
Anton keluar dengan membawa bayi yang kurang lebih masih berumur bulanan tersebut, tentu saja dengan wajah yang panik karena Farah tak hentinya menangis.
"anak siapa ini ton?" tanya Dina pada Anton yang masih mengayunkan bayi itu agar terdiam, beruntung Farah tidak lagi menangis karena ayunan dan dekapan Anton bisa menghentikan tangis bayi tersebut.
"i...ini anakku mba..."lirih Anton.
"anak kamu??? emang Riri hamil?? terus dia ninggalin bayinya?? ga mungkin banget ton!!" emosi chai
Anton merasa benar-benar sial hari ini, menghadapi Fitri saja sudah membuat kepalanya mau pecah, sekarang dihadapkan degan dua kakak Riri yang datang tanpa diundang untuk mencari keberadaan adiknya yang Anton sendiri tidak tahu kemana dan dimana Riri berada.
"hmm....mba panjang ceritanya, aku ga tau harus mulai darimana ditambah lagi ada anak ini yang mungkin saja terbangun saat aku sedang fokus menceritakan semua"
jelas Anton yang sengaja menjadikan bayinya sebagai tameng agar tidak perlu menjelaskan panjang lebar.
"intinya aja nton" lanjut Dina yang sudah bisa membaca situasi.
"aku sudah cerai sama Riri mba dan anak ini anak dari perempuan tadi" Anton menunduk tak berani menatap kedua orang yang ada dihadapannya.
Buggh...
"b******k kamu ton" chai yang menahan emosi dari tadi tak tahan untuk menghajar Anton hampir saja Anton dan Farah yang berada di gendongan Anton hampir terjerembab kalau saja Dina tidak menahan tangan chai untuk melakukan pukulan kedua.
"ayo kita pergi chai..., ton...dimana cafe Riri? kami minta alamatnya" tanya Dina.
"dia sudah menjual cafenya, aku juga sudah mencari kesana mba" jelas Anton yang memang sudah mencari Riri tidak mendapatkan info tentang mantan istrinya itu.
Dina memijit pelipisnya, sedang chai sudah menarik kopernya dan keluar dari rumah itu dengan perasaan kesal bukan main.
"kasih alamatnya biar kami cari sendiri" Anton pun dengan sebelah tangannya mengambil ponsel dan mengirimkan lokasi dan nama cafe pada wa Dina.
__ADS_1
mereka pun meninggalkan tempat itu dengan memanggil taksi menuju alamat yang diberikan oleh Anton.
sedangkan dilain tempat seorang wanita sudah berada dalam sebuah bis yang akan membawanya kembali ke kampung halamannya, ia sengaja mematikan ponselnya, fokusnya menyelesaikan apa yang belum selesai disana, ia bersyukur bisa pulang tanpa ada Anton, dan juga tanpa bayinya, biarlah Farah bisa minum susu biasa, setelah ini ia akan minta maaf pada Anton yang penting masalahnya di kampung selesai, dan dia bisa melanjutkan hidupnya dengan Anton.
_______
Mobil sedan biru mengantar Dina dan Chai ke tempat dimana mereka baru pertama kali menginjakkan kaki disini.
beruntunglah mereka mengambil penerbangan pagi, jadi mereka bisa sewaktu-waktu bisa kembali ke kotanya tanpa harus menginap seperti yang mereka rencanakan sebelumnya.
Dina dan Chai memasuki cafe yang tidak terlalu besar namun unik dan suasananya sangat nyaman, tidak heran tempa ini ramai walaupun belum masuk jam makan siang.
Chai dan Dina mengambil tempat duduk paling pojok dekat jendela karena itu posisi yang memang belum ada yang mengisi.
terlihat seorang wanita paruh baya berhijab syar'i memasuki cafe dan menuju ruangan yang tertutup.
seorang pelayan menghampiri mereka dan menanyakan pesanan kesempatan ini tentu digunakan oleh chai untuk bertanya tentang adiknya.
"eh..ibu kenal sama Bu Riri?" pelayan itu malah balik bertanya.
"kami kakaknya? tapi kami tidak tinggal disini, jadi sempat hilang kabar" Dina yang angkat bicara Kali ini.
"oh....Bu Riri..." belum sempat pelayan itu menjawab secara lengkap, suara orang yang berdiri dibelakang pelayan tadi.
"maaf...apa anda sudah melakukan pesanan? ren, coba kamu bawain pesanan kemeja 4 ya biar ini saya yang urus" lelaki tersebut bertanya pada Dina dan Chai serta memerintahkan pada pelayan wanita tadi yang sepertinya bawahan dari lelaki tadi.
"ya ...ini pesanan kami" Dina menunjukan apa yang akan mereka makan pada lelaki itu, lalu setelah lelaki itu selesai mencatat, Dina yang memang gemas karena merasa lelaki ini mengetahui sesuatu tentang Riri.
"maaf mas...apa mas tau sesuatu tentang keberadaan adik kami, Riri pemilik cafe ini dulu?" Dina berharap lelaki ini mau memberikan jawaban yang mereka inginkan.
__ADS_1
"maaf ibu, pemilik cafe ini sudah ganti dan kami kebetulan tidak mengetahui pasti mengenai keberadaan beliau" lelaki tersebut berpamitan segera.
Dina menghembuskan nafasnya rasanya sulit sekali mencari jejak adiknya, apa mereka pulang saja ya
dilain sisi lelaki yang tadi sempat melayani mereka saat ini sudah berada di dalam ruangan yang biasanya di tempati oleh Riri, kebetulan ibu Ratna saat ini yang sering berkunjung ke tempat ini atas permintaan Fahri, karena kerap kali Fahri sering melihat Anton yang tidak putus asa selalu mengawasi tempat ini, dan Fahri benar-benar merasa malas jika harus melihat lelaki yang telah banyak menyakiti hati wanita yang ia cintai.
"mereka bilang kakaknya?" tanya Bu Ratna
"ya Bu.., saya tidak menjawab saat mereka tanya apa saya tau sesuatu tentang Bu Riri" jawab lelaki yang ada dihadapan Bu Ratna.
"sepertinya tidak apa-apa jika mereka tau kondisi Riri, tapi mungkin mereka tidak perlu tau Riri ada dimana, coba suruh mereka masuk biar saya yang bicara pada mereka" tegas Bu Ratna.
lelaki tersebut akhirnya keluar dari ruangan Bu Ratna menuju meja dimana chai dan Dina sedang menyantap makanannya.
"ekhmm.. maaf permisi" fokus chai dan Dina terpecah saat lelaki yang tadi mencatat pesanan mereka telah berdiri lagi di hadapan mereka.Dina mendongakkan kepalanya
"ya mas....ada apa? pesanan kita udah lengkap kok" jelas Dina
"maaf mba...saya kesini diminta oleh ibu Ratna untuk membawa anda berdua ke dalam ruangan di ujung" lelaki tersebut berbalik sambil meminta agar Dina dan Chai mengikuti mereka, walaupun makanan mereka belum selesai disantap semua, karena mungkin ada informasi yang lebih penting lagi yang akan di ceritakan oleh orang yang berada di dalam ruangan tersebut.
tok...tok...tok
"masuk" suara sahutan dari dalam yang jelas sekali terdengar di telinga dini dan Chai.
lelaki yang mengantarkan mereka berdua akhirnya membukakan pintu dan langsung mempersilahkan chai dan Dina untuk masuk lebih dalam.
setelah pintu tertutup, Dina dan Chai yang masih berdiri akhirnya di persilahkan duduk di sofa yang ada ruangan tersebut
"perkenalkan...saya ibu Ratna", sambil berjalan menuju sofa untuk bisa duduk bersama dengan chai dan Dina.
__ADS_1
"saya Dina dan ini adik saya chai" balas Dina menerima uluran tangan dari sosok paruh baya yang ada di ruangan tersebut.