
"aku mengerti, aku hanya ingin sekali mengajakmu dan anakmu berlibur di negaraku suatu saat nanti" kata Neves lirih.
Neves mengerti bahwa Riri sosok yang memegang teguh prinsip, itulah yang membuat Neves ingin datang menemui nya saat penugasannya ke negara Riri.
Neves adalah duta ambasador untuk negara turki, ia suka melakukan perjalanan dari negara ke negara lain, dan kali ini Neves kedapatan bertugas ketempat yang memang ingin ia tuju setelah mengenal Riri.
Riri akhirnya harus segera menutup percakapan tersebut, karena ia tidak ingin terlibat lebih jauh dengan perasaan Neves kepadanya. setelah Riri memutuskan sambungan telepon tersebut Neves mengirimkan sebuah pesan yang langsung Riri hapus karena tidak ingin terjadi konflik dalam rumah tangganya.
"I am sorry dear...i hope we can be more than just a friend.."
begitu isi pesan pendek dari Neves,. dan bersamaan itu pula Lila masuk membawa sebuah kotak persegi empat yang tidak terlalu besar.
"Bu..ada paket, tapi keren ini Bu alamatnya dari luar negeri" ucap Lila penuh semangat.
Riri yang melihat nama pengirim dan tau betul itu dari siapa menatap malas pada Lila.
"letakan saja disana la...kalo mau kamu buka aja".
"loh apa ini dari si bule yang sering telepon ibu ya?" tanya Lila semangat.
"yeaa..."jawab Riri malas.
Lila pun membuka paket tersebut karena penasaran dengan hadiah dari bule yang suka menghubungi atasannya itu.
dan setelah melihat isinya Lila seperti orang yang menemukan harta Karun
"Buuuu ....."teriak Lila.
Riri yang sedang konsentrasi dengan laptopnya sampai terkejut.
"La.....come on....bikin kaget aja sih" omel Riri karena jantungnya serasa mau copot.
"hehehe...suprise Bu..ini coba liat...eh ada suratnya juga bu...cie..cie...kayaknya surat cinta tuh Bu"goda Lila.
Riri segera merampas surat tersebut dan melirik isi paket yang ada didepan Lila.
"cie....mau juga si ibu...tadinya jual mahal" Lila terus saja menggoda atasannya, ia tahu dengan hubungan antara atasannya dengan suaminya memang tidak harmonis, karena sempat Riri kedapatan sedang menangis diruanhan setelah bertengkar dengan suaminya.
Riri segera membuka surat dari Neves tersebut.
//semoga kamu suka dengan pashmina itu, aku akan datang menjumpai mu semoga kau mau menemui ku dan pakailah pashmina itu saat kita bertemu
dari seseorang yang mengagumimu
neves//
begitulah isi surat tersebut, Riri terduduk lemas..., andai saja ia tidak bersuami mungkin saat ini ia akan berjingkrak tidak karuan karena mendapatkan kejutan yang sederhana tapi membuat hatinya begitu berbunga-bunga.
perempuan mana sih yang tidak suka jika diperlakukan dengan istimewa, begitulah kiranya perasan Riri saat itu.
"Bu...ibu baik-baik saja kan??" tanya Lila khawatir melihat Riri yang langsung menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata setelah membaca surat dari Neves"
__ADS_1
"bacalah la...." menyodorkan surat tersebut kepada Lila.
"wooow...luar biasa ini Bu...aduh saya jadi terharu, beneran bu dia mau kesini?" tanya Lila penuh harap.
"entahlah la...aku juga tidak mau berharap lebih, semoga saja itu tidak terjadi, kau bawalah pashmina itu...kalau kau mau".
ucap Riri dan kembali fokus pada laptop yang ada di depannya.
"Bu...maaf bukan saya lancang, ada baiknya jika ibu kembalikan ke pemiliknya langsung bila benar dia kesini, saya akan simpan di laci saya ya" ucap Lila dan menyimpan kotak tersebut di laci bawah mejanya
Riri sudah tidak bisa berpikir lagi, dia ingin segera pulang dan bertemu dengan Reza agar bisa melupakan ini pernah terjadi.
------
Seminggu berlalu dan Riri sudah mulai mengurangi intensitas menjawab pesan dari neves meskipun Neves mengatakan bahwa ia akan ke negara Riri untuk urusan pekerjaan dan setelahnya akan menemui Riri di kota tempat tinggal Riri.
Riri sendiri bingung harus bagaimana, karena ia sendiri tidak berani untuk bertemu dengan Neves karena Riri khawatir jika sampai mereka bertemu, Neves akan melakukan hal yang mungkin tidak pernah Riri duga sebelumnya seperti saat ia dengan santainya mengatakan akan mengunjungi Riri saat urusannya selesai.
drt...drt...
//halo Ri, apa kabar?"
pesan singkat tanpa identitas dari nomor yang tidak terdaftar di ponsel Riri.
"siapa lagi sih" gumam Riri sambil melihat Lila yang memasuki ruangan.
"La...saya besok selama 2 hari akan ada dinas ke kota xx,. nanti tolong semua yang ada disini di handle kamu ya, kalau masalah teknis serahkan ke Jaya, kalau ada hal yang urgent kabari saya ya.." ucap Riri sambil mengambil beberapa dokumen dan ia tandatangani.
"oke La...thanks, banyak sekali yang baik sama saya..." sambil tersenyum.
"habis ibu gemesin sih...sayang office kita pindah sini, coba kalau masih di xx pasti ibu bakal dikejar-kejar sama brondong...hahahah" Lila tidak tahan geli mengingat atasannya pernah di kejar oleh laki-laki yang lebih muda.
"puas...La..?? terus aja godain saya..biar seneng" kata Riri sambil merenggut
tak berapa lama ponsel Riri berbunyi, nomor yang tadi mengirim pesan, Riri tidak langsung mengangkatnya dia malas sekali kalau mendapat telpon dari yang tidak dikenal, apalagi sekarang karena pekerjaan yang mengharuskan Riri mengangkat semua telpon masuk yang mungkin saja berkaitan dengan komplain dari pihak klien, akhirnya setelah bunyi panggilan berikutnya dari nomor yang sama tersebut Riri pun mengangkat.
"haloo.." Riri menjawab panggilan tersebut, tidak ada suara di seberang sana, aneh pikirnya.
"haloo.." sekali lagi Riri mencoba untuk lebih mendekatkan telinganya ke ponselnya.
tiba-tiba sambungan diputus.
"orang aneh kata Riri" gumam Riri.
"siapa Bu?" tanya Lila yang melihat wajah Riri berubah kesal.
"entahlah La....ada yang telepon tidak ada suaranya" saut Riri.
"hiiy....masa ada hantu siang bolong Bu" tanya Lila dengan wajah ketakutan,. Riri yang melihat pun tertawa meringis
"Lila... Lila...udh gede kok takut hantu" masih terus meringis sambil memegang perutnya karena lucu melihat eksper wajah Lila yang langsung berubah seperti orang melihat hantu.
__ADS_1
-----
keesokan harinya Riri sudah berada di kota xx dengan penerbangan dini hari karena hari ini ia akan rapat dengan kliennya di kota tersebut terkait pembukaan cabang baru, kali ini presentasinya di dampingi oleh GM dari kantor pusat yang sudah janji ketemu di lokasi.
sedangkan di tempat Riri bekerja, tampak seorang lelaki bertubuh tinggi dengan penampakan seperti Obama, tiba-tiba berada di depan pintu ruangan Riri.
Staf Riri yang berada di luar ruangan tersebut segera menghampiri karena sedari tadi dilihat lelaki tersebut seperti ragu-ragu ingin masuk kedalam ruangan kepala cabangnya tersebut.
"maaf, apa ada yang bisa dibantu" tanya staf tersebut sopan, ini bukan presiden Amrik nyasar kemari kan batin si staf tersebut
"oh....sory..can you speak English?" tanya pria itu.
"ah matik gw..kagak ngarti yang dia bilang?" sambil menepuk dahinya.si staf langsung mengetuk pintu ruangan Riri dan Lila langsung segera keluar.
Lila pun keluar dan bingung melihat ada penampakan Obama di depan ruangannya.
"maaf ada yang bisa dibantu? kata Lila
menghela nafas dan akhirnya lelaki itu berkata dengan cengkok bulenya
"maaf apa saya bisa bertemu Riri?" tanyanya sopan.
"Bu Riri, oh mari silahkan masuk dulu pak" lanjut Lila mempersilahkan masuk dan menyuruh staf yang sedari tadi masih berdiri mematung itu untuk mengambil minum.
pria itupun Duduk sambil memperhatikan seluruh ruangan.
"maaf pak, saya boleh tau ada keperluan apa dengan bos saya?" tanya Lila hati-hati
"anda...?" tanya pria tersebut terhenti saat Lila mengulurkan tangannya.
"Lila, saya admin nya ibu Riri, tapi mohon maaf ibu saat ini sedang dinas ke luar kota" lanjut Lila menjelaskan.
"*****" gumam pria tersebut
"maaf pak??" tanya Lila memperjelas umpatan pria tersebut.
"oh maaf, saya hanya kecewa tidak bisa bertemu dengan Riri, padahal saya ingin membuat kejutan padanya" lirih pria itu berkata.
Lila menatap bingung dan segera di ketahui oleh pria tersebut.
"oh maaf saya Neves,. Claudino Neves" jawab pria tersebut cepat
"apakah Riri akan kembali segera" tanya Neves.
Lila langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan tanda tidak percaya bahwa orang yang sering berkomunikasi dengan atasannya tersebut ada di depannya saat ini, tapi kenapa kebetulan sekali tidak dipertemukan...ah sungguh terlalu....
"nona..."tanya Neves membuyarkan lamunan Lila.
"oh maaf pak.., Bu Riri dinas luar kota dalam waktu yang belum di tentukan, apa bapak mau saya hubungi beliau" tanya Lila.
"tidak perlu, nanti saya akan hubungi langsung,. terima kasih atas waktunya, permisi nona" ucap Neves sopan.
__ADS_1
tidak lupa ia memberikan buah tangan kepada Lila untuk diberikan kepada Riri yang sudah ia bawa dari negaranya.