
"Sampai kapan kamu sembunyikan aku dan bayi ini.....sudah banyak ya aku ngalah sama istri kamu itu!! Bayi ini butuh status jelas, aku ga mau dianggap janda yang ditinggal suami atau perempuan simpanan orang!!! kamu dengar ga...!!" suara wanita ini begitu melengking dalam mobil berukuran minibus itu.
"DIAM" Anton sudah tidak bisa menahan lagi amarahnya sungguh ia benar-benar saat ini sangat menyesal mendapati kebodohannya berhubungan dengan perempuan yang ada disebelahnya ini, tangis bayi semakin terasa memekakkan telinga ingin rasanya ia menampar perempuan ini tapi hatinya tidak tega, ia teringat pesan ibunya jangan pernah main tangan sama perempuan.
Fitri...perempuan yang menjadi benalu dalam rumah tangga Anton dan Riri ternyata masih berhubungan dengan Anton dan memiliki seorang anak perempuan yang masih bayi.
"Hah...ternyata aku baru tau sekarang, selain ga tegas kamu juga suka bentak orang ya..., padahal jelas-jelas kamu yang salah" ketus Fitri pada Anton.
Anton mencengkram setir mobilnya dengan kencang, sungguh penyesalan itu datang belakangan, Anton juga masih kurang yakin sebenarnya pada bayi perempuan yang diberi nama Farah tersebut, pasalnya Anton hanya sempat melakukan sekali dan seingatnya saat itu Anton memakai pengaman, namun karena ancaman dan juga adanya bukti foto mereka berdua yang ternyata diambil oleh Fitri saat Anton sudah terlelap saat mereka melakukannya maka Anton pun mengalah dan tetap menurut pada keinginan Fitri.
Bayi di gendongan Fitri saat ini sedang menyusui sehingga suara tangisan yang tadi memekakkan telinga ditambah Omelan Fitri yang bertubi-tubi membuat suasana dalam mobil yang mereka kendarai menjadi sedikit lebih tenang, namun tidak pada aura yang berada di dalam mobil tersebut.
Anton menghela nafas, mungkin menghadapi Fitri tidak bisa dengan kekerasan, karena setelah memiliki anak sikap asli Fitri semakin terlihat jelas dimata Anton, belum lagi Anton juga sempat terkejut ketika mereka melakukan hubungan terlarang tersebut, Fitri yang Anton lihat perangainya pemalu, lemah lembut, manja dan selalu berpenampilan tertutup ternyata sudah tidak perawan!!
"Kita balik aja, aku capek, mau istirahat!!" ketus Fitri pada Anton.
"ya kita balik, aku hanya antar kamu sampai depan kost, setelah itu aku langsung berangkat lagi karena urusan kerjaku belum selesai" jawab Anton, sudah tidak ingin berdebat, biarlah ini berjalan seperti ini saja, Anton pun juga bingung harus bagaimana saat ini, terjebak dalam kondisi memiliki 2 wanita di hidupnya yang amat bertolak belakang sifat dan perangai nya.
"Appaa!...pergi lagi??" teriak Fitri yang membuat bayi di gendongannya ini hampir saja tersedak.
"kamu tuh bisa ga kalo ngomong ga usah pake teriak fit...dulu aja kalo ngomong pelan, lembut sekarang bar-bar gini sih??! ketus Anton tetap masih fokus pada jalanan di depannya.
"eh ..aku berubah itu juga karena siapa, sadar dong?!" ketus Fitri.
"jujur ya fit, aku heran sama kamu, kamu minta aku ceraikan istriku dan nikah sama kamu, sekarang aku minta ketemu orang tua kamu aja, kamu ga mau kalau aku belum ceraikan istriku, aku pasti tanggung jawab, tapi aku juga butuh tau latar belakang kamu gimana!!" Anton menjawab ucapan Fitri dengan penekanan berharap perempuan yang ada disampingnya ini mau mengerti juga kondisi Anton.
"ya kamu pikir dong gimana aku bisa ketemu orang tua ku bawa bayi pula, anak dari laki orang juga, pikir dong!!" ketus Fitri lagi.
"terserah lah fit..aku lelah bertengkar terus" jawab Anton, tak terasa mereka sudah sampai di kost tempat fitri tinggal, disana sudah menunggu temannya Anton yang dulu sempat mengenal kan Fitri pada Anton dan juga bekerja ditempat yang sama dengan Anton.
__ADS_1
BRAK....
Pintu mobil Anton ditutup kencang oleh Fitri, anton hanya bisa menarik nafas kasar.
"Gimana bang, udah beres" tanya Andi teman Anton.
"entahlah ndi...gua juga bingung, titip mereka ya, gua harus keluar kota beberapa hari ini" Anton menitipkan Fitri dan anaknya pada Andi.
"tenang aja bang, nanti kalau ada apa-apa gua kabarin" jawab Andi.
"okelah, gua jalan dulu ya" Anton melangkah kembali ke mobilnya setelah menepuk bahu Andi.
Tanpa Anton sadari, senyum tipis tertarik di sudut bibir Andi menatap kepergian Anton.
_______
Riri sudah sadar dari pingsannya dan guru Reza masih setia menemani Riri dan Reza diruang UGD rumah sakit persada.
"Tidak perlu Bu, maaf saya jadi merepotkan, insya Allah nanti ada kerabat saya yang menjemput" sahut Riri pada ibu guru Reza.
Riri sengaja tidak ingin menelpon Anton karena ia tidak ingin Anton yang baru saja berangkat untuk pergi keluar kota harus kembali lagi.
Riri lelah bila harus disalahkan kembali karena menggangu rutinitas suaminya itu, selama ini Riri berusaha untuk tidak menggangu jam kerja Anton, ia malas berdebat karena terakhir mereka berdebat, Anton tidak terima atas sikap Riri yang menyebabkan anak mereka turut terkena imbasnya.
"baiklah Bu Riri kalau begitu, apa boleh saya pamit dulu, ibu masih membutuhkan sesuatu kah? tanya ibu guru Reza.
"silahkan Bu..saya sudah tidak butuh apa-apa" diliriknya anaknya yang tertidur di kursi samping brankar rumah sakit tersebut.
"baiklah, saya permisi ya Bu... assalamualaikum" pamit ibu guru itu dengan sopan.
__ADS_1
Seorang dokter dan perawat memasuki bilik tempat Riri di tangani, setelah ibu guru tadi pamit.
"siang ibu....bagaimana kondisinya, apa ada keluhan?" tanya sang dokter yang baru saja memasuki bilik Riri tersebut.
"kenapa saya bisa pingsan ya dok?" tanya Riri bingung dengan kondisinya, pasalnya sesakit apapun yang ia rasakan tetap saja ia masih kuat dan selalu bisa beraktivitas normal.
"maaf Bu, apa ini anak ibu?" tanya dokter sambil melirik pada Reza yang masih tertidur pulas.
"iya itu anak saya dok" jawab Riri, dokter itupun tersenyum
"apa ibu sudah hubungi suami ibu?" tanya dokter itu lagi, Riri menggeleng kan kepala nya.
"belum dok..., apa bisa dijelaskan apa sebenarnya sakit saya" tanya Riri sedikit memaksakan.
dokter tersebut menarik nafas dan sebentar melirik pada Reza yang masih tetap terlelap.
"apa ibu tidak merasakan keluhan sakit pada area tertentu, sebelum ibu pingsan?" tanya dokter itu lagi.
"hmm...sakit pada bagian ini dok, lalu terasa nyeri sampai kadang saya sit mengatasi sakitnya" jelas Riri pada dokter tentang apa yang biasa ia rasakan belakangan ini.
"Jadi Bu Riri, saya akan jelaskan pada ibu mengenai sakit yang ibu derita, saya harap ibu tetap kuat, karena penyakit ini masih bisa disembuhkan dengan bantuan operasi" jelas dokter yang berada dihadapannya.
Riri bingung harus merespon bagaimana atas pernyataan dokter tersebut.
"ja..jadi....saya sakit apa dok?" tanya Riri dengan terbata.
dokter muda tersebut terlihat sangat terbebani dengan informasi yang akan ia bagikan pada pasien yang ada di hadapannya ini.
"jadi ibu Riri, kenapa belakang ini ibu sering merasakan sakit pada bagian perut itu karena..."
__ADS_1
"ibu terkena kanker rahim !!"