
Sinar Mentari pagi menembus jendela kamar, membuat seorang wanita yang ingin membuka matanya terganggu dari tidur lelapnya.
"eughh" lenguhan khas orang bangun tidur terdengar sangat menggemaskan untuk seorang laki-laki yang sudah sejak setengah jam lalu terbangun dari tidurnya dan tersenyum penuh arti menatap perempuan yang berada di dekapannya.
tersenyum mengingat pergulatan panas mereka semalam yang berakhir dengan pelepasan yang sempurna untuk keduanya.
merasakan adanya hembusan nafas dan sesuatu yang tidak biasa dibawah sana membuat Riri perlahan membuka matanya dan hampir saja ia melompat dari atas tempat tidur bila saja tangan kekar Fahri tidak segera menangkap dan mendekap kembali tubuh yang tanpa sehelai benang pun.
wajah Riri memerah seperti tomat merasakan kontak skin to skin dengan pria yang sekarang sudah resmi menjadi suaminya, walaupun telah menjadi suami istri, rasanya berbeda dulu saat bersama Anton, ia sama sekali tidak merasa malu ataupun merasakan getaran yang membuat jantungnya memompa lebih cepat saat berdekatan dengan pria yang saat ini mendekapnya erat dan menciumi Pucak kepalanya dengan lembut.
"morning wife..." suara serak Fahri terdengar sangat seksi untuk Riri membuat kinerja jantungnya harus bekerja ekstra.
"p..pagi mas..." terbata-bata masih menunduk menyusupkan kepalanya tanpa sadar ke dada bidang sang suami karna malu.
Fahri yang merasa gemas tiba-tiba mengangkat dagu Riri dan ******* benda kenyal yang ternyata menjadi candunya sejak semalam, Riri yang terkejut dengan tindakan suaminya pun hendak melepaskan pagutan mereka namun Fahri semakin mengikis jarak antara mereka hingga tanpa sengaja tongkat keramat milik Fahri yang sudah mengeras kembali tersentuh pinggul Riri yang tanpa berbalut apapun
__ADS_1
Geraman tertahan dari bibir Fahri pertanda bahwa hasratnya kembali tersulut karena gerakan tak sengaja dari istrinya karena terkejut dengan ciuman Fahri yang mendadak, bukan apa-apa, Riri merasa tidak enak berciuman ketika bangun tidur yang pasti bau mulut mereka pasti tidak enak, namun hal itu tidak berlaku bagi Fahri, nyatanya ia makin aktif membangunkan kembali titik sensitif sang istri.
******* dan erangan akhirnya keluar dari bibir Riri yang saat ini pun berkabut gairah mendapati sentuhan-sentuhan dari suaminya yang mendamba.
Fahri makin bersemangat memberikan kecupan dan sentuhan yang dapat membangkitkan sisi liar wanita yang menjadi istrinya ini, sempat terbersit rasa tidak rela dan amarah yang menekan dadanya mengingat bahwa ia bukanlah satu-satunya laki-laki yang bisa memiliki Riri seutuhnya, apalagi yang dicari dari wanita lain bila yang halal sudah mampu memberikan kenikmatan yang membuat ia ingin lagi dan lagi.
akhirnya kegiatan panas itu berakhir dengan mereka mandi bersama dan segera turun ke resto hotel tempat mereka menginap karena sudah ditunggu untuk sarapan yang amat sangat telat
"duuuh...itu pengantin baru mukanya seger banget....abis kejatuhan emas ya mas mba...." belum sempat Fahri dan Riri bergabung untuk sarapan, suara Bianca sudah menggoda mereka dengan kedipan matanya yang berulang kali dan menimbulkan gelak tawa hampir semua yang ada di meja tersebut.
"sini sayang...duduk dekat umi..," suara lembut ibu mertuanya membuat Riri yang tadinya malu karena di goda Bianca sekarang menjadi terharu dengan perhatian ibu mertuanya...., teringat kembali potongan masa lalu saat ibu mertuanya yang dulu bahkan tidak memperhatikan ia untuk makan bersama bahkan hanya mengambilkan piring untuk Anton dan keluarganya saja sedangkan Riri sama sekali tidak diambilkan sampai harus mengambil sendiri piring makannya di dapur, hal sepele mungkin tapi terlihat seperti ia sama sekali tidak diharapkan kehadirannya disana, berbeda saat ini perlakuan ibu mertuanya membuat Riri tersentuh dan terharu dan bahagia.
mengelus punggung istrinya agar tubuh yang sempat menegang itu menjadi rileks kembali, Fahri dan Edward saling bertatapan dan mengangguk bersamaan, suasana canggung pun dicairkan kembali dengan gelak canda dari dua keluarga yang saat ini tengah berbahagia.
"Ed...apa yang mesti gw lakuin ya buat hilangin trauma yang sepertinya terkait juga dengan ibu mertuanya" helaan nafas berat Fahri yang mencoba untuk berkonsultasi dengan sahabatnya untuk membuat Riri bisa melupakan masa lalunya, yang mungkin menurut orang lain hanya hal sepele namun untuk sebagian orang yang mungkin memiliki hati yang sensitif dan rapuh seperti Riri hal itu terasa membekas dalam.
__ADS_1
"trauma masa lalunya membuat kepercayaan diri Riri sempat hilang dan juga kepercayaan dirinya atas orang-orang yang berada disekitar nya pun juga turut membuat Riri menjadi rapuh dan sensitif, gw cuma bisa kasih Lo satu jawaban..... berikan dia perhatian dan kasih sayang, ga ada lagi yang bisa menggantikan rasa nyaman dan tenang saat kita sebagai suami selalu memberikan perhatian dan juga kasih sayang yang tulus tanpa pamrih pada wanita yang akan mendampingi kita hingga akhir hayat dan menjadi ibu dari anak-anak kita kelak", jawab Edward
"PASTI!!!" jawab Fahri mantap, dalam hati ia berjanji akan selalu mengutamakan kebahagiaan istrinya, Reza dan anak-anak mereka kelak, tidak akan ia biarkan siapa pun menyakiti hati wanita yang kini menjadi istrinya.
sedangkan di ruangan lain tidak jauh dari tempat Fahri dan Edward berbincang-bincang, dua wanita berbeda generasi saling bertatapan dan sang wanita tua kembali lagi sedang menguatkan wanita yang lebih muda darinya yang kini berstatus sebagai menantunya
"Nak...saat ini kamu dan Fahri ada di fase baru kehidupan kalian, jujur, terbuka dan komunikasi yang baik adalah kunci menjalani rumah tangga samawa..., umi akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian, jangan takut untuk berbagi atau menegur umi maupun suami mu bila kamu merasakan hal yang tidak adil yang kami lakukan padamu ya..." tangan renta itu mengusap lembut kedua jemari perempuan yang kini menjadi menantunya, bukan tanpa sebab ia mengatakan hal tersebut kepada menantunya ini, karena apa yang menimpa menantunya di pernikahan terdahulu dengan lelaki bernama Anton itu sedikit banyak telah ia ketahui.
Riri yang merasa tersentuh meluruh dan bersimpuh di kaki ibu mertuanya itu, bertepatan dengan kehadiran Fahri yang terkejut dengan adegan yang disuguhkan oleh kedua wanita yang sangat ia cintai itu, ketika kakinya hendak melangkah tubuhnya menghampiri mereka, ditahan oleh dua tangan sang ayah...
"biarkan mereka menumbuhkan keterikatan satu sama lain..., Abi yakin, umi sangat sayang pada istri mu" suara teduh dan lembut milik ayahnya membuat Fahri menatap dua wanita itu yang kini berpelukan dan saling menguatkan.Dalam hati Fahri memanjatkan doa agar ia dan keluarganya baik ayah dan ibunya dapat memberikan kebahagiaan untuk wanita yang ia cintai.
sejatinya dalam berumah tangga itu bukan hanya antara AKU dan KAMU tapi KITA dan akan ada masa dimana ada kisah antara AKU, KAMU dan IBU MERTUA bilamana kita sebagai orang tua khususnya ibu yang beranggapan bahwa anak lelaki adalah milik ibunya hingga kita lupa saat anak lelaki kita menikah, disana ada satu hati yang perlu dijaga.
Kisah Riri mengingatkan kita agar kita bisa menjadi manusia yang lebih baik, tanpa adanya cinta berlebih, cinta menuntut dan cinta tanpa pondasi iman.
__ADS_1
sesungguhnya ketika kita mencintai karena Allah maka semua masalah dapat dilalui bersama dengan saling menguatkan satu sama lain sebagai pasangan, buka dengan saling menyakiti, membenci dan menorehkan luka yang sulit untuk disembuhkan...
TAMAT.