
Sejak kenyataan yang Riri lihat beberapa hari lalu, naluri kewanitaan Riri muncul sisi lemah dari wanita yang mulai menggunakan hati dari pada logika, berbagai tindakan yang menumpulkan akal sehat pun dikerjakan oleh Riri di sela-sela kesibukan pekerjaannya.
seperti memata-matai Anton di saat jam pulang kerja, atau saat jam-jam tertentu dimana Riri menanyakan keberadaan Anton yang dijawab dengan ada di toko padahal motor Anton tidak ada disana, beruntunglah Riri aksi detektif gadungannya itu tidak di ketahui Anton karena Riri dengan mudah bisa menggunakan kendaraan anak buahnya hingga tidak kesulitan untuk menjadi 'spy'
hari berganti hari dan sikap Anton semakin berani, emosinya selalu tinggi tiap kali Riri menanyakan kenapa sering pulang telat seperti malam ini, sungguh Riri tidak pernah mengira Anton mampu melakukan kekerasan walaupun bukan secara fisik langsung kepada Riri tapi dia telah melukai hati Riri dan juga hati seorang bocah laki-laki yang menangis sesenggukan ketika Anton emosi menendang kipas angin hingga hancur berantakan dan pergi meninggalkan Riri begitu saja.
"Ayah kenapa....hiks....hiks..., bunda jangan nangis..hiks" suara lirih Reza menangis di pelukan Riri, sakit.....sangat sakit!!
'apakah sesakit ini kah mencintai kamu'
**********
entah kenapa sejak kejadian itu Riri tidak bisa lagi untuk bekerja dengan benar, konsentrasi pekerjaan menurun, biasanya dulu saat ia masih gadis dan belum menikah, sepelik apapun masalah yang menimpanya tak akan menjadi masalah dan gangguan terhadap kinerjanya sama sekali, dia masih bisa santai, hangout, bersenda gurau, tertawa dan berbagi cerita dengan teman-teman nya....
ah..berbicara dengan teman, ada seseorang yang lebih dari sekedar teman saat Riri belum menikah dulu, teman yang selalu menemani Riri, mendengarkan celoteh dan keluh kesah Riri, berbagi cerita dan berbagi sentuhan....
sungguh pikiran Riri melayang amat jauh kali ini, saat mentalnya terpuruk dan merasakan seperti tidak dibutuhkan, tidak diacuhkan, tidak dianggap kenapa dia malah teringat dengan seseorang ini, seseorang yang dengan caranya sendiri bisa membuat Riri merasa di sayangi, diperhatikan dan di anggap, ya...hal yang tidak pernah didapatkan oleh Riri dari keluarga nya dulu, Riri merasa bahwa ia hanya dijadikan alat oleh keluarga untuk memenuhi segala kebutuhan hidup sejak ia mulai menapaki kaki di dunia kerja.
dan sekarang rasa itu kembali hadir, rasa diacuhkan, tidak dihargai, tidak disayangi, bahkan di khianati oleh orang yang seharusnya menjadi sandarannya, imamnya, pemimpin nya dalam mengarungi bahtera kehidupan namun nyatanya ia dibuang ketengah lautan hingga bingung hendak berpegang kemana tanpa arah tujuan
'rapuh'
Anton tidak pulang setelah kejadian itu, entah kemana, Riri mulai berspekulasi apakah ia berada dirumah perempuan itu??
ah ingin sekali rasanya saat ini Riri memergoki mereka berada dalam satu ruangan dan mendapatkan bukti tambahan untuk memperkuat gugatan nya nanti suatu saat, meyakinkan dirinya sendiri bahwa akan tiba saatnya Riri akan berpisah dengan Anton.
//kamu dimana?
__ADS_1
pesan Riri belum juga di balas oleh Anton
//pic received
Anton membalas dengan mengirim foto gambar ruangan, tidak lebih tepatnya kamar.
//mau sampai kapan kita seperti ini??
lagi Riri membalas pesan Anton
satu, dua, tiga, empat hingga sampai lima menit Anton tidak membalas pesan Riri, emosi Riri semakin meluap, berbagai spekulasi bermunculan dan lagi...hati mengalahkan logika....Riri benar-benar cemburu buta saat ini.
//kalo kamu ga pulang juga, besok aku ke toko, aku ga peduli lagi kalo kita harus ribut lagi disana
//mau jadi jagoan!!
isi pesan Anton setelah membaca pesan Riri
kembali sisi egois dan sikap otoriter Riri muncul
tidak ada balasan lagi hingga Riri gusar sendiri dan memukul stir mobilnya dengan keras
'aaghhht....Anton s****n'
Riri sudah bertekad besok ia akan datangi toko tempat Anton, tidak peduli akan seperti apa besok.
*********
__ADS_1
Riri berbaring di ranjangnya bersama Reza disampingnya yang selalu menghadap ke tembok kamar setiap kali tidur, Riri jarang memperhatikan Reza ketika mereka hendak tidur karena belakangan ini pikiran Riri selalu terfokus pada Anton, Anton dan Anton.
terasa ada getaran pada punggung anaknya dan ada sedikit tarikan cairan hidung terdengar samar, Riri tersentak dan berpaling pada Reza dan hati Riri terasa diremas kuat hingga sesak, rezanya menangis...
ya Tuhan...apa lagi ini....
"sayang...kenapa..hei Sini hadap bunda nak" Riri berusaha. membalikkan tubuh anak semata wayangnya itu dengan lembut.
"kenapa nangis sayang" kembali Riri memberikan pertanyaan itu pada Reza, namun hanya gelengan yang Riri dapatkan.
"apa yang kamu pikirkan, ayolah jangan buat bunda ikut menangis" tak kuat rasanya Riri saat ini melihat buah hatinya mengeluarkan air mata tanpa tahu apa yang ada di dalam pikiran sang anak.
"Reza kangen ayah?" lagi Riri memancing anaknya untuk bisa mengutarakan isi hatinya kepada Riri, namun kembali gelengan lagi yang di dapat oleh Riri, bulir bening itu pun dengan kurang ajarnya ikut keluar dari sudut mata Riri jatuh begitu saja dan membuat sang anak semakin menangis tersedu, oh Riri rasanya ingin hilang saja dari muka bumi ini dan berada dibelahan dunia lain.
dalam diam mereka berdua menangis hingga suara lirih Reza terdengar pilu di telinga Riri
"a..ay ayah...ga sayang kita bunda... hikss..hiks"
sepenggal kalimat yang memiliki banyak opini didalamnya, Riri tersentak mendengar pertanyaan polos yang keluar dari bibir mungil sang anak.
"kenapa Reza tanya begitu? masih berusaha bersuara dengan tenang, padahal Riri sejujurnya amat sangat terpukul.
"a...aku takut, ay. yah marah kayak kemarin lagi,..marah sama bunda"
ya Allah anak ini telah tersakiti hatinya tanpa sengaja Anton telah mengisi memori buruk dalam pikiran Reza yang entah akan terus berada di sana hingga ia beranjak dewasa atau tidak.
belum sempat Riri menjawab dan mencari kata yang pas agar tidak menimbulkan hal negatif mengenai orang tuanya, karena Riri tidak ingin anaknya tahu mengenai kondisi orang tuanya saat ini, Riri takut akan mempengaruhi psikis anak dan menjadi beban mental untuk sang anak, tiba-tiba suara motor dan gerbang rumah dibuka orang dan Riri yakin itu adalah Anton.
__ADS_1
"ayo tidur nak, ayahmu pulang" segera Riri meminta anaknya untuk tidur...,lelah itulah yang Riri rasakan, ingin keluar untuk berbicara dengan Anton selepas Reza tidur pun tidak jadi Riri lakukan, Riri merasa butuh ketenangan sesaat, terlebih setelah mendengar keluha. sang anak tadi, hal itu pasti amat membekas untuk Reza.
'biarlah malam ini aku istirahat dengan tenang' batin Riri dan ikut memejamkan mata menyusul Reza yang sudah lebih dulu pergi ke alam mimpi.