
Pesawat mendarat tepat pukul 19.30 waktu setempat, Riri segera berjalan menuju pintu keluar kedatangan, Riri sudah mengatakan pada Anton kalau ia akan pulang menggunakan taksi online, karena tidak ingin Reza kelelahan,. tapi bukan Anton namanya jika ia akan menurut pada apa yang dikatakan Riri.
Dari kejauhan Riri berhasil menemukan sosok Anton sedang menggendong buah hati nya yang terlihat lemah, sakit rasanya hati Riri melihat putranya yang seperti itu saat ini.
*Reza...."Riri memanggil anaknya dan setengah berlari.
"bunda..." ada guratan rasa senang melihat bundanya berdiri dihadapannya, Reza kemudian merentangkan tangannya ingin berpindah gendongan dari ayahnya.
"sini tas mu biae aku yang bawa" Anton segera mengambil tas koperku dan kami berjalan kearah parkiran.
sepanjang perjalanan Riri dan Anton hanya terdiam tanpa mengucapkan kata, Reza telah terlelap dalam pelukan Riri dan badannya terasa sangat panas.
Setibanya dirumah Riri segera meletakan Reza diatas ranjang dan mengambil air hangat untuk mengompres kepala Reza, lelah dan penat tidak lagi terasa yang ada hanya keinginan agar anaknya segera sehat dan ceria seperti sebelumnya.
panas Reza mulai menurun dan tertidur lelap, Riri segera berjalan ke arah dapur dan terdengar sayup suara Anton sedang menerima panggilan telepon dan berdebat dengan seseorang.
Riri tidak menggubrisnya, segera ia merapihkan barang yang ia bawa dari luar kota dan merapihkan setelah itu Riri beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Anton terlihat sedang menghisap rokok nya dan duduk termenung di teras rumah, Riri menghampiri.
"ada apa??" tanya Riri
"apa kau butuh sesuatu?" tanya Riri lagi karena tidak mendapatkan balasan atas pertanyaan nya.
"tidak ada, tidurlah" jawab Anton tanpa menoleh kearah Riri.
Riri pun segera berjalan kearah kamar dan berbaring di samping Reza,
selang berapa waktu Riri merasakan tubuhnya seperti di guncang-guncang, ia pun membuka matanya dan mencari kesadaran diri.
"bangun...Reza mengigau, badannya panas sekali" Anton berbicara sedikit panik.
Riri terbangun dan langsung bangkit berdiri untuk mengambil termometer yabg ada di meja nakas kamar mereka.
"40.02" Riri histeris...ia langsung meminta Anton untuk mengangkat Reza dan segera membawa ke rumah sakit karena tubuh Reza sudah mulai seperti orang menggigil dan beberapa kali mengucapkan kata dingin
Anton melarikan mobil dengan kecepatan tinggi, membuat Riri juga ikut khawatir
__ADS_1
"pelan lah sedikit, jalanan juga sepi, berbahaya" ujar Riri sedikit berteriak.
Anton kembali fokus dan berusaha untuk kembali tenang, sesekali Anton melirik melihat Reza yang sudah lemas dan mengigau
sampai di depan ruang UGD Reza segera diangkat dan dibawa ke tempat tidur untuk segera di periksa, masih dalam keadaan lemah Reza tidak membiarkan tangannya terpisah dari tangan Riri.
Anton sedang mengurus mengenai administrasi, dan tidak berapa lama ia pun masuk kedalam kamar UGD di mana Reza telah dipasangkan kabel infus.
Riri memperhatikan anaknya yang terpasang selang infus, tertidur lemah setelah drama suntikan dan juga pemasukan obat penurun panas dari tempat yang tidak biasa.
sampel darah Reza juga sudah diambil untuk observasi suhu panas Reza yang sangat tinggi, Riri sendiri juga bingung, ada apa dengan anaknya padahal sebelum ditinggal masih baik-baik saja.
Anton kembali dari mengurus administrasi, awalnya Anton menolak mengurus administrasi dengan alasan tidak paham, tapi karena Reza saat itu belum terlelap dan tidak mau Riri kemana-mana sedangkan mereka harus segera mengurus administrasi Reza agar segera mendapatkan pelayanan lanjutan.
segala hal rumah tangga memang semuanya Riri yang mengurus walaupun dengan segala kesibukan nya bahkan sampai mencuci baju yang menggunakan mesin cuci tinggal tekann-tekan saja Anton tidak bisa, alasannya karena itu pekerjaan perempuan, begitulah kiranya didikan ibunya.
Malam ini akhirnya Riri menginap di rumah sakit menemani anaknya, sedangkan Anton pulang karena sudah sangat mengantuk katanya.
esok hari Riri sudah berpesan agar Anton bisa datang lebih pagi ke rumah sakit, karena Riri sama sekali belum menyiapkan apapun kebutuhan dirinya dan anaknya selama di rumah sakit, karenanya Riri meminta Anton untuk datang lebih pagi agar Riri bisa pulang dulu untuk menyiapkan barang-barang selama menginap dirumah sakit, sebab Reza masih belum tau akan dirawat selama berapa hari.
drt..drt...drt
Riri mendengus kesal, kenapa disaat seperti ini masih saja tidak peka, apa yang dipikiran Anton sebenarnya, batin Riri.
sekitar 10 menit kemudian ponsel Riri berbunyi dan ternyata itu dari Anton
//halo...//suara Anton masih berat khas orang bangun tidur
//kamu baru bangun?// Riri
//ya// Anton
//ya Tuhan.....banyak yang harus aku kerjakan, kenapa baru bangun// Riri
//sudah jangan mulai, aku capek// Anton
//ya sudah segeralah kesini//Riri
__ADS_1
//kalau kamu kerja lebih baik kamu bantu siapkan baju Reza dan aku, serta tolong bawakan laptopku dan dokumen yang ada dibawah laptop biar aku kerja dari rumah sakit// Riri
//aku ga tau lah apa yang dibawa// Anton
//kalau kamu sudah rapi video call saja aku arahkan dari sini biar waktumu tidak terbuang//Riri
//ya sudah//
Riri menutup ponsel dan melemparkan di sofa samping tempt tidur Reza, anaknya itu masih lelap tertidur, Riri merasa kesal dengan sikap Anton, bahkan saat seperti ini, dia tetap kekeh akan kerja dan menyerahkan tanggung jawab Reza pada Riri, padahal apa salahnya untuk ambil cuti dulu satu hari untuk sama-sama tau kenapa Reza bisa panas tinggi seperti kemarin.
Seharian Riri menunggu Reza dikamar tanpa meninggalkan Reza sama sekali, beruntung Riri memiliki anak buah yang bisa diandalkan untuk membelikannya makan siang dan juga makan malam, karena seharian ini pun Anton sibuk dengan pekerjaannya, hanya sesekali saja dia menanyakan apakah Reza sudah makan, dan apa hasil tes laboratorium Reza.
Reza yang beberapa kali terbangun menanyakan kemana ayahnya, menatap sedih saat ia tahu bahwa ayahnya harus bekerja
"aku mau ditunggui ayah" ucap Reza
"nanti malam ya sayang, sekarang biar bunda yang jaga kamu, sekarang makan dulu ya" sahut Riri lembut.
setelah Reza selesai makan dan tidur kembali karena pengaruh obat yang diminumnya itu, Riri segera mengambil ponselnya dan menelpon Anton.
"haloo...." sahut Anton diujung sana.
"kamu dimana?" tanya Riri.
"dirumah, kenapa?" jawab Anton santai.
"loh kami sudah pulang?" tanya Riri sedikit gusar.
"iya...aku tadi sangat mengantuk, jadi tadi siang aku sudah pulang" jawab Anton.
"kenapa kamu tidak kerumah sakit" tanya Riri.
"kan sudah ku bilang aku capek dan ngantuk, lagipula ada kamu kan.." sahut Anton.
"ya Allah..dia juga anakmu, bukan berati semua harus aku yang mengerjakan, kamu tau kalau dia dari tadi menanyakan kamu?" ungkap Riri dengan nada tinggi.
"ya kasih tau donk aku ini kerja, bilang sama anaknya, masa gitu aja tidak bisa, sudahlah aku cape, nanti atau besok pagi aku kesana lagi" ucap Anton dan langsung mematikan ponselnya
__ADS_1
Riri menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, ingin rasanya ia berteriak dan menangis sejadi-jadinya, tapi ia tahan...sesak..ya dadanya terasa sesak,. Riri pun menarik nafas kembali dan melihat Reza yang masih tertidur pulas dengan wajahnya yang polos.
"Hanya kamu kekuatan untuk bunda sayang" lalu mencium kening anaknya.