Aku, Kamu Dan Ibu Mertua

Aku, Kamu Dan Ibu Mertua
New Job


__ADS_3

Tiga bulan berlalu dan hubungan Riri dan Anton masih sama seperti biasa, Riri semakin hari semakin terbiasa dan luwes dengan pekerjaannya dan akhirnya dia memperoleh kepercayaan menduduki jabatan penting di perusahaannya, Anton semakin merasa dirinya sangatlah kecil dibandingkan istrinya yang memiliki karir yang lebih baik dari pada dirinya.


Riri yang begitu cekatan dan memang pekerja keras sejak ia masih gadis dengan mudah dapat menguasai pekerjaan barunya tersebut, terlebih ia merupakan orang yang sangat supel dan luwes dalam bergaul, tidak sedikit juga beberapa klien yang berlawan jenis memiliki rasa terhadapnya, namun Riri yang memang orang yang selalu memegang prinsip dalam hidupnya tetap tidak bergeming, karena ia sudah berjanji dalam hatinya bahwa sudah cukup ia bermain-main dengan kelamnya kehidupan percintaan yang sempat membuatnya tergoda untuk melakukan hubungan intim dengan seorang laki-laki yang sampai saat ini masih kerap muncul di pikirannya.


"Bu Riri....ini berkas yang akan kita bawa meeting dengan pak Budi" suara Lila sekretaris Riri menghentikan aktifitas Riri di depan laptop nya.


"oke..nanti kamu ikut ya, walaupun mungkin saya tidak terlalu membutuhkan kamu disana tapi rasanya saya harus membawa orang kalau meeting dengan orang ini" Riri terlihat kesal saat mengutarakan maksudnya itu kepada sekretarisnya.


"apa pak Budi masih selalu menggoda ibu?"sahut sang sekretaris


"begitulah, kalau saja aku punya wakil di perusahaan ini, mungkin urusan yang menyangkut pak Budi akan aku serahkan pada wakilku" Riri berandai-andai.


"sabar Bu, semoga saja pak Budi juga tahu diri" Lila menyemangati bosnya.


sedikit banyak Lila yang baru saja bertugas untuk menjadi sekretaris Riri sebenarnya sudah mengetahui bagaimana sepak terjang Riri selama ini, dan Lila juga sangat paham kalau bosnya yang satu ini bukan perempuan yang mengandalkan tubuh dan wajahnya untuk bisa bekerja sama dengan klien-kliennya yang kebanyakan adalah laki-laki.


"bagaimana aku bisa sabar Lila, kamu lihat sendiri bagaimana 1 bulan terakhir ini dia begitu gencarnya mengajak aku makan siang, sampai-sampai kita harus mengungsi di cafe ini hanya agar bisa melanjutkan pekerjaan kita karena saat ini masuk jam makan siang kan...??" nada suara Riri mulai terlihat kesal


"heheheh...semangat 45 Bu, pak Budi itu"


goda Lila....


"LAA....mau ku pecat kau"Riri melotot kepada sekretaris nya itu..yang sering menggodanya


"AAA....ampun Bu" berusaha menahan tawanya tidak berani bicara lagi Karena takut mood bosnya ini berubah seperti orang yang lagi PMS.


cling.....

__ADS_1


notifikasi dari ponsel Riri berbunyi dan ia melihat aplikasi jejaring sosial yang ia ikuti dimana ia pergunakan untuk memiliki banyak koneksi dari jejaring sosial tersebut.


//hello...how are you, i am claudino neves


(halo...apa kabar mu, aku claudino neves)


// may i know u more??


(boleh saya mengenalmu lebih jauh?


dua pernyataan itu membuat Riri merasa bingung, hei siapa dia.. tiba-tiba ada bule yang minta berkenalan.


"ah dasar orang gila....nanti sajalah ku jawab biar saja dulu" gumam Riri dan langsung mengajak sekretaris nya itu untuk menemui pak Budi setelah mereka selesai mengerjakan beberapa berkas dan makan siang.


Pak Budi sedari tadi tampak tidak memperhatikan presentasi dan penjelasan dari Riri, yang ia perhatikan hanyalah seorang Riri, entah setan apa yang merasuk ke bapak paruh baya itu, sejak Riri menjabat sebagai manager area yang baru dan mereka sering sekali bertemu, getaran-getaran itu selalu merasuk di hati pak Budi, aura dari seorang Riri mampu membuat ia tidak bisa tahan untuk mendekati wanita itu, meskipun ia tahu bahwa Riri sudah memiliki anak dan suami.


"maaf pak,. jadi bagaimana??" ujar Riri yang meminta persetujuan untuk pembelian partisi dari software program yang di pergunakan oleh perusahaan pak Budi yang bekerja sama dengan perusahaan Riri.


"baik pak kalau begitu saya sudah menyiapkan perjanjiannya bapak bisa langsung tanda tangan disini.., Lila tolong berikan pada pak Budi untuk di tandatangani" Riri meminta sekretarisnya untuk menyerahkan dokumen perjanjian persetujuan atas angka yang diajukan perusahaan Riri.


"tinggal saja dulu, nanti saya minta orang saya mengecek isinya dulu" sahut pak Budi.


"ooh.., baiklah pak, kalau begitu kami pamit" Riri segera membereskan berkas yang masih belum dirapikan bersama Lila.


"biarkan sekretaris mu yang membereskan, bagaimana kalau kita makan malam setelah dari sini?" pinta pak Budi pada Riri.


"saya mohon maaf pak, karena saya masih ada urusan lain dengan klien"Riri yang sudah paham betul maunya pak Budi langsung menolak di tambah anggukan dari Lila sang sekretaris.

__ADS_1


"ah... baiklah, saya akan melihat lagi berkas yang kamu berikan, nanti saya berikan hasilnya" jawab pak Budi dengan senyum sinis.


Riri yang paham dengan maunya pak Budi pun nampak menghela nafas.


"nanti biar Lila atur makan siang besok ya pak" ujar Riri dengan tetap senyum padahal dalam hatinya mengumpat lelaki tua tidak tau diri itu.


"kenapa makan siang terus? sekali-kali makan malam lah sama saya" jawab Budi dengan memandangi Riri dari atas sampai bawah membuat Riri benar-benar kesal.


"mohon maaf pak Budi, bukan saya menolak, tapi akan lebih baik di siang hari karena saya bisa membawa sekretaris saya untuk ikut serta agar dia bisa mencatat pembicaraan kita" ujar Riri.


"oke...oke.., saya rasa cukup meeting hari ini, kebetulan saya juga sudah mau pulang" pak Budi langsung berdiri dan meninggalkan Riri dan Lila tanpa membawa berkas yang mereka berikan tadi.


"my GOd, Lila...itu orang terbuat dari apa sih ya...?" geram Riri.


"sabar Bu..besok pagi-apgi saya antar kan ke kantor nya, biar saya kasih note juga kala beliau meninggalkan berkasnya" ujar Lila mencoba menenangkan Riri.


"okelah..ayo kita pulang, aku akan antar kamu dulu ke kantor, aku langsung pulang, ini sudah waktunya aku jemput anakku" sambil mengambil tas dan meminum sisa minuman yang tadi sudah dipesannya.


akhirnya Riri dan Lila pun kembali ke kantor ya, dan Riri langsung melakukan kendaraan nya menuju tempat penitipan Reza.


Reza yang sudah dimandikan dan sudah siap dijemput oleh Riri, berada di halaman sekolah bermain dengan anak-anak lain yang juga menunggu di jemput oleh orang tuanya masing-masing.


"Reza...lihat itu sepertinya mobil bunda..." panggil mba Tika salah satu pengasuh di tempat itu, yang memang sudah hafal kendaraan Riri, tak selang berapa lama ada satu mobil lagi yang berhenti dibelakang mobil Riri, ternyata mobil ayah Aliya yang juga menjemput anaknya.


****


Haaaaaiiiiii......maaf ya updatenya lama reader kesayangan..., 🥰

__ADS_1


kita lanjut lagi ya...buat yang suka jangan lupa VOTE...okey...


lanjuuut...


__ADS_2