Aku, Kamu Dan Ibu Mertua

Aku, Kamu Dan Ibu Mertua
Keberangkatan Riri 2


__ADS_3

Pertemuan dengan Pak Budi akhirnya berjalan lancar, karena diselamatkan oleh GM dari kliennya itu ikut serta, sehingga Riri lebih banyak berbicara dan berinteraksi membahas pekerjaan dengan sang GM.


Riri juga sudah berhasil untuk membujuk kakaknya untuk bisa datang untuk menjaga Reza selama ia diluar kota, tak lupa juga Riri memberitahukan pada kakaknya bahwa ada ibu mertuanya juga, tapi tidak perlu di khawatir kan karena ibu mertuanya akan segera menginap di tempat suaminya.


Riri sengaja pulang lebih awal karena lusa ia sudah harus berangkat ke Kupang untuk menyelesaikan kasus disana, rencana malam ini dirinya akan berkemas pakaian dan besok ia akan pulang lebih awal juga untuk membeli bingkisan untuk kliennya yang komplain atas kasus yang ditemukan tersebut.


Reza yang melihat mobil Riri yang sedang diparkirkan di depan rumah segera berlari untuk menyambut ibunya.


"bunda...."Reza berlari memeluk Riri saat Riri memasuki halaman rumah.


"sayang" peluk Riri dan mengelus pucuk kepala anaknya dengan tangannya.


"tadi ayah bilang sudah di jemput ayah, jadi bunda tidak jemput deh" ujar Riri yang merasa anaknya sedang tidak enak hatinya.


Reza hanya mengangguk dan mengikuti Riri yang masuk kedalam rumah sambil menggandeng anak semata wayangnya itu.


"assalamualaikum..."sapa Riri pada mertua dan suaminya yang sedang sibuk sendiri.


Anton sedang sibuk dengan ponselnya dan ibu mertuanya sedang sibuk nonton telenovela sambil memakan camilan, kini Riri mulai paham kenapa anaknya berlari dan langsung memeluk nya.


"wa'alaikumsalam..." jawab ibu mertuanya.


"sudah pulang?" lanjut ibu mertuanya


"iya mah sudah, apa mama sudah makan?"


tanya Riri dengan sopan, ya meskipun Riri tidak suka dengan Rianti ibu mertuanya namun ia masih tetap berlaku sopan, perih yang ia rasakan sejak kehamilan hingga anaknya lahir ia redam untuk tetap bisa menjadi menantu yang baik.

__ADS_1


"kepala mama pusing, mama ga masak, tadi juga cuma makan sarapan aja sama mie instant yang dimasak Anton" jawab ibu mertuanya.


"oh ya udh mama mau makan apa?" tanya Riri


Reza sedang sibuk dengan ponsel Riri Karena ada game seru yang di instal kan hanya di ponsel Riri.


"makan pecel Lele aja kali, biar aku beliin" sebelum ibunya mengatakan apa yang diinginkan Anton sudah menjawab terlebih dahulu.


"iya mana lagi ingin makan lele bakar"sahut ibu mertuanya menyetujui usul anaknya itu.


Riri memberikan uang pada Anton untuk membelikan makanan dan berpesan juga untuk membelikan ayam bakar untuk Reza.


"aku mandi dulu mah.." Riri pamit dan Reza mengikuti bundanya ke kamar dan bermain di kamar, sambil menunggu Riri selesai mandi.


Selesai Riri mandi, Reza mendekati ibunya itu.


"bunda....kapan bunda pergi, aku ikut boleh??" Riri sempat terkejut dengan perkataan anaknya ini, ya walaupun usia masih terlalu dini, tapi ia bisa dibilang sangat peka terhadap sekitar.


"yah...aku ga apa-apa bunda, asal deket bunda" miris rasanya hati ini Tuhan, kenapa sekarang aku jadi berat sekali meninggalkan anakku padahal ini urusan pekerjaan.


"memangnya kenapa sayang kan ada nenek disini, nanti juga ada Tante Dina yang akan jaga Reza disini" ujarku sambil memegang dua tangan mungilnya itu seakan memberikan kekuatan


"bener Tante akan kesini??" wajahnya yang tadi muram seketika menjadi ceria kembali mendengar kakak ku akan datang untuk menjaganya


anak sekecil Reza ternyata sudah bisa merasakan kehangatan orang-orang yang menerimanya dengan tulus atau tidak, sejak Reza lahir dan berinteraksi dengan ibu mertua dan juga keluargaku dia lebih merasa nyaman dengan keluargaku, meskipun Reza belum mengerti dilema yang aku jalani saat bersama mereka yang hanya dijadikan tulang punggung untuk memenuhi semua kebutuhan hidup mereka, sejak aku masih gadis bahkan setelah Reza lahir pun tanggung jawab itu masih tetap disematkan padaku dan tidak boleh dihilangkan.


------

__ADS_1


Pagi ini aku sengaja mengantarkan Reza bersama dengan Anton karena setelahnya Anton mengantarkan ku ke Bandara.


ibu mertuaku sudah dijemput oleh suaminya kemarin malam setibanya aku dari membeli oleh-oleh untuk klien ku di kupang.


kakak ku baru akan tiba di kota ini 2 hari lagi karena memang ada urusan yang harus dia kerjakan.


aku berpamitan pada Reza dan juga wali kelas anakku di paud, sekaligus aku memberitahukan bahwa selama 1 Minggu ini akan ada tantenya yaitu kakakku yang mungkin akan menjemput dan mengantar Reza sekolah, aku tak lupa berpesan pada Reza agar tetap semangat dan aku berjanji tiap malam akan menelponnya agar kangen kami terobati.


setelah berpamitan Anton dan Riri berangkat menuju Bandara.


"tolong nanti anaknya lebih diperhatikan ya...selama aku tidak ada" Riri membuka percakapan terlebih dahulu sambil mengecek email dari ponselnya.


"ya.." hanya jawaban itu saja yang bisa aku terima.


"apa ada masalah?" tanyaku yang melihat sikap Anton belakangan ini mulai berubah.


"masalah apa? tidak ada masalah apapun" jawab Anton sekenanya.


Riri sudah malas untuk bertengkar, terlebih lagi dirinya akan meninggalkan mereka untuk waktu yang terbilang cukup lama, Riri tidak ingin hal ini malah mengganggu komunikasi antara Riri dan Reza untuk beberapa waktu kedepan.


sejak ulang tahun Reza, kesibukan Riri semakin meningkat, dan itu menyebabkan Riri sering merasa lelah saat sampai dirumah, hingga terkadang ia menolak ketika Anton menginginkan dirinya untuk menjalankan kewajibannya memberikan nafkah batin.


hal itu berjalan Minggu ke Minggu hingga saat ini, Riri masih tidak menyadari bahwa hal itu menjadi masalah buat Anton, karena selama ini memang Anton bukan orang yang mudah berkomunikasi dengan baik untuk menyelesaikan masalah, dan Riri juga bukan orang yang peka terhadap hal sensitif tersebut, karena Riri menganggap sebagai suami yang membiarkan istrinya ikut mencari nafkah harusnya bisa menerima ketika istrinya sangat kelelahan, ditambah lagi Anton tidak pernah membantu mengerjakan pekerjaan rumah, atau berbagi pekerjaan untuk mengajak Reza main atau menyiapkan kebutuhan Reza sehingga Riri terkadang merasa kewalahan dan kelelahan sendiri, kalau Riri protes ujungnya malah akan menjadi pertengkaran dan membuat mereka tidak bertegur sapa selama beberapa hari.


jadi kali ini Riri berusaha untuk bersikap tenang menghadapi Anton yang menurutnya sangatlah kekanak-kanakan dalam menghadapi masalah.


mobil kami pun ter pakir sempurna di lobby keberangkatan, Anton membantu menurunkan koper dan tas belanjaan yang kemarin aku beli untuk klienku.

__ADS_1


"aku pamit berangkat dulu ya" Riri mencium punggung telapak tangan suaminya


Anton menanggapi sambil lalu, terkadang Riri ingin sekali seperti pasangan lainnya yang kala berpisah baik itu dekat maupun jauh, Anton mengecup keningnya, namun rasanya itu hanyalah mimpi di siang bolong, Anton tidak pernah melakukannya, bahkan ketika mereka bepergian diluar rumah Anton selalu jalan lebih dulu atau jalan menggandeng Reza saja, dan meninggalkan Riri berjalan dibelakang mereka, Anton tidak pernah menunjukan sikap romantis layaknya suami istri, seolah ia begitu malu memiliki istri seperti Riri.


__ADS_2