
Hari ini Riri hampir saja bertabrakan dengan motor yang melaju mendadak saat ia sedang membelokkan mobilnya ke arah sekolah Reza dan ternyata itu motor ayah Aliya teman sekolah Reza.
ciiiiiiiiittttt...
"aduuuh....kepalaku" kepala Reza terantuk dashboard karena Riri mengerem mendadak mobilnya. Riri langsung membuka kaca dan sebelum emosinya ia luapkan tiba-tiba si pengguna motor berhenti di samping pintu mobil Riri dan membuka helmnya..
"maaf Bun..., saya buru-buru...maaf, kalian tidak apa-apa" ucap ayah Aliya yang juga masih terlihat kaget dan menyesal, melirik pada Reza yang memegang kepalanya yang terkena dashboard.
"oh...iya pak tidak apa" Riri yang tau siapa yang berbicara, tidak mau membuat keributan juga dengan orang yang berhubungan dengan sekolah Reza.
"maaf sekali lagi ya Bun...saya pamit" langsung menyalakan motornya.
Riri segera melakukan mobilnya lagi dan menepikan mobilnya dengan benar setelah itu mengecek anaknya yang terantuk dashboard tadi.
"sakit nak..?" sambil mengecek dahi anaknya itu,
"dikit...gpp bunda aku malu kalo nangis".ucap Reza.
Riri terharu melihat anaknya sudah terlihat mandiri.
"good boy" mencium kening anaknya dan mengantarkan sampai gerbang sekolah.
seminggu lagi anaknya itu akan berulang tahun, Riri ingin membuat pesta ulang tahun untuk anaknya di sekolah, dia pasti akan sangat senang sekali, lagi pula saat ini tidak ada salahnya ia merayakan ulang tahun anaknya karena ia pun sudah mampu untuk membiayai acara tersebut.
"permisi Bu Tina" Riri masuk kedalam ruang kepala sekolah.
"bunda Reza...mari silahkan" Bu Tina mempersilahkan Riri untuk duduk.
"terima kasih, maaf mengganggu waktunya Bu, karena takut jika nanti sore saya tidak sempat ketemu, mungkin mati sore ayahnya yang akan jemput". ujar Riri dengan lugas.
"iya bunda bagaimana? apa yang bisa saya bantu?" Bu Tina menanyakan dengan sopan maksud Riri menemuinya..
"begini Bu Tina...kebetulan beberapa hari lagi Reza ulang tahun, rencananya saya mau berbagi dengan teman-teman sekolahnya"
__ADS_1
Riri menjelaskan maksud dan tujuannya.
"oh bisa bunda, apakah nanti kami yang menyiapkan atau bagaimana??" tanya Bu Tina hati-hati.
"keperluan dekorasi sekolah saja yang menyiapkan, saya akan siapkan bingkisan, dan makanan untuk undangan" jawab Riri.
setelah percakapan singkat tersebut Riri pun pamit untuk lanjut bekerja, karena hari juga semakin siang.
------
Anton sedikit gelisah mengenai ajakan ibunya untuk datang ke pesta pernikahan salah satu keponakannya yang berada di jakarta, ibunya juga meminta agar Anton tidak perlu membawa istrinya bagaimanapun caranya, ya Rianti sengaja meminta hal itu agar lebih leluasa berbicara dengan Anton disana
hubungan ibu mertua dan menantunya itu memang semakin hari semakin merenggang, ditambah lagi dengan kesibukan Riri saat ini, Anton juga sering menceritakan masalah keluarga kecilnya itu pada ibunya tanpa ia sadari, hingga membuat Rianti semakin hari semakin tidak suka dengan menantunya, terlebih lagi belakangan ini keluarga Rianti sering sekali meminta uang, hal itu ia ketahui dari Anton yang sempat meluapkan emosinya kepada ibunya itu dan akhirnya tanpa sadar menceritakan masalah yang terjadi di keluarga kecilnya.
hal ini bermula ketika Anton sengaja membaca pesan masuk pada ponsel Riri, sejak Riri naik jabatan, pendapatan yang diterimanya pun naik, pastinya jauh lebih banyak dibandingkan dengan Anton, sehingga Riri bisa membeli apapun dan mengatur uangnya sendiri, tak lupa juga ia selalu mengurus sebagian besar kebutuhan rumah tangga yang tidak terpenuhi oleh Anton.
saat membaca pesan dari keluarga Riri tampak disana beberapa kali Riri mengirimkan uang pada keluarganya dan Anton tidak terima hal itu, padahal Riri sudah menjelaskan bahwa apa yang ia kirimkan itu sama sekali tidak menyentuh uang gaji Anton, tapi Anton tetap tidak mau tau, karena ia merasa telah memberikan semua gajinya kepada istrinya dan tentu saja tanpa mau tau apakah uang itu cukup atau tidak untuk keperluan mereka selama satu bulan.
Anton merasa kesal karena Riri tidak bisa menyimpan uang dengan baik, malah menghambur-hamburkan kepada keluarganya, karena memang dari awal komunikasi Anton tidak baik, ia lebih suka memendam kekesalannya dan malah cerita pada ibunya, sedangkan Riri merasa Anton itu terlalu pelit terhadap keluarganya, sejak menikah, untuk memberikan uang bulanan saja pada ibunya harus diminta dulu, tapi untuk memberikan kepada ibunya atau adiknya Anton tidak pernah meminta ijin kepada Riri.
drt..drt...
telpon dari adiknya..."ya ka..." Anton menjawab panggilan tersebut.
"mas..,ikut ke Jakarta kan?? aku dikabari ayah juga akan kesana, jadi kita semua bisa kumpul" terdengar suara adiknya di seberang sana.
"mas belum tau ka, kamu tau sendiri gimana mba mu, apalagi dia sekarang sibuk sekali sejak naik jabatan" jawab Anton lesu.
"ya udah mas kabarin ya, kalau soal tiket nanti aku yang urus kalo mba ga beliin tiketnya" jawab Raka.
"ga usah ka, uang sih mas ada, santai aja, nanti mas kabarin" Anton pun langsung menutup ponselnya dan lanjut lagi dengan pekerjaan yang sempat tertunda, kepalanya sudah mau pecah memikirkan kehidupan rumah tangganya.
Malam ini Riri berencana memberitahukan Anton bahwa ia akan merayakan ulang tahun anaknya yang tinggal beberapa hari lagi, dan juga rencananya untuk membeli mobil, karena mobil yang saat ini ia gunakan adalah mobil yang disewakan oleh kantornya.Riri berencana akan mengalihkan uang sewa tersebut menjadi uang cicilan untuk mobil baru, Riri memang mentargetkan dirinya tidak mau terlalu lama bekerja, ia ingin memiliki usaha sendiri setelah uangnya cukup, dan langkah awal adalah ia ingin membeli mobil terlebih dahulu agar bisa digunakan untuk usaha, terlebih tempat ia tinggal kini adalah tempat pariwisata.
__ADS_1
Anton pulang, masih tetap dalam keadaan tidak semangat.
"Reza itu ayah pulang" seru Riri yang melihat Anton pulang
Reza berlari kecil ke luar rumah, dan hanya mendapat senyuman malas dari sang ayah, entah kenapa ketika hatinya sedang kalut dengan istrinya maka anaknya pun akan terbawa juga.
"Yoo kita main ayah.., aku tadi siang dibelikan ini sama bunda" menunjukan mainan barunya.
Riri sengaja memberikan mainan itu sebagai bentuk apresiasi karena Reza tadi dapat juara berhitung di sekolahnya.
"mainan lagi, kamu tuh jangan manjain anak terus sama mainan". Anton berbicara dengan Riri sangat ketus.
Riri yang baru mau menyambut suamimu pulang langsung menatap tidak suka pada Anton, bukanya bertanya dulu main langsung menuduh saja, biasanya juga malah Anton yang suka membelikan mainan setiap mereka jalan keluar untuk family time, sedangkan Riri lebih memilih kuliner dengan anaknya itu ketimbang membelikan mainan, ia hanya akan membelikan mainan di momen tertentu saja.
"kalau mau bicara itu duduk dulu dan cerita dulu, kenapa aku membelikan ia mainan" Riri menyahut dengan kesal.
Anton hanya menghempaskan tubuhnya di kasur, sedangkan Reza yang sudah menerima penolakan dari ayahnya tersebut sekarang sedang asik sendiri dengan mainan barunya itu.
Riri segera mengutarakan maksudnya kepada Anton karena kalau menunggu besok dan besok akan semakin susah mengatakan niatnya untuk memberikan acara ulang tahun untuk anaknya itu, karena Anton sering sekali belum bangun saat Riri berangkat kerja dan pulang saat Riri dan Reza sudah tertidur.
"Senin depan Reza ulang tahun, bisa kah ikut dampingi, rencana aku mau Reza sesekali merayakan ulang tahunnya di sekolah" Riri langsung mengutarakan maksudnya
"Senin depan?? " Anton kaget
"jangan bilang kamu lupa tanggal ulang tahun anakmu sendiri?" Riri mulai kesal.
"aku tidak lupa, hanya saja Sabtu ini aku harus berangkat ke Jakarta, mungkin sekitar 4 hari aku disana" jawab Anton cepat.
"untuk apa ke sana? kenapa mendadak"
ucap Riri dengan Wajak tak suka.
"Yuni menikah, dan kami semua diminta datang kesana, tiketnya juga dibelikan sama mereka" jawab Anton.
__ADS_1
Riri yang sudah yakin tidak mungkin tiket pesawat dibayarkan dan juga sudah mengerti dengan perkataan "kami" yang artinya bukan termasuk Riri dan Reza hanya bisa menjawab dengan mengangkat bahu dan menjawab ya sudahlah.