
"hee...yang kamu bilang orang lain tuh ibu ku" Anton membentak Riri.
"ya.. ya ..ibu yang ga pernah banggain cucunya sendiri malah cucu orang yang di banggain" ucap Riri.
"mana ada nenek yang bilang cucu kesayangan sama cucu lain padahal ada cucu dari anak kandungnya sedang digendong mantunya ditempat yang sama"
"mana ada mertua yang hanya siapin piring untuk dia, suami sama anak-anak nya aja sedangkan mantu dan cucunya ada ruangan yang sama, apa aku harus bilang itu ibuku, orang tuaku??? pikir??" Riri sudah tidak bisa mengontrol lagi bibirnya untuk tidak mengeluarkan uneg-uneg yang ada dalam hatinya.
"mau kamu apa sih, ngomong baik-baik ujungnya kayak gini" Anton segera menyalakan mobil dan memutar balik mobil tersebut kembali kerumah
'selalu aku salah dan kamu benar' Riri sudah malas menanggapi dan berujung tidak ada komunikasi yang benar antara mereka berdua karena benang kusut diantara mereka sudah tidak ada ujungnya, Riri hanya bisa berharap bisa menemukan kebahagiaan walau hanya sedikit saja.
flashback off***
Beberapa hari berlalu sejak mereka tidak menemukan titik cerah dari komunikasi yang sia-sia malam itu, dan keesokan nya Riri harus menelan lagi kekesalan kerena Anton harus pergi keluar kota selama beberapa hari.
meskipun hubungan keduanya tidak berjalan baik, terkadang Riri tetap masih melakukan chat sekedar menanyakan Anton posisi berada dimana atau sekedar membahas hal terkait Reza, karena biar bagaimanapun Reza tetaplah tanggung jawab Anton.
seperti saat ini Anton menghubungi Riri mengatakan bahwa ia akan sampai di rumah siang ini dan memberitahukan bahwa Riri tidak perlu menjemput Reza karena Anton yang akan menjemput, Anton juga mengatakan kalau besok malam bosnya Anton minta bertemu Riri sekedar ingin mengobrol.
Riri merasa ada yang aneh, kenapa tiba-tiba bosnya Anton mengajak bertemu, sebagai informasi bos Anton ini perempuan dan dia adalah teman seangkatan Anton saat pertama kali bekerja di toko retail ini, karena nasib baik, ternyata pemilik retail menaruh hati kepada teman perempuan Anton ini hingga mereka menikah, dan sekarang hubungan Anton dan bosnya ini tidak terlalu formal layaknya bos dan karyawan, karena Anton juga banyak berjasa dalam membangun bisnis yang sedang dijalani, dengan kemampuan penjualan dan koneksi Anton, bisnis yang Anton geluti menjadi semakin besar hingga dapat membuka beberapa outlet / toko baru dibeberapa area.
__ADS_1
awalnya Riri masih biasa saja dan berpikir mungkin bosnya ini perlu bantuan Riri dalam hal management bisnis, karena dulu sempat bosnya Anton berencana mengajak Riri untuk join kedalam bisnisnya namun pembicaraan tersebut tidak berlanjut lagi.
"ah ...Riri apa kabar?" setelah menunggu hampir 30 menit lamanya karena bosnya Anton sedang melakukan briefing pada karyawan toko.
"hai ci...apa kabar? sahut Riri.
"eh Anton nya mana?" tanya Wijaya suami dari ci meily bos toko.
"masih di dalem ngurus jualan kemarin setoran dulu" jawab ci meily pada Wijaya
"Ri, kita ngobrol sambil minum disebelah ya" ajak ci meily
Aling adalah anak dari pasangan suami istri tersebut dan tiap kali Riri bertemu dengan bosnya Anton anaknya memang sering bermain bersama.
akhirnya Riri da ci meily memutuskan duduk di meja pojok dekat jendela.
"jadi kamu sibuk apa sekarang" tanya ci meily membuka percakapan, karena sedari tadi, Riri hanya menunggu obrolan apa yang akan dibicarakan perempuan berkulit putih dan berwajah angkuh itu, jujur sejak melihat bos Anton ini, Riri sudah bisa membaca bahwa ada sifat licik yang terlihat jelas dari raut wajah nya.
bukan ingin berprasangka tetapi dengan lingkup kerja yang di geluti oleh Riri sehari-hari dimana ia bertemu dengan berbagai karakter manusia, sedikit banyak Riri paham dengan mana manusia yang tulus dan yang tidak apalagi dalam soal bisnis, Riri bisa dengan mudah menilai apakah orang ini baik atau tidak baik
"saya masih kerja ci, masih sama seperti kemarin" jawab Riri sambil meminum milkshake pesanannya.
__ADS_1
terlihat ia menarik nafas dalam lalu menghembuskan perlahan lalu
"kalian ada masalah ya? jujur sih Anton sudah sempat cerita ke saya, karena ini berpengaruh sama kinerja juga, belakangan ini agak menurut, terlihat ga semangat", sejujurnya Riri merasa penasaran dengan pernyataan yang dilontarkan oleh si bos, dan karena penasaran Riri pun menanyakan hal tersebut pada si bos
"hmmm....., maaf ci..Anton cerita yang bagaimana ya maksudnya Cici?"
"banyaklah Riri, saran saya ya...kita sebagai perempuan jangan banyak tuntutan, apalagi kalau kita bisa cari uang sendiri, yaaa... Anton cerita juga yang kamu curiga dia selingkuh, dan menurut saya sih ya...namanya laki-laki dimanapun hampir sama, pasti ga jauh-jauh dari perempuan, kamu liat si Koko..., wah saya dulu sudah kenyang.. sama kasus yang begini, tapi saya jalanin aja, kita bawa fun aja sendiri.
deg'
'anton keterlaluan, bisa-bisa nya dia cerita dan seolah disini Riri lah yang bersalah'
"oh....Anton cerita banyak ya sama Cici, yah..., mungkin kita sama-sama perempuan tapi beda pandangan ci, bebas saja sih, tapi mungkin Cici hanya tau berdasarkan garis besarnya saja" Riri mulai merasa tidak nyaman dengan hal ini.
"ya saya...cuma ga mau karna masalah sepele seperti ini, kinerja Anton jadi turun, apalagi beberapa bulan lagi dia akan fokus untuk keluar kota terus" sambil meneguk minumannya ci meily tidak menyerah agar bisa mempengaruhi Riri agar tidak terlalu menuntut dan membebani Anton.
"terima kasih masukannya ci, tapi tetap saja, ini rumah tangga kami, harusnya tidak ada orang luar yang masuk untuk ikut campur, dan masalah kinerja yang menurun, kalau bicara profesional seharusnya Cici tau apa yang harus dilakukan, tentunya pada karyawan bukan pada keluarga karyawan, permisi ci rasanya sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi". Riri pun pamit meninggalkan ci meily yang masih mau bicara tapi dengan tegas Riri menolak untuk menanggapi dengan isyarat tanganya
'benar-benar licik, demi bisnisnya enak aja dia bilang masalah sepele, aaagggghhht...b******k!!"
Riri pun beranjak menuju parkir mobil dan segera mengambil Reza tanpa mau mengucapkan kata atau berbasa basi dengan suami dar ci meily karena menurut Riri orang seperti itu tidak perlu dihormati.
__ADS_1