
Hampir 3 bulan setelah menikah, sekarang Riri dan Anton menempati rumah baru tersebut.
Rumah yang hanya terisi kasur besar dalam kamar ukuran 4x5 dan peralatan dapur yang mereka dapat dari ibu mertuanya serta beberapa barang lain yang menurut Riri tidak perlu.
Anton berkutat dengan barang dagangannya dan Riri sibuk membantu. sesekali Anton mengantar Riri yang masih tidak paham jalan untuk mengantarkan lamaran atau untuk panggilan interview.
Riri ingin segera bekerja agar bisa mendapatkan penghasilan sendiri, karena tabungannya sudah mulai menipis sejak menikah dan mengontrak rumah, Riri benar-benar harus menahan keinginan pribadinya yang dulu amat mudah ia lakukan karena ia selalu bisa mengatur semua pengeluaran dan pemasukan keuangannya dengan baik.
Anton sudah mulai giat dalam bekerja, tapi campur tangan ibu mertua yang tak lain adalah ibunya selalu membuat Riri sakit hati.
Ibu mertua Riri tidak tahu bahwa pernikahan ini semua Riri yang membiayai terkecuali emas kawin dan bawaan seserahan dari mempelai pria yang di siapkan oleh kerabat Anton.
"Assalamualaikum...."terdengar suara dari depan rumah dan pintu gerbang terbuka.
Riri yang sedang libur kerja dan sibuk dengan handphonenya segera berlari keluar rumah mendengar suara yang tidak asing lagi.
"tidur kamu nak?" melihat rambut Riri yang sedikit berantakan. "tiduran aja mah, sambil chat sama orang kantor"Riri menjawab sambil mengikat rambutnya.
Setelah sibuk mencari akhirnya Riri memperoleh pekerjaan sebagai seorang staf administrasi di salah satu perusahaan travel di kota itu, memulai lagi dari bawah dengan pendapat lebih kecil dari saat Riri bekerja di perusahaannya dulu, tapi Riri tetap semangat karena ia menemukan dunia baru disitu.
"sini nak Wati duduk"ajak mama rianti kepada Mbak Wati, orang yang dibayar mama untuk membantu bersih-bersih rumah.
Mertua Riri ini sudah terbiasa membayar orang untuk pekerjaan rumah, walaupun hidup pas-pasan tapi tidak mengurangi gaya hidupnya yang masih seperti kala dulu ia bekerja.
__ADS_1
"jam berapa Anton biasa pulang, nak?"menanyakan anaknya.
"tidak tentu mah, kadang sore, kadang malam"ujar Riri sambil menyuguhkan minuman walaupun hanya sekedar air putih.
"mama kesini soalnya tumben anak itu ga mampir kerumah udh beberapa hari, biasanya sebelum kerja atau pulang kerja dia selalu mampir, sarapan dirumah, atau bawain makanan kesukaan mama"sambil meluruskan kakinya duduk dilantai beralaskan karpet
deg....
WHAT!!!!
tiap hari kerumah mama?? sarapan pula...,
cih...istrinya saja kadang dirumah beli makan sendiri buat sarapan, tiap ditanya mau sarapan, selalu bilang tidak laper terus...Keterlaluan sekali dia, awas kau, aku malas siapkan apapun mulai hari ini. batin Riri berteriak kencang saat mengetahui suaminya setiap hari kerumah ibunya tanpa berbicara padanya, sungguh anak mama.
"nak Wati tahu, Riri ini dulu panggil saya kakak, karena saya pernah kost dirumah orang tuanya, waktu Anton masih usia 3 tahun,. dulu mereka sering main bareng, mandi bareng, kadang Anton suka mengintip Riri dari jendela kamar, karena malu untuk mengajak main duluan"kicau mama rianti pada perempuan bernama Wati itu.
" belum beli apa-apa dulu mah, sayang uangnya apalagi rumah masih ngontrak" ucap Riri sambil memegangi dan mengurut pinggangnya, entah sudah beberapa hari ini Riri mudah lelah, apalagi kalau habis mencuci baju setelah lama berjongkok pinggang terasa sakit,. Riri memang sengaja tidak mau habiskan uangnya untuk beli perabotan rumah, bahkan untuk beli mesin cuci saja ia tidak mau, karena kalau masih ngontrak buat apa beli-beli barang, menyusahkan saja nanti kalau pindah lagi, Riri paham betul bagaimana susahnya mengurus barang-barang ketika pindah kontrakan karena ia dan keluarganya di Jakarta juga ngontrak, dulu ayahnya memiliki rumah milik sendiri, mobil dan motor, tapi sejak abangnya minta nikah dan untuk persiapan pernikahan anak pertamanya itu yang tak lain kakak laki-laki Riri yang tertua, ayahnya menjual rumahnya untuk menikah dan modal usaha anaknya itu.
"kamu kenapa nak, seperti menahan sakit.??"mama rianti bertanya.
"mungkin mba Riri kecapaian Bu, kan semua dikerjain sendiri" ujar mba Wati yang sedari tadi memperhatikan sekeliling rumah juga.
"tidak tau mah, pinggang kok suka sakit, kalau jongkok lama juga"sambil berjalan ke dapur mengambil rujak yang tadi dia buat, entah kenapa berapa hari ini dia sering sekali makan rujak, malas makan nasi.
__ADS_1
"apa itu nak" sambil melihat piring yang dibawa Riri.
"rujak mah, kebetulan tadi ada tukang buah lewat, bagus-bagus buahnya jadi beli deh, ayo dimakan mah...mba Wati..?" Riri meletakan piring dan langsung mengambil buah dan sambal rujak di tempat terpisah.
"kamu dah berapa lama sakit pinggang, pegal-pegal atau nyeri?" tanya mama sambil ikut makan rujak.
"ouuch...asam nak, gila kamu bisa makan asam gini"sambil menyipitkan makanan dan mengeluarkan kembali mangga muda yang dia makan dari mulutnya.
"eeh...masa asam mah?? biasa aja deh." sambil mencoba mangga dan mengunyahnya
mama Rianti dan mba Wati saling menatap batinnya berkata, apa anak ini hamil, tapi masa dia tidak sadar, kan dia harusnya sadar kalau tidak datang bulan.
"nak...apa kamu hamil??"ucap mama rianti.
deg...
"apa mah.? hamil??"Riri menjawab dengan raut wajah bingung
"iya kelakuan kamu itu kayak orang lagi ngidam, masa makan mangga Adam gitu dibilang ga asam" coba nanti periksa ke dokter.
ah...apa iya aku hamil..?batin Riri
----
__ADS_1