
Edward mengacak rambutnya frustasi, bayangan saat kejadian Riri berada diatas tubuh nya benar-benar membuat 'ade kecilnya' mengeras.
"s**l"
Edward mengumpat berkali-kali, hanya wanita itu yang bisa membuat ia tiba-tiba bereaksi walau belum melakukan apapun.
Andai saja tadi Fahri tidak datang mungkin kejadiannya akan lain lagi, bisa Edward pastikan akan membuat Riri menjadi miliknya, entah kenapa ada aura yang berbeda saat berdekatan dengan wanita itu, meskipun tubuhnya terbalut pakaian longgar dan tertutup namun ada jiwa primitif nya seolah terpanggil ingin melakukan lebih dari sekedar saling menatap ataupun berdekatan, Edward merasa otak dan tubuhnya terasa panas dan lagi...ia harus menyiram tubuhnya agar pikirannya bisa lebih tenang.
______
Fahri kembali ke apartemennya setelah ia menenangkan diri meluapkan emosinya pada Edward,
apartemen telah gelap tanda penghuni didalamnya mungkin sudah terlelap, mungkin Riri dan Bianca sudah tidur.
Semilir angin berhembus menerpa wajahnya saat ia merebahkan tubuhnya di atas sofa diruang tengah, Fahri menoleh pada pintu balkon yang terbuka sedikit, mungkin karena kelelahan Bianca lupa untuk menutup pintu tersebut pikir Fahri, perlahan ia mendekat ke arah pintu balkon, namun saat ia akan mendorong pintu tersebut, netranya menangkap sepasang kaki tersingkap dari pakaian seseorang yang terduduk dengan lutut di tekuk dan wajahnya di benamkan diatas lutut yang tertekuk.
Fahri menggeser sedikit pintu balkon,
"Riri"
kepala Riri terangkat, Riri mencari arah suara yang memanggilnya, dan ia menemukan sosok Fahri yang sedari tadi ia tunggu.
"mas Fahri" lirih Riri memanggil nama Fahri
Fahri mendekat dah berjongkok di hadapan Riri, kedua mata mereka bertemu Fahri dapat merasakan kesakitan dalam pancaran mata wanita di hadapannya.
"a....aku..ta..tadi...aku terjatuh" Riri mencoba menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya dan juga Edward tadi.
"sssttt....sudah...ini sudah malam ga seharusnya kamu disini..kamu bisa sakit Ri" Fahri tidak ingin Riri berada lama diluar seperti ini apalagi dalam keadaan yang tidak baik.
__ADS_1
"ta..tapi..." sebelum Riri menyelesaikan kalimatnya, Fahri segera menarik tangan Riri untuk berdiri.
dingin....yah tangan mungil yang berada di genggaman Fahri begitu dingin entah berapa lama wanita ini berada diluar sendirian.
"ayo kita masuk .." Fahri sudah tidak peduli lagi ia menarik pelan tangan Riri untuk mengikutinya masuk kedalam ruangan, Fahri mendudukkan Riri di sofa, sementara ia berjalan menuju mini bar untuk membuatkan coklat panas yang tadi sempat ia beli juga saat tiba di apartemennya ini.
Dada Riri bergetar saat Fahri menyentuh dan menggenggam tangannya tadi seolah ada rasa yang tersalurkan melalui tautan tangan mereka.
diujung sana Fahri pun merasakan hal yang sama rasa asing yang mengalir dan menghangatkan dadanya semakin kuat, ya Fahri yakin ia memang mencintai wanita ini dan ia akan berjuang meski harus berhadapan dengan Edward yang mungkin memiliki rasa yang sama.
"ini....minumlah...," Fahri menyodorkan gelas yang berisi coklat panas kepada Riri, sedangkan di tangan kirinya gelas berisi kopi.
"terima kasih mas..." Riri menerima gelas tersebut dan kembali Bu menunduk.
Fahri menghela nafas dan ia duduk di hadapan Riri Lalu menyadarkan punggungnya pada sofa yang terasa nyaman sekali, mata Fahri tetap menatap tajam pada wanita di hadapannya.
Riri mengangkat wajahnya, sejenak netra mereka bertemu, Riri segera membuang pandangannya ke arah lain, ia merasa canggung berada dekat dengan Fahri, padahal selama ini, hubungannya terasa mengalir biasa saja, namun entah belakangan ini entah kenapa setiap Fahri tidak memberi kabar entah itu mengenai reza ataupun mengenai cafe yang di kelolanya rasanya ada yang hilang di hati Riri.
"sudah lupakan saja...istirahatlah ri, ini sudah malam" Fahri yang merasa Riri memikirkan sesuatu segera mengambil inisiatif agar Riri melupakan kejadian tadi, dirinya pun harus istirahat karena penerbangan yang cukup menyita waktu dan tenaga ditambah apa yang tadi ia lihat membuat hatinya pun perlu beristirahat.
"mas.....maaf" hanya kata itu yang mampu keluar dari bibir Riri
Fahri mengerutkan keningnya, "maaf
untuk apa?"
"maaf atas kejadian tadi...itu..itu diluar kuasaku... tiba-tiba kepalaku begitu sakit dan hampir terjatuh jika saja dokter...tidak menangkap ku" Riri meremas gamisnya setelah mengatakan hal tersebut, dan itu tertangkap mata oleh Fahri, ternyata seperti itu kejadiannya, tapi kenapa dia seperti ketakutan ketahuan selingkuh..apa mungkin.....???
Fahri berdiri dan berjongkok dihadapan Riri, hal yang tak seharusnya ia lakukan, namun hatinya sudah tidak tahan lagi untuk tidak mengatakan yang sebenarnya hatinya rasakan, ia tidak ingin keduluan oleh Edward, ia juga harus segera membawa Riri pulang kembali ke negara mereka.
__ADS_1
Fahri POV
"Ri..., aku akan urus kepulangan kita ya, aku rasa pemulihan pasca operasi kamu bisa kita lanjutkan di sana" ku genggam kedua jemari nya yang sempat tersentak saat jemari kami bertautan kembali, terasa seperti tersengat aliran listrik saat kedua jemari tangan ini bersatu.
Ya Tuhan..jika memang engkau ijinkan aku akan jadikan wanita ini pendamping ku.
"m...mas..." suara lirih dari bibir Riri memanggil ku mengisyaratkan bahwa apa yang kami lakukan adalah salah.
"Sttt...aku tau harusnya aku tidak melakukan ini ri, tapi....aku ga bisa lagi berbohong pada diri sendiri, aku mau kita menikah setelah kondisi kamu sudah normal ya" kurasakan remasan pada jemarinya menguat, mungkin ia terkejut dengan apa yang baru saja aku katakan, tak lama wajahnya terangkat, dapat kulihat bulir bening hampir terjatuh dari sudut matanya, dia menangis!!
"ah...ma..maafkan aku ri, mungkin ini terlalu cepat...apa...aku salah?"
tanyaku sedikit kikuk
ia menggeleng dengan cepat.
"mas....aku...aku mau pulang Bersamamu dan.....soal menikah...mintalah ijin pada anakku Reza, kalau dia setuju, aku akan menikah denganmu"
deg...
Reza.....ah...bahkan anak itu yang memaksa diriku untuk menjaga ibunya, ya Allah terima kasih atas takdirmu yang indah ini.
aku mengangguk kan kepalaku dengan mantap dan menatap netra matanya yang masih terdapat luka Didalamnya, namun aku berjanji pada diriku sendiri aku akan membahagiakan wanita ini.
"sebelum tidur, kita sholat malam dulu kamu mau?" Riri menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Akhirnya kamipun melakukan sholat malam bersama dikamar yang ditempati oleh Riri setelah bergantian mengambil wudhu, tanpa kami sadari ada sepasang mata dan juga rekaman video yang sedari tadi mengamati semua yang kami lakukan.
'aku akan kirim rekaman ini pada nya, dan semoga kalian berbahagia".
__ADS_1