
Mobil yang dikendarai Riri melaju membelah keheningan malam, bulir bening dari sudut mata Riri, tidak lagi dapat ditahan, Riri memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, merasakan sesak yang amat dalam, merasa ketidakberdayaan atas semua sikap Anton, apakah ia mencintai orang yang salah, apakah ia tidak akan pernah merasa bahagia, kenapa tuhan begitu jahat pada Riri.
segala macam pikiran berputar di kepala Riri hingga sekelebat seseorang menyebrang jalan dan hampir saja Riri menghilangkan nyawa orang lain dengan tindakan kebut-kebutan nya yang tak berfaedah itu.
'ckkiiiitt'
mobil Riri hampir saja menabrak pohon besar, untung saja Riri masih sempat tersadar dan dapat mengontrol dengan baik hingga kendaraan yang ia kendarai tidak sampai menabrak maupun terjungkir karena hilang keseimbangan.
Riri segera keluar dan berlari menghampiri, seorang ibu setengah baya dengan hijab panjang yang menutupi hampir seluruh tubuhnya.
wajah tegang, kaget tercetak di wajah wanita berhijab itu, namun sejenak setelah pandangan mereka bertemu wanita itu memberikan senyuman kepada Riri seolah tidak terjadi apa-apa.
"maaf....maaf..maafkan saya ya Bu" pinta Riri berkali-kali masih dengan beberapa bulir air mata yang menetes dari sudut matanya.
"tidak apa nak..., Alhamdulillah ibu masih baik-baik saja, hanya kaget tadi" suara lembut dari wanita paruh baya ini begitu menyejukkan hati dan membuat hati Riri menghangat.
"kamu tidak apa-apa?" tanya wanita itu lagi.
Riri hanya bisa menggelengkan kepalanya mencoba memberitahu bahwa ia baik-baik saja, dan wanita itu tersenyum.
"kamu tidak baik-baik saja nak, mari kita periksa apakah mobilmu baik-baik saja" seru wanita tadi
__ADS_1
"ah...iya Bu ..mari, oh iya ibu mau kemana atau dari mana?" tanya Riri sambil mereka berjalan bersisian, menuju mobil Riri.
"ibu habis isi taklim nak di kompleks perumahan disebelah sana, cuma karena ada yang minta saran dan nasihat seputar permasalahan nya akhirnya ibu sudah kemalaman dan tidak ada angkutan umum lagi yang lewat" jelas si wanita itu panjang lebar.
"oh ..kalau begitu mari Bu, saya antar saja, seperti nya mobil saya aman" tawar Riri
"nanti ibu merepotkan tidak?" sahut wanita itu
"anggap saja sebagai permohonan maaf saya yang tidak sengaja mau menabrak ibu tadi" ucap Riri tulus.
"baiklah nak.., tapi sepertinya kamu sendiri juga punya masalah ya?? mau berbagi dengan ibu? mungkin bisa sedikit meringankan beban dihati kamu, karena ketika masalah di simpan tanpa dikeluarkan ataupun di ikhlas kan maka rasanya akan sesak dan itu tidak enak nak" ucap wanita itu tulus seperti memahami apa yang sedang Riri pikirkan.
"sedari tadi kita belum berkenalan nak, nama ibu Ratna" sambil mengulurkan tangannya.
"Riri" menerima uluran tangan dari Bu Ratna.
"ibu tidak meminta kamu menjelaskan permasalahan mu pada ibu, karena kita baru saja kenal, namun ibu ingin mengingatkan sesuatu, bahwa ketika kamu dihadapkan pada suatu masalah, hendaknya kamu hadapi dan memohon solusi melalui ikatan batin dengan sang maha membolak-balikkan hati dan juga yang maha mengatur segalanya, bukan berlari, menumpahkan segala kekecewaan, amarah, kesedihan dengan jalan seperti tadi, karena bukan hanya kamu yang akan celaka, orang lain yang tidak tahu apa-apa juga bisa ikut celaka, contohnya saya tadi" ucap ibu itu pelan namu mengiris hati Riri begitu pedih
benar apa yang dikatakan Bu Ratna, bahwa masalah seharusnya dihadapi dengan berserah dan mohon solusi pada si maha pengatur yaitu Tuhan...
entah ada dorongan dari mana atau memang jalan hidup manusia tidak pernah ada yang tahu kecuali sang maha mengatur kehidupan, terkadang manusia ingin akhir yang sederhana dengan meninggalkan masalah agar mendapat bahagia, tapi bisa jadi Tuhan ingin ia bertahan dalam masalah agar menjadi manusia yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih bisa menghargai diri sendiri dan juga orang lain.Akhirnya mengalirlah cerita Riri tentang garis besar masalah yang dihadapinya, bagaimana masalah ini mengombang-ambingkan dirinya seperti kapal yang berjalan sendiri di tengah lautan tanpa tahu arah dan tujuan.
__ADS_1
"Nak...hidup memang penuh dengan lika liku..., apa yang kita inginkan terkadang bukan lah yang kita butuhkan, esensi mencintai dan bahagia bukan pada kepada mahluk kamu bisa mencintai lebih banyak dari pada kamu mencintai sang pencipta, dan bahagia bukan pada apa yang telah kamu terima sebagai nikmat dan fokus bersyukur terhadap nikmat apa yang telah didapat, tapi bukan berarti lupa bersyukur kepada siapa yang memberi nikmat itu sendiri, Bahagia itu sederhana ketika hati telah pandai bersyukur dan berdamai dengan diri sendiri" Bu Ratna menggenggam kedua tangan Riri menyalurkan kekuatan atas emosi yang bergejolak di hati Riri saat ini.
"ibu melihat masalah yang kamu hadapi dari sudut orang yang berada di tengah-tengah, segala masalah itu jangan ditanya apa, kenapa dan mengapa, tapi mulailah bertanya dengan bagaimana, ketika kita bertanya apa, kenapa dan mengapa maka cenderung kita akan mencari objek untuk disalahkan bisa jadi kamu menyalahkan suami, atau orang lain, tapi apa setelah menyalahkan orang, masalah tersebut akan selesai? belajarlah bertanya bagaimana masalah itu terjadi, introspeksi diri dan berdamai dengan diri sendiri agar bisa menahan ego".
jawab Bu Ratna lugas
"kalau kamu mau, kamu bisa datang pada ibu, bukan untuk berkeluh kesah dan menceritakan masalah yang ada pada dirimu, tapi datang pada ibu untuk belajar bagaimana kamu bisa berserah dan belajar menceritakan semua masalahmu pada Tuhan" lanjut Bu Ratna kembali.
Riri benar-benar dibuat tidak bisa berkata-kata apapun lagi, kata-kata Bu Ratna terasa menampar wajahnya karena selama ini Riri hanya berpura- pura mengatakan bahwa ia baik, padahal dia tidak baik.
dan dia tidak pernah berusaha introspeksi dan berdamai dengan hatinya.
"Bu...ajari aku mengenal tuhan....lagi" seru Riri.
"tentu nak..., Tuhan itu begitu dekat dan dia rindu mendengar suaramu, maka perbaikilah semuanya mulai dari nol sebagai jalanmu berhijrah, semoga kelak kamu temukan dirimu dalam keadaan yang lebih baik dari pada hari ini" jawab Bu Ratna dengan senyuman.
setelah itu mereka mengobrol santai sambil mengenal satu sama lain sampai minuman mereka pun tandas tak bersisa, lalu Riri mengantar ibu Ratna kembali kerumahnya dan berjanji akan datang kembali untuk belajar lebih jauh agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik.
Terkadang manusia menganggap dirinya maha tahu segalanya, bisa segalanya namun sejatinya manusia itu banyak tidak tau nya namun menjadi sok tau demi membela harga diri.
dengan lika liku kehidupan yang dijalanin Riri, ternyata dia menemukan titik baliknya hari ini melalui tangan seseorang yang selama ini tidak pernah hadir dalam kehidupannya
__ADS_1