Aku, Kamu Dan Ibu Mertua

Aku, Kamu Dan Ibu Mertua
komunikasi 1


__ADS_3

Dua Minggu sejak kejadian Anton membuat ponsel Riri terblokir dan sejak saat itu Riri semakin dibuat uring-uringan, sampai titik dimana Riri minta ke Anton untuk membicarakan dengan serius mau dibawa kemana hubungan ini, karena sejak Anton menghapus secara tidak langsung bukti mengenai perselingkuhannya dengan perempuan tersebut yang ternyata bekerja di sah satu Spa ternama di daerah ini, dan sialnya ternyata tempat tersebut hanya berjarak beberapa puluh meter dari toko yang Anton kelola, pantas saja tiap malam Anton selalu pulang melebihi jam batas normalnya, karena bisa jadi mereka janjian bertemu atau melakukan hal lebih dari sekedar bertemu mengingat kembali bagaimana isi chat dari perempuan itu yang mengirimkan foto USG dan dengan chat 'mau', mengingat itu saja membuat Riri merasa ngilu.


"kita harus bicara" Riri sengaja menghalangi Anton yang hendak berangkat malam itu untuk alasan 'menutup toko',


"apalagi yang mau diomongin sih!!" Anton selalu bernada tinggi jika Riri sudah mengajak bicara.


"mau sampe kapan kamu bohong soal selingkuhan kamu itu, kalau memang mau bubar ya udah kita bubar sana" perih seperti ditusuk ribuan pisau saat Riri mengucapkan hal itu, karena jujur hatinya masih belum rela untuk melepaskan Anton, banyak pertimbangan yang Riri pikirkan jika harus berpisah.


"udahlah, terserah" Anton berlalu sambil mengambil jaketnya.


"besok kita kepengadilan agama" cetus Riri dan dianggap angin lalu oleh Anton karena tanpa berpaling Anton langsung menstater motornya dan berlalu dari kediaman mereka.


'sampai kapan seperti ini terus' batin Riri dan segera memasuki kamar mereka


beberapa hari ini Riri sibuk dengan pekerjaan kantornya, dan mengenai permintaan Riri untuk kepengadilan pun tidak terlaksana, kadang Riri sempat berpikir egois sekali Anton ini, mau dilepas seperti tarik ulur tidak mau melepas tapi tidak dilepas tarik ulur terus semakin menyakiti, sebenarnya apa yang di inginkan Anton,


selain masalah pribadi Riri juga terkadang dibuat pusing dengan hadirnya sosok klien yang selalu mengejar-ngejar Riri dan berniat mendekati Riri dengan alasan pekerjaan, kadang Riri sampai terkena teguran dari pusat lantaran dengan tegas menolak untuk diajak makan malam oleh klien tersebut, sebenarnya bukan makan malamnya yang Riri hindari, tapu orang yang mengajaknya itu yang ingin Riri tenggelamkan ke dasar lautan agar dimakan hiu..., sudah tua, genit, dan kadang matanya jelalatan mengamati setiap inci tubuh Riri seakan sedang m**********i tubuh Riri dengan sorot matanya yang n***l.


karena target pekerjaan Riri sangat tinggi dan menyebabkan Riri tidak bisa untuk pulang ke tempat orang tuanya di Jakarta saat hari raya tahun ini maka Riri memutuskan agar orang tuanya saja yang ke Jogja, namun karena kondisi kesehatan ibu Riri dan juga faktor usia maka Riri tidak bisa memaksakan kehendak agar bisa berkumpul, kondisi keuangan mereka juga saat ini sedang tidak baik, semenjak Anton terlibat affair pemasukan sampingan Anton semakin menurun dan juga uang hasil kerjanya diluar toko pun mengalami penurunan yang lumayan, padahal Riri tahu betul berapa penghasilan yang bisa Anton dapatkan dari pekerjaan diluar nya, setiap Riri menyinggung soal itu akhirnya berujung keributan hingga akhirnya Riri juga memutuskan untuk melakukan apapun tanpa perlu berbicara dengan Anton, penghasilan Riri di luar pekerjaan kantornya juga tidak main-main, terkadang dia bisa mendapatkan jutaan rupiah dari hasil yang ia dapat untuk kerja sampingannya sebagai kontraktor, namun uang yang dihasilkan Riri tidak berwujud selain mobil yang ia beli dari gajinya tiap Bulan, sedangkan sisanya lebih sering Riri gunakan untuk kebutuhan keluarganya dan juga untuk mengajak Reza jalan-jalan sekedar mengganti kedekatan sang ayah yang tak lagi di dapat sejak ayahnya 'menggila'.

__ADS_1


"mulai bulan depan aku bakalan pindah di marketing, nanti kedepannya aku bakal sering keluar kota, bisa sebulan lebih" ucap Anton saat mereka sedang makan malam.


"keluar kota? sama siapa? kok tiba-tiba aja, kan baru beberapa bulan ini kamu suruh tangani toko baru, kok udah ganti kerjaan lain lagi?" timpal Riri karena merasa aneh dengan sistem kerja di tempat suaminya bekerja, jujur sejak awal Anton kerja di tempat itu, Riri sudah bisa menilai bahwa Anton hanya di jadikan alat untuk memperluas jaringan network sang owner karena sebelumnya Anton sudah memilik pasar sendiri dalam bisnis nya hingga ia dapat mudah mendapat klien-klien baru saat melakukan transaksi jual beli.


"sudah jangan mikir aneh lagi, capek aku dicurigai terus" dengan ketus Anton membalas pertanyaan Riri.


Anton paling tidak suka jika disudutkan, sedangkan Riri paling tidak suka dibohongi, jadi ketika instingnya berkata ada kejanggalan Riri selalu mengatakan secara spontan karena terkadang hal tersebut memang kenyataan.


"ya aneh aja sih, tapi ya terserah aja, lalu Reza bagaimana kamu kan tau sendiri kalau aku terkadang pulang malam tiba-tiba bila ada kasus, Lalu yang jemput Reza siapa?" Riri tetap tidak suka jika Anton mengambil pekerjaan yang sekarang itu artinya Anton akan sering diluar dan Riri tidak tahu apakan benar Anton diluar sedang bekerja atau sedang '***-*** dengan selingkuhannya, pikiran Riri selalu negatif sejak Anton selingkuh.


"terserah lah, aku capek bahas kayak gini terus"


kembali Anton memilih untuk tidak memperpanjang masalah ini.


Memasuki bulan Ramadhan Riri disibukan dengan project pembukaan site baru di salah satu pusat perbelanjaan di Jogja dan Anton sedang berada di Jember karena pekerjaaan nya, Riri sedikit banyak merasa lelah karena disibukan urusan kantor, urusan Reza, ditambah lagi sikap Anton, Riri mencoba berdamai dan berusaha untuk percaya kepada Anton lagi sejak percakapan mereka suatu malam yang penuh drama.


flashback***


"aku mau kamu jujur sama aku yah..., aku lelah dengan semuanya, kalau kamu memang udah ga cinta dan sayang lagi sama kami, maka lepaskan kami, biar kamu bisa bebas melakukan apapun semau kamu!!" Riri memulai percakapan mereka saat itu didalam mobil.

__ADS_1


mereka sengaja pergi ke tempat yang memang jarang dilalui orang banyak dan kebetulan tempat itu juga cukup luas karena merupakan tanah lapang yang biasa di pergunakan orang untuk belajar mengendarai mobil.


"aku itu Istri sah kamu tapi perlakuan kamu ke aku justru seperti aku ini orang lain, asal kamu tau nanti yang bakal ngurus kamu kalo kamu tua Renta itu aku dan anakmu bukan ibumu, adikmu dan sodara-sodaramu, kecuali kalo memang kamu mau rencana kita pisah.." Riri terus berbicara, mengeluarkan apapun yang selama ini ditahan dalam benaknya.


"kamu pikir aku selama ini juga ga tau kalau kamu dan keluarga kamu itu punya akun chat grup keluarga, lalu aku apa pernah diikutkan disana? ga pernah kan? kenapa karena aku bukan bagian keluarga kalian...." Riri menghembuskan nafas sambil menarik sudut bibirnya dengan sinis


"haaaah...memang aku selama ini juga dianggap orang asing tidak hanya sama kamu, ibumu juga begitu, selama ini aku masih tahan dan aku masih tetap berharap ibumu bisa terima aku apa adanya, tapi apa???,"" baru Riri akan mengeluarkan kata-kata, Anton mengeluarkan suaranya.


"jangan bawa-bawa mama dalam masalah kita"


ucap Anton sarkas.


"kenapa? aku mau kamu tau semua yang aku rasain selama ini, berapa kali kalian menyiksa batin ku, hah..!! Riri merespon dengan sengit karena tersulut emosi, selalu saja Anton seperti ini bila membicarakan ibunya.


"kamu itu kalo dikasih tau ngeyel ya..ini yang bikin aku malas bicara sama kamu" Anton mulai emosi.


"ya.....mau kamu aku iya-iya aja selama ini sejak hamil sampai sekarang, apa pernah ibu kamu anggap aku, kamu suruh aku hormati dia, sayang sama dia, peduli sama dia, apa kamu mikir apa dia pernah lakuin hal yang sama ke aku? noo...*ga...pernah*" sengaja riri menekan kan kata ga pernah itu pada anton.


"aku tau aku bukan menantu idaman mama kamu, aku juga dulu pernah bilang kan sama kamu, kalo kamu memang sudah ada pilihan dari orang tua kamu, aku mundur, tapi apa, kamu yang berusaha yakini aku kalau cuma aku pilihan kamu, nyatanya apa.. cih,omong kosong!!"

__ADS_1


"masih mau ngomong ga jelas, capek sama kamu ya ngomong selalu pake urat" kata Anton seakan mengejek Riri.


"gimana ga mau pake urat yang diajak ngomong juga kayak ga nyantol, mau aku ngomong apa juga kamu cuma dengerin omong ibu kamu aja, sedangkan omongan istri sendiri ga didenger malah orang lain didenger sampe dibela-belain walaupun salah"


__ADS_2