Aku, Kamu Dan Ibu Mertua

Aku, Kamu Dan Ibu Mertua
Riri pulang


__ADS_3

Malam telah berganti fajar...alarm pagi membangunkan jiwa yang lelah....


Riri terbangun dari tidurnya, mematikan alarm yang sedari tadi menyanyi riang di samping telinganya, bertanda waktunya ia menyelesaikan pekerjaannya di tempat itu,


pagi ini Riri berencana menghubungi anaknya karena ia begitu rindu ingin rasanya segera pulang dan mendengarkan celoteh anaknya itu, Riri kembali mengingat bagaimana rasanya ia harus berjuang merebut hati anaknya sendiri dalam waktu beberapa bulan yang penuh perjuangannya akibat dari kebiasaan ibu mertuanya yang harus membiasakan anaknya memanggil pembantunya dulu dengan sebutan "mamak"


sampai-sampai Riri harus berusaha mengembalikan kebersamaan lagi dengan anak semata wayangnya itu.


Riri meraih ponselnya dan menekan nomor Anton yang dipastikan saat ini pasti masih berada dirumah.


"halo..." suara Anton terdengar di seberang sana, datar tanpa ada kesan rindu maupun romantis padahal istrinya berada jauh dan pergi dalam waktu yang cukup lama.


Riri menarik nafas panjang


"anaknya sudah bangun kah??" mencoba mendekatkan telinga untuk mencari suara anaknya diseberang sana.


"masih tidur, semalam sudah lebih baik, panasnya jg sudah turun" Anton menjelaskan mengenai kondisi Reza.


"nanti berangkat kerja jam berapa? boleh minta tolong telpon aku dulu sebelum berangkat, ponsel mba kan tidak bisa untuk panggilan video" pintaku pada Anton


"ya sudah nanti aku telpon, mau cuci motor dulu, oh ya mobil aku pake nanti ya mau ke tempat om, anter pesanan, mungkin aku juga tidak pulang, mba tidak apa kan kalau ditinggal?" tanya Anton.


Riri hanya bisa menghela nafas mendengar penjelasan Anton yang akan meninggalkan anaknya yang masih dalam kondisi tidak sehat, walaupun masih ada kakak Riri yang bisa mengurus Reza dengan baik karena setiap hari pun memang kakak Riri yang merawat selama Riri tidak disana.


"haloo..., kamu Mash disitu? kenapa diam" suara Anton membuyarkan lamunan Riri.


"eh...iya.., atur aja bagaimana baiknya, aku juga akan lihat hasil dari laporan di kepolisian, kalau sudah bisa aku tinggal mungkin aku akan langsung beli tiket pulang" jawabku cepat, malas berdebat dengan hal yang sudah pasti tidak bisa ku larang.


"ya sudah aku tutup dulu teleponnya, nanti kalau Reza bangun aku telepon lagi"

__ADS_1


Riri hanya bisa menghela nafas panjang ketika suara telepon terputus, ia pun segera bergegas mandi karena akan memastikan semua aman setelah ia tinggal.


-------


dret....dret....dret


ponsel Riri berbunyi saat ia berada di ruang meeting klien menunggu si pemilik ruangan datang menemuinya.


"halo...." Riri segera mengangkat telepon yang ternyata berasal dari atasannya di Jakarta.


"halo Ri,. bagaimana perkembangan kasus di sana?" seperti biasa si bos pun tanpa basa basi langsung to the point menanyakan perkembangan kasus yang sedang Riri tangani


"sejauh ini masih aman pak, kemungkinan saya besok ambil penerbangan pagi untuk balik ke regional" Riri menjelaskan mengenai situasi tersebut.


"oke.., saya harap saat meeting awal tahun ini tidak jadi kendala lagi di area kamu, jangan sampai performa kamu menurun". tegas si bos seperti biasa.


"baik pak, maaf saya akhiri dulu, pak Lucas sudah masuk ruangan" jawab Riri sambil tersenyum dan menganggukkan kepala ke arah pak Lucas klien yang sedang ditunggu oleh Riri.


Riri akhirnya melanjutkan kembali rapat dengan pak Lucas didampingi jajaran stafnya dan juga ibu Yulia yang menemani Riri.


hasil rapat telah diputuskan dan Riri akhirnya bisa bernafas lega, setelah meeting selesai Riri segera mendelegasikan sisa pekerjaan yang bisa di lakukan oleh Bu Yulia, sebenarnya Riri ingin menyelesaikan semuanya tapi karena kondisi maka Riri memutuskan untuk segera kembali.


tidak berapa lama Anton pun menelpon, Riri pikir tadi Anton lupa untuk menelpon, karena hari sudah makin siang, Riri yang juga tadi disibukan dengan Bu yulia yang sudah sampai dikamar hotel dan buru-buru mengajak Riri untuk sarapan dan lanjut menuju tempat rapat sampai terlupa kalau ia ingin menghubungi anaknya


"halo..." suara Anton terdengar disana.


"iya...maaf aku tadi tidak sempat telepon, langsung berangkat meeting" aneh memang Riri selalu minta maaf walaupun ia tidak melakukan kesalahan.


"sudah dari tadi, tadi ada teman kerumah, aku juga sepertinya batal pergi karena sudah terlalu siang, Reza sudah bangun dari tadi, dia tanya kapan kamu pulang, sebentar aku kasih teleponnya" terdengar Anton memanggil nama anak kami dan menyerahkan telepon tersebut sudah dalam posisi panggilan video.

__ADS_1


"hai anak bunda ganteng..., sudah sehat" tanyaku tak kala melihat wajahnya yang sayu itu menatap ke layar ponsel terlihat mbak ku ada di sampingnya sambil membantu memegang ponsel.


"sudah sembuh bunda...kapan bunda pulang, aku mau sama bunda" terdengar suara memelas dari Reza membuat rasa sesak di dada Riri saat itu.


"besok bunda pulang sayang, mungkin baru sampai sana siang atau sore ya...tunggu bunda pulang ya" Riri menjawab dengan lembut.


"aku jemput ya bunda, sama ayah sama Tante" wajahnya terlihat lebih segar seketika mengetahui bahwa aku akan pulang besok


"nanti tanya ayah ya sayang...apa bisa jemput bunda, karena kan besok ayah kerja nak..., nanti biar bunda naik taksi saja pulangnya kalau ayah tidak bisa ya..." Riri mencoba menjelaskan pada Reza untuk tidak usah menjemput karena Riri tau kalau Anton akan memilih tetap kerja dan Riri bisa pulang menggunakan taksi.


"ayaaah...!! bunda pulang besok kita jemput ya" tak dikira Reza berteriak kepada ayahnya dengan intonasi memerintah, terdengar sayup-sayup Anton menjawab iya.


"ayah bisa bunda..besok aku ikut ayah jemput bunda ya..." Reza semangat sekali untuk menjemput, aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk


kami pun menyelesaikan panggilan video tersebut karena aku harus segera berkemas untuk besok


Lila sudah mengatur penerbangan pagi hari untuk Riri agar ia bisa kembali ke kota asalnya, Riri juga sudah menghubungi Rian dan ternyata Rian mau mengantarkan Riri ke bandara padahal Riri sudah menolak, akan tetapi Rian memaksa akhirnya pagi ini Riri sudah berada di mobil Rian yang menuju ke bandara.


"semua sudah beres ri?" tanya Rian tanpa memalingkan wajahnya fokus pada jalanan.


"Alhamdulillah sudah, berkat kamu juga lah, sudah banyak membantu Rian, terima kasih ya...." Riri menjawab dengan sungguh-sungguh karena Riri juga merasa banyak menerima bantuan dari Rian dalam mengusut kasus ini.


"ga masalah, selama kamu dinas disini, jangan lupa hubungin aku aja, oh iya itu paper bag yang di jok belakang dibawa ya..dari istri,. katanya oleh-oleh buat kamu, dia terima kasih karena kamu dah repot-repot belanja baju kemarin buat anakku" dengan logat ala Kupang Rian menjelaskan tentang tas yang ada di jok belakang tersebut.


"seharusnya istri kamu tidak perlu seperti ini Rian, aku saja belum sempat pamit, salam ya untuk dia dan anakmu, kapan-kapan kalau aku kesini lagi aku bawakan kalian sesuatu" senyumku tulus.


kami pun tiba di bandara, Rian dengan sigap menurunkan koperku sekaligus tas yang dia maksud tadi, kami pun saling berpamitan.


perjalanan memakan waktu yang cukup lama, dan akhirnya Riri sudah tiba di kota tempat ia tinggal, Riri sengaja menyalakan ponselnya ketika sudah turun dari pesawat dan ternyata begitu banyak notifikasi yang masuk.

__ADS_1


akhirnya Riri pulang juga ke rumahnya dan melepaskan rindu dengan anak kesayangannya.


__ADS_2