
Riri melakukan aktifitas pagi seperti biasanya, dan membuatkan teh hangat untuk mertua dan juga Anton.
setelah itu Riri berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan, terdengar samar ditelinga Riri, Anton sedang membangunkan Reza dari tidurnya dan juga sambil berbicara sepintas dengan ibunya.
Riri sengaja menyibukkan diri di dapur karena tidak ingin berada lama-lama dalam satu ruangan bersama mereka, entah kenapa rasanya terasa sesak, Riri juga sedang mempersiapkan dirinya, karena hari ini ia ingin menuangkan seluruh isi yang ada di hatinya, agar semua bisa terasa lebih ringan, terlepas dari apa yang akan terjadi setelahnya Riri sudah tidak peduli lagi,. jikapun harus berpisah sudahlah Riri tidak akan memperpanjang lagi.
setelah memandikan Reza, Anton berpamitan pada ibunya dan juga Riri ketempat cuci mobil, untuk membersihkan mobil milik Riri yang rencana akan dibawa mereka berjalan-jalan selama ibunya tinggal di rumah mereka.
Riyanti memanggil menantunya untuk duduk bersama dan mengutarakan isi hatinya pada sang menantu yang selama ini dianggap tidak peka terhadap keinginan dirinya, dan juga menanyakan masalah apa yang sedang dialami oleh anak dan menantunya itu.
"Nak Riri, coba kesini dulu, ada yang mama mau bicarakan sama kamu" Riyanti memanggil Riri.
"ya mah, sebentar aku matikan kompor dulu" sahut Riri dari arah dapur.
dan akhirnya mereka duduk berhadapan diruang keluarga.
"mama mau tanya, sebenarnya kalian berdua ada masalah apa?" tanya Riyanti membuka percakapan.
"masalah??" tanya Riri, apa Anton sudah menceritakan mengenai Masalah mereka.
__ADS_1
"apa Anton ada cerita sama mama masalah yang kami hadapi saat ini?" tanya Riri lagi pada Riyanti.
Riyanti hanya menggeleng, dan menarik nafas panjang lalu ia bertanya kembali pada Riri, bukan.....lebih tepatnya ini sebuah pernyataan.
"Mama ga pernah tanya sama Anton kalau dia sendiri ga mau cerita, hanya saja kemarin selama dia ada dikampung, Anton terlihat lepas, seperti bebannya terangkat, berbeda saat pertama kali ia sampai dikampung,...kalau kalian ada masalah harusnya di bicarakan bukan dibikin berlarut-larut, mama kasian sama anak mama, sejak nikah, wajahnya tidak pernah terlihat ceria lagi" ucapan itu mengalir dengan mudahnya dari mulut Riyanti tanpa menimbang apakah yang diucapkannya itu menyakitkan atau tidak.
"mama tidak punya anak perempuan, makanya waktu Anton meminta menikah sama kamu, mama juga kaget karena mendadak dan melihat bagaimana latar belakang keluarga mama sempat ragu, tapi karena Anton meyakinkan bahwa kamu pilihannya jadi mama pikir kamu berbeda, dan mama menerima kamu dengan harapan mama bisa ngerasain punya anak perempuan yang bisa sayang sama mama"
Riri tentu saja merasa kesal bukan main mendengar ucapan yang penuh intimidasi, terasa seolah Riri lah yang menjadi terdakwa disini, tapi Riri masih bisa mengontrol hatinya agar tidak meledak.
"kadang dia suka melamun di luar rumah, sambil telepon entah sama siapa tapi agak jauh-jauh dari mama, mungkin takut mama terganggu atau banyak pikiran, anak itu selalu ngejaga perasaan mama biar mama ga stress, mama udah tua, ingin liat anak-anak nya bahagia, bukan lihat anaknya bersedih"
'telepon diam-diam, akkh apa dengan si pelakor itu lagi, tapj katanya udah ngga, uhhm....Riri mendengarnya pun hampir kesal menahan emosi'
"mama liat juga kamu ga pintar ngurus rumah tangga, rumah berantakan waktu mama datang, Reza pulang juga dijemput Anton, kamu pulang kerja sampai malam, saat kita semua sudah mau tidur, Anton bukan orang yang bisa ngomong apa yang dia mau, tapi mama yakin kalo dia kesal ngelihat kamu yang sibuk terus dengan pekerjaan kamu, harusnya kamu lebih peka sama suasana hati Anton.
Riri masih membiarkan ibu mertuanya mengungkapkan apa saja yang ingin ia ungkapkan, toh dipikiran Riri saat ini terserahlah, toh juga mertuanya ini belum mendengar apa yang akan Riri sampaikan nanti,. biarkan sajalah dia berbicara dengan asumsinya sendiri.
"coba mama mau denger dari kamu sendiri, ada masalah apa??!" tanya Riyanti pada menantunya itu.
__ADS_1
Riri pun menarik nafas panjang dan inilah saatnya yang paling pas untuk Riri mengatakan segalanya kepada mertuanya ini
"sebentar mah... Riri ke kamar dulu, mau ambil sesuatu".
Riri membawa 1 map folder ditangan yang berisi catatan keuangan beberapa tahun terakhir sejak sempat Riri dengar bahwa mertuanya menaruh curiga pada Riri yang menghabiskan uang anaknya untuk kebutuhan keluarganya yang ada di Jakarta
"itu apa?" tanya Riyanti pada Riri.
"ini sebagian dari yang Riri mau sampaikan sama mama" ucap Riri dan ia pun duduk didepan ibu mertuanya itu.
"pertama Riri minta maaf kalau selama menjadi menantu mama, sikap Riri tidak sesuai yang mama harapkan ya ma" riri menarik nafas kemudian melanjutkan lagi mengutarakan isi hatinya.
"mengenai masalah yang kami hadapi saat ini, karena adanya pihak ketiga dalam arti perempuan lain mah, itu yang membuat hubungan kami seperti ini, sejauh ini Riri berusaha untuk mengerti dengan sikap anak mama, mencoba membantu dalam segala hal, sampai Riri berjuang mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dengan pendapatan yang bisa menopang hidup kami dan juga keluarga Riri, karena Riri masih punya orang tua yang harus Riri pikirkan juga, tapi dengan tiba-tiba entah kapan semua dimulai sikap Anton berubah dan ternyata dikarenakan adanya orang lain yang mungkin saat ini lebih penting untuk anton, Riri bukan paranormal yang bisa tau apa isi kepala anak mama, Anton sendiri setiap Riri tanya apa maunya juga tidak pernah berbicara dengan benar, menghindar dan terkadang hanya diam, bagaimana kami bisa menjalani rumah tangga kalau hanya satu orang yang berjuang sedang yang lain tidak" terlihat kalau raut muka mertua ya terlihat tidak senang dengan apa yang Riri utarakan.
"sejak mama tidak lagi ada disatu kota yang sama dengan kami, apa mama tau bagaimana kondisi kami, bagaimana keseharian Anton,. bagaimana keseharian ku, dan bagaimana kami mencukupi kebutuhan rumah tangga kami, mungkin selama ini mama berpikir Anton terlihat tidak bahagia karena aku membebaninya dengan kebutuhan atau permintaan kedua orang tuaku, itu semua ga benar mah, ini beberapa laporan pengeluaran beberapa tahun ini, dan ini laporan gaji ku dan gaji Anton dan juga uang sampingan yang Anton dapatkan" Riri memperlihatkan isi map folder itu lengkap dengan print nota-nota pengeluaran dan biaya hidup mereka selama ini.
Riyanti mengambil dan melihat satu persatu laporan-laporan itu dan Riri membiarkan ibu mertuanya itu membaca terlebih dahulu, selang beberapa lama saat ibu mertuanya meletakan laporan tersebut dan terlihat akan berbicara Riri mulai memotong dan melanjutkan apa yang ingin ia bicarakan.
"sebentar mah, biar Riri lanjutkan lagi, sebenarnya selama ini Riri mau cerita sama mama, mengenai bagaimana sikap Anton, keseharian Anton, masalah keuangan jika mama lihat antar penghasilan Anton dan Riri murni semua pendapatan Anton untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga kami, wajar kan karena memang kepala keluarga yang memenuhi kebutuhan keluarga, jadi prasangka mama kalau Riri menghabiskan uang Anton itu ga benar, Riri juga banting tulang demi bisa memberikan sedikit hasil keringat Riri pada orang tua dan saudara-saudara Riri".
__ADS_1