Aku, Kamu Dan Ibu Mertua

Aku, Kamu Dan Ibu Mertua
perasaan Riri


__ADS_3

Seorang lelaki tampan berlari tergopoh-gopoh memasuki bandara tanpa memperdulikan sekitar ia hanya fokus pada tujuannya.


'semoga belum terlambat...s**t'


matanya mencari kesana kemari dan akhirnya ia menemukan sosok yang ia cari, tanpa memperdulikan orang yang ada disitu dengan cepat Edward segera menghambur memeluk sosok yang telah mengisi relung hatinya.


"jangan pergi...aku mohon" lirihnya di telinga wanita yang seluruh tubuhnya telah tertutup gamis dan Khimar panjang.


Fahri yang terkejut dan tidak menyangka akan hal ini sempat terdiam beberapa saat hingga kesadarannya kembali dan ia membulatkan matanya melihat calon istrinya dipeluk lelaki lain.


"apa yang kau lakukan b******k" Fahri segera melepaskan pelukan itu dan menarik Riri kebelakang tubuhnya,. ya wanita itu adalah Riri.


"please Fahri jangan bawa dia pergi dari gw" pinta Edward dengan wajahnya yang sendu, entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang sesak di dadanya saat ia menerima video yang dikirimkan Bianca malam itu, rasanya ia tidak ingin untuk melepas wanita yang bisa menggetarkan hatinya untuk bersama dengan sahabatnya, ia berharap ada keajaiban saat ia mengungkapkan perasaannya dan ia juga bisa tau perasaan Riri padanya seperti apa.


Bianca berlari menghampiri ketiga orang yang sedang menjadi tontonan orang banyak tersebut sambil menggelengkan kepalanya ternyata ia datang bersama Edward setelah Edward datang ke apartemen mereka untuk memperjelas video yang di kirimkan oleh Bianca.


"hah....hah...kal...kalian bisa kan bicara baik-baik sambil duduk...liat sekitar" Bianca berusaha berbicara dengan nafas tersengal lalu menarik Fahri dan Edward yang saling tatap seolah ingin memakan satu dan lainnya dengan pandangan yang tajam, Riri pun mengikuti arah langkah Bianca menuju cafe yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri tadi sambil mendorong troli berisi kopernya dan Fahri.


"duduk!!" entah dapat keberanian dari mana Bianca seperti ibu yang menyuruh dua anaknya agar Patuh dan mengikuti perintahnya, Riri sendiri merasa aneh dengan tingkah bianca yang tidak pernah ia tunjukkan saat mereka bersama,


dua lelaki tampan tersebut duduk berhadapan, Bianca dan Riri pun ikut duduk di samping mereka.


"Fahri....gw tau kalo gw b******k selama ini jadi cowok, tapi...sejak gw ketemu Riri, gw jadi ingin hidup lebih baik dan gw udah lama berhenti ngelakuin apa yang biasa gw lakuin".

__ADS_1


Edward menjelaskan apa yang ia rasakan sambil melirik Riri yang terus saja menunduk tanpa mau menatap kearahnya, ada rasa sesak sebenarnya namun, ia harus menyatakan perasaan yg ia rasakan selama ini terhadap wanita dihadapannya.


Fahri memejamkan matanya sambil menarik nafas panjang, satu tangannya sudah terkepal dibawah sana mendengar apa yang Edward katakan dan hal itu tidak luput dari penglihatan Riri, bisa ia rasakan jika Fahri saat ini sedang menahan amarahnya, tapi...kenapa??


"lw tau gw kan Fahri, gw ga pernah mau serius sama wanita, Karena buat gw wanita itu jarang ada yang tulus tapi sejak gw ketemu sama Riri, gw ingin tarik ucapan yang udah gw keluarin, lw tau kenapa? karena...gw merasa nyaman sama Riri, dan Riri, aku mau kamu tau sesuatu, selama ini....aku...aku jatuh cinta sama kamu..," Edward menunduk dan berkata lirih di kalimat terakhir.


Riri menaikan pandangannya pada sosok di hadapannya tidak percaya, lalu berpindah pada bianca yang mengangguk kan kepala tanda membenarkan apa yang dikatakan laki-laki yang merawatnya selama ini pasca operasi.


Fahri yang merasakan pergerakan Riri dan melihat Riri seperti terkejut dengan apa yang diucapkan Edward segera menggenggam jemari Riri dibawah meja yang sedang meremas gamisnya, belakangan ini hal tersebut sering kali Riri lakukan ketika ia merasa cemas, fahri sadar bahwa wanitanya sedang bingung, dengan tiba-tiba ada dua lelaki yang menyatakan perasaannya dalam waktu kurang dari 24 jam.


Riri tidak habis pikir dengan statusnya saat ini ternyata ia masih diberikan kesempatan oleh yang maha kuasa untuk merasakan dicintai tanpa perlu bersusah payah mencintai namun berujung di khianati saat ia bersama Anton.


"Ed...pertama kali gw bawa Riri kesini adalah untuk memastikan dia dapet perawatan terbaik dan kesembuhan untuk penyakitnya, dan kenapa gw minta lw untuk bantu dia pasca pemulihan semata-mata karena gw tau lw yang terbaik diantara teman-teman dokter yang lain, tapi gw ga nyangka lw malah jatuh cinta sama Riri....wanita yang udah lama ngisi hati gw sejak gw balik ke indo" Fahri menjelaskan panjang lebar tentang perasaannya juga dan membuat yang ada disana juga terpaku dengan jawaban Fahri


Bianca yang sedari tadi memperhatikan sikap mereka semua merasa jengah dengan pernyataan-pernyataan cinta mereka, namun selain itu Bianca juga kasian melihat Riri yang mulai tidak nyaman duduk disana.


"ekhmm....boleh tidak aku bicara" semua mata memandang pada Bianca kecuali Riri yang masih setia menundukkan kepalanya.


menarik nafas panjang setelah memandang dua lelaki tampan yang ada di dekatnya itu


"aku benar-benar tidak menyangka selama ini kalian berdua memiliki perasaan pada mba Riri, mba Riri sangat beruntung mendapatkan perhatian dari kalian berdua, mungkin sekarang kalian yang harus mendengarkan apa yang ada di hati mba Riri, supaya sala satu bisa melepaskan tanpa ada beban dan menggangu persahabatan kalian berdua, aku sangat mengerti bagaimana persahabatan kalian berjalan selama ini, bagaimana? mereka berdua bertatapan dan mengangguk bersama.


"Mba....aku tau mba Riri bingung, mungkin pengalaman pahit masa lalu membuat mba trauma pada laki-laki, hanya saja, aku juga tidak ingin persahabatan mas Fahri dan dokter Edward harus terpecah hanya karena perasaan mereka pada mba.." riri memandang Bianca.

__ADS_1


"sebentar lagi pesawat kalian akan berangkat sebaiknya berikan keputusan yang tepat menurut kata hati mu mba...., jangan biarkan seseorang menunggu ketidakpastian.."Bianca menyentuh tangan Riri memberikan kekuatan sambil memberikan anggukan , sedang kedua lelaki yang memperhatikan interaksi Bianca dan Riri berharap jawaban yang sama, Riri memilih Mereka.


pandangan Riri mengarah pada Fahri yang berada disampingnya yang juga tengah menatapnya lekat, ada rasa asing yang menggetarkan hatinya saat pandangan mereka bertemu, lalu ia beralih menatap Edward yang berada di hadapannya, sesaat tatapan mata mereka bertemu, namun Riri tidak merasakan apapun, mungkin juga karena selama ini Riri hanya menganggap kedekatan mereka sebatas dokter dan pasien.


Riri mengambil nafas panjang lalu ia mengeratkan tangan yang masih tertaut pada tangan Bianca.


"Mas, dok... terima kasih atas apa yang telah kalian berikan padaku selama ini, jujur sejak aku menginjakkan kaki di negara ini hanya satu keinginan yang aku mau, yaitu bisa sembuh dan berkumpul dengan anakku dan menata kembali hidup kami" kembali Riri menarik nafas


"selama berada disini aku sama sekali tidak tahu kalo dokter memiliki rasa padaku, terima kasih....tapi dok..aku minta maaf....a...aku tidak memiliki perasaan apapun pada dokter....maaf" lirih Riri.


Edward mengusap wajahnya kasar, ya ia sudah menduga hal ini terjadi tapi ia ingin mendengar langsung dari wanita yang sudah berhasil mencuri hatinya.


disaat yang bersamaan Fahri menghela nafas lega karena jawaban yang diberikan Riri tadi.


Panggilan pada line speaker bandara mengalihkan fokus mereka bahwa pesawat yang akan di tumpangi Fahri dan Riri akan segera berangkat.


Fahri menggeser kursi yang ia duduki berjalan ke samping Edward, menepuk pelan bahu sahabatnya hingga Edward juga ikut berdiri akhirnya merek berdua berpelukan.


"tolong jaga dia, gw percaya sama lw Fahri" bisik Edward di telinga Fahri yang dijawab dengan anggukan mantap dari Fahri.


"kami pasti Bakal sering kemari kalau kondisi Riri sudah benar-benar stabil, Bianca aku titip sahabatku....aku tau kamu yang terbaik" menatap penuh arti pada Bianca yang dibalas dengan seulas senyum penuh arti oleh Bianca.


Fahri dan Riri akhirnya pamit untuk kembali ke negara mereka.

__ADS_1


__ADS_2