
Anton dan Reza sudah tertidur lelap malam ini, namun Riri belum bisa memejamkan matanya, gelisah mengetahui ibu mertuanya akan datang, Riri masih trauma dengan kondisi dimana ia harus bisa meyakinkan anaknya agar tidak memikirkan mantan pembantunya yang dipanggil mamak oleh Reza dan semua itu adalah karena ibu mertuanya.
selama ini Riri menjauhkan pertemuan dengan mantan pembantunya tersebut agar anaknya tidak teringat kembali walaupun itu sudah hampir satu tahun lamanya, Reza pun saat ini sangat sayang pada Riri, karena Riri banyak menghabiskan waktu bersama dengan buah hatinya itu.
Dengan kedatangan ibu mertuanya itu sudah pasti mantan pembantunya tersebut juga pasti akan datang kerumah mereka dan Riri takut Reza akan kembali seperti dulu, ke khawatiran itulah yang membuat Riri tidak bisa memejamkan matanya untuk tidur malam ini.
Riri juga bingung jika seandainya ia meminta kakaknya untuk datang dan membantu mengurus anaknya dia khawatir malah akan terjadi selisih paham, karena ia tau betul antara, ibu mertua dan keluarganya sering berselisih paham, karena sebelum menikah kedua keluarga ini sering sekali berseteru dan ternyata alasannya adalah karna abangnya Riri dulu sempat menjalin hubungan dengan ibu mertuanya dan banyak drama yang terjadi antara mereka, maka pantas saja saat Anton mengatakan akan menikahi Riri ibu mertuanya ini tidak menerimanya, dan berusaha agar Anton tidak jadi menikah dengan Riri, namun karena kegigihan Anton meyakinkan ibunya maka akhirnya ibunya pun mengikuti keinginan Anton walaupun berat hati.
Nasi sudah menjadi bubur, jika saja Riri mengetahuinya hal itu dari awal atau jika saja dari keluarganya menceritakan itu sedari awal, mungkin Riri akan lebih rasional lagi untuk mengambil keputusan menikah dengan Anton.
Malam semakin sunyi seperti suara hati Riri yang sepi dan hampa, terjebak dalam hubungan yang entah akan berakhir seperti apa dan bagaimana, akhirnya ia pun terlelap dalam diam nya.
------
Riri tidak dapat tidur nyenyak semalam dan pagi ini dia pun terbangun lebih awal dan langsung membersihkan diri da menyiapkan sarapan untuk anak dan suaminya.
Riri sudah memutuskan bahwa dia akan menerima anaknya di titipkan ke ibu mertuanya, lagi pula ia tidak perlu khawatir karena anaknya akan di antar dan di jemput di tempat penitipan anak seperti biasa, jadi mertuanya tidak harus direpotkan oleh Reza seharian penuh.
seharian di kantor Riri tidak bisa fokus karena memikirkan ibu mertuanya yang akan berkunjung ke kota ini.
Lila yang memperhatikan atasannya itu lalu mencoba amencari tahu apa yang menjadi beban pikiran dari atasannya itu.
"Bu.., apa semua baik-baik saja?" Lila sengaja mengencangkan suaranya khawatir Riri sibuk dengan lamunannya.
"aahh..... iya aku baik saja" sontak Riri tersadar dari lamunannya
"jangan kebanyakan melamun Bu, tidak baik untuk kesehatan" Lila mencoba mencairkan suasana.
__ADS_1
"iya la..makasih banyak" sahut Riri malas.
"oh ya la..dokumen yang saya perlukan untuk saya bawa ke Kupang sudah di siapin?" tanya Riri pada adminnya itu.
"oh sudah Bu.., apa ibu yakin akan pergi sendiri?" tanya Lila khawatir.
"kamu tau bagaimana perusahaan ini mengutamakan efisiensi, lagi pula disana saya akan dibantu oleh area manager yang di tugaskan langsung dari Jakarta, harusnya saya akan baik-baik saja" jawab Riri mengerti kalah Lila mencemaskannya.
"ibu kalau ada apa kabari ya Bu?" pinta Lila memelas, yang hanya dijawab anggukan kepala oleh atasannya itu.
Lila mengerti betul tugas yang akan di kerjakan Riri di sana adalah tugas berat, ia harus mengatasi manipulasi keuangan di kota tersebut yang dilakukan oleh oknum anak buahnya disana, selain itu Lila juga khawatir karena mendengar cerita bahwa lokasi yang di pegang oleh atasannya itu banyak sekali tindak kekerasan, walau ia sadar Riri bukanlah wanita lemah jika menyangkut pekerjaan, namun untuk urusan rumah tangga Lila paham betul bagaimana atasannya ini, Lila yang berbeda usia 5 tahun lebih tua dari Riri sudah menganggap atasannya itu seperti adiknya sendiri, jika diluar pekerjaan, namun ia begitu bangga pada Riri karena tidak pernah membawa masalah pribadi ke ranah pekerjaan tapi ketika sudah selesai bekerja, dan kadang mereka melewati waktu bersama untuk sekedar makan malam atau makan siang bersama, begitu jelas bila ia banyak menanggung beban masalah di pundaknya.
Lila sering sekali mendapati Riri berbicara lewat ponselnya dengan keluarganya bahkan suaminya dan terkadang sampai menangis,. namun setelahnya Riri bisa fokus kembali pada pekerjaan, itu yang membuat Lila juga merasa nyaman untuk terus bekerja dengan Riri.
Bruukk !!!
"Bu...ada orang gila ngamuk di depan karena komplain soal cctv". Jaya datang dengan nafas masih terengah-engah.
"iih...kamu ini jaay !!!" seru Lila setengah marah karena ia kaget sekali mendengar pintu dibuka paksa dengan keras tanpa diketuk terlebih dahulu.
"sorry Bu Lil..hehe" Jaya masih bisa terkekeh dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"duduklah Jay...ada apa?" suara Riri akhirnya menyadarkan jaya tentang hal yang ingin dirinya sampaikan.
usai mendengarkan penjelasan Jaya, Riri segera berjalan menemui orang tersebut dan dengan pengalaman yang di milikinya dia menyelesaikan permasalahan tersebut dengan baik.
drtt....drtt..
__ADS_1
ponsel Riri berbunyi tepat saat baru saja dirinya menyandarkan diri di bangku kerja di ruangannya.
Anton
"ya hallo..." jawab Riri melalui ponselnya.
"nanti kita jadi jemput mama kan, aku sudah jalan mau pulang, ini sudah mau jam 5, aku yang jemput anaknya ya" pertanyaan yang banyak datang dari suara di ujung ponselnya.
"owh..iya sudah mau jam 5, okey...aku siap-siap dulu".
tuutt...
ponsel dimatikan dari Anton,
Riri menghela nafas dengan berat, Lila yang menyadari bahwa mood Riri sedang tidak baik itu pun enggan untuk bertanya.
Riri baru sadar bahwa Lila belum pulang padahal biasanya dia sudah tidak ada di ruangan setelah jam 4.30 sore.
"kamu belum pulang la?" tanya Riri.
"belum..saya masih nunggu ibu, ada beberapa dokumen yang harus di tandatangani, karena ibu akan pergi lumayan lama, biar tidak terpending" jawab Lila sambil berdiri dan membawa beberapa dokumen yang harus di tandatangani oleh Riri.
setelah siap dengan dokumennya Riri pun segera merapihkan laptop dan tasnya ia segera beranjak dari ruangannya setelah pamit pada Lila untuk pulang lebih dulu karena akan menjemput ibu mertuanya di Bandara.
Sebelumnya ia sempat mampir terlebih dahulu ke ATM untuk mengambil beberapa uang karena sudah menjadi kebiasaan bagi dirinya dan Anton apabila keluarga mereka datang maka mereka akan menjamu keluarganya tersebut untuk makan bersama di luar
//bersambung...
__ADS_1