Aku, Kamu Dan Ibu Mertua

Aku, Kamu Dan Ibu Mertua
Saingan


__ADS_3

"APA YANG KALIAN LAKUKAN !!!?"


Fahri dan Bianca yang bersamaan masuk kedalam apartemen syok melihat pemandangan yang begitu intim antara Riri dan Edward, Bianca tanpa sengaja menjatuhkan tas belanjanya dan menutup mulut dengan kedua tangannya.


Riri yang terkejut dengan suara berat yang sangat dikenalinya itu tersentak dan segera duduk menjauh dari Edward, ia menundukkan kepalanya sambil meremas ujung gamis yang dipakainya. pikirannya sangat kalut tubuhnya sedikit bergetar, Riri merasa seperti ia ketahuan berselingkuh dihadapan Fahri dan itu membuatnya teringat kembali akan perselisihan Anton.


Bianca berlari mendekati Riri dan membantunya untuk berdiri.


Fahri masih berdiri didepan pintu masuk, kedua tangannya terkepal, matanya menatap tajam pada Edward.


"Bro...santai...ini ga seperti ya g Lo pikir" ujar Edward santai dan menghampiri Fahri yang masih setia menatapnya tajam seolah akan menelan Edward bulat-bulat.


"keluar Ed...." sahut Fahri penuh penekanan.


"tapi....."


"KELUAR" Kembali suara Fahri meninggi dan membuat Edward mengangkat kedua tangannya sedangkan Riri semakin gemetar mendengar teriakan Fahri.


"oke-oke gw keluar...., ri....sorry...gw pergi dulu" menoleh pada Riri dan mengangguk pada Bianca seolah menitip kan Riri pada Bianca.


Bianca segera membawa Riri ke dalam kamar, karena terlihat Riri syok dengan teriakan yang di lontarkan oleh Fahri.


"gw bukan b******n kayak dulu lagi bro..., gw mau berjuang buat dia" Edward berbisik pada Fahri sebelum dirinya keluar dari apartemen itu dan mendengar pintu tertutup keras dibelakangnya.


BRAAAK..


'sory Fahri...kali ini jika kita harus bersaing mendapatkan wanita yang sama aku akan berjuang' batin Edward sambil melangkah kan kakinya menuju lift yang mengantar dirinya ke halaman parkir.


Bianca masih berusaha menenangkan Riri yang sedari tadi mengatakan hal yang sama berulang-ulang setelah mereka berada di dalam kamar, Bianca yang tidak paham mengenai keseluruhan cerita kehidupan Riri pun menjadi bingung, ia hanya bisa menenangkan Riri atas apa yang terjadi barusan dan meminta Riri untuk beristirahat dan memejamkan matanya agar tertidur.

__ADS_1


Pandangan mata Riri kosong kedepan, tangannya masih bertautan dan bibirnya terus saja mengucapkan kalimat..


"aku ga selingkuh...aku ga selingkuh.."


Bianca menarik nafas dalam, sungguh ia menyesal meninggalkan Riri berdua dengan Edward, ia pikir sikap dan perilaku Edward telah berubah tidak lagi seorang player, karena ketika mereka bersama-sama melakukan terapi, Edward sama sekali tidak pernah bersikap kurang ajar, apalagi memaksa untuk memegang Riri secara langsung, semua terapi yang dilakukan Edward yang sifatnya harus bersentuhan dengan Riri, selalu diwakilkan oleh dirinya.


Fahri yang baru saja tiba di negara S dan bertemu Bianca di minimarket di lantai bawah saat ia mampir juga untuk membeli susu kesukaan Riri, akhirnya memutuskan untuk kembali bersama-sama dengan Bianca menuju apartemen, ia sangat kaget, marah dan kesal dengan apa yang ia lihat ketika pintu apartemen terbuka, ia pikir Edward menghargai pertemanan mereka namun ternyata Edward mengkhianatinya, entahlah, Fahri tidak mengetahui detail kejadian yang sebenarnya.


klek...


Pintu kamar Riri terbuka dan munculah Bianca yang melangkah keluar sambil menutup pintu dengan pelan, lalu menghampiri Fahri yang memang sedang memperhatikan gerak gerik Bianca sejak gadis itu keluar dari kamar Riri.


"dimana Riri??" tanya Fahri yang heran, mengapa Riri tidak ikut keluar bersama Bianca, apa dia malu atas kejadian tadi.


"hmm.....sepertinya mba Riri tadi Sangat syok dengan kejadian itu mas...." jelas Bianca.


"mba Riri,....dia mengatakan 'aku ga selingkuh,. berkali-kali mas...bahkan sampai ia memejamkan matanya tadi ia masih mengatakan hal itu" jelas Bianca tegas.


deg ....


'apa psikis Riri terganggu kah? tapi sepertinya selama ini komunikasi kami baik, apa ada yang salah?!' Fahri bergumam dalam hatinya.


"mas...apa ada yang aku tidak ketahui tentang mba...??" Bianca penasaran dengan masa lalu Riri, ia sangat ingin membantu Riri namun rasanya sulit karena selama ini Riri seperti menutup diri.


Fahri menyandarkan tubuhnya disandarkan sofa, ia memejamkan matanya sesaat, terlihat jelas lelaki ini memiliki banyak beban yang harus ia tanggung sendiri.


"apa dia sudah tidur?" Fahri membuka matanya dan menanyakan kondisi Riri.


"ya...ia sudah tidur mas..., aku masak dulu untuk makan malam kalau sudah selesai aku panggil, mas mau liat mba Riri??" tanya Bianca yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Fahri yang kemudian berdiri dan melangkah kearah kamar Riri yang disusul Bianca yang berjalan menuju dapur.

__ADS_1


Fahri membuka pintu kamar dengan lebar, ia tidak ingin menimbulkan fitnah dengan hanya berdua saja bersama wanita yang bukan pasangannya, hmm mungkin belum, tapi Fahri pastikan segera, ia akan memiliki Riri, meskipun harus bersaing dengan Edward ia tidak peduli, Riri tidak boleh jatuh ke tangan yang salah lagi.


Wajah tirus yang masih menggunakan hijab lengkap dibalut selimut hingga menutupi dadanya terlihat begitu damai, Fahri berdiri di samping ranjang milik Riri, ingin rasanya ia menggenggam tangan Riri dan memberikan kecupan pada kening wanita yang ada dihadapannya ini, namun Fahri sadar ia belum bisa melakukan itu karena status mereka sendiri sampai saat ini juga belum jelas.


Hampir satu jam Fahri hanya menatap lekat wajah Riri berharap Riri membuka matanya, entah apa yang ada didalam pikiran Fahri saat ini namun tanpa terasa air mata menetes di sudut mata Fahri.


Sikap Fahri tersebut tertangkap mata oleh Bianca, gadis itu makin yakin bahwa ada perasaan khusus antara keduanya yang tidak mereka sadari.


Bianca perlahan mendekati Fahri tidak ingin merusak atau mengganggu aktifitas Fahri saat itu.


Merasa ada orang yang mendekat, segera Fahri menghapus bulir bening di sudut matanya, lalu ia menatap kearah Bianca.


"makanan sudah siap mas...kita bangunkan mba Riri?" bisik Bianca takut Riri terganggu tidurnya, sedangkan Fahri menggelengkan kepala, dan berdiri menjauh dari ranjang Riri.


"kita makan duluan..." sambil berlalu di ikuti dengan Bianca yang dengan perlahan menutup pelan pintu kamar Riri.


"Mas Fahri....makan duluan ya.., aku mau membersihkan kamar agar mas Fahri bisa tidur dikamar, biar aku bisa tidur bareng mba Riri" Bianca hendak memutar balik langkahnya namun tertahan.


"tidak perlu Bi...., biar aku tidur di sofa saja, sama saja kok, kamu tidurlah dikamar mu ya.., lagi pula aku mungkin hanya 2-3 hari aja disini" jelas Fahri agar Bianca tidak perlu menyiapkan kamar yang sudah ditempatinya untuk di gunakan oleh Fahri.


"Hmm...baik mas" Bianca dan Fahri melanjutkan langkah mereka ke meja makan dan dalam diam mereka menikmati makan malam yang telah Bianca siapkan.


"apa bubur ini untuk Riri??" tanya Fahri yang melihat bubur yang masih di panaskan diatas panstove dengan api kecil.


"iya mas...tadi siang mba Riri Mina dibuatkan bubur Tim, karena mba Riri belum bangun jadi apinya Bianca nyalakan mas" jelas Bianca pada Fahri.


"boleh pindahkan di mangkuk bi...biar aku yang bawakan ini untuknya, sekalian aku juga ingin minta maaf"


pinta Fahri yang segera di jawab dengan anggukan kepala oleh Bianca.

__ADS_1


__ADS_2