
Hari demi hari berganti bulan dan tahun, kedewasaan seseorang tidak terbentuk dari berapa tahun yang telah ia lewati dengan bertambahnya umur, namun kedewasaan diraih dengan berapa banyak terpaan pengalaman hidup yang telah dilalui dan bagaimana menyikapinya dengan bijak.
Jodoh, maut dan rejeki adalah rahasia sang pencipta, Riri tau bahwa perjuangannya belum selesai, setelah bisa melalui kesakitan dari pengkhianat, kini ia harus merasakan kesakitan karena penyakit yang di deritanya.
Seperti saat ini, Riri harus merasakan sakit disaat sang suami tidak ada untuk menemani dan memberikan support bahkan merawatnya, beruntunglah Riri memiliki sosok laki-laki kecil yang mandiri, Reza yang hari ini menemani Riri sedang sibuk melayani apa kebutuhan Riri.
"Bunda...aku bikinin teh ya...bunda mau kan..,kalau makan nanti delivery aja ya bunda aku belum bisa masak" Reza duduk tepat di samping ranjang Riri sambil menggenggam tangan Riri yang tidak memegangi perutnya Karena menahan sakit.
"iya sayang nanti kita pesan delivery ya, kamu mau makan apa?"tanya Riri sambil mencium tangan anaknya penuh sayang.
"udah aku nanti aja, bunda kan harus minum obat, pesan bubur aja ya, aku buatin teh dulu ya" Reza pun bergegas ke dapur untuk membuatkan teh untuk bundanya.
bulir bening mengaburkan pandangan Riri, di pejamkan lah matanya dan tanpa di minta bulir bening itupun jatuh membasahi pipi Riri, betapa ia merasa bersyukur memiliki anak yang sangat menyayanginya.
terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah Riri, ia hendak bangun namun Reza lebih dulu masuk ke kamarnya dengan membawa segelas teh hangat ditangannya.
"Bunda....!!" sedikit berteriak karena melihat Riri yang memaksakan diri untuk bangun dari ranjangnya.
"sayang..ada mobil berhenti di depan coba liat siapa" pinta Riri pada Reza ketika dilihatnya anaknya mengkhawatirkannya.
"iya, ini tehnya aku taruh sini ya.." meletakan teh di meja nakas samping ranjang dan segera berlari ke luar kamar.
'mobilnya ada, berati hari ini dia dirumah, sudah jam 12 siang, apa benar kata Vina kalau sekarang Riri punya usaha sendiri, tapi Anton tidak pernah cerita ya' Riyanti telah berada di depan pintu pagar rumah Riri, ia sengaja datang tanpa memberi kabar, selain ingin membuktikan perkataan vina-keponakannya yang mengatakan bahwa Riri tidak seperti yang Riyanti pernah katakan.
Meskipun Riyanti sudah berdamai dengan Riri dan sesekali mereka bertukar pesan menanyakan kabar, dan sikap Riyanti juga sudah tidak seperti dulu yang acuh tak acuh dengan Riri, namun terkadang Riyanti masih suka ikut campur urusan rumah tangga Anton, apalagi saat ini Anton sering keluar kota, ia ingin memastikan bagaimana kehidupan anak dan menantunya setelah mereka berdua berdamai dengan hati masing-masing.
"nenek....?" Reza berusaha meyakinkan apakah benar apa yang dia lihat kalau ternyata tamu yang ada di depan gerbang rumah mereka adalah neneknya
"ah....cucu nenek..., buka pintunya sayang" melihat suara yang memanggilnya nenek membuat Riyanti menolehkan wajahnya pada asal suara.
reza membukakan pintu, dan ia membantu Riyanti untuk membawa beberapa barang yang bisa dibawa
__ADS_1
sedangkan Riri yang tadi mendengar suara khas ibu mertuanya itu sedikit terkejut pasalnya ia tidak ingin terlihat lemah seperti sekarang, ia pun mencoba bersandar pada kepala ranjang.
"masuk nek.., " Reza menaruh beberapa kantong plastik di meja ruang tamu mereka.
"mamamu kemana" tanya Riyanti pada Reza.
"Bunda dikamar nek...lagi sakit" sahut Reza sambil berjalan menuju kamar bundanya, dengan Riyanti yang berjalan dibelakangnya.
"bund...ada nenek.." Reza masuk dan segera melompat duduk di samping Riri.
"loh...kamu kenapa, sakit?" tanya Riyanti saat melihat Riri yang bersandar di kepala ranjang, terlihat wajahnya sedikit pucat.
"iya mah .." Riri menjawab sambil mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangan mertuanya itu.
"udah kasih tau Anton, gimana sih anak itu istri sakit malah ditinggal"gerutu Riyanti kesal pada anaknya.
"ga apa mah ..kasian nanti jadi ga fokus jualan" sahut Riri menangkan mertuanya ini.
"kamu mau ke dokter biar mama temani" tanya Riyanti pada Riri yang dibalas dengan gelengan.
"ini mau delivery aja mah, biar ga ribet, mama pasti belum makan juga, sekalian ya aku pesan, mau makan apa?" tanya Riri pada mertuanya.
"apa aja mama sih, terserah kamu"jawab Riyanti.
kini mereka berada di ruang tengah, selepas makan bersama, Riri minta agar reza main atau nonton tv di kamar dan segera Reza berpamitan pada neneknya.
"wajahmu pucat loh...nak" Riyanti menatap wajah Riri yang memang sedikit pucat belakangan ini, dokter mengatakan bahwa Riri juga tidak boleh stress berlebihan, untuk operasi disarankan lebih cepat lebih baik sebelum menyebar kemana-mana.
"heheh iya mah...namanya juga orang sakit mungkin jadi lemes bawaan nya dan juga pucat" sahut Riri tidak ingin menjelaskan dulu pada mertuanya ini, karena Riri merasa kasihan karena Riyanti baru saja datang.
"oh ya ..kok mama kesini ga bilang, biar Riri jemput kan" Riri baru teringat untuk menanyakan pada ibu mertuanya alasan kedatangannya apa.
__ADS_1
"sengaja memang, karena mama tau Anton lagi diluar kota, bagaimana hubungan kalian, apa kamu sudah bisa maafin Anton nak" tanya Riyanti pada menantunya ini.
Belum sempat Riri menjawab, di dengar nya ada suara motor berhenti diluar.
"permisi....permisi..." suara perempuan memanggil dari arah luar.
Riri baru akan berdiri tapi Riyanti sudah lebih dulu berdiri dari tempat ia duduk.
"sudah biar mama saja yang lihat"
seorang perempuan menggendong bayi dan seorang laki-laki yang masih setia berada diatas motornya yang sudah terparkir terlihat oleh Riyanti.
"siapa ya...??" tanya Riyanti sambil berjalan kearah perempuan tersebut.
'loh kok ada emaknya, katanya di kampung, apa ini alasannya dia seperti menghindar belakangan ini, karena takut ada ibunya' batin perempuan yang menggendong bayi yang tak lain adalah Fitri.
"permisi Tante...apa benar ini rumahnya mas Anton?" tanya Fitri dengan nada di sedih-sedih kan, Fitri akan berusaha menarik simpati ibu mertuanya ini agar usahanya mendapatkan Anton berhasil, dan dia bisa mendapatkan apa yang dimiliki Anton yang tidak dia ketahui bahwa yang selama ini Fitri lihat sebagian besar sebenarnya adalah milik Riri.
"iya benar....kamu siapa?" tanya Riyanti penuh selidik sambil matanya melihat ke arah laki-laki yang mengantar perempuan itu.
Fitri pun mengeluarkan air matanya dan menangis sesegukan, Riyanti yang melihat ini pun sontak menjadi kaget, hatinya pun mencelos, segala macam pikiran buruk berputar di kepalanya, ia jadi berpikir yang tidak-tidak,. akhirnya ia menyuruh perempuan itu masuk.
Riri yang baru selesai menutup panggilan teleponnya dari ibu Ratna, merasa aneh kenapa ibu mertuanya itu tidak masuk kembali, namun baru saja Riri akan berdiri, tubuhnya terhempas kembali ke sofa kala melihat Riyanti masuk dengan membawa perempuan menggendong bayi, dan sepertinya ia pernah melihat perempuan ini namun dimana ia lupa.
"Duduklah...", Riyanti mempersilahkan perempuan yang sudah berlinang air mata dan menggendong bayinya yang sedang tertidur pulas itu.
"mah...ini siapa"tanya Riri pada Riyanti.
Riyanti menempatkan duduknya persis di samping Riri.
"coba kamu jelaskan kenapa kamu menangis dan ada perlu apa kamu mencari anak saya Anton" Riyanti kali ini yang mengajukan pertanyaan.
__ADS_1
Anton menjalankan mobilnya keluar dari penginapan tempat ia dan anak buahnya menginap saat bertugas, entah mengapa sejak semalam perasaannya tidak enak, tapi Anton berusaha menepis hal itu, karena ia harus bisa mendapatkan uang yang banyak untuk menopang dua keluarga .
Ingin rasanya bibir ini berteriak, memaki dan mencabik-cabik wajah perempuan di hadapannya yang dengan tanpa merasa berdosa datang dan menuntut hak nya untuk di akui statusnya, dan bayi yang berada di gendongan perempuan itu adalah anak Anton.