Aku, Kamu Dan Ibu Mertua

Aku, Kamu Dan Ibu Mertua
Gugatan Cerai


__ADS_3

"Maaf pak, tapi Bu Riri tidak ada kesini lagi, sekarang pemiliknya bukan Bu Riri lagi" Sinta yang memang sudah di infokan oleh Riri bahwa kepemilikan resto sekarang diambil alih oleh Fahri, karena Riri tau pasti kalau Anton pasti akan mencari tahu apapun tentang Riri bahkan sampai hal yang awalnya ia tidak ingin tahu.


"pemiliknya siapa sekarang?"tanya Riyanti dengan rasa penasarannya.


"Bapak Fahri, Bu..., tapi beliau tidak setiap hari datang, karena ada beberapa outlet yang lain yang diurus" jelas Sinta.


"ya sudah mba, terima kasih banyak" Anton kemudian mengajak Riyanti meninggalkan cafe yang digadang-gadang adalah milik Riri namun kini sudah menjadi milik orang lain.


akhirnya Anton dan Riyanti kembali ke rumah, mereka ingin beristirahat untuk menenangkan pikiran atas apa yang terjadi hari ini, sedangkan Anton memilih untuk mengunci diri didalam kamar yang dulu hanya ditempati oleh Riri dan Reza karena Anton memang sudah lama tidak tidur satu kamar dengan Riri.


Anton mulai membaca isi surat yang diberikan oleh dokter tadi.


Dear Anton,


Terima kasih atas 11 tahun pernikahan kita, terima kasih sudah pernah menjadi ayah dan suami yang baik untukku dan anak kita, meski kata sempurna tidak menunjukan dirimu tapi saat dimana setia masih berakar di hati, aku bahagia...


Melewati waktu panjang dalam pasang surut kehidupan yang kita lalui, ketidakmampuan kita menjaga hati masing-masing mengingat kan ku bahwa apa yang ada di genggaman pasti akan lepas suatu hari nanti, ini hanyalah masalah waktu.


seperti halnya yang terjadi pada kita, aku tak mampu menggenggam mu hingga kau temukan tangan lain yang mungkin bisa menjagamu, aku yakin hatimu pun telah tertaut padanya, aku relakan dan ikhlaskan untukmu meraih bahagia dengan jalan yang kamu pilih, aku harap kamu pun melakukan hal yang sama untuk bisa melepas ku dengan ikhlas.


Maaf aku pergi dengan cara seperti ini, agar tak ada lagi bimbang dan air mata yang mengiringi langkah kita kedepan.


salam sayang untuk mama,...


tertanda


Riri


Anton meremas kertas yang ia telah baca, entah kenapa ada rasa sakit yang menusuk di dadanya, rasa sakit akan kehilangan, rasa sakit karena amarah, rasa yang selama ini tidak pernah ia pedulikan saat Riri dekat dengannya, terkadang manusia harus merasa kehilangan lebih dulu baru bisa merasakan apa arti dari penyesalan.

__ADS_1


Anton terus mencoba menghubungi Riri namun tidak bisa terhubung, sepertinya Riri sengaja mematikan nomor nya, menghubungi anaknya pun Riri tidak bisa, karena ia sendiri tidak tahu kemana anaknya dibawa,


Anton seperti orang kesurupan yang mengobrak abrik barang-barang milik Riri namun yang ia temukan hanyalah baju-baju saja, ia ingin mencari buku nikah mereka atau apapun yang bisa ia gunakan untuk mencegah Riri meninggalkannya, perduli s***n dengan Fitri, karena Anton yakin kalau anak yang dilahirkan Fitri itu bukan anaknya.


_____________


"makasih ya sayang....bunda sudah di rumah sakit, sering-sering telpon ya, mungkin beberapa hari lagi bunda Operasi, doakan ya"


"…..."


"makasih nak...bunda tutup ya, rajin-rajin belajarnya"


"......"


"wa'alaikumsalam..." Riri pun mematikan panggilan teleponnya dengan Reza, dan menoleh pada Fahri yang memang masih ada disana, untuk membantu mengurus segala keperluan Riri selama berada di negara S.


"insya Allah saya ikhlas bantu, oh ya Ri, ini dokumen yang harus kamu tanda tangani, nanti selama disini akan ada teman saya yang akan bantu dan menemani kamu ya.., karena saya akan bolak balik jadi tidak bisa menemani kamu pasca operasi nanti, lagi pula pasti kamu juga akan butuh orang untuk membantu melakukan hal yang tidak bisa saya lakukan karna kita bukan pasangan halal" jelas Fahri sangat detil, sambil menyodorkan dokumen yang dimaksud.


Riri terkesiap sesaat mendengar pernyataan Fahri yang terakhir, ada sesuatu yang berdesir di hatinya kala Fahri mengucapkan hal itu.


"baik mas...saya percayakan semua sama mas..., hmm...untuk biaya tolong mas bisa pegang kartu saya untuk di gunakan, jika kurang, saya ada sedikit tabungan di rekening lain, nanti infokan saja kalau dibutuhkan ya mas??" Riri menjawab sekaligus mengambil dokumen tersebut dan menghela nafas saat membuka dan membaca lembaran tentang gugatan cerai yang ia buat.


"kalau kamu belum siap untuk ini, baiknya kamu pikirkan lagi, jangan sampai ada penyesalan" fahri yang melihat Riri menghela nafas saat membuka dokumen yang ia berikan mencoba meyakinkan Riri akan keputusan selanjutnya.


"saya siap mas..." Riri pun mengambil pena yang diselipkan di ujung map dan menandatangani gugatan cerai serta surat kuasa pengurusan kasus perceraian nya kepada Fahri.


Riri juga sudah melakukan pembagian harta Gono gini yang akan ia berikan untuk Anton, disana juga ia melakukan pengajuan hak asuh atas Reza agar diberikan pada dirinya.


setelah selesai dengan berkas yang akan dibawa kembali ke negara asal, Fahri melakukan panggilan dengan seseorang

__ADS_1


"Hello bi...bisa ke rumah sakit, iya, saya masih disini, baik saya tunggu" Fahri menutup panggilan telepon nya.


"sebentar lagi teman saya akan kesini, setelah operasi kamu akan tinggal disini sementara waktu sampai kondisi kamu pulih, saya juga sudah minta Edward untuk pantau kondisi kamu terus pasca operasi, saya akan urus gugatan cerai kamu dan juga cafe, nanti kalau Reza libur dan kamu belum sembuh, akan saya bawa kesini bareng umi" jelas Fahri pada Riri yang melongo melihat kesigapan Fahri dalam menangani semua permasalahan dirinya.


"apa wajah saya ada yang aneh Ri?!" Fahri mengerutkan dahinya merasa lucu dengan wajah Riri yang terbengong mendengar semua yang ia sampaikan.


"eh...Ng..nggak mas, maaf" Riri menjawab terbata-bata, saking malu pada Fahri.


"ya sudah saya tinggal sebentar ya" pamit Fahri yang dibalas dengan anggukan oleh Riri


'ah...rasanya aku ingin segera menyelesaikan urusannya dengan lelaki brengsek itu' batin Fahri yang baru saja menutup pintu ruang rawat Riri.


Sejujurnya ingin rasanya Fahri mengungkapkan perasaannya secara langsung pada Riri, namun ia juga harus sadar diri bagaimanapun Riri masih berstatus istri orang.


Brukkk....


"oh...sorry,....saya tidak sengaja" Fahri membantu memungut beberapa barang yang terjatuh akibat tidak sengaja dirinya menabrak orang.


"Fahri...." lirih suara wanita cantik berambut pirang dalam balutan pakaian casual namun terlihat sangat seksi, karena tubuhnya terbungkus oleh pakaian ketat yang menampilkan lekuk tubuh wanita itu.


Fahri yang masih sibuk memungut beberapa barang yang jatuh, mendadak terhenti, kala mendengar suara yang sangat familiar untuk nya.


Suara yang telah memporak porandakan hatinya dengan sangat kejam sama seperti yang terjadi pada Riri dengan Anton.


Fahri mendongakkan wajah nya melihat ke asal suara dan benar, perempuan yang berdiri dihadapan adalah perempuan yang sama yang menorehkan luka di hati Fahri


"Evelyn"


---------------

__ADS_1


__ADS_2