
kedatangan Rianti ke kampung halamannya itu disambut baik oleh keluarga besarnya, karena memang dikampung Rianti sudah terkenal sebagai sosok yang royal dan juga banyak uang, mereka masih menganggap sosok Rianti tetap sama saat masih muda dulu.
"akhirnya pulang juga..ya kan bang"Rianti berbicara pada abangnya
"iya dek, akhirnya balik kampung, seneng kami ini kalau kau disini" tutur abangnya itu
"tapi bang aku sebenarnya ingin balik sini sama anak-anak dan suamiku, cuma suami belum bisa ikut karena kontrak kerja, sedangkan anakku bang, yang satu susah masih mau senang-senang, yang satu dikekang istrinya, nasibku lah ya bang"Rianti tanpa sadar jadi mencurahkan kesedihannya karena tidak bisa membawa anak-anak nya untuk tinggal bersama.
"memangnya menantumu itu tidak mau tinggal sini? kata abangnya Rianti.
"ga mau dia bang, jangankan kesini kerumah waktu disana aja jarang, sibuk kerja, telp atau wa juga tidak, kalaupun kerumah paling ngambil anak langsung bawa pulang, alasan cape, biasanya nunggu Antom jemput"
"akupun bingung sama Anton, kenapa bisa nikah sama anak itu, awalnya aku kira dia beda sama keluarganya, taunya sama saja, susah diatur".rianti menggambarkan sosok Riri anak menantunya itu.
"memangnya kenapa kok kau kayak tak suka sama menantu mu?"timpal abangnya.
"Abang kan tau aku ingin sekali punya anak perempuan, anak laki-laki kadang tidak paham kemauan ibunya, makanya aku harap menantuku karena sama-sama perempuan bisa ngerti, aku ingin menantu yang nurut, tidak banyak bantah, rajin tidak perlu disuruh kalau melakukan apapun, ini mana, kalau tidak disuruh tidak gerak, kalau dibilangin ini itu jawabannya iya tapi tidak dikerjakan, kalau ditegur jawabnya lupa." dengus Rianti kesal.
"yah mungkin memang lupa kali"kata Abang Rianti
"sudah tidak usah dipikirkan lagi, kan sekarang sudah sama-sama keluarga disini kalau ada apa-apa jangan sungkan"menenangkan Rianti yang sudah mulai kesal membahas menantunya.
"iya bang, nanti Anton juga ikut kesini kok, bareng sama ekspedisi barang, biar aku ajak bicara supaya bisa didik istrinya, kalau tidak bisa biar suruh cari yang lain, anakku laki-laki ini"jawab Rianti sambil merapikan barang yang ia bawa.
__ADS_1
-------
Riri sengaja meminta libur dari kantornya karena akan menjaga Reza setelah ibu mertuanya pindah kemarin berarti hari ini juga mba Wati efektif tidak lagi mengurus Reza, kesal sudah pasti menggandrungi hati Riri oleh perilaku pembantunya tersebut, jaman sekarang bukan lagi majikan yang mengatur pembantu tetapi pembantu yang mengatur majikan, benar-benar jaman sudah gila.
Riri akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan salah satu kakak perempuannya untuk tinggal di tempat Riri sementara waktu sampai benar-benar memungkinkan, akhirnya Riri membicarakan hal itu kepada Anton yang saat ini tentu saja masih diperjalanan menuju rumah ibunya.
//kamu kan bisa minta tolong mba Wati dulu sebelum aku pulang untuk bantu jaga Reza, kamu juga pulang jangan terlalu malam//
//sudah aku coba, tapi memang sepertinya masalah utama ya kita gajinya terlalu kecil mungkin//
//ya terserah kamu lah tapi kalo nanti ada apa-apa urus sendiri//
plip....
hari ini Riri mendatangi salah satu Paud yang sekaligus menyediakan fasilitas penitipan anak untuk orang tua yang bekerja, Riri membawa Reza untuk ikut serta, bukan perkara mudah ternyata meyakinkan Reza untuk mau membaur dengan anak2 yang jarak usia tidak terpaut jauh dengan Reza.
"lucunya, siapa namanya??"kepala sekolah paud tersebut dengan ramah menyapa Reza yang berdiri dibelakang Riri.
"itu sayang ditanya siapa namanya....Reza Bu.., ayo jawab" Riri membujuk Reza untuk mau menjawab pertanyaan dari orang di depannya.
"masih belum biasa Bu, tidak apa, nanti kami coba untuk bisa membaur, mari silahkan masuk, biar anaknya keliling sekolah dulu".
Bu Tina kepala sekolah tersebut mengajak Riri dan Reza masuk kedalam.
__ADS_1
sebelumnya Riri sempat berkomunikasi dengan Bu Tina dan menceritakan sedikit mengenai keinginannya menitipkan Reza di sekolah tersebut, itu juga atas rekomendasi kenalan Riri yang anaknya juga pernah sekolah di tempat tersebut.
Reza sudah mulai terlihat menyukai tempat itu karena selain fasilitas permainannya lumayan banyak, ternyata tidak sedikit juga orang yang menitipkan anaknya di sekolah tersebut.
akhirnya setelah duduk di ruangan kepala sekolah, Riri mulai menceritakan kondisi Reza seperti apa, dimana Reza terbiasa memanggil pembantu dengan sebutan mama dan bagaimana terpukulnya Riri tentang hal tersebut.
Reza sedikit perlahan sudah mulai bisa membaur dimana saat Riri menceritakan segala permasalah Reza ada guru pendamping yang mengajak Reza bercerita dan juga bermain..dan saat ini Reza sudah berhasil untuk diajak keluar ruangan untuk ikut bermain.
Setelah Riri banyak berdiskusi tentang pola asuh dan juga penanganan anak yang terlalu dekat dengan pembantu akhirnya Riri bisa bernapas lega karena pihak sekolah akan membantu mengatasi masalah tersebut, tidak sedikit ternyata anak yang dititipkan di sekolah tersebut memiliki masalah yang sama karena orangtuanya perantau dan tidak memilik keluarga.
"sepertinya Reza sudah bisa membaur Bu.."Bu Tina melihat dari jendela dan memperhatikan Reza sudah mulai berlari-lari kecil mengejar temannya.
"iya Bu Tina, Alhamdulillah, saya senang lihatnya, minta tolong dibantu untuk menjelaskan posisi saya ke Reza ya Bu, dirumah saya sudah menjelaskan panjang lebar tapi sepertinya hatinya masih kepikiran dengan pembantu itu".
"kebetulan kami punya psikolog anak Bu, nanti kami akan bantu dari sisi psikisnya selengkapnya akan kami informasikan secara rutin perkembangan Reza disini" Bu Tina menjelaskan kepada Riri dengan meyakinkan Riri agar tidak khawatir.
Setelah selesai dengan administrasi dan juga berbekal penjelasan mengenai metode penitipan anak di sekolah tersebut maka Riri undur diri.
biaya yang harus dikeluarkan cukup lumayan, awalnya Riri ragu, karna nominalnya hampir sama dengan gaji yang dia keluarkan untuk pembantunya dulu, tapi akhirnya Riri sadar bahwa disini anaknya lebih terjamin pendidikannya ketimbang dengan pembantu, ya walaupun tidak semua pembantu itu buruk, mungkin memang Riri yang sedang tidak beruntung memiliki pembantu yang tidak loyal padanya karena loyal pada ibu mertuanya.
"Reza senang tidak tadi di sana" Riri mulai mengajak anaknya bicara setelah mereka sampai rumah dan bersih-bersih.
sambil menyuapi Reza Riri mulai membuka percakapan dengan anak semata wayangnya tersebut, ingin rasanya ia mengulang waktu agar bisa mengasuh Reza sendiri tanpa bantuan dari mba Wati, tersirat sesal yang teramat pada wajah Riri ketika melihat wajah putra kesayangannya tersebut, tapi Riri bisa apa, Anton belum mampu untuk berpijak pada kakinya sendiri untuk menopang kebutuhan rumah tangga mereka sehingga Riri juga harus ikut berjuang dengan mengalahkan anaknya yang seharusnya menjadi prioritas utama baginya.
__ADS_1