Aku, Kamu Dan Ibu Mertua

Aku, Kamu Dan Ibu Mertua
Syarat Anton


__ADS_3

Hampir sebulan Anton mencoba mencari Riri dan berusaha untuk meminta maaf atas apa yang pernah ia lakukan namun usahanya sia-sia, Riri seperti hilang ditelan bumi, Anton bahkan rela menunggu seharian penuh di cafe Riri demi mendapatkan informasi mengenai keberadaan Riri namun bukan Riri yang ia temui namun seorang laki-laki yang jelas sangat Anton kenal saat laki-laki itu datang bersama keluarganya ke ruangan rawat inap Riri untuk membawa anaknya Reza. Bahkan Anton sempat bertengkar dengan laki-laki itu yang tak lain adalah Fahri di cafe milik Riri, karena Anton tersulut emosi saat Fahri mengatakan bahwa Anton tidak perlu mencari Riri lagi karena selama ini telah menyia-nyiakan mantan istrinya.


drt ..drt....drt...


ponsel Anton berdering suaranya membuyarkan lamunan Anton yang saat ini sedang duduk berada di dalam mobil...ya mobil Riri yang diberikan pada Anton sebagai harta gono gini dari hasil perceraian mereka.


//assalamualaikum...gimana kabarmu nak (mama)


//baik ma...,mama gimana kabarnya? (Anton)


//gimana Riri, apa sudah ketemu?? (mama)


//kayaknya akan buntu ma...malah sekarang kepalaku mau pecah rasanya, ngurusin si fitri (Anton)


//kenapa lagi anak itu? apa dia tau kamu udah cerai sama Riri? sebaiknya jangan kasih tau dulu ton, sebelum kamu ketemu sama Riri (mama)


//tau mah...dan...ada yang mau aku kasih tau sama mama (Anton)


//apa....? (mama)


//bayi itu.... Farah, ternyata....benar anak Anton (anton)


//.............. (mama)


//ma....halo...ma....(Anton)


Tut... Tut... Tut


panggilan tiba-tiba terputus....


'ah pasti mama syok dengar kabar tadi....akhhtt......b******k!!!', kesal Anton dalam hati.


Akhirnya Anton melajukan kembali mobilnya, ia ingin bertemu dengan kasur empuknya, badan dan pikirannya lelah begitu juga hatinya, ternyata segala sesuatu yang di mulai dengan ***** itu tidak akan pernah berakhir indah, dan itulah yang sekarang dirasakan Anton .


"ssstttt...aduh Farah...diem dong jangan berisik terus.." Fitri mencoba menenangkan Farah yang entah mengapa rewel terus sejak tadi.


"mana sih tuh orang , katanya keluar bentar, udah dua jam ga pulang-pulang" gerutu Fitri


drt...drt....drt....


ponsel Fitri berbunyi, ia meletakkan Farah yang sudah tidak terlalu rewel di box bayi sambil mengayun-ayunkan box tersebut, tangan kanan Fitri mengambil ponselnya yang sedang berbunyi.


seketika wajah Fitri menegang saat membaca nama penelpon tersebut

__ADS_1


'IBU'


"ha...halo Bu"


".........."


"ma..maaf Bu..."


".........."


"APPAA!!"


".........."


"Ja..jadi dia sudah sadar"


"........."


"Aku....aku ga bisa Bu...iya...aku pasti pulang"


"........."


"ya...aku kan kerja Bu.."


".........."


panggilan pun terputus, Fitri memijit pelipisnya dengan dua jarinya.


"aku harus gimana, kenapa juga dia harus bangun dari koma.....akhhtt s**l!!" gerutu Fitri.


"kenapa s**l? siapa yang koma?" pertanyaan beruntun datang dari Anton yang ternyata telah berada dibelakang Fitri saat Fitri mengatakan kata 'koma'


Fitri membalikkan tubuhnya menghadap Anton, ia sempat tersentak saat suara yang pertama kali ia dengar saat menutup panggilannya pada ponselnya adalah suara Anton.


"ah...itu tadi ibu....mm... ibu ku yang telpon, kasih tau kalau mas....ya mas ku, kakak laki-laki ku, udah bangun dari koma" Fitri menjelaskan dengan terbata-bata dan membuat Anton tidak yakin kalau yang dikatakan Fitri benar, semakin lama Anton tinggal bersama dengan Fitri, semakin banyak hal yang sepertinya di tutupi oleh Fitri.


karena lelah dan malas berdebat, Anton akhirnya melangkahkan kakinya menuju kamar mereka, ya sejak Fitri memutuskan untuk pindah kerumah Anton, saat ini mereka tidur satu kamar namun Anton sama sekali sudah tidak minat untuk menyentuh Fitri meskipun beberapa kali Fitri menggoda Anton dengan pakaian super minim dan kekurangan bahan, tetap Anton tidak bergeming, pikirannya terpaut pada Riri.


'ah...apa dia dengar semua yang aku omongin sama ibu ya..??' batin Fitri.


"sayang....kamu ga mau mandi dulu?" tanya Fitri dengan nada manja menghampiri Anton yang sudah rebahan di atas kasur dengan menumpukan lengan kanannya diatas kening.


"aku cape fit.....mau istirahat ya" jawab anton tanpa membuka mata

__ADS_1


"mm....ya udah, aku bawa Farah masuk dulu" bergegas Fitri keluar dari kamar untuk mengunci rumah dan membawa Farah untuk tidur karena memang hari juga sudah malam.


________


Anton menguap saat mendengar tangis bayi yang berada tak jauh dari ranjangnya, ia tidak menemukan Fitri juga, kemana wanita itu.


"sstt.....kenapa sayang....haus kah??" Anton menggendong anaknya....ya Anton mulai bisa menerima Farah, tapi tidak dengan Fitri, ia masih belum bisa berdamai dengan dirinya dan egonya.


Farah menghentikan tangisnya saat Anton menggendong dan mengayunkan nya pelan...bayi itu kembali tertidur.


"anak ayah minta digendong ternyata ya" bisik Anton sambil mencium bayinya, hanya Farah tempat ia bisa berbagi bahagia setelah anak lelakinya entah berada dimana.


Fitri yang sedang fokus dengan telpon nya sedari tadi dengan seseorang sampai tidak sadar jika anton sudah berada di belakangnya.


panggilan telepon pun segera di matikan oleh Fitri dan segera memasukan telpon nya kedalam saku celananya, saat ia membalikkan tubuhnya betapa terkejutnya Fitri mendapati Anton sedang berdiri bersandar di dinding dengan kedua tangan melipat di dadanya.


"telepon dari siapa?" tanya Anton menyelidik.


"eh .it..itu dari ibu..." sahut Fitri terbata.


"kapan kamu mau pertemukan aku denga orang tua kamu" tanya Anton


"eh ..iya soal itu...hmm apa aku boleh pulang lebih dulu, aku takut nanti jika kita pulang bareng apalagi ada Farah, kamu tau sendiri kalau dikampung gimana..." jawab Fitri takut-takut.


"kenapa? harusnya akan lebih baik bila pulang sama-sama, kalau terjadi apa-apa sama kamu saya juga bisa tau" tegas Anton.


"iya... maksudnya aku biar bisa bicara sama ibu dulu, nanti kalau sudah kondisi memungkinkan kamu bisa nyusul atau kapan bisa datang dengan orang tua kamu.


"hmm...aneh, tingkah kamu belakangan ini makin aneh fit, apa ada yang kamu tutupi dari aku?" tanya anton lagi pada Fitri yang wajahnya sudah menegang.


"nggak ada...." Fitri menggeleng lemah.


suara tangisan Farah membuat konsentrasi keduanya terpecah, Fitri segera berlari dari hadapan Anton masuk ke kamar untuk mengambil Farah yang sedang menangis,.


'duh...gimana ini kalo dia sampe ikut, bisa mati aku..., mana mas Surya juga sudah balik kerumah ibu..' Fitri membatin dan merasa bingung setengah mati, dia tetap meyakinkan dirinya agar bisa pulang ke rumah orang tuanya sendiri tanpa Anton dan Farah, benar-benar ibu yang luar biasa Fitri ini, bahkan dia lebih mementingkan dirinya sendiri dengan meninggalkan anaknya bersama Anton.


larut dalam lamunannya tanpa sadar susu yang sedang ia berikan pada Farah terlepas dan terpampang lah benda kenyal bergelantung dengan susu yang menetes kemana-mana, membuat bayi yang ada di dekapannya hampir tersedak karena ada air susu yang masuk dalam hidungnya.


"Fitri ...!! liat anak kamu!!" suara kencang Anton membuyarkan lamunan Fitri.


Anton menggeleng keras dia begitu kesal pada Fitri entah mengapa rasanya berbeda saat ia masih bersama Riri, ia begitu memuja Fitri hingga sampai mereka nekat melakukan dosa tersebut, namun sekarang ia merasa amat kesal jika berhadapan dengan Fitri, rasanya ia tidak betah berada di rumah.


Fitri segera membenarkan pakaiannya dan mengelap air susu yang mengenai wajah bayi kecilnya itu.

__ADS_1


"apa yang kamu pikirin sih, dari tadi ngelamun aja, kalau itu soal kamu boleh pulang atau ngga, oke aku ijin kan tapi dengan satu syarat, kamu boleh pulang asal aku dan farah ikut...titik!!" tegas Anton dan segera memutar tubuhnya keluar dari kamar.


__ADS_2