
Surga seorang istri ada pada suami, meskipun Anton tidak memperlakukan Riri dengan baik,. namun Riri yakin, bahwa ini hanyalah ujian yang Tuhan berikan untuk memperkuat keimanannya, dan menjadi pribadi yang lebih baik.
Sejak pertemuan dengan Bu Ratna, Riri mulai mengurutkan kejadian demi kejadian yang terjadi dalam kehidupan rumah tangganya selama ini, akhirnya ia sadari bahwa dirinya pun ikut andil dari segala permasalahan rumah tangga yang terjadi.
Sejak menikah dengan Anton, Riri yang memang telah terbentuk sebagai wanita mandiri dan juga memiliki kemampuan menjadi tulang punggung keluarga saat kedua orang tuanya dulu sudah tidak mampu menghidupi anak-anaknya, Riri menjadi lupa akan statusnya sebagai seorang istri yang harus menghargai dan menghormati suami sebagai kepala keluarga yang kodratnya adalah memberi nafkah.
Setelah memiliki pekerjaan dan berhasil membawa diri dalam kesuksesan finansial yang membuat posisi Riri berada lebih tinggi dari pada Anton membuat sikap Riri tanpa disadari menjadi berubah, Riri yang dulu selalu menuruti apapun permintaan Anton menjadi sedikit membangkang karena Riri menggunakan sudut pandang penanganan keuangan yang efisien dan menurut Riri terkadang keinginan Anton terlalu tinggi melebihi kemampuan finansialnya.
Disisi lain Anton merasa bahwa ruang geraknya selalu dibatasi, rasa tertekan dan minder juga menjadi salah satu pemicu yang menyebabkan Anton tidak suka melihat kesuksesan yang dimiliki istrinya, sisi laki-laki nya merasa terusik dengan keberadaan Riri yang memiliki dan mendapati sesuatu lebih dari apa yang Anton dapatkan.
Sudah merupakan hal yang lazim terjadi saat perempuan berumah tangga dihadapkan pada peningkatan karier maka kehidupan percintaannya menjadi terganggu.
Komunikasi dan kejujuran dari kedua belah pihak sangatlah penting dalam kasus seperti ini, apalagi disaat kondisi krisis ekonomi maupun adanya pandemi, hampir sebagian perempuan atau istri yang memiliki peran dalam pertahanan ekonomi keluarga, tidak sedikit kepala keluarga yang tidak mampu bertahan akhirnya terkena banyak penyakit, tidak sedikit juga mengalami gagal jantung, stroke, dan juga depresi.
Komunikasi adalah hal yang tidak dimiliki oleh Riri dan Anton saat awal berumah tangga hingga rumah tangga mereka rentan dimasuki pihak-pihak lain, anak bukanlah menjadi satu-satunya tujuan mereka bertahan agar tidak melihat pria ataupun wanita lain.
Renungan demi renungan mengenai masa lalu Riri kembali menari-nari dalam pikiran Riri hingga suara Bu Ratna membuyarkan lamunannya.
"Nak Riri....melamun lagi hmm?" Bu Ratna datang dengan secangkir teh dan camilan pisang goreng untuk menemani mereka di sore hari ini.
__ADS_1
benar...saat ini Riri berada di rumah ibu Ratna, untuk bertukar pikiran disaat tidak adalagi keluarga ataupun orang yang dekat yang bisa diajak bertukar pikiran dengan kondisi yang dialami Riri, Tuhan seperti mengirimkan malaikat dalam wujud wanita paruh baya seperti ibu ratna untuk membantu Riri saat jiwanya telah lelah, dan sempat terbesit ingin pergi jauh meninggalkan semuanya termasuk anaknya yang rencana akan ia serahkan sepenuhnya untuk Anton jaga.
"eh....iya Bu..heheheh" Riri menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan semburat merah melaju ke pipinya karena malu tertangkap basah oleh Bu Ratna karena sering melamun.
"minumlah dulu nak, setelah ini mari kita bercerita" tutur Bu Ratna lembut.
Riri menyeruput teh yang di sediakan Bu Ratna rasa hangat menjalar di kerongkongan Riri dan juga perasaan tenang menyelimuti hati Riri saat ini.
"Bu...saya dari tadi tidak lihat ada orang didalam rumah, pada kemana??" tanya Riri setelah menikmati beberapa teguk teh yang dibuat oleh Bu Ratna.
"Alhamdulillah anak-anak saya mondok nak, kalau suami saya sedang isi kajian dan kemungkinan baru nanti malam kembali"jawab Bu Ratna.
"kapan saya bisa seperti ibu ya" gumam Riri yang masih bisa di dengar oleh Bu Ratna.
"setiap manusia memiliki jalannya masing-masing nak, apa yang ibu jalanin saat ini adalah apa yang kamu lihat saat ini, kamu tidak melihat proses dulu saat kami berjalan menuju tahap yang saat ini kamu lihat" jelas Bu Ratna pada Riri.
ya manusia hanya bisa melihat seseorang dari jadi apa mereka sekarang tanpa mengetahui prosesnya yang mereka hadapi dulu untuk mencapai pada tahap yang terlihat oleh orang lain saat ini.
"ah....yaa..ibu benar, mungkin jalan hidup saya harus melalui ujian yang demikian rumit untuk mencapai sesuatu yang nantinya bisa dibanggakan oleh saya yang akan datang pada saya dimasa sekarang ya Bu??" tanya Riri.
__ADS_1
"nah itu nak Riri mulai memahami bagaimana skenario Tuhan bekerja kan?"" tanya bu Ratna sambil tersenyum.
"iya Bu...tapi tetap saya butuh masukan dari ibu untuk langkah apa yang harusnya saya lanjutkan kedepannya" jawab Riri pada Bu Ratna.
"Baiklah nak, mari kita mulai, dari mana nak Riri ingin membahas, dan bila nanti saya bisa membantu semoga apa yang saya sarankan dapat menjadi manfaat bagi kehidupan nak Riri kedepannya ya" tutur Bu Ratna lembut.
"iya Bu.... pasti, semoga saya mendapat jalan keluar agar hati saya bisa lebih tenang" jawab Riri antusias.
Akhirnya mereka larut dalam cerita permasalah yang dihadapi Riri, dari sejak ia menikah sampai dengan saat ini, dan bagaimana rasa dari hatinya saat ini kepada suami, anak, mertua dan saudara, lingkaran itu yang membuat semuanya berhubungan, hingga terkadang Riri merasa tertekan sendiri akibat tindakan dari mereka semua.
Bu Ratna mendengarkan dengan cermat tanpa ada sedikitpun cerita yang dilewatkan, Bu Ratna sangat prihatin mengetahui bahwa Riri dulu adalah perempuan yang menjalankan syariat agama, walau tidak sepenuhnya lengkap namun cukup konsisten dalam hal waktu dan moment, namun sejak menikah bukannya dirinya di tuntun agar lebih dekat ke surga oleh sang suami malah kebalikannya, Riri dibuat menjauh dari kebiasaan yang sudah ia lakukan selama ia gadis.
Hampir tiga jam lebih Riri menceritakan semua permasalahan hidupnya yang telah ia lalui, dan kini sudut mata Riri mengalir cairan bening yang tidak mampu lagi ia bendung, namun ada secercah kelegaan dihatinya setelah menceritakan kegundahannya selama ini.
"minumlah lagi teh nya nak, agar kamu menjadi lebih baik" tawar Bu Ratna dengan tangan yg satu mendarat di punggung Riri dan mengelus lembut memberikan kekuatan batin pada Riri.
"Terima kasih sudah mau mendengarkan kisah saya Bu, saat ini saya benar-benar tidak tahu lagi harus kemana dan bagaimana" Riri tertunduk sambil mengatur nafasnya yang tadi tidak beraturan karena sesak teringat apa yang telah ia lalui.
"semua hal yang terjadi pasti ada campur tangan Tuhan nak, seperti saat ini, saya mendapat amanah untuk membantu nak Riri" senyum meneduhkan dari wajah Bu Ratna membuat hati Riri menghangat.
__ADS_1
"Banyak hal yang bisa dilakukan setelah ini nak, namun hal yang paling penting saat ini adalah cobalah untuk menerima segala ujian yang diberikan ini bukan sebagai suatu masalah namun sebagai suatu proses untuk kehidupan yang lebih baik kedepannya", jelas ibu ratna pada Riri.