
Ironisnya, hari itu cuaca baik sekali untuk terbang. Langit bulan januari tak berawan dan demikian birunya hingga menyilaukan bila dipandang. Penglihatan tak terbatas. Angin sejuk berembus lembut.
Lalu lintas di lapangan udara lumayan padat, tetapi para petugas lapangan yang efisien mengatur jadwal dengan baik. Tak ada pesawat yang berputar-putar menunggu izin untuk mendarat, dan hanya ada beberapa buah pesawat yang menunggu giliran untuk tinggal landas.
Hari itu adalah jumat pagi, namun demikian sembilan puluh tujuh penumpang telah masuk ke pesawat pada waktunya. Ada yang meletakkan barang-barangnya di tempatnya diatas tempat duduk, ada yang memasang sabuk penyelamat, ada pula yang duduk ditempat duduknya sambil membaca majalah yang disediakan. Para awak pesawat mengadakan pengecekan rutin menjelang penerbangan. Para pramugari bersenda gurau sambil mengisi troli kecil pembawa minuman. Penghitungan akhir jumlah penumpang dilakukan, dan para penumpang tampak duduk tenang tanpa ada firasat apapun. Pesawat dibawa ke ujung landas pacu.
Terdengar suara kapten yang ramah lewat pengeras suara, menyapa seluruh penumpang. Setelah dilaporkannya bahwa keadaan cuaca di kota tujuan dan berapa lama waktu yang akan ditempuh, kapten pesawat mengisntruksikan pada para kru untuk bersiap segera tinggal landas.
Baik Sena maupun semua orang yang berada dalam pesawat itu tak mengira bahwa mereka hanya akan berada di udara selama tiga puluh detik.
✈️
"Irsan!"
"Hmm?"
"Ada pesawat terbang yang baru saja jatuh di bandara."
Kepala Irsan terangkat dengan tiba-tiba. "Meledak?" tanyanya.
"Dan terbakar. Apinya besar sekali di ujung landasan pacu."
Direktur berita itu menjatuhkan pulpennya begitu saja di meja kerjanya yang berantakan. Meskipun ia sudah tua dan keadaan fisiknya tak terpelihara, ia bergerak dengan lincah sekali. Irsan mengitari sudut meja kerjanya dan masuk menyerbu ke luar ruangan melalui pintu kantornya yang terbuat dari kaca. Ia hampir saja menabrak reporter yang membawakan berita itu.
"Sedang tinggal landas atau mendarat?" tanyanya lewat pundak.
"Tak diberitakan."
"Ada yang selamat?"
__ADS_1
"Tak diberitakan."
"Milik sebuah perusahaan penerbangan atau milik pribadi?"
"Tak diberitakan."
"Hei, apa kau yakin memang ada pesawat yang meledak?"
Sekelompok reporter, juru foto, dan sekretaris yang murung telah berkumpul di dekat tempat radio. Irsan menyikut mereka dan meraih tombol suara radio kecil itu.
".... tempat landasan pacu. Pada saat ini belum tampak korban yang selamat. Bagian pemadam kebakaran bandara sedang menuju tempat kejadian. Asap dan nyala api jelas kelihatan. Helikoper sedang mengudara. Ambulans sedang..."
Irsan mulai meneriakkan perintah-perintah dengan suara yang lebih nyaring daripada radio itu. "Kau," katanya sambil menunjuk reporter pria yang baru saja masuk ke kantor beberapa detik yang lalu, "Ambil peralatan pengambilan gambar untuk jarak jauh, dan pergi kesana secepat mungkin." Sang reporter dan seorang juru kamera berlari ke luar meninggalkan kelompok itu. "Siapa yang menyampaikan berita ini?" tanya Irsan.
"Martin. Dia sedang dalam perjalanan menuju tempat kejadian, dan terjebak kemacetan di jalan menuju bandara."
"Apakah dia masih disana?"
"Suruh dia mendatangi tempat kecelakaan sedekat mungkin, dan merekam sebanyak mungkin sementara menunggu peralatan datang."
Ia melihat ke wajah-wajah orang orang itu, mencari seseorang. "Ike masih ada?" Ia menanyakan si pembawa berita.
" Sedang di toilet, buang air kecil."
" Panggil dia. Suruh ke studio. Kita akan mengudarakan berita, aku akan meminta pernyataan dari seseorang di menara, dari para petugas bandara, perusahaan penerbangannya, polisi... pokoknya untuk diberitakan sebelum mulut semua orang ditutup. Cepat kerjakan, Hai.. seseorang, telepon Sena di rumahnya katakan padanya.."
" Tak bisa. Ingat. Ia pergi ke luar kota hari ini."
" Sialan. Aku lupa. Tidak, tunggu," kata Irsan sambil menjentikkan jemarinya dengan pandangan penuh harapan." Mungkin ia masih di bandara. Bila demikian halnya, ia akan berada di lokasi kejadian lebih dulu dari semua orang. Bila ia berada di terminal, Ia bisa mencari berita dari segi kemanusiaannya. Kalau Sena menelpon, beritahu aku segera."
__ADS_1
Karena ingin tahu perkembangannya, Irsan berbalik lagi ke tempat radio. Hatinya berdebar. Ini berarti ia tidak akan bisa berakhir pekan. Ini berarti ia harus bekerja lembur dan pusing kepala, makan makanan dingin dan kopi dingin. Tetapi, Irsan sedang bersemangat. Tak ada yang lebih penting selain memberitakan pesawat terbang yang meledak dalam berita minggu.
♪
Dion Sinaga menghentikan mobilnya di depan rumahnya. Ia melambai pada tukang kebun yang sedang memotong tanaman. Seekor anjing berlari mendatanginya dan melompat-lompat mengelilingi lututnya.
" Hei Shep." Dion membungkuk dan menepuk-nepuk kepala anjing yang berbulu tebal itu. Anjing itu mendongak padanya dengan pandangan memuja.
Berpuluh-puluh ribu orang memandang Dion Sinaga dengan rasa hormat seperti itu. Banyak hal pada pria itu yang patut dikagumi. Mulai dari rambutnya yang berwarna coklat sampai ke ujung sepatunya yang sudah tua. Dia idola kaum pria dan idaman kaum wanita.
Tetapi, begitu banyak pengagumnya, begitu pula banyak musuhnya.
Setelah memerintahkan Shep agar tinggal di luar, ia memasuki ruang depan rumah yang luas, dan membuka kacamatanya. Tumit sepatunya menimbulkan gema pada lantai saat ia berjalan menuju dapur. Bau kopi yang sudah diseduh tercium olehnya. Perutnya jadi keroncongan, mengingatkannya bahwa dia belum makan apa-apa dari pagi. Dibayangkannya sarapan yang terdiri atas daging asap, setumpuk telur dadar yang lembut, dan beberapa potong roti panggang panas yang diolesi mentega. Perutnya jadi makin gemuruh.
Orang tuanya ada di dapur, sedang duduk menghadap meja bundar dari kayu, yang sudah berada di situ sepanjang ingatan Dion. Waktu Ia masuk, ibunya memalingkan wajahnya dengan tegang. Wajah ibunya pucat sekali. Ayahnya, Nelson Sinaga, segera bangkit dan berjalan ke arahnya dengan lengan terkembang.
" Dion."
" Ada apa?" tanyanya heran. "Melihat wajah kalian berdua, orang akan mengira ada seseorang yang meninggal."
Wajah Nelson mengernyit. "Apakah kau tak mendengarkan radio di mobilmu?"
" Tidak, mengapa?" Barulah timbul rasa panik dalam hatinya. "Ada apa?" matanya tertuju pada televisi kecil yang terletak di atas meja kecil. Ke situlah perhatian orang tuanya tadi waktu dia masuk.
" Dion," kata Nelson dengan suara penuh emosi. "Baru saja saluran dua mengumumkan berita penting. Ada sebuah pesawat terbang yang meledak pada waktu tinggal landas, beberapa menit yang lalu, di bandara." Dada Dion turun naik dengan cepat, mendengus tanpa bersuara.
" Belum diberitakan dengan pasti nomor penerbangan yang mana, tapi mereka menduga..." Nelson berhenti berbicara dan menggeleng dengan sedih. Di meja, Vina istrinya, meremas selembar tisu ke matanya yang tertutup rapat.
" Pesawat Bianca?" tanya Dion dengan serak.
__ADS_1
Nelson menganggukkan kepalanya.