Aku, Kamu Dan Ibu Mertua

Aku, Kamu Dan Ibu Mertua
Ujian datang lagi


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu usaha yang dirintis oleh Riri mengalami kemajuan, penerimaan dari ibu mertua Riri juga semakin baik, bahkan saat ini ibu mertua Riri mulai mengikuti Riri lebih mendekatkan diri kepada sang penciptanya.


Riri juga memiliki banyak teman yang seperti saudara sejak ia memutuskan untuk hijrah dan menjadi manusia yang lebih baik lagi.


secara materi Riri tidak kekurangan, bahkan saat ini ia bisa membiayai keluarganya dengan hasil jerih payah sendiri, Anton masih berkutat dengan pekerjaannya yang lama dan ritme keberadaanya dirumah juga semakin menipis, komunikasi menjadi kian jauh, bahkan anak mereka Reza juga sedikit demi sedikit memahami bagaimana Anton bersikap terhadap Riri dan beberapa kali membantah Anton.


sebagai seorang ibu dan istri yang baik Riri tidak pernah mengajarkan anaknya untuk membenci ayahnya, namun terkadang jika Reza melakukan hal yang buruk hal itu dicetuskan oleh Anton karena kesalahan Riri mengurus anak yang tidak becus.


"lihat itu anakmu, sudah makin berani aja dia sekarang, malas sekali kalau disuruh" Anton yang saat itu baru pulang dan langsung meminta Reza membantunya namun ditolak anaknya langsung memarahi Riri.


"memang apa yang mau kamu suruh, biar aku yang kerjain" tanya Riri pada Anton.


"ga jadi!" ketus Anton.


"kamu kenapa sih belakangan ini kok uring-uringan ga jelas gitu, ada masalah apa sama kerjaan" Riri yang sudah mulai paham karakter Anton.


"ga apa-apa, besok aku harus keluar kota lagi, siapin baju" sambil melangkah menuju kamar mandi.


Sejak Riri memulai bisnis cafe nya Anton disibukkan dengan pekerjaannya, dalam 1 bulan terkadang bisa dua kali ia harus keluar kota, terlebih saat ini Anton mendapatkan fasilitas mobil untuk operasional nya.


Tiap kali Anton keluar kota tidak jarang sekali Anton menyempatkan diri untuk melakukan komunikasi dengan Riri bahkan dengan anaknya, sejak Riri mulai merintis usahanya sendiri ibu mertuanya juga sudah jarang berinteraksi dengan Riri, namun Riri tidak terlalu mengambil pusing lagi tentang hal itu, ia tetap hormat dan menyapa sesekali waktu atau mengajak anaknya untuk melakukan video call.


Pagi ini Anton sudah bersiap-siap untuk berangkat keluar kota, bahkan sudah tidak bisa berpamitan dengan anaknya karena Reza berangkat ke sekolah Anton masih tidur.


"nanti di jalan sempatkan untuk hubungi anaknya, dan ini, aku sudah siapkan sajadah untuk kamu bawa agar bisa melakukan ibadah di manapun" Riri menyerahkan sajadah kepada Anton yang hanya di terima Anton dan dilemparkan ke dalam mobilnya.


"ya udah aku berangkat" ucap Anton dan langsung masuk ke mobilnya tanpa berpamitan dengan benar.


Selepas kepergian Anton Riri meringis menahan sakit pada perutnya, ini sudah yang berkali-kali ia merasakan sakit pada perutnya, hanya saja waktu untuk periksa belum ada, karena masih di sibukkan dengan aktifitas cafenya.

__ADS_1


'kenapa sakitnya begini ya, semoga tidak apa-apa'


Riri bersiap-siap untuk menjemput Reza dari sekolah dan berencana akan mampir ke cafenya untuk melihat laporan, riri sangat bersyukur karena dengan ia memiliki coffee shop saat ini, ia tidak lagi harus khawatir mengenai keuangan yang harus ia berikan kepada keluarganya di Jakarta, justru malah ia juga beberapa kali membantu keluarga Anton tanpa pengetahuan Anton.


Riri juga sempat mendirikan usaha laundry di Jakarta bersama teman dekatnya dimana hasil dari laundry itulah yang ia bukukan dan diperuntukan kepada keluarganya tanpa mereka tahu, begitu juga dengan Anton.


Sejak menjalani usaha sendiri Riri membeli keperluan dirinya dan anaknya menggunakan uangnya sendiri, karena pendapat Anton tidak bisa mencukupi untuk keseluruhan kebutuhan.


Riri meringis saat bagia bawah tubuhnya terasa sakit saat ia menginjak pedal gas, perlahan ia tetap jalankan mobilnya menuju sekolah Reza.


"Reza...." Riri sudah melihat anaknya keluar dari pintu gerbang dan memanggil dari sisi pintu mobilnya sebelum kesadarannya menghilang dan semuanya benar-benar gelap.


"BUNDAAAA........" Reza berlari kencang kearah Riri yang sudah terjatuh dan ada beberapa orang membantu membopong tubuhnya.


"Reza...ayo kita bawa kerumah sakit dulu" tegas salah satu guru yang ternyata bisa menyetir, akhirnya Riri yang sudah tidak sadarkan diri dibawa masuk kedalam mobil dan mereka pun melaju ke rumah sakit terdekat.


"nak...tenang ya...bunda sedang ditangani dokter, kita berdoa agar bunda sehat ya" guru tersebut mencoba menenangkan Reza yang masih mengeluarkan air mata tangisnya.


"ibu bisa minta nomor telepon ayahmu, untuk mengabari kondisi bunda?? " tanya ibu tersebut kembali kepada Reza.


"a..aku, ga..ha..hapal Bu.." jawab Reza dengan terisak.


"ponsel bunda sepertinya masih di mobil, gimana kalau kita ambil dulu untuk mengabari" tanya ibu guru kembali memberikan saran, Karena tidak mungkin Reza ada disini sendiri sedangkan ibunya saja tidak sadarkan diri.


"keluarga Ibu Riri" belum sempat Reza mengiyakan ajakan dari ibu gurunya panggilan seorang suster menginterupsi.


"bunda....bunda mana ?? " tanya Reza pada suster yang tadi memanggil nama Riri.


"ade...papanya ada?? " tanya suster tadi pada Reza

__ADS_1


"maaf suster, kami belum bisa menghubungi ayahnya, saya guru dari sekolahnya" kini ibu guru lah yang bersuara.


"oh..maaf Bu, kalau begitu silahkan adiknya saja yang masuk ya...informasi yang akan kami berikan bisa tunggu suami dari nyonya Riri datang".


Reza langsung menerobos maksud tanpa menunggu aba-aba dari suster yang tadi memanggil.


PRAAAK...


Gelas yang sedang dipegang oleh Riyanti tiba-tiba saja terjatuh ke lantai,


entah mengapa secara mendadak perasaannya menjadi tidak enak.


'semoga tidak terjadi sesuatu apapun pada keluargaku' batin Riyanti.


Selesai membersihkan pecahan kaca tersebut Riyanti segera mengambil ponselnya dan melakukan panggilan video pada suaminya.


"Ada apa, kenapa mama nangis" tanya suami Riyanti khawatir, karena saat panggilan tersambung terlihat wajah Riyanti yang sudah berderai air mata.


"a..yah ga kenapa-kenapa?" tanya Riyanti masih dengan isak tangisnya


"ayah baik-baik aja...mama yang kenapa?" tanya suami Riyanti makin bingung.


"syukurlah kalau ayah ga apa-apa, entah kenapa perasaan mama ga enak, tadi juga gelas yang mama pegang tiba-tiba lepas.


"Oalah maa....ayah kira kenapa...., sudah ga usah dipikirin, mungkin tangan mama licin jadi gelasnya jatuh, jangan banyak pikiran....insya Allah semua baik-baik" suami Riyanti mencoba menenangkan istrinya itu, karena ia sadar betul bahwa istrinya ini mudah panik dan sensitif apabila terjadi masalah sedikit saja


"iya yah.... ya sudah kalau gitu mama mau sholat dulu, habis itu mama mau telpon Anton" jawab Riyanti yang sudah mulai tenang.


Apa yang terjadi pada Riri hingga ia pingsan dan apakah gelas jatuh itu adalah pertanda masalah seperti yang Riyanti takutkan??

__ADS_1


__ADS_2