
Riri akhirnya bisa tersenyum lega saat ini ketika mendapat berita yang begitu menyenangkan dan membuat sesak yang tercekat dalam dadanya seakan semakin melonggar saat mengetahui bahwa ibu mertuanya yang tidak disangka-sangka memutuskan untuk pindah ke kampung halamannya nan jauh di sana, butuh kurang lebih 4 hari 4 malam yang harus ditempuh menggunakan jalan darat dan 5-12 jam menggunakan jalur udara tergantung penerbangan yang dipilih.
sejak kejadian mengenai pesan yang di kirimkan Riri ke ayah mertuanya menyebabkan keluarnya kata-kata bahwa Riri adalah orang lain sejak saat itu pula Riri jarang menginjakan kakinya di rumah ibu mertuanya, Anton pun menyadari perubahan Riri dan terkadang menyebut Riri terlalu mendramatisir keadaan, hal itu dianggap Anton sepele, tapi untuk Riri itu adalah prinsip.
"aku nanti akan ikut dalam perjalanan mengantar barang-barang mama lewat jalur darat, perjalanan 4-5 hari, mungkin sekitar 1 Minggu setelahnya aku baru pulang" Anton membuka pembicaraan ketika sempat mereka bertengkar karena masalah pekerjaan Riri.
memicingkan matanya sebelah Riri pun mengeluarkan perkataan tidak setujunya, pasalnya selama Anton pergi Riri akan merasa kesulitan untuk masalah pengasuhan Reza, apalagi beberapa hari lalu mba Wati sempat menyampaikan bahwa setelah ibu mertuanya pindah dia pun akan mengundurkan diri karena dapat pekerjaan yang gajinya jauh lebih baik dari yang Riri berikan, dan Riri pun tidak bisa menahan karena melihat kemampuan dirinya untuk membayar gaji pembantu pun terbatas.
"memangnya mobil ekspedisi itu tidak bisa sampai sendiri disana tanpa dikawal? lalu pekerjaan kamu bagaimana? bukannya nanti akan ada pemotongan gaji kalau kamu tidak masuk lama?"
"aku sudah minta ijin sama bosku, ya sudahlah kasian juga barang-barang mama juga lumayan bagus sayang kalau tidak di kawal nanti ada yang hilang kita juga susah komplain"Anton menimpali
"oh lebih penting barang ternyata dari pada orang" jawab Riri ketus
"jangan mulai"Anton menatap Riri dengan tajam, isyarat agar Riri segera diam.
Riri semakin malas dan dalam hati segera mengutuk dan memaki dirinya sendiri kenapa bisa rasa itu hinggap dan bertengger cukup lama sampai Riri memutuskan menikah dengan Anton, andai waktu bisa diputar mungkin Riri akan lebih selektif dan memilah lagi siapa yang akan di jadikan pasangan hidupnya.
Anton pergi meninggalkan Riri yang masih sibuk degan pikirannya sendiri saat itu, sambil mendengus kesal.
__ADS_1
------
"kalian nanti baik-baik disini, jangan sering ribut, mama sudah jauh, susah untuk ngeliatin kalian" mama Rianti memberikan wejangan pada Riri sebelum memasuki bandara.
"nenek mau naik pesawat ya??"tanya Reza yang juga ikut mengantar kepergian mama Rianti ke Bandara.
""iya sayang, nanti Reza main ya ketempat nenek disana, ajak ayah sama bunda" kata mama rianti menjawab pertanyaan polos dari seorang bocah.
Anton sudah lebih dulu berangkat dengan mobil ekspedisi dan Raka sedang berada di luar kota jadi tidak bisa ikut mengantar.
mama Rianti berangkat bersama dengan bapak mertua Riri yang alhasil saat ini dipanggil om oleh Riri sejak kejadian Riri dianggap orang lain sejak saat itu Riri tidak pernah memanggil sosok itu sebagai ayah.
Anton tersenyum terkadang tertawa terkekeh saat melihat layar ponselnya, mungkin bagi beberapa orang yang melihat perilaku Anton seperti itu akan mengira bahwa ia sedang kasmaran dan sedang melakukan chat atau obrolan dengan pacarnya atau istrinya, namun sebenarnya yang terjadi adalah, Anton sedang melakukan chat dengan keluarganya, ayah tiri, ibu dan adiknya dalam sebuah WA group yang didalamnya hanya berisikan 4 orang tanpa Riri didalamnya, disebutkan dalam wa group itu bernama keluarga cemara, Anton terlihat terkekeh-kekeh melihat foto-foto yang dikirimkan oleh ibunya yang didalamnya terpampang foto ibu dan ayah tirinya sedang selfie dan melakukan foto dengan berbagai gaya yang lucu dan romantis.
Riri belum mengetahui keberadaan wa group tersebut, karena memang Riri bukan orang yang sering mencampuri urusan orang lain sebelum urusannya di campuri.
setibanya dirumah setelah memarkirkan mobil kecil yang saat ini boleh ia gunakan di momen tertentu saat ia memiliki pekerjaan baru yang bisa dibilang lebih baik dari pekerjaan sebelumnya, Riri pun merebahkan tubuhnya di kasur, disusul dengan Reza yang ikut juga merebahkan diri, saat Riri ingin memejamkan mata ingin menikmati sensasi perasaan senang yang tidak terhingga karena beban yang selama ini merasa membebani pundaknya baru saja terangkat tiba-tiba Reza menangis.
"loh kenapa anak bunda, kok nangis"Riri bingung melihat anaknya yang tiba-tiba saja menangis.
__ADS_1
"mamak Wati"
deg...
jantung Riri serasa mau berhenti berdegup tak kala anaknya menyebut nama pembantu itu di bibir mungil milik anaknya, memang tadi saat di mobil mertuanya sering sekali membahas mengenai mba Wati, dan juga sesekali membahasakan agar Reza tidak nakal biar tidak menyusahkan bunda dan Mak Watinya, mama Rianti belum mengetahui bahwa mba Wati akan berhenti setelah ibu mertuanya itu pindah rumah ke kampung halamannya.
"loh kok mama Wati, ini kan ada bunda sayang, mba Wati kan sudah tidak kerja sama bunda lagi sekarang"Riri masih bisa menjelaskan berharap anaknya mengerti karena usia Reza pun hampir menginjak 4th
apa yang Riri khawatir kan pun akhirnya terjadi, ya anaknya tidak bisa lepas dari pembantu si@lan itu...karena ibu mertuanya selalu membahasakan mba Wati dengan sebutan Mak Wati akhirnya Reza menjadi bingung mana sebenarnya ibu nya.
Riri akui karena ia hanya ada saat pergi dan pulang kerja saja, kalaupun istirahat kerja dia mampir kerumah ibu mertua atau kerumah sendiri, itupun Reza pasti sedang tertidur pulas, tiba-tiba Reza menghamburkan diri ke luar rumah,
"Mak Wati....Mak wati.....huhuhuhu"Reza berlari ke arah pagar dan mendorong-dorong pagar agar bisa terbuka, untung saja Riri sudah mengunci pintu pagar rapat-rapat sehingga tidak bisa terbuka dengan gampangnya
tubuh Riri terasa gamang pada lantai yang ia pijak, menyaksikan anak yang ia kandung mengisi rahimnya dengan begitu banyak penderitaan yang datang silih berganti saat ini menangis tersedu memanggil nama orang lain dengan sebutan mama
"aku mau sama Mak Wati..."tangis Reza begitu lirih.
dengan kekuatan yang masih tersisa Riri berlari dan memeluk anaknya serta menggendongnya, sejenak Reza kaget dan setelahnya menangis sekencang-kencangnya karena tidak mau di bawa Riri masuk kedalam, Riri mengunci pintu rumah dan masuk kedalam kamar dan merekapun menangis bersama, Riri tidak tau lagi apa yang harus ia lakukan untuk mendiamkan anaknya karena batinnya pun sakit saat itu, akhirnya mereka berdua pun tertidur lelap setelah lelah menangis sepanjang malam sejak mereka kembali dari Bandara.
__ADS_1