
Sebuah taksi online berhenti di sebuah rumah sederhana bercat hijau, seorang perempuan dengan yakin turun dan membayar taksi tersebut dengan penuh semangat, namun setelah ia memutar tubuhnya seketika lututnya terasa lemas tidak bertenaga, rumah yang ia yakini adalah tempatnya kembali pulang dan berharap semua baik-baik saja dan dia akan bahagia ternyata salah,
perempuan itu adalah Fitri, yang terpaku melihat tulisan yang tertempel di depan kaca rumah dengan sangat besar sekali bertuliskan "DI JUAL".
Rumah ini kosong, tidak ada kehidupan, padahal baru beberapa hari saja ia tinggalkan, namun penghuninya telah pergi.
"loh...mba yang biasanya disini ngurus bayi itu kan?" tegur seorang ibu pada Fitri
"iya Bu, itu anak saya...ke kenapa rumah ini di jual ya Bu??" tanya Fitri
"loh, mba ga tau ya? pak Anton pulang kampung, mendadak memang katanya, dia hanya bawa sedikit barang, hanya yang muat di mobil saja, rumah ini dijual dengan isinya mba, hmmm....bayi itu anak mba? saya kira anaknya pak Anton dan ibu Riri" Tanya ibu tadi yang memang tidak tahu apa yang terjadi pada kehidupan rumah tangga tetangganya tersebut.
"APA!!" Fitri benar-benar terkejut dengan hal ini, ia tidak menyangka Anton akan pergi dan membawa juga bayinya, walaupun Fitri tidak pandai mengurus bayi, namun Fitri juga menyayangi Farah, karena Farah anak kandungnya.
"Anton b******k!!" geram Fitri
ia pun pergi meninggalkan ibu tadi yang melongo melihat tingkah lakunya.
"orang aneh..." si ibu menggeleng kan kepalanya.
drt....drt....drt.
Andi menatap layar ponsel yang menampilkan nama Fitri disana, jujur Andi sudah malas untuk berurusan lagi dengan Fitri maupun Anton karena apa yang menjadi tujuannya sudah tercapai, saat ini Andi sudah memperoleh kepercayaan dari bos nya untuk menggantikan posisi Anton, sedangkan Anton sendiri sejak bercerai dengan Riri sudah diberhentikan oleh bosnya karena kinerjanya menurun.
"ya....mau apa lagi"
"......"
__ADS_1
"itu bukan urusan gw fit!"
"....."
"Lo dimana??"
"......"
"tunggu gw di tempat biasa"
Andi menghela nafas, berurusan dengan perempuan seperti Fitri itu membuat tidak tenang, perempuan yang dikira lemah lembut itu sebenarnya sangat barbar.
ia pun segera beranjak menuju tempat yang di sepakati untuk bertemu dengan Fitri.
______
"Toooonn.....ya Allah kemana sih anak itu!!" Riyanti panik karena badan Farah panas, sedangkan Anton tidak terlihat batang hidungnya
"cup...cup ya....nak..aduh gimana ini ngurus bayi, dulu bayi Riri aja aku suruh pembantu yang urus sekarang Anton malah bawa bayi yang ibunya ga jelas itu..huh.." helaan nafas kasar keluar dari bibir Riyanti.
sedangkan di atas sebuah batu besar di pinggir sungai nampak seorang lelaki duduk memandangi aliran sungai yang menyentuh kaki telanjangnya, berkali-kali ia menghela nafas berat, menahan sesak di dadanya, seakan jantungnya terhimpit bongkahan batu besar dan itu terasa menyesakkan.
Anton mengerang tertahan, merasakan detak jantungnya yang semakin cepat berdetak, sebulir air mengalir dari sudut matanya, Anton menyesali kebodohannya, ternyata apa yang dikatakan bahwa kita akan menyadari bagaimana perasaan kita pada seseorang setelah kita kehilangan orang tersebut.
"maafkan aku Ri....maafkan aku" lirih Anton kembali menatap pantulan wajahnya diatas air.
semakin ia melihat wajahnya sendiri semakin muak Anton pada dirinya, karena begitu bodohnya menyia-nyiakan perempuan yang selama ini selalu berusaha melakukan yang terbaik untuknya, dan kini setelah mengetahui bahwa perempuan itu bahagia dengan penggantinya Anton semakin muak pada dirinya, ia tidak rela ditinggalkan, ia tidak rela perempuan itu di miliki orang lain.
__ADS_1
"aarrggghht" berteriak frustasi sambil mengacak rambutnya asal, Anton sulit mengendalikan emosinya lagi kala ini.
Dari kejauhan Riyanti menyaksikan keputusasaan anaknya mendengus kesal..."dasar anak bodoh, sekarang apalagi yang dia pikir, aku harus carikan istri baru untuknya", berbalik badan kembali kerumahnya dengan perasaan dongkol setengah mati melihat anaknya yang rapuh hanya karena perempuan.
_________
"Sekarang apalagi fit??", Andi menarik kasar kursi di depan perempuan yang sedari tadi melamun hingga membuat sedikit terkejut, dan hampir saja jatuh jika Andi tidak memegang kuat kursi yang sedang didudukinya.
"bodoh!!" bentak Andi pada perempuan yang tak lain adalah Fitri.
"Lo yang bego, udah tau orang lagi bengong malah dikagetin, ga ngerti apa kalau orang lagi stress" saut Fitri tak kalah nge-gas.
"Sudah fit, ga usah banyak drama lagi, mau kamu apa?" sebenarnya Andi sempat menaruh hati pada Fitri sebelum akhirnya ia muak dengan sikap Fitri yang ternyata silap mata hanya karena Anton sering membawa kendaraan roda empat yang ternyata adalah milik istrinya.
"Bantu aku cari Anton, si b******k itu bawa Farah, biar bagaimanapun, Farah itu anakku!!" Fitri berkata penuh amarah, Andi dapat melihat kilat amarah di mata perempuan yang pernah memberikannya kepuasan dunia itu, seketika senyum smirk terlintas di bibirnya.
"lalu setelah kamu ketemu sama mereka, apa yang mau kamu lakukan, ngambil Farah? terus mau bawa kemana? kamu udah beresin masalah sama orang tua kamu? suami kamu yang dikampung?" tanya Andi dengan senyum mengejek.
Fitri membeku, apa yang dikatakan Andi tidak sepenuhnya salah, karena memang Fitri sendiri masih bingung mau kemana setelah ia bertemu dengan Anaknya, apa Anton dan keluarga mau menerimanya? bahkan Anton membawa kabur anaknya...eh ralat, anak mereka!.
"tidak bisa menjawab kan? pasti bingung?" Andi terkekeh mendapati raut wajah Fitri yang menegang.
"aaakhhh...aku harus gimana??" Fitri tidak pernah berpikir sampai kesana, namun dia tetap harus berpikir.
Andi berdiri memutari meja dan mengubah duduknya tepat di sebelah Fitri, sambil berbisik di telinga Fitri
"bukankah lebih baik anak itu ada bersama Anton, aku akan memberikan kamu kehangatan yang bisa mengisi rekening Bank mu lebih banyak lagi" tangannya meraba sekilas benda yang berada di antara kedua pangkal paha perempuan itu yang terbalut celana jeans dengan lembut.
__ADS_1
Fitri mengerang tertahan, sial...dia masuk lagi dalam jerat Andi sama seperti pertama kalinya Fitri mengenal Andi, saat ini di membenarkan pemikiran Andi, saat ini ia sudah tidak punya apapun dan siapapun, kembali ke kampung halamannya pun ia enggan karena urusannya dengan suaminya yang cacat mungkin sudah selesai di persidangan, tapi tetap saja Fitri masih memilih tinggal di kota ini dengan banyak pilihan kehidupan untuk ia jalani.
"gimana fit...??" tanya Andi sambil mengelus pipi Fitri tanpa canggung lagi, karena ia yakin Fitri pasti akan menyetujui usulnya itu dengan sukarela, karena Andi paham perempuan seperti apa Fitri itu