
"Buuuu...." suara Lila melengking saat panggilan dari ponsel Riri berbunyi.
"laa.....kupingku sakiit" jawab Riri dengan nada yang hampir berteriak juga.
"hehehe terlalu semangat" jawab Lila terkekeh.
"ada masalah apa, jangan bilang disana ada masalah ya, kerjaan saya disini juga masih banyak..."tanya Riri penuh selidik pada Lila.
"kerjaan aman Bu..tapi tadi ada presiden a***k datang..., sayang ibu tidak disini...kecewa banget dia Bu.." Lila menjelaskan seperti orang yang dikejar-kejar kucing.
"aduh La...ga paham saya maksud kamu apa" Riri bingung.
"aduh ibu itu kalo masalah kerjaan nangkepnya cepet bener kalo masalah gini aja lemot...eh..maaf Bu" Lila disana menepuk mulutnya karena lancang.
Riri sendiri tidak terlalu menanggapi karena ia memang tidak gampang tersinggung hanya dengan hal sepele.
tiba-tiba panggilan masuk dari nomor yang kemarin tidak menjawab itu muncul lagi, dan sambungan telpon via wa dari Lila jadi terputus, Riri mengangkatnya.
" halo..." jawab Riri.
"dear...it's me.. Neves"jawab orang diujung telpon.
"hah..." Riri menutup mulut dengan sebelah tangannya.
"jangan kaget ri, aku sudah di sini, tadi aku datang menemui ke alamat yang kau kirim sewaktu aku mengirimkan mu paket" pernyataan Neves membuat jantung Riri seakan mau lompat keluar
"mati gue" batin Riri.
"Neves.. kau bisa bahasa" sengaja mengalihkan pembicaraan mengenai kedatangannya ke kantorya yang sepertinya itu yang akan disampaikan oleh Lila.
"yeah.. little" Jawa Neves
"ri...kenapa kamu harus pergi??" tanya Neves dengan nada suara yang penuh sesal
__ADS_1
"maksudmu Neves?" Riri bingung dengan pernyataan Neves.
"aku sudah bilang akan datang menemui, aku ingin menghabiskan waktu semalam saja dengan mu, sebelum aku kembali ke negara ku, berharap kamu bisa ikut denganku" Neves menjelaskan apa yang membuat dirinya bersedih
"Neves...aku tidak tau kau akan datang, lagi pula jika kau datang aku juga tidak akan bisa menemanimu semalaman, ada batasan yang harus kita jaga Neves..." suara Riri lembut namun penuh penekanan.
"tidak bisa kah kita mencobanya, cepat katakan kau ada dimana? aku akan kesana menemui mu, kau sendiri bukan" Neves berusaha untuk tetap menemui Riri.
Riri merasa takut saat itu, apalagi dia sendirian dan jauh dari Anton, dan ia hanya mengenal Neves dalam dunia Maya, dia tidak pernah tau Neves mahluk seperti apa dan bagaimana perangainya dalam kehidupan sehari-hari
"neves. please hargai keinginanku...mungkin kita mengenal satu sama lain diwaktu yang salah, dan aku tidak ingin menambah lagi daftar kesalahan yang akan aku perbuat jika aku bertemu denganmu tolong mengerti, aku yakin kamu pria baik, dan aku yakin kamu akan menemukan wanita terbaik untuk mu, dan itu bukan aku" dengan sangat hati-hati Riri memberikan penekanan pada setiap kalimat yang ia katakan.
terdengar helaan nafas yang berat diujung telpon yang digenggam Riri, lebih baik berkta yang menyakitkan diawal dari pada memberikan suatu hal yang tidak mungkin kemudian hari.
"okey..you are right..thanks for everything"
ujar Neves dan mematikan ponselnya secara sepihak.
merasa ada sesuatu yang hilang...ya mulai hari ini tidak akan adat lagi perhatian dari seseorang yang bisa mengisi kekosongan dalam hatinya, tapi Riri tidak mau tenggelam dalam kesedihan itu, karena ia harus menyadari posisinya saat ini.
drt...drt....drt..
"maaf Bun, apa saya ganggu?" terdengar suara cemas Bu Tina dari seberang sana.
"oh tidak apa Bu Tina, ada apa,. Reza baik-baik saja kan" tanya Riri khawatir, tidak biasanya dia ditelpon dari pihak sekolah
"Reza badannya tiba-tiba panas, sejak diantar ayahnya tadi pagi, saya niatnya mau hubungin ayahnya tapi tidak ada nomornya Bun...saya takut ganggu bunda karena ayahnya bilang sedang dinas luar kota" jelas Bu Tina dengan nada sesal
"baik Bu Tina, tidak apa, saya akan segera hubungi ayahnya mungkin juga saya akan atur ulang jadwal saya disini bila diperlukan"tegas Riri pada Bu tina.
selepas menutup telepon nya itu Riri segera menghubungi Anton, mendengar kabar itu Anton pun juga menjadi panik, dia pun meminta Riri untuk segera kembali, karena dia tidak mungkin mengurus Reza sendiri dan juga tidak mungkin untuk ijin bekerja, karena pemilik toko tempat ia bekerja tidak mau jika karyawannya terlalu membawa masalah pribadi ke pekerjaan termasuk itu masalah anak.
Riri segera membereskan pekerjaannya yang masih tertunda dan mengatur kembali jadwal pertemuan yang seharusnya lusa menjadi esok hari, karena sore ini juga Riri harus segera kembali, ia merasa sangat tidak tenang.
__ADS_1
pagi ini Riri sudah menemui kliennya dan juga sudah sempat berdiskusi dengan atasannya dari pusat yang saat ini pun ikut bergabung dalam meeting tersebut, untung saja atasannya itu memaklumi dan memberikan Riri ijin untuk mengatur ulang kepulangannya.
Riri sedikit panik mendengar penjelasan Anton semalam bahwa panas Reza cukup Tinggi, Anton sendiri bingung harus bagaimana, hanya memberikan Reza obat penurun panas tapi tida kunjung turun, tapi pagi ini Reza sudah mulai membaik, semoga saja dengan kepulangan Riri, Reza semakin pulih, awalnya Riri menyarankan agar salah satu kakak Riri bisa Riri panggil untuk menemani Anton mengurus Reza tapi Anton menolak, ya karena memang Anton anti sekali bilamana ada keluarga Riri ada yang datang. karena hanya membuat ia malas untuk stay di rumah, ia akan pulang setelah semua org terlelap da pergi pagi sekali sebelum berkumpul untuk sarapan.
------
drt..drt...drt
ponsel Anton berbunyi
"ya mah...jawab Anton begitu melihat nama mamanya yang muncul dilayar ponselnya
"anakmu sakit?" tanya Rianti pada Anton
"iya mah, tapi sudah semakin baik" jawab Anton
"dimana istrimu, harusnya dia bisa lebih baik menjaga anaknya" tanya rianti
"dia lagi dinas luar kota mah." jawab Anton cepat
"situasi begini harusnya dia yang ada di samping anaknya mengurus anaknya itu" rianti mulai kesal dengan sikap menantunya
"ya namanya juga tugas kantor mah.. udahlah, aku malas ribut juga, kasian Reza" jawab Anton menimpali perkataan ibunya.
"kamu harus bisa ngajarin dia, biar jangan di injak-injak, kamu itu laki-laki kalau susah diatur lepaskan saja, masih banyak perempuan yang nurut dan mau diatur" ujar Rianti.
"iya mah ..dia juga mengabari akan pulang lebih awal dari jadwal seharusnya".
"ya sudah terserah" timpal Rianti malas berdebat dengan Anton.
"kalau kamu ada apa-apa segera berkabar, kirimkan tiket pesawat biar mama yang urus anakmu" perkataan terakhir Rianti yang menutup sambungan teleponnya.
Anton hanya bisa menghela nafas panjang dan berharap Riri segera pulang.
__ADS_1