
Dalam kehidupan berumah tangga terkadang adanya pihak ketiga dapat berpengaruh baik bahkan juga buruk,. tergantung sejauh mana pihak tersebut mampu berpijak tanpa harus menyulut api salah satu dari pasangan yang bermasalah.
Begitu juga dengan pasangan suami istri yang harus bisa saling percaya, mendukung, dan menopang satu sama lain saat salah satu diantara mereka ada yang terjatuh. hal ini tentu saja tidak berlaku untuk pasangan Anton dan Riri bahkan Kini status mereka pun tak jelas.
Berjuang sendiri mempertahankan pernikahan demi anak menjadi alasan klise bagi sebagian perempuan di dunia ini, tidak sedikit pula yang mencemooh mereka dengan mengatakan bodoh, naif, munafik dan lain sebagainya.
Tidak sedikit pula dari para perempuan pejuang pernikahan ini yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi, ada juga yang berasal dari keluarga kaya, bahkan perempuan biasa yang mencoba berpikir rasional untuk bertahan karna merasa tak mampu secara materi, sebenarnya, tidak ada yang salah pada mereka, semua terjadi dan mereka lakukan atas ikatan cinta yang mereka ikrar kan bersama dengan pasangannya dan janji setia sehidup semati yang begitu meresap di kalbu hingga tak percaya bahwa hati yang lain telah berkhianat.
Dan atas dasar pemahaman diatas pula yang menyebabkan perempuan seperti Riri mencoba bertahan dalam lingkaran badai yang mungkin sebentar lagi akan menghantam dan menggelungnya menjadi satu menuju kehancuran ataukah bertahan demi mempertahankan indahnya sajak yang bertalu-talu dalam kalbu bahwa "akan ada pelangi setelah hujan"
Manusia membuat rencana dan angan-angan, namun takdir adalah rencana yang telah di garis kan untuk manusia sebelum lahir menjadi seonggok daging dengan kisahnya dalam dunia nyata.
Riri duduk disudut cafe l*******n nya tepat di samping jendela kaca yang menghadap kearah luar, dari sini ia bisa melihat pemandangan lalu lalang orang berjalan dan juga taman kecil tempat beberapa pasangan muda bercengkrama melepas rindu dengan pasangan masing-masing.
sambil menyesap coffee latte kesukaan nya lamunan Riri kembali pada beberapa waktu lalu sejak ia bertemu dengan seorang laki-laki bule paruh baya yang sedikit banyak mengubah pandangan Riri dalam menghadapi kemelut rumah tangganya dan juga peperangan batin antara melepaskan atau terus bertahan, lelaki paruh baya itu memang kerap kali Riri jumpai di cafe tersebut bila ia sedang melakukan meeting ataupun sekedar kangen dengan kopi pavoritnya di cafe itu.
flashback***
__ADS_1
"Hai...boleh saya duduk disini?" suara Barito yang berat mengalun di pendengaran Riri
"hmm...karena kau bisa liat sendiri cafe ini tidak seperti biasanya, semua kursi sudah ada pemiliknya dan kebetulan kursi di hadapan mu ini masih kosong" seulas senyum ditampilkan oleh lelaki itu,
bisa Riri tebak kemungkinan usianya menjelang 50 th an, namun garis ketampanan dari pria bule ini tidak perlu diragukan lagi.
"ah... kenal kan, nama ku max" sambil menyorongkan tangannya dan membuat Riri pun terhenyak dan menjadi salah tingkah karena jujur saja Riri merasa aneh dengan pria ini karena sangat fasih berbahasa.
*aah....iya maaf, silahkan..." sambil mengangkat tas laptop dan juga blazer yang sengaja ia letak kan di kursi dihadapannya.
"sepertinya kau sengaja menutupi kursi ini agar tidak ada orang yang duduk disini kah?" dengan nada menggoda pria ini pun duduk dengan sangat pelan seperti slow mode dalam penglihatan Riri.
menyadari bahwa Riri terlihat belum nyaman saat berbicara maka max berinisiatif untuk memberi waktu pada Riri untuk rileks
"oh ya...kita belum berkenalan dengan benar, aku max dan kau....? laki-laki itu menggantungkan ucapannya berharap Riri dapat meneruskan sisanya.
"Riri... namaku Riri, senang berkenalan dengan mu paman" seraya mengayunkan tangannya untuk berkenalan dan disambut oleh laki-laki itu sambil terkekeh geli melihat kelakuan Riri, karena memanggilnya paman, ia menyukai wanita ini, mengingatkannya pada sosok anak dan juga kehidupan masa lalunya yang telah ia tinggalkan Demi mencari kebahagiaan.
__ADS_1
Riri masih merasa kaget dengan kejadian yang tiba-tiba ini karena bila lawan bicaranya hanya orang lokal yg memang berniat berurusan dengan pekerjaan atau orang iseng, Riri dengan mudah untuk mengatur ekspresi nya dalam mode datar, namun entah kenapa aura yang diberikan lelaki paruh baya ini membuat Riri merasa gemetar.
akhirnya tidak butuh waktu lama untuk mereka saling bercengkrama hingga tersadar bahwa diluar hujan cukup deras, wajar saja cafe ini menjadi sangat ramai, hingga akhirnya pembicaraan mereka berdua menjadi cukup berat, entah kenapa Riri merasa nyaman untuk bercerita, karena sosok max yang kebapakan membuat Riri merasa nyaman.
secara garis besar max mengetahui ada hal yang sedang menjadi beban wanita dihadapannya ini, sebagai orang yang pernah merasakan peliknya kehidupan hingga max akhirnya memutuskan meninggalkan kehidupannya dan bisa berada dan menetap di kota ini semua karena peliknya kehidupan yang ia hadapi, yang max inginkan adalah mencari kebahagiaan nya sendiri, tanpa merasa beban, tanpa merasa tekanan, max ingin terbebas dari itu semua dan kunci kebebasan itu telah ia dapatkan dengan cara belajar mencintai diri sendiri, tau yang di inginkan dan di butuhkan oleh diri sendiri.
"ri, nice to talk with you...., lain waktu kita sambung ya, aku hanya ingin berpesan padamu, meskipun tidak kau ceritakan, aku bisa tau kalau hatimu sedang tidak baik-baik saja, saran ku dear...cobalah berdamai dengan hati dan pikiran mu, cintai dan sayangi dirimu baru kamu bisa mencintai dan menyayangi orang lain, jangan berlarut-larut dalam kesedihan karena itu menyesakan, gali potensi diri, mulai lakukan hal yang kamu sukai, kau pasti temukan bahagia" max menepuk bahu Riri setelah mengeluarkan kata perpisahan yang teramat menyentuh hati Riri, seolah dia menemukan kembali sosok ayah dalam diri max.
"thanks max, senang bisa berbagi cerita, semoga kita ketemu lagi ya" jawab Riri sambil berdiri dan menjabat tangan max.
"ya dear...kamu hati-hati ya, aku pulang dulu, hujan juga sudah reda" max pun segera beranjak dari tempatnya setelah mendapatkan senyuman cerah dan anggukan dari Riri.
flashback off***
'berdamai dengan hatimu dan lakukan hal positif' gumam Riri, ia teringat kembali sosok max yang entah kenapa sudah beberapa waktu tidak lagi ia temui di tempat itu padahal Riri sudah beberapa kali sengaja datang hanya untuk bisa bertemu dengan max.
kata-kata max dan rintik hujan tepat di depan cafe membuat Riri semakin yakin bahwa ya ..ia akan melakukan pesan max untuk berdamai dengan hatinya.
__ADS_1
Riri akan berusaha merubah mindsetnya bahwa bahagia itu datang dari diri sendiri bukan orang lain, selama ini Riri merasa tidak pernah merasakan bahagia, karena selalu bergantung dan berharap kepada Anton agar bisa memberikan kebahagiaan untuk Riri.
dan Riri selalu mengalah demi melihat orang sekitarnya bahagia, hingga ia lupa bahwa ia pun berhak untuk bahagia.