Aku, Kamu Dan Ibu Mertua

Aku, Kamu Dan Ibu Mertua
Keberangkatan Riri 1


__ADS_3

Riri yang merasa tidak enak dengan mertuanya karena harus tidur tanpa ada AC di dalam kamar akhirnya meminta Anton untuk membiarkan ibu mertuanya untuk tidur bersamanya karena kamar yang di tempati Riri, Anton dan Reza saja yang dipasang pendingin ruangan, sedangkan kamar yang lain tidak.


Awalnya mertuanya menolak, tapi karena Reza juga ikut senang karena neneknya akan tidur bersamanya maka hatinya luluh juga.


Riri tau bahwa semua kebaikan yang di perlihatkan oleh ibu mertuanya itu hanyalah kamuflase untuk menutupi perasaan tidak suka kepada menantunya, namun Riri bukanlah orang yang kalau tidak ada api bisa langsung terbakar, dirinya masih berpikir logis dan masih menghormati ibu mertuanya tersebut.


didalam kamar


"kata Anton kamu akan pergi lumayan lama urusan kantor?" tanya ibu mertuanya.


"iya mah, ada masalah di area yang aku pegang di kupang" jawab Riri sambil menepuk-nepuk lembut pundak anaknya agar tertidur.


"sebenarnya mama kesini mau ke tempat om mu (bapak mertua Riri yang dibahasakan sebagai om)" lanjut Rianti ibu mertua Riri.


"owh gitu mah...maaf Riri tidak tau, karena Anton tidak cerita, tadinya Riri mau minta tolong sama Kaka Riri untuk kesini menjaga Reza, besok Riri coba telpon ke Jakarta jika begitu" lanjut Riri yang rasanya ingin segera menyudahi obrolan malamnya tersebut.


"ya sudah..Reza sudah tidur..mama mau tidur, capek rasanya" sambil menguap dan membalikan badan.


Riri merasa lega akhrinya pembicaraan mereka selesai juga, Riri berencana akan segera menghubungi kakaknya besok pagi, semoga saja kakaknya bersedia untuk menjaga Reza.


-----


Riri bangun pagi-pagi sengaja untuk menyiapkan sarapan, karena Riri harus berangkat lebih pagi karena ada meeting dengan beberapa klien hari ini sebelum keberangkatan keluar kota lusa.


Riri sengaja membeli nasi uduk kesukaan Reza, dan tidak lupa membelikan juga untuk Anton dan ibu mertuanya.


Rianti dan Reza bangun bersamaan, sedangkan Anton...hmm jangan ditanya dia selalu bangun siang kalau saja Riri tidak membangunkannya saat mengantar Reza.

__ADS_1


"kamu berangkat jam berapa, kok sudah rapih" tanya Rianti pada Riri.


"iya mah.., sebelum berangkat ke Kupang alu harus selesaikan beberapa urusan di sini, supaya tidak ada masalah" sahut Riri, sembari menyiapkan apa yang dia beli tadi.


"memangnya pekerjaan kamu seperti apa?" tanya Rianti lagi yang memang tidak pernah bekerja kantoran, mungkin sedikit bingung dengan pekerjaan Riri, karena dia juga tidak punya anak yang bekerja layaknya Riri saat ini.


Riri sedikit bingung mau menjawab,


"Anton tidak pernah cerita pekerjaanku ke mama??" tanya Riri menyelidik.


"mana pernah dia bahas kamu" jawab Rianti santai, namun menusuk layaknya belati yang menghujam jantung Riri.


"hehehe...iya mah aku tau, jadi aku sekarang dipercaya memegang 3 area oleh perusahan ini sebagai kepala cabang, jadi disini aku tidak punya atasan, karena aku langsung direct ke direktur dan pemilik perusahan untuk melaporkan hasil pekerjaanku disini" Riri menjelaskan panjang lebar sengaja ingin membuat ibu mertuanya tersinggung karena bila dibandingkan dengan anaknya yang hanya seorang kepala toko saja itu sangat jauh sekali, sedangkan ibu mertuanya itu selalu membanggakan anaknya kemana-mana.


tidak ada jawaban apapun, yes..sukses batin Riri...Reza yang baru selesai dipakaikan baju oleh neneknya langsung menarik Riri untuk segera berangkat sekolah.


"ya sudah sana ke mobil duluan ya, bunda ambil tas dulu" sambil mengelus pucuk kepala anaknya.


"mah, maaf aku duluan ya, aku pamit sama Anton dulu, sarapannya sudah aku siapin mah, mama makan dulu" Riri menghampiri Anton yang tidur di kamar sebelah.


"yah..aku berangkat, segera bangun, kasian mama sendiri, nanti pulang kalau mau makan apa kasih tau saja biar aku belikan" Anton terbangun dan masih belum sadar penuh hanya menganggukkan kepalanya.


"Riri berangkat ya mah, assalamualaikum" sambil mencium tangan mertuanya dirinya pun berangkat, tak lupa ia menyuruh Reza untuk mencium tangan neneknya sebelum mereka berangkat kerja.


Rianti POV


Sok sekali anak itu, lama-lama makin kurang ajar dia, ini tidak boleh dibiarin, tidak ada sopa santunnya sama sekali sama orang tua, aku kira dia berbeda dengan kakak-kakaknya, ternyata sama menjengkelkannya, kita liat saja nanti, aku harus ngomong sama Anton biar dia berhenti kerja saja, tidak sok jadi menantu

__ADS_1


-----


Sesampainya di kantor hal yang pertama kali dilakukan Riri adalah menelpon kakaknya untuk menanyakan kesanggupan menjaga Reza.


untung saja kakaknya mengiyakan, Riri menjadi lega sekali mengetahui hal itu, ya walaupun keluarganya selalu merongrong materi pada Riri tapi Riri sangat menyayangi mereka karena biar bagaimanapun ikatan darah tidak akan pernah bisa tergantikan dengan apapun, itulah prinsip yang dipegang oleh Riri, walaupun ia kesal dengan sikap mereka tapi tidak membuatnya jera untuk selalu membantu secara finansial, ditambah lagi saat ini penghasilan yang Riri dapatkan lebih besar dari pekerjaan sebelumnya.


Lila yang paham bahwa saat ini bosnya baru ada masalah, sengaja tidak menegur ketika bosnya itu masuk kedalam ruangan kerjanya.


dan membiarkan dirinya mendengar pembicaraan antara Riri dengan kakak nya melalu telepon barusan.


"akh... Lila...maaf saya buru-buru jadi belum menyapa" ujar Riri sambil tersenyum


"tidak apa Bu..sudah biasa kok di anggurin macam kacang goreng" sahut Lila bercanda..


"bisa aja kamu, oh ya kita jalan meeting Sekarang yuk, sudah siapkan filenya yang mau dibawa?" tanya Riri pada Lila


"sudah dong Bu...masa saya lupa, kan saya yang kasih jadwal meeting hari ini", ujar Lila mantap.


akhirnya merekapun segera berangkat ke tempat meeting dan disana sudah menunggu klien yang paling ingin Riri hindari, siapa lagi kalau bukan pak Budi.


sejak pertemuan terakhir antara mereka Riri benar-benar sangat membenci laki-laki tersebut karena hampir saja dia terperangkap dalam jebakan si tua Bangka itu


Riri sadar bahwa pekerjaan ini beresiko tinggi dan juga akan banyak halangan yang akan dia tempuh, tapi memang semua pekerjaan pasti beresiko dan Riri sudah mengambil langkah untuk terus maju meniti karir yang memang sejak dulu ia idamkan dan akhirnya saat ini kesampaian.


Kalau saja waktu itu Riri tidak dengan sengaja melihat pak Budi memasukan sesuatu ke minumannya mungkin saat ini Riri akan sulit untuk menjauhi orang tersebut, dan benar saja sejak saat itu komplain yang dilontarkan tua Bangka tersebut atas kinerja Riri ke kantor pusat sampai membuat Riri terkena Surat peringatan.


Riri tidak habis pikir kenapa masalah pribadi disangkutpautkan dengan pekerjaan, Riri juga sangat menyayangkan sikap relasinya itu yang tidak bisa menjaga sikap profesional terhadap pekerjaannya.

__ADS_1


__ADS_2