
Selepas kepergian Anton, ibu mertua dan anaknya kini rasa hampa merasuk kedalam sanubari Riri, sungguh ia benar-benar ingin pergi jauh dari sini, ya ia harus pergi jauh agar bisa melupakan sakit yang ditorehkan oleh lelaki yang selama ini ia perjuangkan, bahkan Riri rela untuk melepaskan keluarganya demi untuk mendapatkan hidup yang bahagia bersama lelaki yang ia cintai.
klek...
pintu kamar rawat Riri terbuka, munculah dokter jaga dan suster yang memang sedikit terlambat untuk visit karena hari sudah lumayan larut.
"Bu Riri, apa anda sudah merasa lebih baik" tanya sang dokter.
"rasanya sudah tidak sesakit kemarin dok" Riri menjelaskan kondisi yang ia rasakan.
"hmm...baiklah, sepertinya saya sudah bisa memperbolehkan ibu dan kakak anda untuk membawa anda berobat ketempat yang diinginkan" jelas dokter tersebut pada Riri
"ibu dan kakak??!" tanya Riri bingung, bagaimana ibu yang sudah tidak ada dan Kaka yang mana??
"iya...tadi sore ibu dan kakaknya Bu Riri datang pada saya, mereka rencana akan memindahkan anda besok" jawab dokter itu lagi kemudian ia pun segera berpamitan.
'apa maksudnya dokter tadi, apa mama sama Anton? tapi kenapa dokte itu menyebutnya kakak' riri membatin.
sedangkan diluar ruangan tampan Sorang pria dengan postur tubuh tegap dan wajah tampan meneduhkan sedang berdiri memperhatikan pintu kamar Riri.
'tunggu waktunya tiba ri...aku yang akan membahagiakan kamu, sungguh bodoh lelaki yang menyia-nyiakan berlian seperti mu' pria itu membatin dan memutar tubuhnya meninggalkan rumah sakit tersebut.
sebuah tekanan pada lengan Riri membangunkan nya dari tidurnya semalam, ternyata suster cantik sedang melakukan pemeriksaan tekanan darah pada Riri
"maaf ya Bu..saya tidak enak membangunkan ibu, jadi saya langsung periksa saja" suster cantik itu memohon maaf atas kelancangannya.
"tidak apa-apa suster" sahut Riri.
"mari saya bantu bersihkan tubuhnya dulu, nanti siang setelah dokter visit, baru ibu boleh ganti baju ya" jelas suster tadi, entahlah riri juga tidak tau apa maksudnya itu.
tok...tok..
suara ketukan pada pintu ruang rawat Riri berbunyi, untungnya Riri sudah selesai berpakaian dan berhijab dengan rapi saat suster membantunya membersihkan diri.
Seulas senyum yang mampu memikat wanita manapun terukir dari bibir laki-laki bertubuh tegap dan tampan itu.
"Assalamualaikum..." suara berat namun hangat itu mengucapkan salam.
"wa'alaikumsalam... " dijawab oleh Riri salam tersebut.
berjalan menghampiri sisi ranjang Riri yang lain dan meletakkan sebuah paper back di sebelah meja di samping ranjang.
"nah sudah selesai Bu...saya permisi dulu" ucap suster yang tadi membantu memasang jarum infus yang sempat dilepas tadi.
__ADS_1
"sudah lebih baik?" tanya lelaki itu yang tak lain adalah Fahri.
"sudah mas.." Riri memanggil Fahri dengan sebutan mas karena memang Fahri lebih tua 2 tahun dari pada Riri
"baiklah, kemarin aku sudah minta tolong sama Reza untuk bawa sekalian semua identitas kamu, semoga saja dia ga lupa" sambung Fahri.
"eeh..maksudnya gimana ya mas..Riri ga paham" tanya Riri pada Fahri
"Ri, aku sudah bicara sama umi dan Abi, Alhamdulillah mereka berdua mendukungku melakukan ini, aku harap kamu juga tidak menolak ya..."
mengambil jeda sebentar lalu Fahri melanjutkan kembali perkataannya
"jadi aku sudah menghubungi teman dekatku dan ia bersedia membantu penyembuhan kamu, baik itu saat kamu nanti menjalani kemo dan sebagainya, tapi kita harus pergi keluar negeri karena teman ku ini berada di negara S" Fahri menjelaskan maksudnya.
"ooh..lalu Reza mas??" Riri paham bahwa untuk menyembuhkan penyakitnya hingga ke akarnya dengan bantuan teknologi yang lebih lengkap Riri harus terbang ke luar negeri.
"kamu tenang saja, Reza akan aman sama Abi dan umi, kami akan pastikan suamimu tidak akan bisa mengambilnya" menatap Riri sejenak yang masih menundukkan kepalanya.
Fahri paham bahwa proses hijrah Riri membuat Riri merubah berbagai kebiasaan bahkan untuk berbicara dengan orang yang bukan pasangannya Riri pun akan menundukkan kepalanya.
"hmm..ri apa aku boleh bertanya?" Fahri sebenarnya ragu, tapi ia ingin memastikan dan mendengar langsung dari Riri mengenai keputusannya dengan suaminya bagaimana.
"silahkan mas"..jawab Riri
"apa kamu sudah memutuskan apa yang akan kamu lakukan pada suami kamu...ah...maksudku..dengan adanya kejadian kemarin bagaimana..." belum lagi menyelesaikan ucapannya Riri sudah memotong terlebih dahulu.
"hmm..aku turut prihatin atas cobaan yang kamu alami, tapi jangan patah semangat ya ..pasti akan ada pelangi setelah hujan" tutur Fahri menyemangati Riri.
"oh iya mas...untuk urusan cafe..apa mas ga keberatan kalau bantu urus selama aku belum bisa mengurusnya?" tanya Riri penuh harap, jujur ia juga kepikiran dengan usahanya yang cukup dibilang bagus, selama ini untungnya Anton tidak pernah mencampuri usahanya tersebut, maka dari itu ia kemarin sempat minta ijin pada Fahri untuk mengatakan bahwa kepemilikan usaha itu sudah berpindah tangan pada Fahri, untuk biaya pengobatannya setelah Riri meninggalkan Anton nanti.
"aman...kamu tenang aja" tidak berapa lama pintu kamar diketuk kembali dan kali ini orang tua Fahri yang datang.
"ibu...bapak...maaf jadi merepotkan" Riri menjadi sangat sungkan dengan kehadiran suami Bu Ratna karena aura yang keluar dari beliau sangat membuat orang menjadi segan ketika berhadapan langsung.
Fahri menghampiri kedua orang tuanya dan mencium tangan keduanya penuh khidmat.
"pantas saja, ibu cari kamu di rumah ga ada taunya sudah kesini duluan" goda Bu Ratna.
Fahri menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tersenyum pada ibunya.
Riri tetap menundukkan kepalanya, Bu Ratna menghampiri dan menggenggam tangan Riri.
"Fahri sudah bicara padamu kan nak, mengenai pengobatan yang akan kamu jalani" tanya Bu Ratna.
__ADS_1
"sudah Bu...saya titip anak saya ya Bu, mungkin sebentar lagi mereka tiba" jawab Riri sambil menatap Bu Ratna penuh permohonan.
"kamu tidak perlu khawatir, saya yang akan membantu mendidik Reza nanti" sahut suami Bu Riri dengan tegas
Riri mengucapkan syukur dan berjanji dalam hati bahwa ia harus sembuh.
"Assalamualaikum..." suara renyah bocah usia 10 tahun yang sudah paham sedikit demi sedikit mengenai kehidupan terdengar oleh semua yang ada di ruangan tersebut.
Reza masuk kedalam kamar rawat Riri di ikuti oleh Riyanti dan anton dibelakangnya.
"oh sudah ada tamu rupanya" sapa Riyanti ibu mertua Riri.
Anton melirik sekilas pada Fahri yang ditanggapi dengan senyum tulus oleh Fahri.
Riyanti dan Anton berjalan mendekati ranjang tempat Riri tengah berbaring sambil duduk, sedangkan Reza menyalami satu persatu orang-orang yang sudah ia kenal dengan baik.
"mah..kenalkan ini Bu Ratna dan suaminya dan itu anak beliau, mereka akan menjemput Reza" jelas Riri pada Riyanti dan secara tidak langsung juga pada anton.
"Reza..apa sudah siap?" tanya Bu Ratna pada Reza.
"sudah....!!" jawab Reza tegas
"baiklah, ayo kita berangkat sekarang, biar bunda bisa istirahat juga" ajak Bu Ratna lagi kepada Reza.
Reza pun menuruti apa perkataan ibu Ratna, dan mulai berpamitan pada Anton, hanya dengan bersalaman saja, lalu Reza beralih ke neneknya
"nanti kalau kamu ga betah kabari nenek ya?" Riyanti memegang bahu cucunya itu, rasa perih terasa dihatinya melihat cucunya saat ini dimana tadi malam, dengan mata kepala sendiri, Reza menolak untuk bercengkrama bersama ayahnya dan lebih memilih untuk sendiri.
"ya nek...tenang aja, banyak teman disana" senyum Reza mengembang.
lalu ia berjalan menuju bundanya dan berhambur memeluk bundanya sambil berbisik "aku tunggu bunda disana, bunda cepat sembuh ya" semakin mengeratkan pelukannya pada sang bunda.
Riri tak kuasa menitikkan air mata, Fahri dan abi nya tersenyum melihat perilaku Reza pada Riri, dalam hatinya mereka memiliki pemikiran yang sama bahwa agar Reza bisa menjadi pemuda yang bertanggung jawab dan belajar dari masa lalu orang tuanya saat ini.
"kami pamit dulu pak, Bu....nak Riri kami pamit" Bu Ratna berpamitan pada Anton dan riyanti.
selepas mereka pergi Anton melayangkan pertanyaan yang mengusik hati Riri.
"kami memang kenal keluarga itu? kenapa harus mereka yang jemput kesini, pesantrennya ada dimana?"
tanya Anton bertubi-tubi.
Riri menghela napas panjang, dan dengan tenang Riri mengatakan hal yang membuat Anton dan Riyanti terkejut bukan main.
__ADS_1
"Talak aku sekarang....!! dan biarkan Reza tidak melihat perpisahan kita sampai ia mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada kita".
Riyanti dan Anton membulatkan matanya mendengar penuturan Riri mengenai permintaannya untuk bercerai.