
Sudah hampir 5 hari Riri berada di kupang dan beruntung Riri memiliki beberapa koneksi dan teman yang mumpuni untuk membantu menyelesaikan permasalahan manipulasi ini, Riri sampai harus mengejar orang yang membawa kabur uang perusahaan nya itu sampai ke hutan-hutan yang memang di daerah tersebut masih banyak rumah yang ada di dalam hutan.
beruntung Riri memiliki teman seorang PM dan memiliki adik seorang polisi, sehingga Riri dapat dengan mudah menemukan beberapa oknum karyawan yang melakukan manipulasi, lelah sudah pasti terpancar di wajahnya, namun Riri tidak ingin mengeluh dan segera ingin menyelesaikan semua masalah ini dengan cepat, agar dirinya bisa segera kembali ke rumahnya dan berkumpul lagi dengan anak kesayangannya.
dengan bantuan teman, koneksi dan pengawalan dari kepolisian setempat, akhirnya pelaku utama dari kasus manipulasi di perusahaan tempat dirinya bekerja akhirnya dapat di bekuk dan saat ini Riri sedang berada di kantor polisi untuk membuat laporan.
kurang lebih sekitar 2 jam akhirnya Riri bisa melangkah pergi meninggalkan kantor kepolisian tersebut ditemani dengan rekan kerjanya yang diutus dari pusat dan juga teman lamanya saat masih bekerja di perusahaan "x".
"Bu Riri,sepertinya anda sangat lelah hari ini, saya antar pulang bagaimana?" tawaran dari wanita setengah baya tersebut yang bernama Yulia, wanita ini merupakan orang kepercayaan dari kantor pusat yang sengaja dikirim untuk menemani Riri menangani kasus yang ada di daerah tersebut, Riri sendiri sangat terbantu ketika mengetahui bahwa akan ada utusan dari kantor pusat yang bisa menemani dirinya bertugas menghadapi berandalan-berandalan di kampung orang itu.
"iya Bu Yuli...kita bisa pulang ketempat masing-masing" jawab Riri dengan memberikan senyum kepada wanita tersebut.
Rian yang sedari tadi hanya memperhatikan Riri termenung, teringat masa dimana saat mereka dulu pernah bekerja di satu tempat yang sama, kala itu Riri adalah sosok yang cukup banyak dijadikan perbincangan khususnya untuk sebagian kalangan perempuan, Rian sendiri tidak begitu dekat dengan Riri kala itu, karena divisi mereka memang jarang bersinggungan untuk masalah pekerjaan.
Rian juga kagum melihat sosok Riri saat ini dengan karirnya yang begitu pesat, terlebih saat ini Riri menampakan sisi lain dari dirinya yang dulu, saat itu Rian hanya bisa mendengar dari teman-teman wanitanya mengenai Riri yang sering sekali terlihat bersama beberapa lelaki di perusahaan tersebut dan saat itu Riri hanyalah seorang staf kantor biasa, tidak memiliki kedudukan atau pun jabatan yang penting, dan kala itu Riri banyak dekat dengan beberapa lelaki bahkan atasannya sendiri, terlebih lagi ada hal yang banyak di curigai teman-teman kantornya karena Riri sering sekali pulang dengan seorang laki-laki dari entah divisi apa Rian tidak mengenalinya, tapi sering kali Rian dan juga teman-teman satu divisinya melihat mereka pulang bersama hampir setiap malam, kala itu mereka memandang Riri tak lebih dari seorang wanita penggoda.
"hei...Rian... kamu mau mematung disini sampai kapan??"suara dan tepukan Riri di bahunya menyadarkan Rian atas lamunannya.
"eh...heheh...iya lupa, habis aku kagum liat kamu sekarang" timpal Rian sambil menggaruk dan menyibak rambut kepalanya yang tidak gatal itu.
"pak Rian akan antar ibu ke hotel atau bagaimana?" tanya Bu Yuli memastikan atasannya ini bisa pulang dan beristirahat di hotel tempat dirinya menginap.
"oh...itu...Riri akan saya antar Bu, tenang saja, ibu bisa silahkan pulang" jawab Rian sambil mengisyaratkan tangannya berjalan ke area parkir.
"baiklah kalau begitu saya permisi Bu, pak...motor saja di sebelah sana, menunjuk pada arah yang berlawanan dengan mereka.
__ADS_1
"loh, Bu Yuli kenapa baru bilang, kan tadi tidak perlu berjalan ke sini" sahut Riri merasa tidak enak hati.
mereka telah sampai di mobil Rian dan Bu yulia segera berpamitan pada mereka.
"Ri, ..." Rian sengaja membuka percakapan
"hmm..." hanya kata itu yang bisa mewakili lelahnya Riri hari itu.
"lama sekali ya kita tidak ketemu, eh ketemu dalam kondisi seperti ini". Rian memulai percakapan tersebut dengan santai, karena sejak dulu ia tahu kalau Riri adalah gadis supel, mungkin karena itu dirinya juga tidak terlalu canggung dengan Riri.
"iyaa.., siapa kira kita bisa ada disini dalam kondisi seperti ini pula" Riri sedikit terkekeh.
"oh ya Ri, aku antar kamu pulang, atau kamu masih mau mampir ke tempat lain mungkin?" tanya Rian yang baru sadar, bingung harus mengantar Riri kemana
terbayang lagi wajah Reza di depan matanya, wajah yang imut itu, sedari siang tadi hanya. wajah itu yang menari-nari di kepala Riri.
Tiba di lobby hotel Rian pamit pulang, karena istrinya sudah menunggu, Rian sudah mengenalkan Riri dengan kelurganya, mereka semua orang baik, terlebih istrinya, tidak ada sedikitpun rasa curiga atau cemburu kepada Riri, yah...mungkin semudah itulah saling percaya kepada pasangan, Riri sendiri pun berpikir apakah bisa ia dan Anton seperti itu, saling menyayangi satu sama lain dan tidak malu untuk memperlihatkan di depan siapapun.
Baru saja Riri selesai membersihkan diri ponsel Riri yang terdengar berbunyi tiba-tiba mati, diraihnya ponsel tersebut dari ranjang nya dan kaget bukan kepalang ternyata banyak panggilan tidak terjawab dari Anton, tidak seperti biasanya.
"halo.." Riri yang panik dan langsung segera menelpon balik Anton.
"akhirnya kamu angkat juga" suara Anton terdengar menghela nafas panjang.
"ada apa?" tanya Riri yang merasa ada sesuatu yang janggal.
__ADS_1
Riri mendengar jelas suara hembusan nafas Anton.
"Reza sakit..., tapi.." belum sempat Anton menyelesaikan kata-katanya Riri sudah terlebih dulu menyela ucapannya.
"apa..!!" Riri kaget sekaligus gusar...
"kenapa kamu tidak kasih kabar...mana dia, sudah dibawa ke rumah sakit..Reza sakit apa!?" Riri memberondong dengan banyak pertanyaan,. sambil ia mengacak-acak rambut di kepalanya sendiri, merasa frustasi dengan keadaan yang seperti ini, dimana dirinya harus berjauhan dengan anaknya dan sekarang anaknya sakit.
"kamu tenang dulu sih..." Anton sedikit kesal dengan sikap Riri
"oke...sekarang coba jelasin kenapa bisa sakit, dan dia sakit apa??" tanya Riri setelah kembali ke mode sadarnya yang seharusnya dia bisa lebih tenang.
"Reza kena DBD tapi sudah lewat masa kritis,. setelah kamu pergi dan mba belum datang panasnya tinggi, aku mana mungkin katakan itu sama kamu sedangkan kamu baru saja pergi" jelas Anton.
"mana mba? aku mau bicara" tanya Riri
"ya Ri..." suara kakaknya Riri terdengar di ujung sana.
"kenapa aku tidak di kabari?? tanya Riri hampir ingin menangis.
"maaf.., semua kami lakukan agar kamu bisa fokus dengan pekerjaan kamu, itu juga Anton yang meminta, karena saat ini Reza sudah dalam kondisi baik".jawab kakaknya itu sungguh-sungguh.
"baiklah...lusa aku usahakan pulang, kalau pun urusan ku disini bisa selesai nanti sore, aku akan segera ambil penerbangan hari ini juga.
akhirnya setelah memastikan semuanya baik-baik saja, Riri mematikan ponselnya dan terbaring di kasur kamar hotel tersebut.
__ADS_1