Aku, Kamu Dan Ibu Mertua

Aku, Kamu Dan Ibu Mertua
Kepulangan Anton


__ADS_3

Hari ini Anton akan kembali dari Jakarta dan sampai hari ini pula Anton tidak menyempatkan diri mampir ketempat keluarga Riri, alasannya sibuk. Riri sudah tau alasannya pasti karena ibunya melarang


waktu masih menunjukan jam 15.00, Riri sudah menyerahkan beberapa urusan yang menyangkut pak Budi kepada Lila, sehingga Riri menyempatkan untuk menemui klien yang lain yang sudah beberapa hari ini tidak sempat ia jumpai.


Sedari pagi Riri bertemu klien dan tibalah dia di coffee shop kesukaannya, jarinya segera menekan ponselnya menghubungi Lila dan meminta Lila datang sekaligus membawa berkas yang harus ia tanda tangani.


Tidak menunggu lama akhirnya Lila tiba di coffee shop tersebut, dengan senyum sumringahnya Lila menghampiri da langsung duduk di hadapan Riri.


"maaf Bu lama...tadi ada yang Dateng ke kantor tanya ibu dimana, kayaknya kangen bu, hehehehe" goda Lila pada Riri.


"ahh...kamu...ga jauh-jauh dari orang tua itu kan...hadeh...sialnya aku ini, kalau berondong sih pasti beda lagi urusannya...hehehe" Riri menjawab godaan Lila.


mereka berdua memang akrab sejak menjadi atasan dan bawahan, Lila sosok yang bisa diandalkan, ia juga cukup tegas dalam segala hal, sama dengan Riri, tapi Lila tidak Setega Riri yang bisa cuek melihat anak buahnya menangis di depannya meminta maaf atas perbuatannya, Riri memang terkenal sadis untuk urusan pekerjaan, tapi untuk urusan rumah tangganya, Riri berubah 180 derajat, menjadi benar-benar lemah dan tidak bisa apa-apa menghadapi Anton, semua itu bukan tanpa sebab, mungkin Riri bisa dengan egois meninggalkan Anton dan memulai hidupnya yang baru, namun ia masih memikirkan Reza yang masih terlalu dini untuk mengenal kata broken home, karena di keluarga Riri sendiri juga sudah memiliki keponakan hasil dari broken home, Riri tidak ingin nama baik keluarga besarnya pun hancur karena anak-anak dari ayahnya gagal dalam pernikahan.


cling...cling....


bunyi pesan wa dari ponsel Riri.


//hello Ri.., you are not answer my message, this is my number...Neves


(halo Ri..., kamu tidak jawab pesan saya, ini nomor saya...Neves


pesan pendek tapi membuat mata Riri membulat...Neves??


aah....bule nyasar dari mana lagi ini...masa iya bule...tapi nomor yang digunakan memang nomor luar negeri...Riri pun penasaran mengecek kode nomor tersebut.


"turki" pekik Riri yang membuat Lila yang sedang konsentrasi mengerjakan pekerjaan di laptopnya pun terkaget.


"apa Bu...pengki?? buat apa??" tanya Lila dengan wajah herannya yang membuat Riri tergelak.

__ADS_1


" pengki dari mana Lila...kamu tuh ya .., bukan..., ini lihat" menyodorkan ponselnya ke Lila, antara Lila dan Riri memang tidak seperti atasan dan bawahan karena Riri sendiri juga bukan orang yang gila hormat dan menjadi sangat power sindrom dengan kedudukan yang dimilikinya.


"wah Bu...itu bahasa bule..., keren Bu Riri kenalannya bule" antusias sekali Lila melihat pesan singkat yang ada di ponsel atasannya itu.


"justru aku bingung dari mana ia dapat nomorku ini ya Lila...??" masih dengan wajah bingungnya.


"jawab saja Bu...mana tau ada kepentingan bisnis, lumayan hitung-hitung biar fasih bahasa bule Bu" goda Lila


"aihh..kamu" sambil mencubit lengan Lila


"aww..sakit Bu" mengusap lengannya yang dicubit.


//hai Neves,..i am sorry....but...do i know you??


(hai neves, ..maafkan saya...tapi.. apakah aku mengenalmu??


"bunda...." Reza berlari ke arah Riri yang baru terlihat di pintu halaman sekolah, didalam sudah ada beberapa orang tua murid juga yang menjemput anaknya yang dititipkan, salah satunya termasuk ayah Aliya(Toni).


"Bun..., boleh gabung sebentar" Bu Tina memanggil Riri.


"tunggu ya sayang..."ucap Riri pada Reza yang dijawab dengan anggukan kepala


"bagaimana Bu....?" tanya Riri sambil mendekatkan diri ke Bu Tina.


"pekan depan kita akan ada tour di museum pacific, kalau bunda tidak keberatan bisa bantu kita di akomodas?" tanya Bu Tina hati-hati.


"kami masih kurang 1 unit lagi, yang saat ini sudah bisa untuk bantu akomodasi ada ayah Aliya, ayah tutu dan bunda Aidan" ujar Bu Tina lagi menegaskan.


Riri yang memang jarang sekali bergabung, bahkan sekedar ngobrol-ngobrol cantik dengan para bunda teman sekolah Reza pun tak ingin juga dibilang sombong...karena memang murni semua itu karena Riri tidak suka berkumpul yang tidak bermanfaat, akhirnya ia menyetujui, saat ini Riri juga menyadari ada sepasang mata dibalik kaca mata hitam yang sedang mengawasi, tapi ia tidak perduli.

__ADS_1


"Alhamdulillah, syukurlah kalau bunda sudah setuju" terlihat sekali kelegaan di netra Bu Tina yang sedari tadi berharap cemas kalau saja Riri menolaknya.


setelah di rasa cukup Riri pun pamit pada Bu Tina dan juga beberapa orang tua murid yang ada disana termasuk juga kepada Tony, tak lupa juga ia memberikan senyum yang biasa ia lakukan kepada kliennya jika bertemu, yang membuat salah satu kliennya terpesona dan tidak henti-hentinya mengejarnya dengan dalih pekerjaan.


"ah..senyumnya, ternyata kalau tersenyum dia manis juga, biasanya wajah jutek dan angkuhnya saja yang tampak" gumam Tony dalam hati.


Riri dan Reza tanpa membuang waktu melaju ke bandara untuk menjemput Anton, Riri khawatir kalau terlambat ia harus mendengar ocehan Anton yang tidak penting dan malah semakin membuat Riri kesal, untung saja ternyata pesawat yang Anton tumpangi mengalami penundaan kedatangan, Riri memutuskan untuk mencari tempat makan untuk makan malam bersama Reza.


Reza dan Riri menikmati makan malam sambil menunggu kedatangan Anton, sambil menikmati makanannya Riri sengaja membuka beberapa akun media sosial nya dan mendapati beberapa caption dan foto satu keluarga yang tersenyum dan berpelukan satu sama lain, dalam foto itu ia bisa melihat senyum yang di perlihatkan sangat tulus, berbeda jika senyum itu bersama Riri dan juga Reza.


Anton terlihat sangat bahagia di foto tersebut.


sejujurnya Riri merasa cemburu kepada Anton karena bila bersama dengan keluarganya Anton bisa amat bahagia, tapi jika bersama dirinya dan Reza senyum maupun tawanya terlihat terpaksa dan tertahan.


"bunda....ayo.., nanti ayah bingung loh cari kita" ucap Reza sambil menarik lengan Riri.


"tenang sayang...nanti ayah pasti telpon kok kalau sudah sampai, tadi bunda sudah kasih tau kita tunggu sini sambil makan" ucap Riri menenangkan anaknya, dan benar saja, tidak berapa lama ponsel Riri berbunyi.


//halo..kamu dimana?


//di resto xx


//oke aku kesana saja kalau begitu


//ok


panggilan itu pun tertutup.


"tuh benarkan ayah sudah sampai, sebentar lagi kesini" ucap Riri kepada Reza yang sudah tidak sabar bertemu ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2