Aku, Kamu Dan Ibu Mertua

Aku, Kamu Dan Ibu Mertua
Jangan Takut


__ADS_3

Fahri berjalan mendekat ke arah ranjang tempat Riri terbaring dalam balutan selimut yang menutupi tubuhnya, jujur Fahri merasa keterlaluan dengan apa yang ia lakukan tadi, tidak seharusnya ia berteriak pada Edward dan Riri, hingga membuat Riri mengeluarkan kata-kata yang sangat tidak ingin Fahri dengar.


Kedatangan Fahri kali ini sebenernya ingin memastikan apakah kondisi Riri sudah lebih baik, agar ia bisa segera membawa Riri pulang ke negara mereka, namun sangat tidak disangka apa yang ia lihat tadi diluar harapannya.


Fahri berdiri di samping ranjang Riri dan mengamati wanita yang selama ini telah berhasil mengetuk hatinya yang beku....Fahri sendiri awalnya bimbang dengan hatinya, terlebih dengan status Riri saat pertama kali mereka bertemu, namun seiring berjalannya waktu dan mengenai lebih jauh serta mengetahui permasalahan Riri membuat Fahri saat itu tergerak untuk ikut membantu permasalahan Riri dan juga menyadari bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita yang berstatus istri orang saat itu, andai saja waktu bisa diputar, ingin rasanya ia bertemu lebih dulu dengan wanita yang ada dihadapannya dan menjadikannya pasangan hidupnya hingga Riri tidak perlu mengalami hal yang ia alami saat ini.


Dengan ragu tangan Fahri bergerak menggenggam tangan Riri,


"aku akan segera menghalalkan mu" gumam Fahri.


Apa yang dilakukan Fahri tentu saja tidak luput dari pengamatan Bianca.


'mas Fahri mencintainya', batin Bianca.


Selimut yang menutupi tubuh Riri perlahan mulai bergerak dikarenakan tubuh Riri yang bergetar akibat mimpi buruk, Fahri sempat dibuat kaget karena selain bergerak gelisah, bibir Riri tak hentinya mengatakan "aku ingin mati..aku ingin ikut papa, aku ga selingkuh...kamu selingkuh..hiks...hiks..jahat kamu....gak....gak...." peluh keluar dari pelipis Riri, bersamaan dengan jatuhnya bulir bening disudut mata Riri, melihat hal ini, sudut hati Fahri terasa sakit, ya ia seperti tidak rela jika Riri masih merasakan kesakitan akibat perbuatan mantan suaminya dulu. Fahri mencoba membangunkan Riri, sepertinya alam bawah sadar Riri mengingatkan kejadian yang dialaminya bersama Anton.


Tubuh Riri semakin berguncang, Bianca yang mendengar suara dari dalam kamar Riri pun segera masuk kedalam kamar bertepatan dengan teriakan Riri yang cukup kencang membuat Fahri dan Bianca tersentak...,


Fahri menegang saat tiba-tiba Riri memeluknya erat saat ia berteriak tadi, tubuh mungil itu bergetar dalam pelukannya Fahri.


"jangan pergi...." gumam Riri yang masih bisa didengar oleh Fahri.


Degup jantung Fahri semakin menggila, ini salah...namun, tidak bisa ia pungkiri bahwa saat tubuh Riri mendekapnya ada rasa hangat menjalar perlahan ditubuh Fahri, otak Fahri seakan berhenti bekerja, ada perasaan asing yang perlahan merasuki hatinya, kedua tangan Fahri yang awalnya kaku karena aksi mendadak Riri perlahan mulai rileks, dan Fahri pun membalas pelukan Riri dan mengusap punggung wanita itu agar lebih tenang,....bianca yang berdiri tidak jauh dari ranjang riri,. perlahan mundur teratur tanpa menimbulkan suara sedikitpun, ia ingin memberikan privasi pada dua anak manusia yang sedang bergelung dengan perasaannya masing-masing, Bianca menutup pintu kamar perlahan hingga tertutup dengan sempurna.


Fahri merengkuh tubuh mungil yang berada di dekapannya.


"tenang ya...jangan takut...aku disini". bisik nya ditelinga Riri yang seketika mengembalikan kesadaran Riri, bahwa ia berada diperlukan seseorang saat ini...tubuh Riri menegang, ia baru sadar bahwa saat ini berada dalam pelukan laki-laki yang selama ini telah banyak membantunya, Riri merasa tidak nyaman dan ingin berusaha melepaskan pelukannya namun suara Fahri menghentikannya...."Ri., biarkan seperti ini...sebentar saja" Fahri mengeratkan pelukannya terhadap Riri membuat jantung Riri berhenti memompa, Riri bisa merasakan hembusan nafas Fahri di wajahnya, aroma mint dan musik yang keluar dari bibir tipis dan tubuh Fahri membuat Riri meremang, perlahan Riri merasakan ada sesuatu yang bergejolak dalam hatinya.


Fahri yang menyadari perubahan tubuh Riri segera melepaskan pelukan mereka, lalu ia menyatukan keningnya pada kening Riri hingga pandangan mereka bertemu sesaat


"Maaf" hanya kata itu yang bisa diucapkan Fahri pada Riri

__ADS_1


Riri POV


apa yang terjadi, kenapa mas Fahri ada dikamar ku dan apa ini, kenapa dia bisa memeluk ku, apa yang telah kami lakukan.


dimana Edward dan bianca...,


aku ga pernah sedekat ini dengan mas Fahri, namun pelukannya terasa nyaman, ah.,.aku ingat


ya Allah kenapa dengan jantungku.


End POv


Fahri menggenggam tangan Riri dan menatapnya lekat.


"mm....ri, mas boleh tanya? yang dijawab Riri dengan anggukan kepalanya


"misalkan ......" Fahri menghela nafas sesaat.


pernyataan Fahri terputus begitu juga dengan genggaman tangan mereka berdua saat mendengar pintu kamar Riri, terbuka dan menampilkan sosok Bianca yang berjalan tergopoh-gopoh saat mengetahui bahwa Riri sudah sadar


Fahri yang menjadi salah tingkah segera beranjak dari kamar Riri dan menitipkan Riri pada Bianca karena ia harus menemui Edward.


________


Menatap langit-langit kamarnya Edward sedang tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian tadi yang membuatnya harus pulang dari apartemen Riri padahal, ia ingin sekali berlama-lama dengan Riri, entah kenapa Edward menjadi begitu bersemangat bila itu menyangkut tentang Riri.


Ting......tong....


"siapa sih udah malam juga" ia pun bergegas membukakan pintu kamarnya


Buuughh....

__ADS_1


Edward terpental saat wajah nya yang ganteng dan mulus itu harus terkena pukulan dari Fahri, bagaimana dia tebar pesona besok dirumah sakit dengan wajah yang hancur berantakan.


ya benar, Fahri saat ini masih merasa emosi dengan kejadian tadi, akhirnya ia memutuskan untuk mendatangi apartemen Edward.


"STOP" Edward menarik kedua tangannya ke atas agar Fahri tidak melanjutkan aksinya memukuli harta paling berharganya untuk tebar pesona.


Fahri menghentikan gerakannya yang akan memukul Edwar lagi, tangannya terkepal kuat.


"kita bisa bicara RI..." Edward angkat bicara.


"Apa yang mau Lo omongin !!!" kesal Fahri.


Edward mengerutkan keningnya, tidak biasanya Fahri marah besar hingga menggunakan panggilan Lo atau gw.


"Fahri......jangan bilang kalo lw ada rasa juga sama Riri??" Edward mengamati raut wajah Fahri yang seketika berubah ketika Edward mengatakan hal itu.


Fahri mendengus dan ia pun menerobos masuk kedalam apartemen Edward yang sudah sangat ia pahami seluk beluk isi apartemen Edward, Fahri menuju dapur dan kulkas Edward yang menjadi sasaran kekesalan dalam dirinya.


minuman soda yang fahri ambil juga sudah tandas, Fahri memejamkan matanya dan kembali terbayang wajah Riri yang sedang tertidur lelap, Fahri membuka matanya dan tampak Edward yang sudah duduk di samping Fahri tanpa bersuara.


Fahri menarik nafas panjangnya.


"Jadi apa yang mau Lo omongin hah?? tanya Fahri masih dengan tatapannya yang tajam seperti ingin menguliti Edward saat itu.


"jawab dulu pertanyaan gw ri'?kembali Edward menegaskan.


'mungkin memang harus sekarang aku kasih tau Edward sebelum terlalu jauh ia memiliki rasa pada Riri'


Edward mulai tidak sabar ingin mendengarkan jawaban dari Fahri.


"ya...Ed ...gw.....hmm.....gw cinta sama dia dan gw harap lw bisa ngerti dan jauhi dia Ed, karena sebentar lagi dia bakal jadi istri gw" Fahri menegaskan pada Edward yang seketika melongo mendengar jawaban yang begitu tegas dari Fahrj

__ADS_1


__ADS_2