Aku, Kamu Dan Ibu Mertua

Aku, Kamu Dan Ibu Mertua
Pasrah Pada Takdir


__ADS_3

Suara lantunan ayat-ayat suci....mengalun indah ditelinga Riri membuat damai dan tenteram pada hati Riri, saat ini Riri sedang berada di salah satu tempat mengaji dari ibu Ratna, mendengarkan para murid di sana yang melantunkan ayat-ayat suci.


Setiap berada di komunitas ini membuat Riri melupakan rasa sakitnya, lelahnya dan gundah hatinya, karena saat bersama mereka Riri bisa menata kembali kepingan hati yang telah retak dan merasakan persahabatan dan kasih sayang yang tulus tanpa adanya imbalan yang harus dibayar.


Reza yang ikut serta juga sudah memiliki teman bermain disana, membaur bersama dengan para murid-murid dari Bu Ratna, serta anak dari teman-teman sesama komunitas yang sedang berlarian bermain petak umpat itulah bahasa permainan jaman dulu yang Riri kenal, namun kita entah Riri tidak tau lagi anak-anak jaman sekarang menyebutnya apa.


"minumlah dulu nak.." suara Bu Ratna membuyarkan lamunan Riri.


Riri menengadahkan wajahnya dan mendapati bu Ratna telah berdiri dihadapannya, Riri pun tersenyum pada Bu Ratna dan mengambil gelas yang disodorkan padanya.


minuman hangat mengepul dari gelas yang berisikan air wedang yang dibuat Bu Ratna dan wedang ini adalah wedang yang paling pas dirasakan oleh Riri dibandingkan wedang lain yang biasa ia beli.


"kemarin ibu tunggu kamu Ndak datang..ibu pikir kamu sibuk" mata Bu Ratna menelisik pada raut wajah Riri yang terlihat pucat, ia pun mendudukkan tubuhnya di samping Riri, diamatinya wajah perempuan disampingnya ini yang beberapa bulan belakangan, sudah ia anggap seperti anak kandungnya sendiri.


"Bu...Riri boleh minta tolong" Riri menggapai tangan Bu Ratna dengan wajahnya yang sayu, menatap lekat pada Bu Ratna.


"ada apa nak? selagi ibu mampu, akan ibu upayakan" jawab Bu Ratna lembut.


"Bu...ada hal yang ingin Riri sampaikan, Riri harap ibu mau membantu Riri, berat jika Riri harus menceritakan pada keluarga Riri apalagi belum lama juga Allah telah panggil satu-satunya wanita berharga dalam hidup Riri, ditambah lagi status finansial Riri saat ini, Riri hanya khawatir Reza tidak mendapatkan hak nya dengan benar" hati Bu Ratna terenyuh mendengar kata-kata yang mengisyaratkan bahwa Riri akan pergi meninggalkan semuanya.

__ADS_1


"Ada apa nak...apakah ini ada kaitannya dengan suamimu lagi?" tanya Bu Ratna yang sedikit banyak mengetahui bagaimana jalan hijrah dari Riri hingga menjadi pribadi yang lebih baik dari yang lalu.


"Bukan Bu...insya Allah saya sudah ikhlas, saat ini, saya hanya ingin pasrah pada takdir" Riri mengucapkan kata-kata itu dengan mantap.


Riri menceritakan pada bu Ratna mengenai kondisi kesehatannya dimana kemungkinan untuk sembuh tetap ada namun kemungkinan terburuk adalah kematian.


Riri juga mengatakan bahwa ia sudah menyiapkan program masa depan untuk Reza bila ia tidak bisa bertahan, Riri ingin Bu Ratna membantu agar apa yang sudah ia siapkan sejak dini tidak bisa di rebut atau dipindah tangankan pada orang lain sebelum anaknya berusia 23 tahun.


kita tidak akan pernah tau kapan kematian menjemput raga yang tengah lelah ini, Riri tidak ingin apa yang ia korbankan dan perjuangkan jatuh ke tangan orang yang salah, sekalipun itu suaminya, Riri masih belum bisa mempercayai apa yang sudah ia capai saat ini untuk di serahkan pada Anton.


Jalan takdir seseorang tidak ada yang pernah tahu, bahkan setelah diterpa angin terjang yang menyapu biduk rumah tangganya Riri masih mendapat kan ujian baru dengan penyakitnya, entah kejutan apalagi yang akan ia dapati nanti, ia hanya bisa berdoa dan berharap semua yang terjadi adalah yang terbaik untuk dirinya.


"Sudah tidak ada cinta untuk saya Bu...," lirih Riri berbicara namun masih bisa di dengar oleh Bu Ratna dan seorang lelaki tampan.


"Ada....cinta saya kepadamu" ucap seorang lelaki tampan berwajah tirus namun tampan dan kedua matanya yang meneduhkan tengah berdiri di samping bu Ratna.


"Assalamualaikum umi" Fahri anak bungsu dari ibu Ratna yang baru kembali dari studinya di Kairo dan saat ini menekuni bidang dakwah, dan menjadi pengajar di salah satu pondok pesantren di kota ini.


"ustadz..." Riri menangkupkan kedua tangannya di depan dada tanda salam untuk lelaki yang sedari tadi mendengarkan percakapan antar Riri dan uminya, Riri tidak berani untuk menatap ustadz Fahri.

__ADS_1


"Fahri...sejak kapan kamu disini??" tanya Bu Ratna pada anak bungsunya yang dua tahun lebih tua dari Riri, Bu Ratna cukup kaget dengan keberanian dari anaknya ini, jelas-jelas ia tahu bahwa mencintai istri orang itu adalah dosa, tapi mendengar semua kisah dari sosok perempuan bernama Riri inilah, Fahri merasa luluh, hatinya terenyuh dan tercubit mendapati Riri tetap bertahan dengan segala ujian yang ia hadapi.


"sejak mba Riri menceritakan semuanya" sahut Fahri pada ibunya namun pandangannya lekat pada perempuan di hadapannya yang masih setia menundukkan kepala.


"pergilah dari sini, biarkan umi bicara pada Riri" Bu Ratna bukan tidak tahu bahwa sejak pertama kali Fahri menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya ini dan kala itu Fahri mendapati Riri yang tengah belajar mengaji, Bu ratna bisa melihat binar ketertarikan pada sorot mata anaknya ini pada Riri, namun berusaha ia tepis, namun dalam hati Bu Ratna berjanji bila saja Riri terlepas dari suaminya maka ia akan meminta Riri menjadi pendamping anaknya dan menjadi menantu nya.


"tidak bisakah aku disini umi, menemani kalian?" tanya Fahri kepada uminya dan kali ini wajah Fahri menghadap pada uminya dengan tampang memelas.


"tidak!!" Jawab umi nya tegas dan akhirnya Fahri pun menghela nafas dan berkata.


"ingatlah satu hal mba Riri.....apapun yang terjadi, tetaplah bertahan karena aku akan selalu menunggu, permisi" Fahri pun berpamitan dan menjauh dari dua orang wanita yang ia kagumi dan sayangi itu.


Dalam diamnya Riri merasakan dadanya menghangat sekaligus sesak mendengar pernyataan dari Fahri barusan, sungguh jika waktu bisa diulang, ia ingin dapat menikah dengan lelaki yang bisa membimbingnya dan menuntunnya agar lebih dekat pada agamanya, namun nasi telah menjadi bubur dan kembali lagi bahwa Riri harus pasrah pada takdir yang sudah ditetapkan padanya.


"nak....maafkan anak ibu, entah mengapa belakangan ini memang ia sering menanyakan tentang dirimu, tapi jangan jadikan Fahri menjadi tambahan beban lagi pada masalahmu nak..., ibu tidak ingin kamu terus-menerus bersedih" Bu Riri memberikan sentuhan lembut pada pucuk kepala Riri dan menarik Riri dalam dekapannya.


"sesungguhnya ketika kita ikhlas menjalani segala sesuatu dan menerima segala ujian dengan lapang dada, maka akan kita dapati hikmah dan juga kebahagian yang tidak pernah kita sangka-sangka, teruslah berprasangka baik dan selalu memperbaiki diri ya" kata-kata penyemangat nan lembut yang keluar dari bibir tipis wanita paruh baya yang sedang memeluknya ini membuat isak tangis Riri menjadi semakin kencang, sungguh ia rindu merasakan dekapan hangat kasih sayang seorang ibu.


menjadi pribadi yang haus akan kasih membuat Riri dulu melakukan apapun hanya untuk membahagiakan orang yang ia kira dapat membahagiakannya juga, namun ternyata hal itu tidak terjadi, sampai-sampai ia pun dengan bodohnya rela melakukan apapun hanya agar mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari Anton yang dibalas dengan pengkhianatan.

__ADS_1


__ADS_2