
Anton dalam perjalanan pulang kembali ke kotanya, karena kabar bahwa Riri pingsan, dan yang paling mengejutkan lagi bahwa yang mengabarinya adalah ibu nya sendiri.
Anton dapat merasakan kemarahan yang luar biasa terdengar di suara Riyanti saat melakukan panggilan tadi.
mengetahui fakta bahwa ada anak lain yang merupakan anak dari putranya membuat Riyanti tidak dapat berpikir dengan jernih, apalagi melihat bagaimana perempuan tadi yang ia ketahui bernama fitri menceritakan bahwa ia adalah org yang sama,yang dulu ada diantara Riri dan Anton.
Bau obat-obatan dan rasa dingin menjalar ditubuh Riri, silau cahaya di ruangan serba putih ini membuat Riri memicingkan matanya saat tersadar dari pingsannya, tangan mungil ia rasakan menggenggam jemari tangan kanannya yang sudah terpasang jarum infus.
'aku dirumah sakit ternyata, dimana mama??' Riri membatin saat tak dilihatnya sosok ibu mertua di sana.
Reza terbangun saat merasakan tangan Riri sedikit bergerak dan dapat terlihat disudut matanya bekas air mata yang mengering.
"bunda..." Reza berdiri dari duduknya sambil menggenggam tangan bundanya, anak sekecil itu sudah bisa merasakan sakit kala melihat bunda yang selalu ada untuknya dan tak pernah meninggalkannya ini terbaring tidak berdaya di atas ranjang rumah sakit.
Riri tersenyum melihat anaknya dengan raut wajah yang terlihat khawatir, sungguh Riri amat berharap Reza tidak mengikuti jejak ayahnya dan bisa lebih menghargai dan menyayangi perempuan yang mendampingi nya nanti.
"bunda haus....boleh ambilkan minum" suara Riri terasa begitu lemah, apakah memang sudah saatnya Riri harus mengiyakan saran dokter untuk operasi, memang hal ini adalah yang terbaik namun Riri takut akan sakitnya kemoterapi yang harus ia lalui.
Reza segera mengambilkan botol air mineral yang ada atas meja kecil dan membantu memberikan minuman itu pada Riri.
"nenek kemana?" tanya Riri lagi setelah dirasa cukup ia meminum air mineral tadi.
"tadi nenek sama dokter bund, aku disuruh jagain bunda disini" kawat Reza menjelaskan kemana ibu mertuanya itu pergi
"Reza bawa hp bunda ga?" tanya Riri pada anaknya, ia ingin menghubungi Bu Ratna, untuk memberitahukan bahwa ia ada disini, karena seingatnya tadi ia sudah berjanji untuk bertemu dengan Bu Ratna dan juga anaknya di cafe.
"tadi kayaknya dibawa sama nenek bunda" jawab Reza
klek.....
"Sore Bu Riri...." sapa dokter yang memang menangani Riri dan yang menjelaskan bahwa Riri terkena kanker, dibelakang dokter itu ia melihat ibu mertuanya ikut masuk kedalam kamar inap rumah sakit ini.
"sore dok" sahut Riri dan berusaha untuk tersenyum.
"saya periksa sebentar ya" jelas dokter pada Riri dan mulai memeriksa kondisi Riri.
Riyanti merangkul cucunya memberikan ketenangan, ia baru saja mengetahui fakta bahwa menantunya ini menderita penyakit yang tidak main-main, ia menyayangkan kenapa Riyanti tidak mengatakan apa-apa tentang sakitnya padanya.
_____
__ADS_1
"maaf Bu, pak...mba Riri nya ternyata ga bisa datang, saya baru saja dapat kabar bahwa mba Riri masuk rumah sakit, tadi ia pingsan" jelas seorang gadis muda yang bernama Sinta dan merupakan pegawai dari Riri di cafe itu.
"baik mba, iya tidak apa-apa, kalau begitu kami akan menjenguk mba Riri di rumah sakit" sahut Bu Ratna lembut.
ya kini Bu Ratna dan Fahri sedang berada di cafe Riri, atas permintaan dari Riri tadi pagi, akhirnya mereka berpamitan dan berencana untuk mendatangi Riri di rumah sakit.
"mama pulang dulu ya, tadi ga sempat sama sekali bawa baju ganti kamu, katanya kamu harus segera di operasi" Riyanti mengusap lengan menantunya itu mencoba memberikan kekuatan
"ya mah, maaf ya mah jadi ngerepotin mama" sahut Riyanti, merasa tidak enak karena membuat ibu mertuanya harus mengurusnya alih-alih seharusnya Anton yang mengurusnya.
bicara tentang Anton, ia sudah diberitahu oleh mamanya alasan Riri masuk rumah sakit dan yang menyebabkan Riri sampai pingsan, ia benar-benar tidak mengerti dengan fitri yang bisa-bisa nya datang tanpa memberi tahu terlebih dahulu.
memang ia akan bertanggung jawab pada anak yang telah lahir itu, tapi Anton berencana akan membicarakannya dulu dengan Riri dan berharap Riri mau mengerti bahwa sebenarnya Anton tidak menginginkan ini terjadi.
memang dulu ia begitu menginginkan Fitri karena lemah lembutnya dan selalu manja pada Anton membuat Anton merasa dibutuhkan, dan selalu ingin menyenangkan hati Fitri, namu kini Anton disadarkan bahwa Fitri tidak lebih baik dari istrinya. meskipun Riri terlihat cuek dan tidak perhatian, namun selama ini Riri selalu mengalah dan hampir tidak pernah menuntut apapun kecuali perhatian dan kasih sayang dari Anton.
tok...tok...
pintu kamar rawat Riri yang kebetulan memang Riri mendapatkan jatah kelas rawat sendiri sejak ia merasa finansial nya lebih baik, Riri mengupgrade fasilitas kesehatannya agar bisa mendapat tempat terbaik.
reza yang sedang bermain dengan hp Riri pun segera berdiri dan membuka pinta kamar.
"sayang....boleh kami masuk" Bu Ratna mengusap pucuk kepala Reza dengan lembut
Fahri yang sedari tadi berdiri di samping bu Ratna hanya tersenyum melihat perlakuan umi nya terhadap anak Riri.
"ayo eyang" menggandeng tangan Bu Ratna kedalam ruangan.
"ibu.." Riri yang melihat siapa tamu yang datang itu pun memberikan senyuman
"nak...bagaimana kondisimu" tanya ibu Ratna saat berada di samping ranjang rumah sakit tersebut.
Fahri meletakkan buah dimeja dan mengajak Reza untuk memakan buah tangan yang mereka bawa, membiarkan dua wanita ini untuk bicara.
hal itu juga tidak luput dari pengamatan Riri, ia senang Reza dan Fahri bisa berinteraksi dengan cepat.
"apa yang bikin kamu jadi pingsan lagi, bukannya sebentar lagi kamu akan jalani operasi" tanya Bu Ratna sambil mengusap pucuk kepala Riri yang tertutup hijab maroon.
Riri menarik nafas panjang sebelum menjelaskan apa penyebab ia kembali harus dirawat ditempat ini.
__ADS_1
"perempuan itu kembali Bu...dan dia membawa anak Anton". bulir bening tak kuasa lolos dari sudut mata Riri, sungguh ia merasa sakit yang luar biasa mengetahui suaminya telah melakukan dosa besar sampai memliki anak dari perempuan yang belum halal untuknya.
"astagfirullah" Bu Ratna terkejut dengan apa yang ia dengar, sungguh ini merupakan ujian yang berat untuk Riri.
"tidak apa Bu, insya Allah aku sudah ikhlas, aku akan melepaskannya, ibu bisa bantu aku?" tanya Riri penuh harap.
"insya Allah ibu akan bantu nak, apa yang harus ibu lakukan" tanya Bu Ratna
"mungkin dalam beberapa hari kedepan aku akan menjalani operasi Bu, aku ingin notaris membuat ini" Riri menyerahkan sepucuk kertas ditangannya, dimana disana telat tertulis mengenai hak waris apabila terjadi sesuatu terhadap dirinya.
Bu Ratna membaca isi dari surat tersebut dan terkejut mendapati namanya dan juga nama Fahri ada di dalam sana.
"ini tidak benar nak, ibu bukan siapa-siapa untuk kamu, bagaimana bisa kamu berikan ini pada ibu" tanya Bu Ratna pada Riri.
"ibu memang bukan siapa-siapa buat aku Bu, tapi aku menggantungkan masa depan anakku pada ibu, dan aku yakin ibu orang yang mampu menjalankan amanah" jelas Riri penuh keyakinan.
dalam surat tersebut Riri menjelaskan sebagian dari apa yang dimiliki oleh Riri akan menjadi milik Reza setelah Reza berusia 23 tahun, usia yang cukup setelah Reza menyelesaikan pendidikan akademisnya.
dan Riri juga meminta Fahri membantu menjalankan bisnisnya saat ini sampai bisa diserahkan pada Reza.
Fahri yang secara tidak sengaja mendengar hal itu pun berdiri setelah ia rasa Reza sudah mulai asik dengan permainan nya di handphone yang ia pinjamkan untuk Reza bermain.
"aku bersedia membantu kamu apapun itu, sampai kamu sembuh, jangan pernah berpikir operasi ini tidak akan berhasil, banyak teman saya yang sudah berhasil melewati masa kritis dan juga menjalani operasi ini dengan selamat" jelas Fahri pada Riri.
"terima kasih" lirih Riri merasa bersyukur masih banyak orang yang memberikan dukungan untuknya.
"tapi aku punya permintaan" tawar Fahri.
"Fahri..!!" Bu Ratna sedikit menekankan panggilan nya pada anaknya ini.
"a...apa itu" tanya Riri dengan terbata-bata.
Fahri pun mengutarakan apa yang ia inginkan, dan ia merasa ini adalah yang terbaik untuk Riri juga, karena setelah ia mengetahui penyakit yang di derita oleh Riri, Fahri yang memang memiliki banyak koneksi diluar maupun dalam negeri ini, segera mencari tahu mengenai penanganan dan metode kesembuhan dari penyakit yang di derita Riri.
beruntung ternyata kanker yang dialami Riri terdeteksi lebih awal, dengan hanya satu ovarium yang terlibat, ada kemungkinan untuk mempertahankan rahim dan salah satu ovarium yang tidak terpengaruh.
Namun, perawatan yang dilakukan harus sangat hati-hati. karena kemoterapi dapat merusak ovarium yang tersisa atau meningkatkan risiko menopause lebih awal. Oleh karena itu Riri harus melakukan pemeriksaan lebih intensif.
akhirnya Riri menyetujui apa yang diutarakan oleh Fahri, dan menyerahkan segala sesuatunya pada Fahri, namun sebelumnya Riri mengatakan bahwa ia harus menyelesaikan urusannya dengan suaminya, Riri ingin fokus untuk kesembuhannya dan ia tidak ingin memiliki beban lain selain kesembuhannya, hal ini ia lakukan semata-mata karena masih ada Reza yang membutuhkan dirinya saat ini.
__ADS_1