerjaan Riri lebih tinggi dibandingkan dengan pekerjaan yang Anton geluti.


"aku tau pekerjaan kamu sekarang sudah meningkat, tapi karena peningkatan itu kamu harus bisa mengatur tim dibawah kamu" jelas Riri pada Anton.


"customer aku itu ga ada yang mau sama anak-anak, maunya sama aku" tukas Anton dengan suara sedikit meninggi.


"ya kamu kan bisa jelasin, nanti barang yang ditawarkan dibawa sama anak buahmu, kalau ada kendala baru saya yang ketemu, kan bisa seperti itu?!" sahut Riri masih dalam metode tidak terima kalau ribut terus seperti ini.


"ya coba kalau kamu yang begitu, customer kamu ga mau sama yang lain terus gimana??!!" emosi Anton mulai meninggi.


Riri menarik nafas panjang, ia teringat pesan dari ibu Ratna agar mampu mengendalikan diri.

__ADS_1


"oke...sekarang dari pada kita ribut aja ga guna, maunya kamu bagaimana kedepannya??" tanya Riri pada Anton.


"ya aku maunya ku dirumah aja ngurus anak sama rumah" tegas Anton.


tentunya Riri begitu terkejut dengan perkataan Anton, bagaimana dengan percaya dirinya Anton menjelaskan bahwa ia ingin agar Riri tidak perlu bekerja lagi, dan menurut Riri Anton sengaja meminta hal tersebut sebagai sebuah tantangan untuk Riri.


"kamu yakin, udah sanggup buat nafkahi dan menangani kebutuhan rumah tangga??" tanya Riri pada Anton


"yakinlah...kenapa harus ga yakin, asal jangan diributin sama keluarga kamu aja" tegas Anton.


"kasih aku waktu, banyak hal yang dikorbankan kalau aku berhenti bekerja" /berbeda jika kamu yang berhenti/ batin Riri menegaskan.


"terserah" jawab Anton dan meninggalkan Riri yang masih belum selesai dengan menu makannya.


______


"hmm...iya mba, ga apa, kemungkinan saya juga akan mengundurkan diri" jawab Riri dengan lesu.


"loh mba ada apa??" Lila sebenarnya sudah mengetahui permasalah atasannya ini dan ia sangat menyayangkan bila Riri harus mengalah dan berhenti bekerja.


"entahlah aku juga bingung, mungkin hari ini aku ijin pulang lebih awal ya, kalau ada yang cari jadwalkan saja bertemu besok ya mba" Riri pun beranjak dari tempat duduknya, ia berencana akan mendatangi kembali Bu Ratna untuk bertukar pikiran.


sejujurnya Riri sangat sayang bila harus melepaskan apa yang sudah ia miliki saat ini, karir bagus, koneksi banyak, fasilitas yang cukup, bahkan tidak sedikit pula Riri bisa menghasilkan pendapatan lain selain gajinya dari sebuah proyek yang ia tangani, kemudahan secara finansial membuat Riri menjadi ragu dengan apa yang harus ia lakukan, belum lagi bila ia berhenti bekerja bagaimana dengan keluarganya di Jakarta, siapa yang akan mengirimkan uang rutin seperti saat ini, Riri bahkan tidak pernah perhitungan bila itu menyangkut keluarganya, apapun yang diminta selalu berusaha Riri penuhi, karena prinsip Riri, ia bekerja adalah haknya untuk memberikan pada siapapun yang ia mau, selama ia masih bisa membantu menopang hidup keluarga kecilnya dengan suami dan anaknya.

__ADS_1


_______


"assalamualaikum, nak Riri..." suara lembut Bu Ratna membuyarkan lamunan Riri.


"ah ibu, wa'alaikumsalam, apa saya ganggu?" tanya Riri yang masih berdiri di depa pintu rumah Bu Ratna.


"masuklah nak" senyum Bu ratna sambil mempersilahkan Riri untuk masuk kedalam rumah.


"duduklah" lanjut Bu Ratna lagi setelah Riri berada didalam rumah tersebut.


"terima kasih Bu, apa ibu ada kajian hari ini" tanya Riri sebelum mengutarakan maksudnya ke tempat wanita paruh baya tersebut.


"tadinya ada, tapi ternyata dibatalkan karena yang mengundang terkena musibah" tutur Bu Ratna menjelaskan pada Riri.


"ooh...maaf kan Bu" sahut Riri menyesal.


"kenapa minta maaf, toh musibah dari pengundang bukan disebabkan oleh nak Riri" Bu Ratna tersenyum melihat Riri yang selalu merasa dirinya bersalah bila menemukan hal-hal diluar ekspektasi nya.


"eeh...heheh iya ya.." sahut Riri merasa lucu juga dengan sikapnya.


"jadi....apa yang membawa nak Riri datang kesini, biasanya nak Riri chat atau telpon ke ibu dulu bila mau kesini??" Bu Ratna sengaja mendekatkan duduknya pada Riri.


"iya Bu" dengan wajah tertunduk lesu, Riri merasa sudah tidak ada gairah lagi menjalani hari-harinya.

__ADS_1


"apa yang membuat kamu resah" tanya Bu Ratna pada Riri yang di mulai dengan tarikan nafas panjang dari Riri dan akhirnya mengalirlah cerita riri tentang ke galau an hatinya, Bu Ratna seperti biasa mendengarkan keluh kesah dari wanita yang menurut Bu Ratna sebenarnya kuat, namun kalah pada pondasi keimanan hingga terkadang ia terombangambing oleh masalahnya sendiri.


__ADS_2